
Nada mengernyitkan keningnya saat melihat bubur ayam diatas diatas piring. Padahal biasanya akan ada banyak jenis makanan di atas meja, namun tidak untuk pagi ini.
"Eh, kalian udah bangun. Gak usah protes ya kalau sarapan pagi ini hanya bubur ayam. Tadi ibu kesiangan," ujar ibu Nada.
"Tumben ibu kesiangan?" Nada terheran, karena biasanya sang ibu tak pernah sekalipun kesiangan.
"Ya, namanya juga keenaan tidur, Nad! Sudahlah makan aja, nggak usah banyak protes!" kata ibunya lagi. "Ka, gak apa-apa kan kalau pagi ini sarapannya cuma bubur ayam aja?" Kini sang Ibu bertanya kepada Shaka.
"Enggak apa-apa kok, Bu. Yang penting bisa sarapan. Harusnya itu yang masak setiap pagi itu Nada, bukan ibu."
Nada yang duduk di samping Shaka hanya mendali dengan lebar. Dan sang Ibu pun malah menertawakan ucapan Shaka.
"Daripada Nada yang masak mending ibu beli di luar aja. Yang ada dapur berantakan kayak kapal pecah. Masih mending kalau masakannya bisa dimakan, lha ini baru dicicipi aja udah bikin teler," balas ibu Nada.
Merasa aibnya dibuka, Nada hanya bisa mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal dengan sang ibu yang terang-terangan membuka kartunya, jika dirinya tidak bisa memasak.
"Kamu gak bisa masak, Nad?" Shaka pun bertanya kepada Nada.
"Kalau enggak bisa masak kenapa? Pak Shaka menyesal telah menikahi saya?"
"Bukan begitu, aku hanya bertanya saja," jelas Shaka.
"Sudah-sudah enggak usah berantam. Buruan makan, nanti keburu dingin nggak enak loh!" seru ibunya untuk meraih perdebatan kecil ini.
Shaka merasa ada yang kurang. Dan benar saja tempat duduk bapak mertuanya masih kosong. "Lho, bapak mana, Bu?" tanya Shaka yang merasa penasaran.
"Oh, Bapak udah berangkat kerja. Hari ini bapak ada sedikit pekerjaan di luar kota, video berangkat pagi-pagi," jelas ibunya.
Pantas sajak pagi-pagi sudah ngecas power bank, ternyata bapak mau keluar kota. batin Shaka.
*
*
Siang ini Nada dan dua sahabatnya sudah berjanji akan makan di kafe terdekat. Kabarnya kafe itu akan kedatangan sebuah band yang cukup terkenal di YouTube. Nada yang memang menyukai band itu, tidak ingin ketinggalan, meskipun dia harus mengabaikan ucapan Shaka yang ingin makan siang bersama. Kali ini Nada lebih mementingkan band itu daripada Shaka, karena band itu sangat sulit untuk ditemui. Kapan lagi kalau tidak sekarang? Sedangkan Shaka, tiap hari sudah bertemu hingga membuatnya kenyang.
__ADS_1
"Eh, beli buket dulu!" saran Kila sebelum berangkat ke cafe.
"Nah, bener tuh. Buruan pesen tiga, Kil!" perintah Nada.
"Kok tiga?" Asyila merasa heran.
"Lha, kita kan tiga orang, Syil! Emang kamu enggak mau?" tanya Kila.
"Bukan seperti itu, tapi Nada ... " Arsyila langsung melirik kearah Nada.
"Nada kenapa? Kan Nada emang ngefans sama Reiner. Pasti bawa buket lah!" timpal Kila.
Tubuh Nada menegang untuk sesaat. Berharap Arsyila bisa menjaga rahasia jika saat ini dirinya sudah menikah dengan dosen kulkas itu. "Aku pasti bawalah, dong. Sejak kapan aku enggak pernah bawa buket?"
Asyila hanya nyengir saat di pelototin oleh Nada.
Hampir satu jam Shaka menunggu kedatangan Nada ke ruangannya. Bahkan cacing di dalam perut pun juga sudah mendingan, tetapi Shaka belum juga memberi umpan. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Shaka, tentu aku sangat kesal, terlebih saat menghubungi Nada tak ada jawabannya. Padahal sebelum kelas, Shaka sudah mengingatkan Nada agar tidak lupa untuk makan siang bersama. Namun, nyatanya hampir satu jam lamanya Nada tak juga muncul.
"Kemana sih anak itu!" gerutu Shaka dengan rasa tidak tenang didalam hatinya. Detik kemudian Shaka teringat pada Ucup, pria yang sering berduaan dengan Nada. Bisa jadi saat ini Nada sedang bersama dengan Ucup.
"Jangan-jangan Nada lagi sama si culun itu!" tebak Shaka. "Apa sih kelebihan si culun itu sehingga Nada tergila-gila dengannya. Padahal ganteng juga enggak!"
