Pak Dosen Itu Suamiku

Pak Dosen Itu Suamiku
BAB 8 : Ketahuan


__ADS_3

Ternyata ucapan Nada yang mengatakan jika Shaka lah orang ketiga dan dia adalah setannya, membuat dosen kulkas itu tidak terima dan memilih untuk mendiamkan Mada begitu saja. Bahkan sampai di rumah pun Shaka tidak mengeluarkan sepatah kata untuk menegur Nada sekalipun saat ini keduanya sedang berada di dalam satu kamar.


"Pak Shaka?" panggil Nada. Namun, karena Shaka masih merasa kesal dengan ucapan Nada, diapun memilih untuk mengabaikan panggilan dari Nada dan memilih fokus pada layar laptopnya. "Pak Shaka sakit gigi, ya?" tanya Nada sambil melirik kearah Shaka.


Lagi-lagi tak ada jawaban dari dosen yang merangkap menjadi suaminya itu. Kesal akan hal itu, Nada langsung mengambil tas selempangnya dan keluar begitu saja dari kamar tanpa ingin minta izin kepada suaminya.


"Dih ... gitu aja ngambeknya setahun. Emang dosen kulkas enggak bisa diajak bercanda!" omel Nada dengan menuruni anak tangga.


Hari ini meskipun gagal untuk merayakan hari kemerdekaan, tetapi tidak membatalkan juga acara menonton. Nada sudah memberitahu pada kedua sahabatnya jika hari ini mereka akan menonton bersama untuk menggantikan waktu yang lalu. Karena kedua sahabatnya sepakat, akhirnya Nada pun segera meluncur ke sebuah bioskop. Namun, sebelum pergi Nada berpamitan kepada ibunya sehingga dia akan pergi bersama dengan Kila dan Arsyila.


"Suami kamu mana? Kenapa enggak minta antar dia?" tanya ibunya.


"Pak Shaka lagi sibuk sama pekerjaannya, gara-gara libur satu Minggu kemarin. Ya udah, Nada pamit. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam. Eh Nad, tunggu!"


Langkah nada terhenti dan untuk menoleh ke belakang. "Ada apa, Bu?"


"Jangan pulang malam-malam. Ngerti!"


"Siap, Bu. Paling lambat jam 9 Nada pulangnya."


"Heiii jangan ngawur kamu, ya! Ini nggak mau tahu pokoknya pukul 7 malam kamu sudah harus sampai di rumah. Kalau sampai terlambat, kamu nggak boleh main lagi sama teman-teman!" ancam ibunya.


Nada langsung menaikkan kedua alisnya. "Kok gitu. Kan biasanya nanti juga pulang jam 9, Bu!" protes Nada.


"Itukah dulu, Nad! Sekarang beda karena kamu sudah menikah. Terus ini udah izin belum?"


"Belum, Bu. Pak Shaka lagi sakit gigi. Dari tadi diajak ngomong nggak mau nyaut. Nanti ibu yang kasih tahu sama Pak Shaka ya! Dah ah, Nada dah hampir terlambat ini. Daa ... Ibu. Assalamualaikum," teriak Nada yang kini telah mengeluarkan motor maticnya.


Siapa yang menyangka jika obrolan Nada dan ibunya dilihat langsung oleh Shaka. Diam-diam Shaka mendengarkan apa yang diucapkan oleh Nada merasa semakin kesal dan berpikir jika Nada juga akan menonton dengan pria culun itu.


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Masa iya aku kalah sama bocah culun itu," batin Shaka Tanpa pikir panjang, Shaka kembali ke kamar untuk mengambil jaket beserta kunci mobil. Tak lupa juga dompetnya, karena itu syarat utama saat bepergian.


Dari dapur sang ibu mertua melihat Shaka berjalan dengan terburu-buru. Saat ingin dihampiri dan bertanya hendak kemana, Shaka sudah tenggelam di balik pintu.


"Itu orang kenapa ya? Jalannya udah kayak orang kebelet aja," gerutu ibunya Nada saat tak bisa bisa mengejar menantunya.

__ADS_1


*


*


Mobil yang dikendarai oleh Shaka melaju dengan kencang untuk mengejar laju motor yang dikendarai oleh Nada. Namun, ternyata tidaklah mudah untuk mencari sosok Nada di jalanan yang begitu luas dan ramai, meskipun Shaka sudah menggunakan mata elangnya. Sungguh Shaka tidak rela jika Nada bertemu dengan pria culun yang bernama Ucup itu.


"Cepet banget sih perginya Nada." Shaka mendengkus dengan kasar.


Namun, saat mengingat jika Nada ingin menonton gratis artinya Nada sedang menuju ke bioskop. Dan satu-satunya bioskop yang terdekat adalah bioskop yang ada di Mall. Shaka pun segera melaju kencang untuk menuju mall terdekat.


Disisi lain, Nada dan dua orang sahabatnya telah sampai didepan bioskop. Namun, sebelumnya mereka bertiga harus mengantri untuk membeli tiket terlebih dahulu. Karena masih lama menunggu antrian, Nada memutuskan untuk membeli popcorn terlebih dahulu.


"Kil, aku beli popcorn dulu ya. Kamu aja yang ngantri," ujar Nada pada Kila.


"Kil, kamu ngantri sendiri ya aku mau ke toilet bentar. Cuma bentar, nanti habis itu aku temanin, oke?!" Arsyila pun jejak Nada untuk meninggalkan barisan.


