
"Maaf aku mengagetkanmu," ujarnya.
Nada masih mengelus dadanya karena rasa keterkejutan yang luar biasa. Bagaimana bisa ditempat yang baru dia bisa melihat Ucup, pria culun yang telah menjadi temannya itu.
"Tadi aku pikir kamu siapa, eh gak taunya kamu, Nad? Kamu tinggal disini juga, ya? Kok aku enggak tahu?" tanya Ucup dengan rasa ingin tahunya.
"Eh ... kok kamu bisa nongol disini, Cup?" Bukannya menjawab pertanyaan Ucup, Nada malah melayangkan pertanyaan pada Ucup.
Sambil tertawa pelan Ucup menjawab pertanyaan Nada. "Iya. itu rumah aku di depan situ." Tangan Ucup menunjukkan sebuah rumah megah yang berada tepat dihadapan rumah Shaka.
"Kok bisa?" Nada sangat terkejut.
"Karena aku kata om aku, rumah disini bagus dan rumah. Terlebih sangat dekat dengan kampus. Lha, kamu sendiri ngapain disini?"
"Aku ... aku—" Nada menjeda ucapannya sambil berpikir alasan apa yan tepat untuk menjawab pertanyaan Ucup agar dia tidak curiga jika dirinya adalah istri dari Shaka, dosennya sendiri. "Aku kerja disni," ujar Nada saat menemukan alasan yang tepat.
"Oh, gitu ya. Ada kemajuan juga ya pemilik rumah ini mempekerjakan wanita muda di rumahnya. Biasanya tuh satu minggu sekali baru manggil embak-embak buat bersihin rumah. Kamu hati-hati aja, ya." Ucup merasa heran, dan memilih untuk memberikan saran pada Nada agar berhati-hati pada pemilik rumah ini.
"Memangnya kamu kenal sama pemilik rumah ini?" tanya Nada sambil menautkan kedua alisnya.
Kepala Ucup menggeleng dengan pelan. "Tidak. Meskipun aku sudah bertangga lama, tetapi aku tidak tahu siapa yang menempati rumah ini karena tidak pernah bertemu," jelas Ucup.
Helaan nafas panjang bisa dikeluarkan dengan kasar. Alhamdulillah masih aman. Semoga saja Ucup enggak tahu kalau ini adalah rumahnya pak Shaka dan aku ini istri. Aman ... aman!
Karena Ucup merasa tidak tega akhirnya dia membantu Nada untuk mengangkat beberapa barang-barang miliknya untuk masuk kedalam.
Ya kali, Nad kamu mau bohongin aku! Kamu pikir aku enggak tahu kalau kamu itu istrinya dosen kulkas itu? Batin Ucup saat menyeret koper Nada yang terasa berat.
__ADS_1
"Ini apa isinya, kok berat banget, Nad?"
"Itu ... itu perlengkapanku untuk kuliah," jawab Nara dengan gugup.
"Oh. Tapi ngomong-ngomong barang yang kamu bawa ini banyak ya. Kayak orang pindahan," celetuk Ucup.
"Eh ... itu." Lagi-lagi Nada terjebak sendiri dengan ucapannya. "Kan rumah aku jauh, jadi aku bawa semua perlengkapan kuliahku, Cup. Eh, bay the way, kamu udah lama tinggal disini?" tanya Nada untuk mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Baru setahun tinggal disini. Kenapa?"
"Gak ada. Cuma nanya aja."
*
*
Hari pertama Nada berada di rumah Shaka ternyata tak seburuk yang dibayangkan sebagai, karena ada Ucup yang menemani kesendiriannya. Hobi Nada dan Ucup sama, yaitu sama-sama menyukai novel online. Jadi di manapun tempat keduanya akan selalu nyambung saat berbicara mengenai novel yang mereka baca. Hal itu membuat sebuah kenyamanan untuk Nada, karena ada yang bisa memahami hatinya yang kadang terbawa suasana saat sedang hanyut novel yang dibacanya. Bahkan karena terlalu asyik dengan novel onlinenya, terkadang Nada suka lupa waktu. Seperti saat ini.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Ucup saat Nada menyedot kembali ingusnya.
