
"Topeng? Maksudnya gimana ini? Le, apa di Jakarta sana kamu kalau kuliah pakai topeng? Untuk apa, Le?" tanya sang ibu pada Yusuf.
"Topeng apa sih, Bu. Yusuf gak pernah pakai topeng. Memegangnya Yusuf mau main ketoprak, pakai topeng segala," sanggah Yusuf.
"Dengerin Cup, kamu itu harus segera mencari wanita untuk mengisi kekosongan hatimu. Ikhlaskan saja wanita yang telah bersuami itu, karena sampai kapan kamu tidak akan pernah bisa untuk mendapatkannya. Lagian ada-ada aja, suka sama wanita yang bersuami," celetuk Shaka seraya ingin mengejek Yusuf yang masih memiliki sisa perasaan kepada Nada.
Semua orang yang mendengar ucapan Shaka langsung terkejut. Bagaimana bisa Yusuf mencintai wanita yang sudah bersuami sedangkan di luar masih banyak wanita yang terpesona dengan ketampanannya.
"Ya Allah Yusuf! Benar itu, Le? Kamu mencintai istri orang. Aduh Le, nyebut. Astaghfirullahaladzim .... " Ibu Yusuf benar-benar merasa sangat shock.
Bahkan Nada yang tengah berteman dengan Yusuf tidak menyangka jika pria itu akan mencintai wanita yang telah bersuami.
"Astaghfirullahaladzim ... benar itu, Cup?" Kni Nada pertanyaan untuk memastikan lebih jelas.
Shaka tersenyum puas saat Yusuf serasa sedang dihakimi oleh beberapa orang. Memang sudah seharusnya Yusuf berikan siraman rohani dari para orang tua. Dengan seperti itu Yusuf tidak akan macam-macam lagi dan berpikir dua kali lipat untuk mendekati Nada.
Emang enak dihakimi? Tunggu aja bentar lagi kamu juga akan di rujak, batin Shaka yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
__ADS_1
Namun tidak dengan Yusuf yang merasa dirinya tersudutkan. Padahal dia sudah berusaha untuk melupakan perasaannya kepada Nada, tetapi ya begitulah.. butuh waktu.
"Kalian Jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mas Shaka. Dia hanya bercanda," tepis Yusuf.
"Shaka, benar itu? Kamu baru pulang jangan buat onar ya!" Kini ibunya sendiri yang menimpali.
"Marahin aja Budhe! Di Jakarta Mas Shaka selalu menindasku!" Yusuf mengompori ibunya Shaka.
Nada hanya menggelengkan kepalanya. Bahkan di tengah-tengah keluarga besar Shaka, Nada merasa hangat. Dari sini Nada bisa melihat apa yang belum pernah dilihat sebelumnya, dimana sang suami terlihat sangat mencair dan murah senyum pada anggota keluarga.
Baru saja ingin masuk kedalam kamar, Nada mendengar ada yang memanggilnya. Seketika Nada menoleh kebelakang. Dilihatnya seorang telah sedang berjalan mendekat padanya.
Senyum di bibirnya wanita itu mengembang dengan luas. Matanya tak berkedip saat menatap Nada.
"Apakah kamu bahagia menikah dengan Shaka?"
Nada langsung menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran dengan pertanyaan yang baru saja lontarkan oleh wanita itu.
__ADS_1
"Iya, aku bahagia. Ada apa ya, kok tanya seperti itu?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan saja. Syukurlah kalau kamu bahagia. Aku juga bahagia jika pernikahan kalian bahagia. Aku harap kamu bisa menjaga suami kamu dengan baik dikemudikan hari."
Nada tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Bahkan Nada juga tidak tahu siapa wanita itu, karena saat berada berkumpul dengan keluarga besar Shaka, Nada tak melihat wanita itu. Namun s ada Nada ingin mengajukan pertanyaan, wanita yang sempat berada di depannya sudah tidak ada. Sungguh aneh, cepet sekali wanita itu pergi, batin Nada.
"Kamu nyari apa, Nad?" tanya Shaka yang melihat istrinya seperti sedang mencari sesuatu.
"Itu ... Pak. Aku lagi cari cewek. Tadi nyamperin aku, tapi tiba-tiba ngilang gitu aja kayak hantu," jawab Nada apa adanya.
Shaka pun celingukan untuk mencari orang yang dikatakan oleh Nada. Namun, Shaka menganggap jika istrinya sedang berhalusinasi.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, karena tidak ada. Bahkan saat aku naik aku tidak berpapasan dengan siapa-siapa."
"Beneran, Pak. Tadi tuh wanita itu berdiri didepanku. Masa iya sih, aku berhalusinasi. Kayaknya enggak deh."
"Sudahlah, gak usah kamu pikiran. Udah masuk ke kamar sana!" perintah Shaka. Dengan patuh Nada pun masuk ke kamar dengan segudang tanda tanya di kepalanya. Bahkan Nada bersikeras bawa apa yang baru saja dilihatnya itu bukanlah halusinasi.
__ADS_1
"Aneh ... masa iya si rumah ini ada hantu," lirih Nada dengan pelan.