
Udah buka puasa kan? Jadi mari kita menghalau lagi. 💜
~Selamat Membaca~
Malam yang tak akan pernah terlupakan dalam sepanjang sejarah, dimana dua insan baru saja menyelesaikan ritual malam pengantin yang sesungguhnya. Meskipun hari pernikahan mereka sudah terlewat sangat jauh, tetapi malam ini adalah malam pertama bagi dua insan untuk menyatukan hasrat yang terpendam selama ini.
Antara gengsi dan malu kini sudah tiada artinya lagi karena Shaka berhasil membobol gawang selama ini dijaganya dengan baik. Sensasi rasa yang tidak pernah dia rasakan selama ini dan malam ini akhirnya terpecahkan juga. Shaka sudah tidak penasaran lagi dengan rasa malam pertamanya yang selama ini hanya dalam angan-angannya karena Shaka merasa gengsi saat ingin memintanya pada Nada.
Nada yang awalnya merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shaka, pada akhirnya hanya pasrah ketika dia mengingat pesan ibunya jika dia tidak boleh menolak apa yang diinginkan oleh suaminya, terutama saat meminta hak yang harus dipenuhi oleh Nada.
Nada mengira jika penyatuan akan terasa sangat sakit, tetapi nyatanya tidak. Hanya bagian pembukaan saja yang terasa sedikit sakit dan setelah itu yang ada hanyalah kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Peluh keringat masih membasahi tubuh Shaka. Padahal sudah berkali-kali dia mencapai pada puncak, tetapi entah mengapa tak kunjung lelah dan masih ingin terus melakukan. Sementara lawannya saja sudah terkapar tak berdaya. Baru pertama kali dibobol sudah harus naik berkali-kali. Mungkin itu adalah salah satu khasiat dari ramuan yang diberikan oleh ibunya.
__ADS_1
"Mbak, gimana? udah gol, belum?" tanya ibunya Yusuf saat sedang menguping di depan pintu kamar Shaka.
"Sepertinya begitu, Mar. Akhirnya ... gak sia-sia juga ngundang mereka pulang. Kalau tiap malam seperti ini, jalan untuk menggendong cucu semakin di depan mata. Kamu udah racik ramuannya untuk mereka belum. Jangan lupa titipkan sama Ucup besok!" bisik Ibunya Shaka saat menebak jika telah terjadi badai diatas ranjang.
"Tenang aja, Mbak. Aku udah siapin semuanya. Tapi ngomong-ngomong kita nggak bisa ngintip gitu? Aku penasaran gimana kekuatan ramuan itu. Biasanya Mas kalau Mas Hadi yang minum, aku hampir sampai tepar tak berdaya. Mudah-mudahan aja Nada kuat melayani keganasan ramuan itu."
Tidak akan ada usaha yang sia-sia jika terus berusaha. Jika tadi siang mereka gagal untuk menciptakan adonan kue martabak, tetapi tidak untuk malam ini. Malam ini adonan martabak itu telah berhasil diaduk dan hanya tinggal menunggu hasilnya saja.
*
*
"Nad, bangun! Udah subuh." Shaka membangunkan Nada karena istrinya masih terawat sedangkan waktu subuh telah tiba.
__ADS_1
Dibawah selimut tebal Nada mengeliat dengan pelan. Dan saat membuka matanya dia langsung nyari selimut untuk menutupi kepalanya, karena saat ini Nada bener-bener sangat malu.
Shaka yang melihat Nada malu-malu, berusaha untuk menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Di suruh bangun malah narik selimut. Apakah harus aku antarkan ke kamar mandi," goda Shaka.
"Ih ... Pak Shaka apaan sih!" tepis Nada.
"Udah gak usah malu-malu. Aku udah mandi kok. Gak usah khawatir, tapi aku nggak bisa menjamin setelah salat nanti akan mengulanginya lagi. Ternyata rasanya bikin candu. Pantas aja saat itu ibu sampai memdessah," ujar Shaka dengan senyum yang melebar.
Kening Nada langsung mengernyit. "Pak Shaka nguping bapak sama ibu?"
"Bukan nguping, tapi gak sengaja dengar aja sih. Tapi suara ibu terdengar seksi, lho. Kamu juga harus mengeluarkan mendessh seperti ibu. Jangan cuma diam kayak patung!"
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim ... Pak Shaka! Bapak benar-benar, ya!"
Shaka malah menertawakan bentuk wajah Nada yang terlihat sangat shock saat mendengar ceritanya.