"Aku gak bisa ngebayangin aja suaminya Nuri mempunyai masa lalu yang kelam. Semoga saja suamiku tidak seperti dia."
"Makanya jangan terbuai dengan penampilannya aja, Nad. Belum tentu covernya bagus juga akan bagus, belum tentu juga dengan cover yang jelek, isinya juga iku jelek. Banyak di luar sana cover yang yang jelek tetapi isinya lebih bagus daripada cover yang sangat bagus. Intinya jangan tergoda oleh penampilannya aja," jelas Ucup.
Termasuk aku, Nad. Semua orang akan menjauhiku karena penampilanku yang culun. Tapi asal kamu tahu, semua itu hanya topeng, Za. Mungkin bisa jadi kamu akan terpesona dengan wujud asliku. Tapi .. untuk saat ini aku belum siap untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya. Aku punya alasan sendiri mengapa aku harus menyembunyikan wajah asliku.
Ucup hanya tersenyum kecil pada Nada. Mungkin Nada akan pikir jika dirinya itu lugu dan polos, tetapi semua itu salah.
__ADS_1
Entah angin dari mana sehingga mendatangkan sosok yang tak asing lagi. Siapa lagi jika bukan pemilik rumah.
Ucup yang tadinya duduk santai, kini tiba-tiba menegang saat melihat pria yang sudah berdiri di belakang Nada.
"Pak ... Pak Shaka," kata Ucup dengan terbata.
"Gak usah panggil nama dia, nanti dia datang kesini. Dia tuh kan kayak hantu yang tiba-tiba bisa nongol dimana aja. Kadang aku suka heran, sebenarnya dia itu manusia atau hantu," ujar Nada yang sama sekali tidak menyadari dengan kedatangan orang yang sedang dibicarakannya.
"Bu ... bukan itu, Nad! Ta ... tapi Pak Sha—Shaka sekarang ada di belakangmu!" Ucup menunjuk keberadaan Shaka. Karena Nada tidak percaya dengan ucapan Ucup, dia pun langsung menoleh ke belakang.
"Astaghfirullahaladzim ... " pekik Nada yang kemudian langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. "Cup ini asli bukan sih?"
"Nad ... aku pulang dulu ya. Assalamualaikum!" Ucup memilih untuk menyelamatkan dirinya dari amukan dosen kulkas itu.
"Eh, Ucup!" teriak Nada.
"Hmm ... bagus ya. Berani memasukkan pria lain saat suaminya gak ada di rumah," sindir Shaka.
"Eh ... Pak Shaka kapan pulang? Kenapa gak ucapin salam?"
"Mau berapa kali lagi aku mengucapkan salam? Kamu bener-bener ya, Nad!" Shaka merasa kesal karena ini adalah kali ketiga Shaka memergoki Nada sedang berduaan dengan Ucup, pria culun itu.
"Tapi kamu gak ngapain kok, Pak. Aku sama Ucup itu cuma temenan. Dan lagi pula tadi Ucup yang bantuin untuk memasukkan semua barang-barang itu!" Tunjuk Nada pada semua barang bawaannya.
"Sudahlah gak usah banyak alasan! Kalau kamu masih bertemu dengannya, ya udah kamu ganti suami aja. Jadikan pria culun itu sebagai suami kamu!" ketus Shaka yang kemudian meninggalkan Nada begitu saja.
"Heh? Ganti suami? Emangnya bisa ya? Kalau bisa aku sih maunya ganti Reiner." Nada pun tertawa pelan. Bukannya merasa takut, Nada malah menertawakan Shaka.
__ADS_1
"Gak usah tertawa. Aku masih bisa mendengar!" teriak Shaka dari arah dapur.
...~BERSAMBUNG~...