
"kamu sekarang umur berapa adik kecil ?"
"aih paman dali tadi kamu bilang aku kecil telus" gerutu jaka sakti
"lah kamu emang masih kecil kan" erlang menggoda jaka tapi dengan wajah serius.
"paman yang terholmat nama saya jaka sakti bukan adik kecil" jelas jaka sambil menirukan gaya kakek-kakek yang tengah memarahi anak kecil.
sontak erlang terkejut melihat nya.
"aduh" bisik erlang pelan.
"saya balu umul tiga tahun jalan empat paman, bulan depan itu umul saya genap empat"
"berarti kamu hampir seumuran dengan anak ku" kepala erlang mengangguk pelan, di raih nya cangkir bambu yang berisi teh panas lalu perlahan menikmatinya dengan santai.
"oh paman sudah punya anak" gumam jaka sakti
"hei bocah apa maksud mu bilang begitu, kamu fikir aku ini masih lajang apa hah ?" tampak mata erlang mendelik tajam memandang joko
tapi joko yang di tatap tajam oleh erlang hanya diam sambil memperhatikan erlang dari atas ke bawah dengan ekpresi serius.
"lah kenapa kamu ?" erlang bertanya karena risih dengan cara joko memandangi nya.
"saya memang tampan dan juga awet muda, tapi gak usah di lihatin kayak gitu juga lah" eksistensi erlang tampak dengan seringai bangga.
"idih" joko menjawab singkat
"....."
"kok bisa gitu ada yang mau ma paman ini" gumam pelan jaka sakti sambil mengalihkan pandangan, di ambil nya ubi rebus yang terletak di atas meja.
"APA KATAMU ADIK KECIL ?" Teriak erlang dengan nada sedikit meninggi
"aku pulang" sebuah suara terdengar dari arah pintu pagar, memperlihatkan dua sosok anak kecil yang tengah berjalan santai. yang satu wanita dan satunya lagi laki-laki.
"oh kalian sudah pulang, sini sini gabung dengan kami" panggil erlang, di panggil oleh ayah langit kecil mendekat di iringi Violetta mengekor di belakang langit namun matanya tertuju ke arah jaka sakti yang juga tengah memperhatikan mereka.
saat kedua nya sampai jaka sakti langsung berdiri lalu mengulurkan tangan nya yang kecil.
langit menyambut nya dengan santai
"langit" ujar nya memperkenalkan diri.
Violetta melirik langit dan erlang sejenak sebelum meraih tangan joko.
"Violetta" ucapnya halus
"jaka sakti" jawab jaka sambil tersenyum.
"mulai sekarang dia adalah salah satu keluarga kita, semoga kalian akur" ucap erlang
"bo boleh tau di dia i ini si siapa paman ?" Violetta bertanya gugup
"dia kerabat jauh kita" jawab erlang singkat.
jaka sakti menoleh kearah erlang seolah meminta penjelasan, begitu juga langit yang sedari tadi menatap jaka sakti secara seksama. ibarat seekor elang yang tengah memperhatikan anak ayam.
erlang mengerti maksud dari tatapan tersebut hanya tersenyum sembari kembali menikmati teh nya yang sudah mulai dingin.
"....."
"....."
namun, tidak seperti yang dia harafkan, ternyata erlang tidak juga memberi penjelasan kepada mereka.
setelah menarik nafas dalam, jaka lalu berdehem tanda meminta perhatian ketiga nya.
"ehemzzz"
seperti yang di harafkan, mereka lalu menatap ke arah jaka sakti.
tanpa menunda waktu jaka pun mulai menceritakan siapa dirinya dan dia juga menceritakan kenapa dia bisa ada di ruangan itu saat ini, mereka menyimak cerita jaka tanpa ada sedikitpun niat untuk menyela.
"...... begitulah celita sebenalnya" ujar jaka sakti tanpa ada yang di tambahi atau pun di kurangi sedikit pun.
terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka, ke empat nya sibuk berkutat dengan fikiran mereka masing-masing, begitu juga beberapa orang yang ternyata tengah mencuri dengar pembicaraan tersebut dari tempat yang cukup jauh dalam pandangan.
sunyi
senyap
seolah waktu berhenti berdetak beberapa saat.
tiba-tiba,
sesuatu mengejutkan jaka, kepalanya yang sedang menunduk nyaris buat nya terjungkal mencium tanah, beruntung tubuh nya di topang oleh violetta.
__ADS_1
"aduh sialan.." ringis jaka sakti mengusap kepalanya yang tengah kesakitan.
langit si empu ulah justru tergelak tawa karena jitakannya berhasil memecah kebisuan.
beberapa waktu lalu saat terjadi kebisuan di antara mereka, ternyata baik itu langit maupun Violetta sama-sama berinisiatif ingin menghibur jaka sakti, tapi cara keduanya berbeda.
langit mendekat untuk menjitak kepala jaka sakti sedangkan violet berniat mengelus pundak hingga terjadilah insiden tersebut, bahkan tindakan tersebut terlepas dari pengawasan erlang maupun beberapa orang yang tengah mengawasi dari jauh.
