Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 6 : Dia Kembali


__ADS_3

Menghilang selama satu Minggu tentu saja menimbulkan tanda tanya pada kedua sahabat Nada. Terlebih saat ponsel Nada sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan saat keduanya pergi ke rumah Nada, rumah itu kosong. Entah kemana perginya Nada sampai-sampai tidak meninggalkan pesan jika akan pergi.


"Apa mungkin bapaknya dipindahkan tempat kerjanya?" tebak Kila.


"Enggak tahu juga. Tapi kenapa Nada tidak memberitahu kita? Tuh anak bener-bener deh, ngilang mulu hobinya," sahut Arsyila.


Bertepatan dengan Nada yang tanpa kabar, dosen kulkas pun juga tak menunjukkan batang hidungnya hampir lebih satu minggu juga. Selama tidak ada dosen kulkas hidup para mahasiswa terlihat jauh lebih berwarna karena tidak mengerjakan tugas dan tugas. Hidup mereka telah merdeka. Bahkan ada yang berdoa jika dosen kulkas itu tidak akan mengajar lagi untuk selamanya.


*


*


Disisi lain, pasangan yang baru saja menjadi pasangan halal itu sedang menikmati ombak pagi di pinggir pantai. Keduanya sudah menghabiskan waktu 4 untuk menjelajahi pesona alam Indonesia bagian tengah. Semua ini atas keinginan Nada yang ingin tahu bagaimana bentuk pulau Lombok dan Pulau Bali. Untuk menjawab pertanyaan Nada, Shaka pun langsung mengajak terbang ke pulau impiannya Nada setelah acara resepsi mereka telah selesai.


Dua hari di pulau Lombok, dua hari di pulau Bali dan ini adalah hari terakhir mereka menghabiskan sisa liburannya, karena besok mereka berdua sudah harus pulang ke ibukota untuk melanjutkan lagi aktivitasnya yang sempat tertunda.


Shaka sengaja mau minta izin satu pada pihak kampus dengan alasan acara keluarga. Begitu juga dengan Nada yang dia izinkan juga dengan alasan yang sama.


"Pak Shaka gak berniat main selancar?" tanya Nada saat matanya melihat beberapa orang bermain ombak dengan papan selancarnya.


"Gak tertarik."


"Kenapa? Enggak bisa ya? Duh sayang banget sih cowok macho enggak bisa main selancar," cibir Nada.

__ADS_1


Tentu saja cibiran Nada membuat dada Shaka terasa panas. Bukan tidak bisa bermain selancar, hanya saja Shaka tidak mau mengekspos tubuhnya sembarangan. Apalagi akan dinikmati oleh orang-orang yang melihatnya, terutama para wanita.


Sebenarnya membawa Nada saja rasanya sangat berat, karena mata Nada akan jelalatan untuk menatap lekuk tubuh pria lain. Jelas saja Shaka tidak rela, tetapi bukan Nada jika tidak keras kepala.


"Sudahlah, ayo kita kembali ke hotel dan berkemas. Sore nanti kita akan pulang karena besok kita sudah harus kembali ke kampus," kata Shaka saat mengajak Nada untuk meninggalkan area pantai.


"Tunggu bentar, Pak. Lagi seru-serunya masa pergi sih!"


"Nada!" Suara kata yang pada akhirnya membuat Nada mleot dan patuh pada Shaka.


Liburan kali ini Nada merasa sangat bahagia karena bisa melihat bagaimana sebenarnya pulau Lombok dan pulau Bali yang sebenarnya dengan nyata. Biasa hanya melihat dari video, tapi kali ini Nada benar-benar bisa menghirup udara segar dari kedua pantai impiannya itu.


Kurang lebih hampir 2 jam perjalanan dari Bali ke Jakarta. Selama perjalanan udara, Nada tertidur karena rasanya terlalu nyaman. Selama ini dia tak pernah merasakan naik pesawat, karena tak pernah bepergian jauh. Kota paling jauh di kunjungi Nada adalah kota Jogjakarta, itupun karena ikut tour bersama rombongan saat hendak perpisahan.