"Dih .. alasan! Ya udah sana. Sekalian sama minumnya, oke!"


"Sip." Dua jempol Arsyila diacungkan kearah Kila dalam antrian untuk membeli tiket.


"Astaghfirullahaladzim," pekik Nada.


Mata Nada langsung membulat dengan lebar ketika melihat pelaku yang telah menyeret tangannya. Bahkan Nada hampir tak berkedip saat melihatnya, berharap apa yang dilihatnya adalah halusinasi saja.


"Pak Shaka. Eh, ini beneran Pak Shaka bukan sih?" Nada mencoba mengucek matanya, berharap apa yang dilihatnya tidaklah benar. Namun, ternyata sosok itu tidaklah berubah. Pria yang ada dihadapannya benar-benar Shaka suaminya. "Pak Shaka ngapain kesini?" tanya Nada dengan heran.


Shaka yang ditanya langsung gelagapan. Entah alasan apa yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan Nada, karena tidak mungkin Shaka mengatakan jika sedang mengikutinya.


"Aku .... aku lagi cari angin!" ujar Shaka dengan spontan.


"Cari angin? Bukannya tadi lagi sibuk ngerjain tugas?"


"Itu kan tadi. Sekarang udah enggak!"


"Ya udah cari angin sana. Enggak usah gangguin aku. Aku lagi mau nonton sama Kila Dan Syila," ujar Nada lagi.


"Aku ikut!"

__ADS_1


Seketika Nada langsung mendelik. "Apa? Mau ikut? Enggak, Enggak boleh! Nanti Kalau Pak Shaka ikut aku nonton, apa yang aku katakan kepada Kila dan Syila jika mereka bertanya mengapa Pak Shaka bisa bersama denganku. Bisa-bisa mereka curiga kalau sebenarnya kita itu udah nikah!" tolak Nada.


"Bilang aja gak sengaja ketemu, gitu aja kok repot!"


"Enggak bisa gitu dong, Pak. Memangnya sejak kapan kita akrab? Mereka pasti akan mengikutiku, Pak. Udahlah, bapak pulang aja sana!" Nada mencoba untuk mengusir Shaka.


Siapa yang menyangka jika pasangan suami istri itu didengar oleh sepasang telinga yang sejak tadi berdiri di pinggir tembok. Siapa lagi jika bukan Arsyila.


Arsyila yang sempat mendengar Nada mengucapkan kata istighfar langsung berbalik arah untuk melihat apa yang telah terjadi kepada sahabatnya itu. Namun, saat Arsyila hendak menghampiri Nada, langsung tiba-tiba terhenti saat Arsyila melihat sosok yang sedang berbicara dengan anda. Alangkah terkejutnya Arsyila saat melihat dosennya berbicara santai dengan Nada. Karena merasa penasaran, Arsyila pun memilih untuk mendengarkan apa yang sedang dibahas oleh dua orang itu.


Sungguh Arsyila merasa sangat terkejut ketika Nada mengatakan jika mereka ternyata telah menikah. Bahkan saking terkejutnya, dada Arsyila terasa sesak.


"Astaghfirullahaladzim ... apakah aku tidak salah dengar? Nada dan dosen kulkas itu udah nikah? Berati sekarang mereka adalah pasangan suami istri, dong. Ya Allah, ini mimpi atau bukan, sih?" Arsyila mencoba untuk menepuk kedua pipinya dan itu terasa sakit. Fix ini bukan mimpi!


"Ya Allah, ternyata Ini bukan mimpi," kata Arsyila lagi.


Baru saja ingin beranjak dari tempatnya tiba-tiba Nada dan dosen kulkas itu telah muncul. Ketiganya merasa sangat terkejut. Bahkan bola mata Nada hampir terlepas saat melihat sosok Arsyila di depannya.


"Astaghfirullahaladzim ... Syila!" Nada menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Ka-kamu ngapain di sini? Sejak kapan kamu ada di sini? Katanya mau ke toilet?" Nada memberondong Arsyila dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Arsyila merasa sangat gugup untuk menjawab pertanyaan dari Nada. Terlebih saat melihat mata dosen kulkas yang tajam. Bahkan rasanya hingga menusuk ke ulu hatinya.


"Emm ... itu Nad. Aku .... "


"Kamu menguping pembicaraan orang lain? Gak sopan!" ketus Shaka.


"Anu, Pak. Bukan begitu. Saya benar-benar tidak sengaja. Aduh ... Nad, aku minta maaf. Aku benar-benar enggak sengaja mendengar perbincangan kalian berdua. Tadi aku hanya khawatir saat mendengar kamu —" belum selesai Arsyila berbicara, Shaka sudah memotongnya.


"Enggak sengaja kok nungguin sampai lama. Itu sama saja sengaja."


Arsyila benar-benar tersudut tidak bisa membela diri. Ya, meskipun pada awalnya dia memang benar-benar tidak sengaja tetapi karena dorongan rasa ingin tahu membuat Arsyila semakin tertarik dengan apa yang didengarnya.


"Pak Shaka, saya benar-benar minta maaf. Saya janji, saya tidak akan memberitahu siapapun jika kalian berdua sudah menikah." Arsyila memohon dengan sangat iba pada Shaka, berharap dosen kulkas itu tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan kampusnya.


...~BERSAMBUNG~...


*Kalau othor bagi² pulsa lagi ada yg mau enggak? takutnya enggak ada yg mau. Kalau mau, tulis di kolom komentar ya ☺️

__ADS_1


__ADS_2