PANGERAN PENGEMBARA

PANGERAN PENGEMBARA
01. TRAGEDI


__ADS_3

Suatu daerah yang di kelilingi oleh hamparan pegunungan juga bukit-bukit kecil, bisa di katakan jika itu adalah desa atau sebuah perkampungan.


tapi hanya di huni oleh beberapa rumah atau lebih pantas di sebut juga beberapa gubuk.


tempat pangeran jaka sakti kecil tinggal, apakah dia asli penduduk sana ?


bukan.


dia adalah pendatang di sana.


kenapa itu bisa terjadi ?


kenapa dia bisa berada di sana ?


secara logika tidak kah namanya terlalu besar untuk seorang penduduk kampung kecil yang kumuh dimana disana tidak ada kerajaan, hanya ada beberapa rumah dan juga di huni sedikit penduduk.


Dahulu kala,


Ada sebuah daratan yang sangat luas, dimana daratan tersebut di kuasai oleh 4 kerajaan atau bisa di sebut juga kekaisaran.


yaitu kerajaan barat,


lalu kerajaan Utara,


kerajaan Selatan,


dan kerajaan timur.


untuk jumlah penduduk nya belum di ketahui, dikarenakan setiap kerajaan berbeda-beda jumlahnya.


mata pencaharian mereka pun beragam, dari bertani, berternak, menambang, berniaga dll.


semula kehidupan mereka semua begitu harmonis, sampai suatu ketika kerajaan Selatan melakukan perluasan kekuasaan.


usai dia meruntuhkan kerajaan Utara, dengan cara licik. dimana raja Brama menghasut lalu menjebak tangan kanan raja Utara yang tak lain adalah adik kandung raja bersama anak nya melalui anak kandung dari raja Brama sendiri yaitu Putri rindu.


bagaimana itu bisa terjadi ? kok kayak nya berbelit-belit?


jadi raja Utara yaitu raja shaleh memiliki seorang saudara kandung yaitu abdi Asep. abdi Asep di angkat sebagai tangan kanan raja di pemerintahan. anggap lah Mentri penasehat.


abdi Asep memiliki seorang anak yang berada di kemiliteran berpangkat jendral. yang bernama Raden suro, biasa di panggil jendral suro.


suatu ketika jendral suro memimpin pasukan untuk mengatasi para bandit yang terletak di perbatasan kerajaan Utara dengan kerajaan Selatan.


setelah melakukan pertemuan selama lima hari, para bandit tersebut pun berhasil mereka ringkus.


setelah mengalahkan para bandit, tahanan mereka pun di lepaskan.


disana lah awal mula jendral suro bertemu dengan Putri rindu, karena salah satu tahanan mereka lah sang putri.


sang putri di tahan dengan perlakuan yang cukup istimewa (tidak di gabungkan dengan para tahanan lain dan juga tidak di sentuh). dari sanalah jendral suro menaruh curiga dengan identitas sang putri.


walau terlihat ketakutan sang putri tetap menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh jendral suro.


na'as jendral suro pun jatuh hati kepada putri rindu, hingga tanpa meminta persetujuan dari kerajaan dia mengantarkan sang putri rindu ke kerajaan Selatan.


sang raja alih-alih bahagia karena Putri kandung nya di antar pulang, segera menjamu jendral suro beserta pasukan nya lalu menawari jendral suro untuk menikahi putri rindu.


dengan syarat jendral suro harus bisa menjadi raja di kerajaan Utara.


jendral suro yang memang sudah jatuh hati ke sang putri pun menyanggupinya.


tak lama kemudian ia di bantu oleh pasukan nya juga pasukan bantuan dari kerajaan Selatan melakukan kudeta.


semula abdi Asep tidak mengetahui akan pemberontakan yang di pimpin oleh anak nya tersebut.


satu-persatu wilayah di tunduk kan oleh jendral suro untuk mengajak mereka merebut kerajaan Utara yang tak lain di pimpin oleh pamannya sendiri.


saat di rasa sudah cukup kuat,


jendral suro pun langsung melakukan serangan ke istana, tak lupa sebelum itu ia pun menceritakan serta mengajak ayah beserta ibu nya untuk memberontak.


mengetahui niatan dari sang anak awalnya abdi menentang namun karena bujukan sang istri ia pun mau tak mau turut serta membantu anak semata wayang nya melakukan kudeta.


menghadapi serangan dari dalam juga serangan dari luar tidak memakan waktu lama, kerajaan tersebut pun berhasil di rebut oleh jendral suro.


raja dan permaisuri di bantai bahkan dua orang anak mereka pun tak luput dari pembantaian tersebut juga bersama para pengikutnya yang setia,


beruntung Pangerang Joko Prakoso yang kala itu masih berusia tiga tahun berhasil melarikan diri.


