Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 15 : Kelaparan


__ADS_3

Tinggal berdua dengan suaminya rasanya sangat sepi, terlebih saat sang suami sibuk dengan laptopnya. Kesunyian malam kini benar-benar terasa menyeramkan ketika hanya suara jangkrik yang terdengar. Rumah yang besar sama sekali tak berarti.


"Pak, masih lama?" tanya Nada saat masuk ke dalam kamar lagi.


"Kenapa?"


"Kita belum makan malam, lho!" kata Nada dengan suara melemah.


"Lalu?"


"Kita makan dulu yuk! Aku udah lapar!"


"Kamu gak tahu aku lagi apa? Kalau lapar makan aja dulu!"


Nada hanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Bagaimana Nada mau makan jika tak ada apa-apa di dapur.


Nada pun berjalan gontai untuk mendekat ke arah Shaka. Dan sesampainya di samping Shaka tangan Nada langsung disodorkan tepat di depan wajah Shaka.


Shaka langsung mengernyit. "Apa?"


"Duitlah, Pak. Kalau gak pakai duit, mana bisa makan," ujar Nada.


"Di kulkas ada telur dan nugget. Kamu goreng aja!"


"Tapi Pak —"


"Sudah sana jangan ganggu! Aku lagi serius ini!"


Karena merasa kesal, Nada pun langsung meninggalkan Shaka begitu saja. Setelah menikah dengan Shaka dirinya tidak mendapatkan uang jajan dari ibunya lagi karena semua tanggungannya sudah pindah ke tangan suaminya.


Boro-boro memasak, menghidupkan kompor saja Nada tidak bisa. Akhirnya Nada memilih untuk menghidupkan televisi sambil membuka grup chat.


Hampir satu hari tidak menghidupkan ponsel, kini notifikasi masuk silih berganti. Kedua sahabat itu menanyakan mengapa hari ini Nada tidak masuk kuliah. Bahkan Kila juga mengatakan jika siang tadi Band milik Reiner manggung di kampus. Nada yang membaca pesan dari Kila rasanya ingin menjerit. Bagaimana bisa saat dirinya libur, Band milik Reiner manggung di kampus. Sungguh tidak adil untuknya.

__ADS_1


"Kenapa sebelumnya nggak ada pemberitahuan kalau ada pertunjukan musik di kampus? Sungguh ini tidak adil!"


Hatinya yang kesal membaut Nada memutuskan untuk ke teras agar mendapatkan pasokan udara segar.


Duduk termenung seorang diri membuatnya merasa sangat bosan. Namun, matanya langsung menangkap rumah yang lagi di depannya. Ucup mengatakan jika itu adalah rumahnya. Untuk mengetes apakah Ucup tidak berbohong, Nada pun langsung mengirim sebuah pesan kepada Ucup untuk datang ke rumahnya sambil membawa makanan yang ada di rumahnya, karena saat ini Nada sedang kelaparan.


Baru saja pesan terkirim, tiba-tiba Nada mendengar suara gerbang dibuka oleh seseorang. Matanya langsung terbelalak lebar saat melihat Ucup yang ternyata sudah datang membawa sebuah rantang di tangannya.


"Astaga ... Ucup," seru Nada, namun detik kemudian Nada menutup mulutnya karena takut di dengar oleh suaminya.


"Ya ampun Cup .... kamu beneran bawa makanan?" tanya Nada dengan sumringah.


Ucup mengangguk dan tersenyum lebar. "Iya. Tadi kamu bilang lapar, kan? Nih aku bawain makanan. Tadi mama aku masak banyak."


"Seriusan ini Cup. Eh, tapi kita jangan disini. Kita duduk aja di samping. Nanti bos aku liat," ujar Nada.


Ucup pun mengikuti langkah Nada untuk duduk di teras samping. Dengan pelan Nada langsung membuka rantang yang saat ini sudah berada di tangannya. Mencium aroma masakan sudah membuat para cacing berdemo ria. Mereka semua sudah tidak sabar untuk meminta jatah makan malamnya.


Tak ingin menunggu waktu lebih lama, Nada langsung menyantap makanan yang dibawa oleh Ucup.


"Nad, pelan-pelan," tegur Ucup saat melihat Nada tak sabaran untuk memasukkan suap demi suapannya.


"Hehe, abis enak sih, Cup."


*


*


Shaka yang baru menyadari jika istrinya tidak tahu caranya menghidupkan kompor yang ada di dapur langsung menutup laptopnya. Dia khawatir jika istrinya melakukan sebuah kesalahan yang pada akhirnya akan mendatangkan marabahaya untuknya.


"Astaghfirullahaladzim ... Nada kan enggak bisa masak!" Seketika Shaka mengingat akan kekurangan yang dimiliki oleh istrinya.


Sesampainya di dapur, Shaka terkejut karena tidak mendapati keberadaan Nada. Bahkan Shaka merutuki kebodohannya karena telah membiarkan Nada sampai kelaparan. Bahkan jika Nada sampai mengadu kepada orang tuanya. Bisa-bisa orang tua Nada langsung mengambil Nada begitu saja.

__ADS_1


"Nad! Nada .... !" teriak Shaka.


Nada yang berada di teras samping tentu saja mendengar teriakan Shaka yang sedang mencarinya. Namun, Nada memilih untuk bungkam dan terus melanjutkan makan malamnya tanpa peduli suara Shaka yang telah menggema.


"Nad, kamu dipanggil tuh," bisik Ucup dengan pelan.


"Udah, biarin aja! Siapa suruh tadi mengabaikan," balas Nada.


"Tapi nanti kalau dia marah gimana, Nad?"


"Kalau marah yang diemin aja!"


"Oh, gitu ya! Bagus sekali ide kamu, Nad."


Seketika Nada menahan makanan yang telah dikunyahnya. Nada tahu itu suara siapa. Jelas itu suara Shaka, suaminya.


Duh ... kenapa sih Pak Shaka tuh suka sekali nongol dengan tiba-tiba? Gak ada kerjaan lain apa selain nongol tiba-tiba? gerutu Nada yang pada akhirnya memberikan rantang itu pada Ucup.


"Cup pulang aja deh! Daripada kamu kena masalah. Tuh orang kalau marah serem," bisik Nada pada Ucup.


Kepala Ucup mengangguk dengan pelan. "Ya udah aku pulang ya."


Namun, saat Ucup hendak beranjak dari tempat duduknya, tangan Shaka langsung mencekalnya. "Bagus, mau pergi gitu aja ya! Kamu gak ada jera sama sekali. Sepertinya aku harus mengirimmu ke planet Mars, deh!"


"Maaf Pak, saya cuma kasihan aja sama Nada yang kelaparan. Lagian rumah sebesar ini masa gak ada makanan sama sekali. Rumah elit, makanan sulit," cibir Ucup.


"Ngomong apa kamu?"


"Maaf Pak, saya hanya mengungkapkan apa yang sebenarnya."


Shaka pun menyadari kenapa kejadian ini bisa terjadi. Andaikan saja dia tak mengabaikan Nada, mungkin bocah culun ini tidak akan datang dengan makanannya.


"Ya udah sana pulang! Awas aja kalau sampai aku melihat wajahmu di dekat Nada lagi, aku akan buka topengmu!" ancam Shaka.

__ADS_1


~BERSAMBUNG~


__ADS_2