Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Nada terpaksa harus mengendap-ngendap ketika akan masuk ke ruangan dosen kulkas. Seperti biasa, Nada harus menemani suaminya untuk makan siang. Meskipun tadi sempat mengusir Nada dari dalam kelas, bukan berarti Shaka lupa dengan makan siangnya bersama dengan Nada.


"Kenapa lama sekali?" tanya Shaka saat Nada baru saja masuk kedalam ruangan Shaka.


"Pak Shaka pikir jalan dari warung makan kesini tidak pakai waktu?!" ketus Nada dengan kesal. "Lagian apa susahnya sih tinggal pencet dari hape! Atau jangan-jangan Oak Shaka emang sengaja mau ngerjain aku ya!" tuduh Nada.


Shaka tidak menanggapi ucapan Nada yang sedang kesal padanya. Dia malah sibuk membuka makanan yang ada diatas mejanya. Perutnya sudah keroncong, rasanya tidak berminat untuk menanggapi setiap kata yang keluar dari bibir Nada. Dan saat Nada menyadari jika saat ini dia sedang diabaikan oleh suaminya, Nada hanya bisa membuang nafas kasarnya


"Pak! Pak Shaka jawab aku! Pak Shaka emang sengaja ngerjain aku biar aku gak kumpul sama temen-temen aku kan?"


"Enggak. Ngapain aku ngerjain kamu. Kaya enggak ada kerjaan aja. Udah makan dulu! Nanti lagi marah-marahnya!" Shaka sekilas melirik Nada yang masih mengerucutkan bibirnya. "Duduk!"


Dengan kasar Nada manarik sebuah kursi yang ada di depan Shaka. Melihat suaminya sangat acuh membuat Nada memilih membuang pandangannya ke samping.


"Aakk dulu!" Tangan Shaka sudah mengarah ke mulut Nada dengan.


"Aku udah kenyang!" tolak Nada dengan ketus.


"Gak mau makan aku cium!" ancam Shaka.

__ADS_1


Mendengar ancaman Shaka, Nada langsung mendelik. Pipinya terasa panas bahkan Nada juga kesulitan untuk menelan ludahnya.


"Dih ... bisanya cuma ngancem aja! Cium aja kalau berani!" Tiba-tiba Nada mendapatkan kekuatan untuk menantang Shaka.


Merasa diremehkan oleh Nada, mata Shaka pun langsung menatap Nada dengan tatapan tajam. Tangannya segera memberikan sebuah isyarat agar Nada mendekatkan wajah.


"Nad, coba sini dulu!" perintah Shaka.


"Ada apa? Pak Shaka butuh apalagi? Cepat katakan sebelum aku pergi," ketus Nada.


"Kamu hari ini kenapa sih, Nad? Lagi datang bulan? Udah sini dulu! Ada yang ingin aku katakan padamu!" ujar Shaka untuk meyakinkan istrinya.


Nada yang tidak tahu apa maksud dari suaminya pun langsung mendekatkan wajahnya.


Cup!


Sebuah keccupan singkat membuat Nada langsung terbelalak dengan lebar. Seketika tubuhnya terasa seperti sedang tersengat arus listrik. Jantung berdetak lebih kencang seakan ingin lepas dari sarangnya.


"Nad, kamu gak papa, kan?" tanya Shaka terheran karena tubuh Nada seolah sedang membeku.

__ADS_1


"Pak Shaka kenapa cium aku?" tanya Nada yang masih belum menyadarkan diri sepenuhnya.


"Lah ... tadi kamu kan yang nantangin? Mau aku cium lagi atau mau makan?"


Kepala Nada menggeleng dengan pelan. "Aku tidak pilih dua-duanya. Aku enggak mau makan dan juga enggak mau dicium sama pak Shaka!" protes Nada.


"Kalau enggak mau aku cium, terus kamu maunya dicium siapa? Ucup?"


Siapa yang menyangka jika pembicaraan Shaka dengan Nada di dengar oleh sepasang telinga sejak tadi sudah berada di depan pintu. Dada terasa sangat panas saat mendengar pembicaraan dua orang yang berada di dalam ruangan. Rasanya tidak sabar untuk melihat siapa lawan bicara dari dosen pujaan hatinya. Siapa lagi jika bukan Bu Dewi, salah seorang dosen yang sangat menggilai Shaka.


"Sebenarnya siapa pak Arsha sedang berbicara dengan siapa? Mengapa mereka membahas tentang ciuman? Apa jangan-jangan saat ini Pak Shaka sedang—" Bu Dewi tidak melanjutkan ucapannya. Dengan tekad bulat dia pun langsung membuka pintu tanpa ingin mengatakan terlebih dahulu.


Dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat pemandangan di depan matanya di mana pria pujaan hatinya sedang menyuapi seorang wanita yang memakai jilbab.


"Pak Arsha!" pekik Bu Dewi yang merasa tidak rela ketika pria pujaan hatinya sedang menyapu wanita lain.


Shaka dan juga Nada langsung menatap Bu Dewi yang berada di depan pintu.


"Bu Dewi," gumam Shaka.

__ADS_1


"Astaga ... singa betina," ujar Nada.


...***...


__ADS_2