
Terdiam tanpa kata. Begitulah yang Nada lakukan saat ini karena baru melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan suaminya, dirinya langsung ditodong dengan berbagai macam pertanyaan. Bahkan Nada tidak diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan mengapa dirinya terlambat.
Wajah Shaka terlihat sedang tidak bersahabat. Dia tidak menerima sedikitpun alasan yang diberikan Nada, karena beberapa menit yang lalu Shaka melihat story di WhatsApp milik Nada yang memposting foto Nada sedang bersama dengan seorang pria. Tentu saja hati Shaka terasa panas seperti sedang terbakar.
"Kemarin anak culun, sekarang anak band. Terus besok siapa lagi?"
Nada hanya mengerucutkan bibirnya. Bagaimana bisa seorang dosen kulkas mempunyai sifat yang sangat posesif. Bahkan hanya sekedar berteman dengan seorang pria sudah dianggapnya pacaran. Padahal sudah jelas jika saat ini keduanya telah menikah, tetapi pikiran Shaka terlalu dangkal.
"Kenapa sih, Pak Shaka itu suka sekali nuduh aku yang enggak-enggak! Aku ngobrol sama Ucup dicemburuin. Terus aku foto sama Rein, Pak Shaka juga cemburu. Terus apakah baku enggak boleh temenan sama laki-laki, gitu?" protes Nada.
"Ya udah kurung aja aku di kamar biar enggak kemana-mana. Kalau perlu kasih lebel istrinya dosen kulkas. Atau bisa juga diikat pakai kolornya Pak Shaka biar gak pergi kemana-mana. Puas!" lanjut Nada dengan kesal.
"Ya enggak gitu juga, Nad. Aku hanya enggak mau kamu kenapa-kenapa. Itu aja kok," kilah Shaka.
"Halah, alasan! Bilang aja kalau sebenarnya Pak Shaka itu orangnya sangat posesif. Sok-sok pakai topeng kulkas, gak sesuai, Pak!" protes Nada lagi.
Merasa sudah kalah berdebat, Shaka pun memutuskan untuk diam dan mengalah.
"Sudahlah, makan aja! Kamu gak tau kan kalau cacing di perut aku udah pada demo?"
Nada tidak habis pikir dengan jalan pikir suaminya yang terkadang kekanak-kanakan. Bahkan bisa dibilang tidak sesuai dengan julukan yang diberikan oleh para teman-temannya. Bagaimana semua temannya mengetahui sifat asli dari seorang dosen kulkas yang selama ini mereka sekali.
Setelah menghabiskan makanan yang dibawa oleh Nada, Shaka pun ini harus kembali mengajar kembali. Namun sebelum itu dia berpesan kepada Nada agar tidak keluar dari ruangannya, karena Shaka ingin pulang bersama dengan Nada.
"Kamu di sini aja nggak usah ke mana-mana karena ini adalah kelas terakhir. Setelah kelas ini berakhir kita akan pulang bersama," pesan Shaka pada Nada.
Setelah Shaka terlalu meninggalkan ruangannya, Nada memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lebih baik tidur daripada jenuh menunggu suaminya hingga 45 menit kedepan.
Cinta kadang kala mengubah mood seseorang. Kadang akan terlihat sangat baik bahkan bisa juga terlihat sangat buruk, semua itu tergantung pada mood ataupun layanan yang diberikan oleh pasangannya. Semakin baik pasangan memberikan layanan, maka akan semakin baik juga mood untuk melakukan pekerjaannya. Akan tetapi sebaliknya. Jika pasangan tidak memberikan mood yang baik maka pekerjaan yang dilakukan akan terasa hambar.
Meskipun siang ini telah ditemani Nada untuk makan siang, tetap saja tak akan mengubah isi hati Shaka yang sedang kesal dengan Nada. Bisa-bisanya dia memposting foto pria lain daripada fotonya. Jelas saja Nada merasa sangat kecewa dengan Nada.
__ADS_1
Empat puluh lima menit rasanya sangat lama. Pikiran Shaka hanya terfokus kepada Nada yang saat ini berada di ruangannya. Mencoba bersabar hingga waktu usai itu rasanya sangat lama.
Disisi lain Nada seperti sedang terkurung di dalam penjara. Rasanya tidak tahan jika harus menunggu suaminya selama hampir 45 menit di dalam ruangan. Akhirnya Nada memutuskan untuk keluar, sekedar cari angin.
"Memangnya aku anak tikus yang harus dikurang?" gerutu Nada saat keluar dari ruangan suaminya.