"pa . . Paman " begitu suara getir pangeran jaka sakti memanggilnya sebelum dia di sembunyikan oleh abdi Asep tanpa ada yang mengetahui.


" Lari lah nak . . . maaf " ujar abdi Asep sambil berkaca-kaca meninggalkan jaka sakti di dalam sebuah rakit bambu kecil yang berada di hilir sungai lalu menghanyutkannya.


seminggu setelah kudeta besar-besaran, saat kerajaan masih luluh lantak dan pasukan yang belum pulih, siapa sangka kerajaan Utara kembali dapat serangan.


kali ini serangan dari para pasukan kerajaan Selatan yang di pimpin oleh putri rindu.

__ADS_1


siapa sangka ternyata para bandit yang berada di perbatasan kemarin tak lain adalah siasat yang sengaja di buat oleh raja Brama untuk menjebak jendral suro.


karena dia mengetahui dari lima jendral utama milik kaisar Utara jendral suro adalah jendral yang paling kuat terlebih jendral tersebut juga lebih sering bertugas di garda depan.


begitu juga tentang status yang di miliki oleh jendral suro.


tanpa persiapan yang memadai akhirnya kerajaan Utara benar-benar di lumpuhkan dan di buat tunduk oleh kerajaan Selatan.


jendral suro, abdi Asep beserta istri dan beberapa mentri juga jendral yang tersisa tewas akan peperangan tersebut.


Putri rindu sendiri ternyata telah memiliki kekasih yang tak lain adalah jendral Adi seorang jendral beserta anak dari salah satu raja kerajaan kecil dari kerajaan Selatan.


kini kerajaan Utara di pimpin oleh raja Adi dan permaisuri rindu, banyak stuff Mentri di kerajaan dan militer di rubah oleh mereka.


"hati terkadang lebih berbahaya dari pada tusukan pedang" begitulah kata-kata dari Putri rindu sambil menikam dada suro dan melepas kepergiannya dengan tawa jahat.


sedangkan suro menatap kosong penuh penyesalan,


dia yang selama ini terkesan dingin terhadap wanita, kini terluka oleh wanita.


dia yang selama ini gagah perkasa di Medan tempur, kini terbujur kaku menjelang di kubur.


nama nya yang kerap di agung-agungkan sebagai pahlawan kerajaan, kini mati sebagai penghianat kerajaan.


baru ini hati nya tersentuh oleh wanita, tapi justru membuatnya binasa.


"sesal tinggal sesal, ini kah dosa ?" ujarnya bergumam pelan.


Putri rindu terdiam dan tak lama kemudian sang kekasih mendekat, di depan suro yang sekarat lelaki itu meraih pinggang Putri rindu dengan pandangan sayu kedua bibir mereka bersatu cukup lama.


" ini bukan salah mu saudaraku, kamu hanya di bodohkan oleh kata cinta" ujar lelaki tersebut sambil mengeratkan rangkulannya di tubuh suro yang sekarat.


Putri rindu menatap suro sayu dan tubuh nya tampak sedikit bergetar, sebutir air mata melepas kepergian suro untuk selamanya.


"ma'af" lalu mereka pun melenggang pergi.


di saat yang sama,


pangeran jaka sakti kecil yang terombang ambing di sungai masih belum mendarat, arus yang cukup deras mengantar tubuh kecil nya di atas rakit sepuluh hari sebelas malam.


wajah nya yang memucat karena persediaan makanan yang ia bawa telah habis begitu juga air minumnya, ia ingin mengayuh rakit tersebut ke tepian namun tak cukup memiliki tenaga, beruntung dini hari rakit tersebut menabrak batu besar dan menepikan nya di sebuah rawa-rawa yang cukup dalam untuk anak seusianya.


dan dini hari itu lah mempertemukannya dengan sepasang pasutri yang kelak akan menjadi orang tua angkat mereka.