Sejak tadi Shaka mengamati wajah lelap wanita yang telah berstatus sebagai istrinya. Bulu mata yang lentik, bibir tipis serta tahi lalat di ujung bibir yang menandakan jika wanita itu cerewet. Dan benar apa adanya juka Nada adalah tipe wanita yang paling cerewet menurut Shaka. Diam-diam Shaka mengambil ponselnya untuk mengabadikan foto Nada. Satu jepretan telah disimpan dalam galeri ponsel. Namun, rasanya ada yang kurang jika dia tidak berpose. Dan pada akhirnya satu jepretan tersimpan lagi di dalam galeri foto. Tapi kali ini ada gambar dirinya. Bibirnya pun tersenyum kecil sambil merapikan selimut yang digunakan Nada.


*


*


"Syukurlah, aku pikir bapakmu pindah tempat kerja dan kamu juga ikut pindah kuliah. Ternyata lagi ada acara keluarga. Tapi kenapa gak ngasih tau kami sewaktu belum berangkat, sih? Kan kita khawatir, Nad!" kata Kila yang sudah merasa lega saat mendengarkan penjelasan dari Nada.


"Oh iya Nad, ada kabar bahagia yang harus aku sampaikan padamu kalau sekarang dosen kulkas udah nggak ngajar di kampus kita lagi. Dia udah out dari sini. Sekarang kita merdeka, Nad!" seru Arsyila dengan bangga.

__ADS_1


Nada hanya tersenyum kecil melihat sahabatnya merasa sangat bahagia. Tapi apakah sahabatnya tau jika mulai hari ini dosen kulkas itu sudah aktif mengajar lagi? Nada tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kedua sahabatnya nanti saat melihat dosen kulkas itu masuk kedalam kelas yang sebentar lagi akan dimulai.


"Sebagai negara Indonesia kita wajib merayakan kemerdekaan. Bagaimana kalau nanti pulang kuliah kita nonton dan makan sepuasnya. Tenang, aku yang akan bayar, bagaimana?" celetuk Arsyila.


"Boleh banget tuh. Kamu ikut ya, Nad! Gak seru gak ada kamu," timpal Kila.


"Kayaknya dosen kulkas itu belum out dari kampus ini, deh. Dia masih ngajar di kampus ini," komentar Nada.


Kedua sahabatnya langsung mendelik kearah Nada dan tidak yakin dengan ucapan Nada, karena sudah satu Minggu dosen kulkas itu tidak menunjukkan batang hidungnya di kampus lagi.


"Kamu tau darimana, Nad? Kamu aja enggak masuk kuliah selama satu Minggu. Jangan-jangan kamu nggak rela kalau dosen kulkas itu out dari sini kan? Aduh Nada .... dia itu penjajah yang harus dimusnahkan dari kampus ini, Nad. Sebagai warga kampus yang baik, kamu harus bangga dengan mundurnya dosen kulkas itu, Nad! Mulai sekarang kita merdeka dan bebas dari tugas!" tegas Arsyila.


Syila ... tapi apa yang aku katakan itu benar adanya. Dosen kulkas itu masih ngajar di kampus ini. Kan tadi aku berangkatnya sama dia. Nada hanya bisa memendam ucapannya di dalam hati karena dia tidak bisa menjelaskan apa sebenarnya yang sudah terjadi.


Tepat pukul sembilan tanpa kurang dan lebih, seorang dosen telah masuk ke dalam ruang kelas. Semua mata terpana dengan kehadirannya yang sudah dianggap tidak mengajar lagi. Namun, nyatanya detik ini juga dosen itu masih berdiri di hadapan mereka.


Hampir semua mahasiswa tidak bisa menelan ludahnya karena saking terkejut dengan kemunculan dosen kulkas secara tiba-tiba. Bahkan diantara beberapa mahasiswa lainnya masih ada yang belum masuk kelas.


"Itu kan ...." Kila menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kil, ini beneran kan? Bukan mimpi kan? Apa cuma mataku aja yang sliwer? Katakan jika itu bukan dosen kulkas." Arsyila masih tidak yakin dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Syil, ini bukan mimpi. Ini nyata, Syil. Itu memang dosen kulkas. Dia kembali, Syil." kata Kila dengan pelan.

__ADS_1


...~BERSAMBUNG~...


...Jan lupa jejaknya ya 💜💜...


__ADS_2