
Entah pernikahan macam apa yang sedang dijalani oleh Shaka. Seorang pria normal sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh istrinya sendiri, sedangkan diluar sana banyak para pasangan yang telah menjamah pasangannya, meskipun belum halal. Sementara Shaka sudah sah dan halal untuk menyentuh istrinya, tetapi masih berpikir-pikir. Lalu apakah salah jika orang tuanya menganggap Shaka pria normal?
Tak ingin melihat anaknya tidak melakukan hal yang semestinya, ibu Shaka menggunakan berbagai cara untuk membuat mata Shaka terbuka lebar. Bagaimana pun Shaka harus segera menyentuh istrinya dan memberikan pewaris untuk keluarganya. Sebagai anak tunggal sudah kewajiban Shaka untuk segera memberikan momongan sebagai pewaris keluarganya kelak.
Setelah siang tadi rencana yang telah gagal, malam ini Ibu Maryam menjalankan rencananya lagi. Tanpa sepengetahuan Shaka sang Ibu memasukkan ramuan kuat didalam teh yang sengaja disiapkan untuk Shaka. Berharap cara itu adalah cara terampuh untuk Shaka unboxing malam ini.
Malam ini semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah karena malam ini adalah malam terakhir Shaka berangkat di rumah itu. Besok pagi dia harus kembali ke Jakarta karena harus bekerja sedangkan Nada juga harus kuliah.
"Apakah tidak bisa diperpanjang lagi libur kalian?" tanya nenek Shaka yang masih berharap jika cucunya memperpanjang liburan mereka. Jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya hanya menginap 2 hari 2 malam, tentu saja rasanya sangat kilat. Belum juga hilang rasa rindunya sudah harus ditinggal kembali ke Jakarta lagi.
__ADS_1
"Tidak bisa, Nek. Shaka harus kembali mengajar dan Nada juga harus kuliah. Lain kali jika ada libur kuliah Shaka akan pulang lagi," ujar Shaka pada sang nenek.
Helaan nafas panjang keluar dari mulut wanita tua itu. Rasanya belum puas untuk melihat wajah cucunya, dan lagi-lagi harus ditinggal lagi. "Sudah jika hanya ingin cepat pulang, kamu tidak usah pulang lagi. Lebih baik nenek tidak melihatmu, daripada hanya mengotori pandangan mata nenek." Sang nenek pun merajuk.
Tidak akan ada yang bisa menggugurkan niat Shaka untuk pulang ke Jakarta, karena dia juga harus bertanggung jawab akan tugas dan kewajibannya. Jika bukan sang ibu yang memohon Shaka untuk pulang, Shaka tidak akan pernah pulang, karena dia tau apa yang akan terjadi.
"Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana kuliah yang sudah banyak tertinggal. Apakah kamu senang juga nanti nilaimu jelek. Kamu sudah banyak ketinggalan materi dan malah ingin memperpanjang libur? Kalau kamu mau nilaimu jelek, silahkan kamu tetap tinggal disini, tapi aku akan tetap pulang," tegas Shaka.
Nada hanya bisa mendengkus dengan kasar. Ya begitulah suaminya yang sangat konsisten dan tanggu jawab pada pekerjaan. Dan satu lagi penyakit Shaka yaitu akan selalu memberikan ancaman dengan nilai buruk padanya.
__ADS_1
Entah mengapa tubuh Shaka mendadak merasa gerah. Bahkan muncul getaran yang susah diartikan, terlebih saat melihat Nada tak mengenakan hijab. Rasa ingin memeluk sang istri terus bergejolak. Beberapa kali dia harus membuang pikiran buruknya, tetapi lama-lama Sahak tidak sanggup. Dengan cepat Shaka menarik lengan Nada hingga wanita itu terjatuh keatas tubuh Shaka.
Mata Shaka menatap lekat wajah Nisha dengan lekat. Nada terbelalak dengan lebar dengan posisinya saat ini dan saat Nisha ingin bangkit, Shaka langsung mencegahnya.
"Pak Shaka mau apa?" Dada Nisha bergemetar dengan hebat saat Shaka sudah menyangga kedua pipinya.
"Sssttt!"
( Dah jangan pikiran jangan aneh-aneh. Ingat lagi puas 🤠)
__ADS_1