Pengumuman yang masuk ke grup langsung dibaca oleh beberapa mahasiswa. Mereka bertanya-tanya salah apa yang telah dibuat oleh Nada sehingga Nada dipanggil untuk ke ruangan dosen kulkas itu.
Sebagai yang mengenal Nada langsung menghubungi Nada. Bahkan diantara beberapa mahasiswa lainnya mengirim sebuah pesan kepada Nada untuk segera datang ke ruangan dosen kulkas itu.
Nada yang sedang asyik menikmati Band kesukaannya merasa sangat heran mengapa tiba-tiba ponselnya penuh dengan sebuah notifikasi. Untuk memecahkan rasa penasaran Nada pun membaca satu persatu pesan yang telah dikirimkan. Betapa terkejutnya Nada setelah membaca pengumuman di grup, bahwa saat ini Shaka sedang memanggil dirinya agar segera datang ke ruangannya.
Dih, manusia satu ini enggak bisa lihat aku senang dikit aja apa? Tiap hari akan ada aja ulahnya. Heran deh! gerutu Nada dalam hati.
Karena tidak ingin memperlebar masalahnya dengan Shaka, Nada pun dengan berat hati meninggalkan Band Reiner meskipun belum selesai. Namun, sebelum pergi Nada menyempatkan diri untuk memberikan buketnya kepada Reiner.
"Maaf Kak, aku ada sedikit urusan jadi tidak bisa menunggu acara Kakak sampai selesai. Semoga acara ini berjalan dengan lancar, ya." Nada memberanikan diri untuk maju ke depan dan memberikan bukitnya langsung kepada Reiner.
Tepuk tangan dari beberapa pengunjung membuat suasana menjadi riuh. Bahkan hingga terdengar suitan dari beberapa orang.
__ADS_1
Reiner sudah tidak asing lagi dengan wajah Nada karena Nada selalu hadir dan akan memberikan buket untuknya saat dirinya manggung di cafe-cafe terdekat.
"Wah ... thank you. Sungguh aku sangat terharu. Terima kasih ya," ucap Reiner dengan rasa harunya.
"Iya, sama-sama. Sukses untuk Kak Rein, ya. Tapi bisakah kita berfoto?" tanya Nada dengan ragu-ragu.
Reiner pertama pelan dan langsung meminta ponsel Nada. Melihat tidak ada penolakan dari Reiner, Nada segera memberikan ponselnya pada Reiner. Semua pengunjung yang sedang melihat mereka hanya bisa menyoraki karena Nada adalah salah satu dari sekian penggemar yang bisa berfoto langsung dengan Reiner.
Kila dan Arsyila hanya bisa melongo saat Nada berhasil mengabadikan fotonya dengan Reiner. Bahkan rasanya dia sangat iri dengan Nada. "Astaga ... tadi malam Nada mimpi apa ya? Bisa-bisanya dia foto sama Reiner," ucap Kila dengan pelan.
"Mimpi ketiban durian kali," celetuk Arsyila.
Setelah mendapatkan foto dengan Reiner, Nada pun langsung meninggalkan Cafe dan menuju kembali ke kampus meskipun sudah tidak ada kelas lagi. Namun, sebelum itu nada membeli makan siang untuk sang kulkas yang kurang kerjaan.
"Eh ... eh .. mau kemana?" Seorang dosen wanita menghentikan Nada saat ingin menuju ke ruangan Shaka.
Nada pun langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah menggantikan dirinya. "Bu Dewi?"
"Kamu mau kemana?" Bu Dewi mengulang pertanyaannya lagi. "Jangan bilang mau ke ruangan Pak Arsha. Iya kan?"
Nada langsung nyengir. "Iā iya, Bu."
"Mau ngapain? Jangan ganjen kamu ya! Tugas kamu itu belajar dengan baik bukan belajar menggoda dosen!"
"Bukan gitu, Bu. Saya datang karena disuruh oleh Pak Shaka. Ini kalau tidak percaya." Nada langsung menunjukkan sebuah pesan yang dikirim Shaka ke group kelas mereka.
"Ya udah sana! Awas aja kalau sampai ganjen sama dia, ya!" pesan Bu Dewi.
"Tenang aja, Bu. Saya sudah punya pasangan. Ibu mau lihat?" Nada pun kembali menunjukkan ponselnya kepada Bu Dewi, tetapi kali ini bukan fotonya bersama dengan Shaka yang ditunjukkan, melainkan fotonya bersama dengan Reiner beberapa menit yang lalu.
Kening Bu Dewi langsung mengernyit. "Benarkah? Bukan ini Reiner, penyanyi yang terkenal di YouTube itu?" tebak Bu Dewi lagi.
"Nah, 100% buat Bu Dewi. Tenang aja, saya gak bakalan ambil dosen kulkas, kok. Ya udah Bu, saya permisi. Takut pak Shaka marah karena sudah menunggu saya terlalu lama."
"Ya sudah sana pergi! Ingat jangan ganjen!"
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...
Komen dong, sepi amat punya novel. š