"bi bi bisa lepaskan pelukanmu ?" sebuah suara kecil violet menyadarkan jaka sakti.
"eh" jaka sakti kaget tapi tidak melepas pelukannya dan tanpa sadar dia menatap ke arah violetta,
bak ibarat sinetron remaja BLussssss kedua mata berjumpa dan membuat ekpresi wajah Violetta semakin memerah seperti kepiting rebus dan detik berikutnya tangisan keras terdengar.
jaka sakti seolah tersadar langsung melepas dan melompat kebelakang.
"aduh apes" fikir jaka sakti
mendengar tangis pecah dari violetta mereka yang berada di luar tadi langsung menerobos kandang beberapa saat kemudian beberapa sosok itu telah bermunculan.
dua wanita cantik berumur sekitar dua puluhan satu wanita berumur sekitar empat puluhan lalu satu lelaki seumuran erlang dan satu pria berumur yang mengenakan pakaian serba putih.
"a ampun maaf ini salah ku" suara pelan jaka sakti bergetar
"......"
baik jaka sakti maupun elang sama-sama menunduk,
sambil terisak-isak violet berkata "kamu halus tanggung jawab, kamu sudah menyentuhku"
setelah menarik nafas dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan. jaka sakti membuka suara
"baik aku akan tanggung jawab" jawab jaka sakti mantap
"i ini ?" semua yang berada di ruangan tersebut dibuat bingung karena nya.
"ibu pelnah bilang kalo wanita di peluk ma laki-laki dia gak bakalan bisa nikah lagi" gerutu Violetta kecil dengan wajah bersemu merah.
sontak jawaban polos tersebut mengundang gelak tawa semua yang ada di sana kecuali ke tiga anak kecil yang justru di buat kebingungan.
"cie jeng udah dapet mantu aja nih" goda wanita cantik menyikut pelan orang di samping nya.
yang di sikut cuma tersenyum kalem tidak berniat menanggapi candaan tersebut.
singkat cerita,
"berhubung hari sudah sore, kami mau pulang dulu" ujar si pria matang yang di ikuti anggukan dari yang lain.
"kalian sudah mau pulang ?" tanya jaka sakti dan sebuah senyum terpampang di wajah nya yang imut.
"iya kami sudah mau pulang, kalo ada waktu kakek sama nenek akan berkunjung lagi" ujar seorang wanita yang walau sudah berumur itu masih menyisakan guratan-guratan kecantikan di wajah nya, terlebih saat dia tersenyum seperti ini.
"oh kami juga akan undur diri dulu malam ini, vio biar kami antar besok siang saja ya kak elang" si cantik berucap.
di samping nya pria yang seumuran dengan erlang mengangguk pelan, sedangkan Violetta tampak tertidur pulas di pangkuan nya.
"oke bibi, hati-hati di jalan" sahut langit dan jaka sakti bersamaan.
"iya terimakasih" flora ibu dari violetta mewakili suaminya guntur untuk berbicara.
sedangkan guntur dan erlang sudah lebih dulu berada di luar, tampak erlang sedang menunjuk lahan kosong yang cukup luas di samping rumah. keduanya tampak tengah melakukan perbincangan santai tapi lumayan serius.
joko, langit dan bibi mawar turut mengantar tamu mereka ke depan rumah dan menunggu sampai ketiganya benar-benar meng hilang dari pandangan.
di saat yang sama di tempat yang berbeda,
sekawanan perampok yang baru saja mengalami kekalahan, memaksa mereka untuk mundur.
tampak tubuh mereka semua tidak ada yang dalam kondisi baik-baik saja.
di atas sebuah gajah seorang pimpinan tengah memejamkan mata untuk memulihkan diri tepat saat ia memuntahkan darah segar sebuah ingatan melintas.
"aku bisa aku pasti bisa" teriak nya parau sambil mengacungkan sebuah gada yang berukuran cukup besar ke arah seorang pemuda yang menunggangi kuda.
TRANGGGGGG
Gada milik nya bertubrukan dengan tombak si penunggang kuda.
bersamaan dengan itu semburat api berkobar akibat dua kekuatan yang saling bertemu.
tidak sedikit orang-orang yang tengah bertarung disekitar, terhempas dan terbakar oleh semburat gelombang saat dua senjata itu bertemu.
Namun,
kedua nya tidak perduli dan dengan gagah berani mereka berdua meloncat dari tunggangan yang mereka naiki.
setibanya di tanah, kedua tenaga tadi pun kembali bertubrukan.
