
Perjalanan Surabaya-Jakarta membuat Nada merasa lelah, sekalipun dia hanya duduk tentang di atas pesawat. Karena terlalu lelah sesampainya di rumah Arshaka, diapun melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu. Dia tidak peduli dengan barang-barang bawaan dari mertuanya yang super banyak, padahal mereka sudah tahu jika di Nada hanya tinggal berdua dengan Arshaka aja.
"Nad, mandi dulu baru tidur!" ujar Shaka saat melihat istrinya yang langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Kalau aku mandi, ngantuknya ilang, Pak. Karena abis mandi pasti akan seger kembali."
"Nah, itu lebih bagus!"
"Gak ah. Aku tidur dulu. Nanti kalau udah tiba waktu Ashar bangunin aku, ya!"
Shaka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena Nada terlihat sangat lelah, Shaka pun tak memprotes lagi dan membiarkan Nada untuk tidur terlebih dahulu.
*
*
Karena ulah Shaka yang sangat ganas akhirnya kepulangan mereka diundur. Tidak mungkin Shaka membiarkan Nada pulang dengan jalannya yang seperti bebek. Bisa-bisa Nada hanya menjadi pusat perhatian semua orang. Dan akhirnya Nada terpaksa mangkir lagi dari jadwal kuliahnya.
Pagi ini saat bangun Nada merasa lebih seger dari biasanya. Mungkin karena efek minuman yang diberikan oleh ibu mertuanya sehingga badan Nada terasa lebih segar.
__ADS_1
"Nad, buruan!" panggil Shaka yang sudah merasa bosan untuk menunggu Nada berdandan. Padahal hanya pergi kuliah, tetapi waktu yang digunakan untuk berdandan dan memakai baju harus memakan waktu hampir 30 menit.
"Iya, Pak. Ini juga lagi pakai jilbab!" sahut Nada dari dalam kamar.
Shaka begitu sabar saat menunggu istrinya untuk keluar dari kamar. Bahkan rasanya sudah hampir jemuran karena Nada tak kunjung keluar.
"Nad, aku tunggu di bawah ya!" kesabaran yang dimiliki oleh Shaka hanyalah setipis tisu, sehingga dia tidak sanggup berlama-lama menunggu Nada.
Didepan kaca, Nada masih memoles l tipis pipinya dengan bedak. Tak lupa lipgloss untuk menyempurnakan tampilannya.
"Tara ... udah siap," ujar Nada saat melihat tampilan dirinya di depan kaca yang terlihat sudah sempurna. Dengan helaan nafas panjang dia pun langsung meninggalkan kamar dan mencari keberadaan suaminya yang merasa bosan saat menunggu dirinya.
Langkah terus melangkah hingga sampai di teras. Nada langsung menautkan kedua alisnya saat melihat Yusuf telah berbicara dengan Shaka. Namun, bisa dilihat sepertinya Shaka tidak menerima kedatangan Yusuf sehingga Shaka langsung mengusir Yusuf.
"Mas, tapi ini persennya Budhe!" Terlihat Yusuf tidak terima saat Shaka mengusirnya.
"Halah, itu hanya alasan kamu aja! Mana ada ibu nyuruh kamu untuk ngasih jamu kayak gini. Ini hanya akal-akalan kamu aja. Udah sana pulang, aku mau berangkat ke kampus!"
"Gak bisa, Mas! Aku harus memberikan jamu ini kepada Mbak Nada. Nanti Budhe marah."
__ADS_1
Nada yang melihat Shaka terus mendorong tubuh Yusuf untuk keluar dari halaman rumah pun langsung segera menghampiri keduanya.
"Pak Shaka, kenapa Yusuf didorong-dorong? Nanti kalau dia jadi gimana?"
Shaka langsung menoleh ke belakang dia sudah melihat Nada telah siap. Melihat penampilan Nada yang sedikit berubah membuat Shaka langsung menawarkan kedua adiknya.
"Nada," gumam Shaka karena pagi ini Nada terlihat bersinar.
"Masyaallah .... istri orang," sahut Yusuf.
Mendengar ujian Yusuf, Shaka langsung mendorong tubuh Yusuf dengan kasar agar segera meninggalkan halaman rumahnya.
"Mbak ... tolongin aku! Aku cuma mau ngasih jamu ini sama mbak Nada, tapi Mas Shaka gak kasih izin. Kan yang nyuruh aku Budhe Maryam. Kalau gak percaya telepon Budhe aja!" seru Yusuf yang sudah hampir keluar dari halaman rumah Shaka.
Melihat Yusuf yang terus-menerus didorong membuat Nada turun tangan.
"Pak Shaka gak boleh kasar-kasar sana Yusuf!" ujar Nada dengan tangan yang mencekal tangan Shaka agar tak mendorong tubuh Yusuf lagi.
"Cup, mana jamunya?"
__ADS_1
Yusuf langsung memberikan jamu yang berada di tangannya kepada Nada. "Ini Mbak. Kata Budhe harus diminum rutin agar mbak Nada awet Muda!"