
Acara menonton tak sesuai dengan harapan karena keikutsertaan dosen kulkas di dalam bioskop. Harusnya mereka bisa tertawa karena film yang mereka tonton bergenre komedi. Namun, karena sosok Shaka yang duduk disebelah Nada, maka tak ada yang berani untuk tertawa. Ketiga sahabat itu hanya membeku layaknya sebuah patung. Rasanya sia-sia saja telah menonton film komedi jika pada akhirnya mereka semua akan tegang.
Hampir 45 menit mereka menyaksikan film yang baru saja diputar dan pada akhirnya film pun usai. Jika kebanyakan orang yang menonton akan merasa puas karena terhibur, namun tidak berlaku untuk 3 orang yang kini tengah berjalan gontai meninggalkan bilik pemutar film. Ketiganya merasa tidak puas karena seolah sedang diawasi oleh dosen mereka.
"Nad, kayaknya aku enggak jadi ikut makan deh. Tiba-tiba aja aku baru ingat kalau aku belum mengerjakan tugas," celetuk Arsyila yang sangat merasa canggung dan tidak nyaman dengan kehadiran Shaka diantara mereka.
"Hah? Tugas apa? Kok aku enggak tau kalau kita punya tugas," komentar Nada.
"Iya. Kayaknya kita lagi gak ada tugas kuliah deh. Makanya kita bisa jalan," timpal Kila.
"Itu ... tugas dari Pak Ali, dosen sastra dan bahasa. Aku lupa belum mengerjakannya padahal besok adalah hari deadline," kata Arsyila.
"Heh?! Bukan kita udah ngerjain berdua pas Nada gak masuk itu?" protes Kila.
"Iya. Aku baru ingat kalau tugasnya hilang ..."
"Astaga, Syila ....! Gimana bisa hilang, sih? Kamu ceroboh banget jadi orang!" gerutu Kila.
Nada hanya terus diam karena dia tahu alasan sesungguhnya Arsyila tidak mau ikut makan bersama. Itu semua karena ada Shaka diantara mereka.
"Ya udah enggak apa-apa kok. Kita ganti lain kali aja ya. Aku juga mau pulang. Tadi ibu juga bilang aku enggak boleh pulang lewat dari jam sembilan." Kini giliran Nada yang buka suara.
"Ya udah ayo pulang aja. Lain kali aja kita makannya," sambungan Kila.
Ketiganya pun berlalu begitu saja meninggalkan Shaka seorang diri tanpa basa-basi berpamitan ataupun diajaknya untuk pulang. Namun, tak ingin ditinggal sendirian Shaka pun langsung mengejar Nada dan dua sahabatnya.
"Tunggu!" Shaka menghentikan langkah tiga orang yang sudah akan menjauh.
Nada yang sudah hafal dengan suara itu langsung berhati dan menoleh ke belakang. Terdiam tanpa kata sambil menunggu Shaka mendekat.
"Biar saya antar kalian pulang. Gak baik anak-anak cewek pulang sendiri. Apalagi ini udah malam!" kata Shaka.
Mendengar kata yang baru saja keluar dari mulut dosen kulkas itu, ketiga orang hanya saling berpandangan dengan heran.
__ADS_1
"Kok malah bengong?" tanya Shaka saat kegiatan anak mahasiswinya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Pak, Bapak sedang baik-baik saja kan? Bapak sedang tidak sakit kan?" protes Nada.
"Saya sehat. Memangnya saya terlihat loyo? Tidak kan?" balas Shaka.
"Iya, Bapak memang tidak loyo, tapi kami tadi ke sini naik motor masing-masing. Nah, kalau kami pulangnya diantar sama bapak, terus motor kita gimana?" komentar Nada.
"Iya, Pak Shaka aneh deh! Tiba-tiba nongol gitu aja. Eh, ini malah mau nganterin kita pulang," sambung Kila.
"Udahlah, pak Shaka pulang aja sendiri. Kami juga mau pulang sendiri. Da... Pak Shaka." Nada melambaikan tangannya pada Shaka.
Shaka yang ditinggal, langsung mengejar Nada. Dia tidak ingin membiarkan Nada pulang sendirian. Bagaimanapun caranya Nada harus pulang bersama dengannya.
Sesampainya di parkiran, Nada sudah bersiap untuk memasang helmnya tetapi langsung dicegah oleh Shaka. "Kamu pulang sama aku," bisik Shaka dengan pelan.
