Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 3 : Cemburu


__ADS_3

Meskipun suka bolos saat ada kelas yang tidak disukai, tetapi ini adalah kali pertama Nada diusir dari dalam kelas oleh seorang dosen. Seharusnya dia sudah paham dengan peraturan saat berada dalam kelas Dosen kulkas itu. Namun, karena tergoda dengan galeri foto dosen kulkas itu membuat Nada melupakan peraturan yang ada, dimana dosen kulkas tidak menyukai mahasiswa yang tidak bersungguh-sungguh saat mengikuti kelasnya. Bahkan dosen kulkas itu tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan dari kelas yang sedang berlangsung, contohnya seperti Nada yang baru saja diusir keluar dosen kulkas itu alias calon suami.


Duduk di taman seorang diri membuat Nada merasa jenuh dan bosan. Karena sedang kesal dia pun melempar kerikil ke sembarang arah. Namun, siapa yang menyangka kerikil yang dilemparnya mengenai kepala seseorang.


tuuukkk


Seorang pria yang sedang lewat di depan Nada mengaduh merasakan sakit di kepalanya. "Aduh," serunya.


Pria dengan kacamata tebal itu langsung menoleh ke kanan kiri untuk mencari seseorang yang telah melempar kepalanya. Saat memastikan hanya ada satu orang, pria itu yakin jika dialah pelakunya. Pria yang mendapat julukan pria terculun di kampusnya itu langsung melebarkan senyum bibirnya saat melihat Nada sedang duduk seorang diri. Terlebih saat melihat pergerakan tangan Nada yang sama melemparkan batu kerikil, pria itu langsung berjalan untuk mendekat.


Panggil saja Ucup. Pria yang memiliki nama lengkap Yusuf Alfarezi adalah salah satu dari sekian mahasiswa yang menyukai Nada sejak pertama kali bertemu 1 tahun lalu. Namun, karena mereka beda fakultas sehingga keduanya jarang bisa bertemu. Dan kali ini adalah nasib keberuntungan bagi ucup yang bisa bertemu dengan Nada.


"Haii!" Ucup menyapa Nada yang hendak melemparkan kerikil yang ada di tangannya.


Mendengar sebuah sapaan, Nada langsung mendongak untuk melihat siapa yang sedang menyapanya. Seorang pria dengan rambut klimis, kacamata tebal serta beberapa buku yang sedang dipeluk sedang tersenyum lebar kearahnya.


"Astaghfirullahaladzim ... " Nada langsung mengelus dada karena sangat terkejut dengan kedatangan Ucup.


Kedua alis Nada langsung menaut saat Ucup melambaikan tangan padanya "Nih, aku kembaliin baru kerikil kamu. Tadi kena kepalaku!" Ucap langsung memberikan batu kerikil yang baru saja mengenai.


Nada masih tercengang dengan. Bahkan terasa karas saat ingin menelan ludahnya.


"Haii!" Ucup melambaikan tangannya di depan wajah Nada agar wanita itu tersadar. "Kamu kenapa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Saat itu juga Nada berusaha untuk menetralkan diri dan langsung mengambil batu kerikil yang telah Ucup.


"Maaf tadi aku gak sengaja," sesal Nada.


"Iya. Enggak apa-apa kok. Kamu lagi sedih ya? Apa sedang ada masalah?" Ucup memberikan diri untuk bertanya lebih.


Nada membuang nafas kasarnya. Sebenarnya dia sedang merasa kesal dengan dosen kulkas yang baru saja mengusir dirinya dari dalam kelas. "Aku enggak ada ada masalah apa-apa kok. Hanya saja Aku sedang kesal karena baru saja diusir sama dosen kulkas itu," ucap Nada dengan lemah.


"Yang sabar ya. Pak Arsha memang seperti itu orangnya. Dia sangat tegas dan disiplin. Apakah kamu baru saja melakukan sebuah kesalahan sehingga kamu diusir dari kelasnya?" tanya Ucup yang sudah tahu siapa itu dosen kulkas. Hampir semua mahasiswa tidak asing lagi dengan kata dosen kulkas karena memang julukan itu sudah di sah kan hanya untuk memanggil dosen Shaka.