__ADS_1
ke duanya silih berganti untuk menyerang dan bertahan agar bisa secepat nya mengakhiri pertarungan mereka.
tidak ada cerita, tidak ada ocehan. Keduanya bertarung dalam diam, kobaran api menyala di sekeliling menyudutkan orang-orang yang tengah bertarung memilih untuk menyingkir, memberikan ruang kosong bagi kedua nya agar tidak terimbas dan menjadi korban sia-sia.
setelah beberapa waktu berlalu,
BOOOOOOMMMMMMMM
Si pemegang tombak terhampas cukup jauh tapi tetap dalam kondisi berdiri, sedangkan si pemegang gada terhempas keras membuat sebuah lubang yang cukup besar di tanah.
"DENGAR KALIAN SEMUA" teriak si pemegang tombak menyita perhatian semua yang tengah berperang.
"pemimpin kalian telah di kalahkan, jadi kalian fikir sendiri apa yang terbaik. karena aku jujur saja masih belum cukup puas untuk bertarung"
seketika tanpa menyia-nyiakan kesempatan para perampok itu mundur perlahan, dua orang yang cukup ahli melesat menuju ke arah pemimpin.
"MUNDUR" teriak salah satu ahli tersebut sambil mengangkat tubuh pemimpin mereka.
sedangkan ahli yang satunya menangkupkan tangan dan sedikit menunduk memberi hormat "kami akan mundur" ujar nya
sesaat kemudian keduanya pun melesat pergi sambil memapah si pemimpin yang setengah sadar.
........
"uhukkk..." pria yang berdiri di atas gajah itu terbatuk,
wussssssssss
dua orang langsung memepet jarak mereka, satu di sisi kiri melayang di atas pedang dan satu nya lagi disisi kanan juga melayang di atas pedang mensejajarkan ketinggian dengan pemimpin mereka yang sempat oleng di atas gajah besar itu.
sang pemimpin mengibaskan telapak tangan nya sambil berkata
"tidak apa" ucapnya dengan suara berat.
"ini ketua, kamu minum dulu" pendekar wanita yang ada di sebelah kiri memberikan sebuah botol air dan sebuah obat herbal untuk mengobati luka dalam.
"terimakasih" jawab si ketua singkat, meraih pemberian anak buahnya.
"ehemz..." pendekar pria yang berada di sisi kanan tampak sedikit gelisah.
sang ketua melihat ekspresi itu datar,
"ada apa ?" dia tau kalau anak buah nya itu ingin menyampaikan sesuatu namun bingung.
"katakan lah" kembali ketua berkata sambil memejamkan matanya untuk menyalurkan tenaga dalam agar reaksi obat yang dia minum barusan cepat meresap.
Sesuai dengan perminta'an si pemimpin, anaknya buah itu pun segera menunaikan hajatnya.
Dengan sedikit berbisik "Anak buah yang kemarin ketua beri tugas untuk mencari informasi di kerajaan pulau bulan sabit telah kembali tuan, namun..."
sang pemimpin membuka sebelah mata kanan nya untuk melirik,
"ehemzz... " sedikit berdehem membasahi kerongkongan yang terasa berdahak.
lalu kembali melanjutkan cerita "... mereka kembali dengan keadaan kurang baik ketua"
"coba jelaskan"
"dari lima orang yang kita kirim hanya dua orang yang kembali dan mereka kembali dengan keadaan penuh luka tidak sadarkan diri, tampak nya mereka kembali dengan sisa tenaga yang tersisa ketua" jelasnya.
"dimana mereka sekarang ?" tampak kedua alis sang pemimpin menangkup kesal.
" kedua nya sekarang sedang dirawat di markas "
"kamu pimpin jalan, usahakan untuk secepatnya kembali ke markas" titah sang pemimpin, lalu kembali memejamkan matanya.
"Baik ketua, saya undur diri" Tak menunggu waktu lama pendekar tadi pun langsung terbang kelangit-langit.
dengan lantang dia segera memberi intruksi untuk mempercepat langkah, sedangkan pendekar wanita yang semula di sisi kiri langsung melompat ke arah gajah tunggangan pemimpin mereka.
Setengah jam berlalu Rombongan tersebut sampai di tujuan,
Jika di lihat dari bentuk markas yang mereka katakan tempat tersebut tidak mirip dengan markas perampok pada umum nya, justru terkesan mirip perkemahan darurat para tentara keraja'an yang tengah menjalankan misi.
Di atas pohon beberapa pemanah mengintai, di sekitar tenda juga ada pasukan yang berjaga dengan senjata mereka masing-masing.
"TRUTTTTTTTT" Bunyi terompet terdengar menyambut kedatangan rombongan.
para petugas yang berada di lapangan langsung berbaris tegak di posisi masing-masing.
Sang ketua bersama dua pendekar yang tadi bersamanya langsung menuju tenda tempat perawatan prajurit.
"BAJINGAN" teriak sang ketua ketika melihat dua orang anak buahnya terbaring tak sadarkan diri.
semua yang ada di ruangan tersebut hanya terdiam tanpa ada yang berani berbicara sedikitpun.
bersambung
__ADS_1