Nada pun mendongak dan menatap lekat mata Shaka, seolah sedang memberi sebuah isyarat kepadanya jika saat ini masih ada dua orang sahabatnya yang tengah memperhatikan dirinya. Menyadari akan hal itu, Shaka langsung melepaskan tangannya yang sedang memegang tangan Nada.
"Nad, kamu gak papa?" tanya Kila seraya melirik ke arah Shaka.
"Kamu yakin gak papa?" Kila meyakinkan lagi.
Kepala Nada mengangguk dengan pelan sebagai jawaban jika dia baik-baik saja.
"Udahlah, Kil. Kita duluan aja. Mungkin urusan hari itu belum selesai. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka agar tidak menjadi dendam," bisik Arsyila.
Kila pun langsung mempercayai ucapan Arsyila. Mungkin ada benarnya jika urusan dosen kulkas dengan Nada belum selesai.
"Ya udah, Nad. Kami pulang duluan ya. Nanti kalau Pak Shaka macam-macam langsung telpon 110," pesan Kila sebelum meninggalkan Nada.
"Oke. kamu tenang aja Pak saka nggak bakalan macam-macam sama aku karena aku punya sabuk hitam. Sekali tendang udah sampai rumah sakit." Sekilas Nada menyombongkan dirinya.
Dan kini hanya tinggal dua orang yang masih terdiam di tempat. Bahkan saat ini Nada telah mengerucutkan bibirnya. Sungguh dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Shaka, sampai menyusul dirinya ke bioskop. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bersenang-senang akhirnya gagal karena kehadiran Shaka.
__ADS_1
"Ayo pulang!" ketus Shaka.
"Ya udah pulang sana!" Nada pun ikut ketus.
"Oh, udah berani melawan sama suami ya? Gak takut sama dosa?" sindir Shaka.
"Maunya Pak Shaka itu apa, sih? Aku udah sabar ya dari tadi untuk menghadapi Pak Shaka. Lagian siapa yang nyuruh Pak Shaka kesini? Heran, deh!" protes Nada dengan kesal.
"Ya udah kalau gak mau pulang, aku telpon ibu, kalau kamu ngelawan sama suami, biar sampai rumah langsung dapat pencerahan dari ibu!" ancam Shaka yang kemudian berlalu meninggalkan Nada.
Nada langsung mengernyitkan dahinya. "Hei ... ancaman macam apa ini? Pak Shaka!" teriak Nada.
*
*
Tak ada percakapan diantara dua orang yang sedang berada di sebuah restoran. Shaka sengaja mengajak Nada untuk singgah terlebih dahulu ke sebuah restoran sebelum mereka pulang. Ternyata sangat mudah untuk menundukkan Nada. Dengan berbagai ancaman Nada akan tunduk. Shaka hanya bisa tertawa puas di dalam hatinya ketika melihat Nada memang wajah kesalnya.
"Udah makan, nanti keburu dingin nggak enak loh!" perintah Shaka pada Nada yang masih terdiam ditempat duduknya tanpa pergerakan.
"Aku gak lapar, Pak! Udah kenyang lihat wajah Pak Shaka," jawab Nada dengan ketus.
"Benarkah? Bagus deh kalau kamu kenyang saat melihatku. Itu artinya aku sangat tampan sehingga kamu merasa puas untuk melihatku," celoteh Shaka.
"Dih, kepedean banget sih? Gak sinkron sama julukan dosen kulkas, kalau narsisnya gak ketulungan," cibir Nada.
"Dosen kulkas? Apakah itu adalah nama kesayangan kalian untukku? Wah ... keren sekali. Pasti kamu yang mencetuskannya. Selamat ya, karena aku sangat menyukai panggilan itu. Dosen kulkas." Shaka tertawa pelan saat baru mengetahui jika dia memiliki julukan dimata para mahasiswanya.
Nada hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut saat menghadapi kelakuan suaminya yang memiliki sifat ganda.
"Terserah Pak Shaka aja! Tapi aku lagi gak selera untuk makan. Pak Shaka aja yang makan!" Nada menyodorkan piring yang ada di depannya kepada Shaka.
"Ya udah sini aku makan! Mubazir udah di bayar gak dimakan!"
__ADS_1
...~BERSMABUNG~...