Kini dua orang itu telah duduk bersebelahan. Hanya beralaskan rumput dua itu saling bercerita. Ya, meksipun pada awalnya Nada merasa canggung, tetapi lama-lama juga biasa saja.


"Nad, aku boleh enggak minta tanda tangan kamu?" Tiba-tiba Ucup menyodorkan sebuah buku kepada Nada.


Nada langsung mengernyitkan dahinya. "Hah? Untuk apa? Aku bukan artis!" seru Nada.


"Astaga ... ada ya orang kayak kamu yang punya hobi ngumpulin tanda tangan. Aku pikir cuma hobi baca aja, sih." Nada pun langsung mengambil buku yang telah disadarkan kepada Nada dan segera membukakan tanda tangannya. "Kamu aneh, deh!"


Dari jarak jauh, sepasang mata sedang memantau Nada yang sedang berbincang dengan seorang pria. Tentu saj hatinya terasa panas, meskipun pria yang sedang bersama dengan Nada tidaklah sebanding dengan dirinya.


"Selera apa seperti itu! Kucing aja gak tertarik untuk menatapnya. Apakah mata Nada sedang kelilipan?" Shaka menggerutu dari balik jendela yang bisa melihat dengan jelas Nada tertawa bersama seorang mahasiswa culun.


"Pantas saja dia tidak memprotes saat dikeluarkan dari kelas, ternyata udah punya janji sama cowok lain. Parah, ini gak bisa dibiarin!" Hati Shaka terasa terpanggang saat harus melihat Nada bersama dengan pria lain, selain dirinya.

__ADS_1


Shaka berlari kecil untuk menuju ke taman dimana Nada berada. Dia tidak peduli dengan beberapa mata mahasiswa yang sedang tertuju pada dirinya, karena saat ini dia harus mengambil Nada dari pria culun itu.


"Hkmmm" Suara deheman membuat dua orang yang sedang asyik bercerita langsung terdiam. Dan betapa terkejutnya kedua orang itu saat melihat orang yang sedang dibahas tiba-tiba muncul begitu saja di depan mereka.


"Bagus ya, bukannya merasa bersalah karena melakukan sebuah kesalahan malah seru-seruan pacaran disini." Shaka langsung melayangkan sindiran pada Nada.


Mata Nada langsung membulat dengan lebar. Begitu juga dengan Ucup.


"Maaf Pak, kami enggak pacaran. Saya hanya sedang menghibur Nada yang sedang bersedih saja, Pak." Ucup langsung pasang badan untuk melindungi Nada.


"Terus kenapa pakai ketawa-ketawa segala!" protes Shaka.


"Ya namanya juga lagi dihibur ya ketawa, lah Pak. Iya kali dihibur malah nangis," celetuk Nada.


Karena sedang dibakar dengan api cemburu, Shaka tidak bisa mengontrol kekesalannya saat melihat Nada bersama dengan pria lain, hingga dia terjebak sendiri dengan pertanyaannya.


"Dasar aneh!" Nada mengejek Shaka. "Mending kita cari tempat lain aja buat ghibah, Cup!" kata Nada pada Ucup.


Ucup sebenarnya merasa takut jika sedang berhadapan dengan dosen kulkas itu, tetapi dia mencoba untuk biasa saja demi menjaga imagenya kepada Nada.


"Kamu gak boleh kemana-mana! Ikut ke ruangku. Urusan kita belum selesai!"


Mata Nada lagi-lagi harus mendelik saat mendengar ucapan Shaka. "Urusan apa lagi, Pak?"

__ADS_1


"Kamu nanyak? Sini biar aku kasih tahu warga kampus jika kamu itu adalah—" Belum sempat Shaka melanjutkan ucapannya Nada sudah memotongnya.


"Iya iya .... saya ke ruangan bapak sekarang. Puas!"


__ADS_2