"aduh... pinggang tua ku" keluh seorang pria di tepi sungai tengah menunggu hasil pancing nya.


"pulang kita pak, sudah pagi" panggil suara lembut tak jauh dari tempat nya.


saat si bapak tengah menggulung senar pancing tanpa sengaja melihat sebuah rakit kecil menabrak batu, rakit tersebut terlempar ke rawa-rawa yang tak jauh dari arah kail pancing nya tadi berada.


" apa itu ? " dia pun penasaran, lalu segera mendekati rakit tadi dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok jaka sakti kecil tengah meringkuk pucat didalam nya.


" buuuuuuu " panggil si bapak keras, sambil mengangkat tubuh jaka sakti kecil.


tak lupa sebelum meninggalkan rakit itu ia memperhatikan apa ada barang yang turut serta, setelah beberapa saat tidak menemukan apa-apa dia pun segera beranjak pergi menemui sang istri yang sedang melihat ke arah nya.


............


..........


sesampainya di rumah,


"bapak panggil para warga dulu, ibu tolong rawat dia" ujar si bapak sembari berlalu pergi menuju bale-bale bambu milik nya.


ia berniat mengumpulkan warga dengan cara panggilan telepati.


Tak butuh waktu lama satu persatu warga berbondong bondong menemuinya. Ada yang terbang, ada yang berjalan, ada yang menaiki kuda, ada yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Terimakasih saudaraku kalian telah menyempatkan waktu untuk berkumpul di kediaman kami ini"


ujar si bapak mengawali sambutan sambil menangkupkan kedua tangan nya.


" ada apa ini ? " ujar sosok yang masih terbang di pekarangan


"kenapa kamu memanggil kami semua kesini ?" pria yang menaiki kuda bertanya dengan kedua tangan bersilang di depan dada.


"iya tumben gitu" sosok wanita cantik yang kemungkinan seumuran dengan wanita yang ada di dalam rumah.


"iya benar-benar" wanita paruh baya membenarkan berdiri di samping pria paruh baya yang mengenakan baju serba putih


dan lain-lain yang juga mengutarakan pertanyaan berbeda namun inti nya sama yaitu ingin tahu sebab musabab mereka semua di kumpulkan dini hari ini.


" tenang tenang biarkan ahli rumah menyampaikan maksud dan juga tujuan nya, silahkan " ujar pria tua yang tengah duduk santai di balai bambu, di tangan nya sebuah tasbih tengah dipermainkan oleh jari keriputnya.


"terimakasih pak tua atas pengertiannya, sebelum itu mari kita bersantai sejenak di balai bambu kami ini"


setelah beberapa saat tanpa menunda waktu lagi, pria itu pun segera menceritakan keperluan nya kepada para tamu yang telah dia undang tersebut.

__ADS_1


dan di saat mereka mendengarkan dengan seksama cerita dari tuan rumah, tiba-tiba


"BOOOOOOOOOOOOOM" Sebuah ledakan terdengar jelas dari arah Utara tak jauh dari mereka berada.


seketika semua nya saling pandang, tapi aneh nya mereka bukan terkejut malah tampak senyuman terhias di wajah mereka semua.


"aih... mereka ini gak ada kapok nya" Hela si Kakek sambil menggeleng pelan.


"hiburan sudah datang, maaf kawan aku tinggal dulu" ujar seorang pria berbadan kekar tampak bersemangat sembari melompat ke atas kuda hitam kesayangan nya.


"ya sudah gini aja" ujar si Kakek tua tadi tampak berfikir sejenak


"kalian rawat saja dulu, nanti kalau dia sudah bangun baru kalian tanyakan siapa dia dan kenapa dia bisa sampai kesini"


"benar itu anak ku, saya khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan keluarganya" seorang wanita yang cukup dewasa menimpali dengan wajah resah nya.


"kalau begitu biarkan dia beristirahat dulu dan mari kita sambut tamu kehormatan kita ini" ujar sesosok wanita cantik yang sedari tadi diam di dekat anak yang mereka temukan tadi pagi.


sebuah seringai tampak di raut wajah mereka semua.


tanpa menunggu waktu lama semua yang ada di sana pun menghilang.


ibarat drama sinetron ala tontonan emak-emak zaman now. tak lama mereka pergi dan suasana yang begitu sunyi pangeran joko perkoso terjaga dari tidurnya.