Berjalan pelan, Nada menyusui lorong kampus yang terlihat sepi. Hanya tersisa satu dua mahasiswa yang masih berada di sekitar, karena memang sebagian sudah pulang dan sebagian lagi sedang ada kelas.
"Kila sama Syila kemana, ya?" Nada bertanya pada dirinya sendiri dan kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada sahabatnya. Nada pun memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang.
Setelah menikah dengan Shaka, hidupnya seperti terkekang. Ini salah, itu salah, semua serba salah. Gerak dikit, suaminya langsung cemburu kepada dirinya. Padahal setelah menikah suaminya belum pernah mengucapkan kata aku cinta kamu, ataupun ungkap lainnya. Bahkan sampai detik ini Nada masih perawan asli. Lalu apa bedanya dengan tidak menikah?
Saat sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba suara yang begitu familiar terdengar ditelinganya.
"Ayo pulang, aku udah selesai," ujarnya.
Nada langsung mendongak dan melihat Shaka sudah berdiri di depannya.
Shaka sengaja mengajak pulang bersama karena dia ingin singgah sebentar ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, Pak?" tanya Nada yang penasaran.
"Jalan-jalan sebentar!" ucapnya dengan datar.
Nada hanya menganggukkan kepala dan fokus lagi pada layar ponselnya. Sesekali Shaka melirik ke arah Nada yang memilih untuk memainkan ponselnya daripada berbicara kepada dirinya.
"Apakah hape jauh lebih penting daripada aku?" tanyanya.
Nada langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Shaka. "Maksud pak Shaka?"
"Sejak tadi aku memperhatikanmu terus-menerus memainkan ponselmu. Kamu sedang bertukar pesan dengan siapa? Dengan anak culun itu atau anak band yang tadi?"
__ADS_1
Nada langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Astaghfirullahaladzim ... Pak Shaka! Sampai kapan Pak Shaka akan berhenti mencurigaiku seperti ini? Aku katakan dengan jelas, wahai suamiku aku sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kedua pria itu. Jikapun aku dekat dengannya itu karena aku berteman dengannya bukan aku berpacaran dengannya karena saat ini aku sudah menikah dengan kamu, wahai suamiku." jelas Nada penekanan.
"Baiklah, kali ini aku percaya denganmu wahai istriku," balas Shaka uang mengikuti gaya bicara Nada.
Hamil 30 menit mobil yang dikemudikan oleh Shaka telah berhasil di sebuah rumah yang lumayan besar. Ini adalah kali pertama Shaka mengajak Nada pulang ke rumahnya. Shaka memutuskan ingin tinggal di rumahnya, karena merasa sayang rumahnya tidak ada yang menempati.
"Ini rumah siapa, Pak?" tanya Nada dengan penasaran.
"Ini rumah kita. Ayo turun!"
Kening Nada langsung mengernyit. "Rumah kita?" cicitnya.
"Iya, ini rumah kita. Bukankah saat ini kita sudah menjadi pasangan suami istri? Dan setelah menikah apa yang menjadi miliki suami akan menjadi miliknya juga?"
Nada pun langsung mengganggu dengan bulan. "Iya, aku tahu. Jadi ini rumah Pak Shaka? Besar sekali," kagum Nada.
"Biasa aja! Ayo turun!"
Nada mengikuti langkah Shaka untuk masuk kedalam rumah besar itu. Entah mengapa hatinya mendadak teduh saat melihat perlakuan Shaka kali ini, dimana Shaka yang dilihatnya bukanlah Shaka yang dikenalnya. Bahkan dengan lembut, Shaka menggandeng tangan Nada untuk masuk ke dalam rumah.
"Apakah kamu suka? Ya, meskipun bukan murni hasil keringat kerasku sendiri, tetapi aku menyiapkan ini khusus untuk kamu. Apakah kamu suka?"
Nada terharu saat mendengar pengakuan suaminya jika rumah ini memang disiapkan untuk dirinya.
"Tunggu ... ini bukan mimpi kan, Pak? Atau jangan-jangan Pak Shaka bukanlah Pak Shaka yang asli? Tidak mungkin dalam hitungan menit kulkas dua pintu langsung mencair? Sebenarnya kamu siapa?" Nada merasa tidak yakin jika pria yang sedang bersama dengan dirinya itu adalah Shaka—suaminya.
"Kamu ngomong apa sih, Nad? Kalau aku bukan Shaka asli lalu aku siapa? Arwahnya?"
...~BERSAMBUNG~...
Tinggalin Komentar dong 😔
__ADS_1