"uhhhhh dimana aku ?" bak cerita pertanyaan pertama di film-film saat seorang baru siuman mendapati tempat baru.


seperti rutinitas yang biasa di lakukan, saat bangun tidur dia pasti melakukan olah raga fisik untuk meregangkan otot kecil nya agar tidak kaku.


tanpa ia sadari ada seseorang yang tengah memperhatikan nya dari sebuah Batang ranting kayu tak jauh dari tempat joko berolah raga yaitu pekarangan gubuk kayuk milik pasutri yang telah menyelamatkan nya.


dia tidak mau berlarut dalam kesedihan, cukup lama dia terpuruk dalam tangisan saat terombang ambing di atas rakit, bisa dikatakan sifatnya sangat lah dewasa berbeda dengan usia nya yang masih berumur tiga tahun.


di pekarangan yang rindang, bersih dan cukup luas itu jaka sakti tengah mengukir gambar beserta tulisan menggunakan ranting kecil yang ia temukan di pekarangan.


dia cukup mahir dalam melakukannya karena saat di kerajaan dia kerap belajar sastra dan juga sering mengganggu Paman nya Asep di ruang kerja dengan kaligrafi atau dengan buku-buku yang ada di sana.


"menarik" ucap sepasang mata itu memperhatikan gerak-gerik jaka sakti sedari tadi.


"ini bukan kah ini gambar peta daratan" ujar nya saat tiba di samping jaka sakti


"iya" jawab jaka sakti singkat, tampak raut serius di wajahnya.


"sepertinya dia tidak menyadari ku" batin orang yang tadi bertanya.


"apa kami tahu dari mana kamu berasal adik kecil ?" tanya nya


"dari sini" jaka sakti menunjuk letak keraja'an nya berasal


"dan di mana kita berada ?" jaka sakti kembali bertanya.


setelah memperhatikan peta bebepara saat pria itu segera menunjuk letak mereka berada menggunakan ujung tombak yang dia pegang.


melihat tombak tersebut jaka sakti terperanjat, seolah tersadar.


" eh... si siapa kamu ?" jaka sakti bertanya getir.


"lah..." si pria ikut terkejut melihat reaksi jaka sakti, dia tidak menyangka jika tebakan nya tadi benar.


sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal pria itu cengengesan ke arah Joko yang tampak sedikit menjauhinya.


"jangan takut adik kecil, aku tidak akan berbuat jahat kepada mu" ujar pria itu


"kamu bisa memanggilku Paman elang"


"Paman erlang" jaka sakti menatap pria di hadapannya polos


"iya. . . mari kita berbincang-bincang dulu di dalam rumah sambil menunggu bibi mawar kembali" ajak Paman erlang


"oh baik Paman, mari" ujar jaka sakti sopan mempersilahkan erlang terlebih dahulu dengan sopan.


melihat tata Krama yang di tunjukkan Joko, erlang sedikit banyak menerka nya.


"seperti nya kamu bukan dari kalangan bangsawan" gumam erlang


"saya pangeran bungsu dari kerajaan Utara ,nama saya jaka sakti" jawab jaka sakti tanpa ada sedikit pun nada sombong dan juga dia tidak berniat menutupi siapa dirinya.


"ehemzzz" erlang kembali bergumam sambil mengangguk pelan, dia cukup terkesan dengan pangeran jaka sakti meski notabennya tergolong orang berada namun tidak terkesan sombong dan juga tidak berniat untuk berbohong.


sesampainya di dalam Paman erlang langsung memasak air untuk menyeduh minuman,


tak lama kemudian teh panas pun tersedia lalu dia juga mengeluarkan beberapa singkong rebus yang berada di dalam panci.


"ini adik kecil" ujarnya menyodorkan kepada Joko.


"oh terimakasih Paman" ujar jaka sakti sopan.


mereka pun terlibat perbincangan serius dan bisa di katakan bahwa erlang lebih banyak mendengar kan cerita dari jaka sakti.

__ADS_1


...bersambung...


Sabtu 11 Desember 2021


__ADS_2