
............
Keributan yang dibuat oleh jaka dan kawan-kawan tempo hari ternyata cukup menggemparkan.
akibat dari kehebohan insiden tersebut mulai menjadi perbincangan.
bahkan para pujangga jalanan banyak yang mulai menceritakan kisah mereka.
mereka mengabarkan jaka sebagai pangeran pengembara alias pendekar singa perak, lalu langit sebagai elang tombak dari desa tersembunyi dan Violetta sebagai bidadari pemanah suci karena anak panah yang dilepaskan saat itu bercahaya warna putih.
dan siang ini tampak suasana yang begitu mencekam di sebuah gubuk yang berada di desa tersembunyi kabut racun.
Dimana lagi kalau bukan di kediaman erlang,
"Berani-beraninya dia" Erlang tampak berapi-api menahan marah, tak jauh dari tempat nya duduk tampak angga ayah dari Violetta juga berekspresi yang serupa.
Angga adalah tipe orang yang acuh dan santai tapi di saat dia sedang marah, meski diam tidak berbicara tubuh nya akan menunjukkan hal yang berbeda.
ki harit dan juga beberpa warga desa yang sedang bertandang ke kediaman itu hanya diam, masing-masing sibuk dengan fikiran mereka sendiri.
"Sepertinya mereka butuh angin segar, biar faham siapa orang yang mereka singgung" terdengar salah satu pria berbadan kekar, rambut panjang dan di tubuhnya terbadat sebuah tato batik bergumam.
"Benar itu kata lapu-lapu" seorang pria kekar lain nya bergumam.
badan kekar, kulit sawo matang, rambut panjang bergelombang di ikat kebelakang, kumis tebal yang cukup untuk membuat wanita geli saat menyentuhnya dan di dadanya ada tumbuh bulu yang cukup lebat berbentuk bintang.
"Benar saya juga setuju dengan saran lapu dan romo gatot" esme seorang wanita yang memiliki rambut panjang bergelombang memberi suara dari belakang sambil membawa nampan teh hangat yang akan dia berikan kepada para lelaki yang sedang berdiskusi.
"tunggu... kalian tak perlu gegabah seperti itu, anggap lah ini ujian bagi mereka bertiga agar mereka tahu seperti apa kerasnya kehidupan yang akan mereka titi" ki harit berpendapat bijak "lagian bukan nya udah di ceritakan oleh shi long tadi, kalau urusan ini sudah di bereskan oleh dia dan serikat perdagangannya".
"tapi ki..." gatot sedikit tidak terima,
"tak apa tot" ki harit menjelaskan dengan santai "Lagian kan mereka bertiga masih selamat, cuma mereka kali ini berpisah".
"aih iya juga ya" erlang sedikit tenang mengingat sesuatu.
pernah dulu sewaktu dia melatih ke tiga orang itu,
dini hari saat belum ada yang bangun, tampak jaka kecil sedang melakukan pemanasan dengan cara berolah raga.
erlang yang kala itu terbangun saat mendengar suara gemerisik di pekarangan belakang gubuk langit dan jaka.
karena penasaran dia pun mengecek nya, dia berfikir mungkin saja itu adalah hewan buas dari hutang yang sedang tersesat.
tapi saat di lokasi dia justru menemukan bahwa itu adalah jaka yang sedang berlatih dengan serius.
__ADS_1
"Ehemzzz uhukk uhukkk" erlang batuk pelan mengagetkan jaka.
"siapa itu ?"
"Lagi apa kamu jak ?" erlang mendekat
"eh paman" jaka terkejut "maaf kalau suara yang saya timbulkan mengganggu tidur mu paman"
"oh tak apa" erlang melambaikan tangan merasa kalau tindakan jaka itu tidak mengganggu nya "sedang apa kamu ?"
"Berolah raga lah paman, biar nanti badan gak kaget waktu berlatih" jaka menjawab santai sambil berdiri saat erlang sudah berada di dekatnya.
jaka sesaat tadi sedang melakukan shitup dan karena kedatangan erlang tentu saja dia menghormati nya dengan cara menghentikan pelatihan.
"apa yang membuatmu begitu terobsesi untuk berlatih dan terjun di dunia persilatan ?" tanya erlang.
mendengar pertanyaan itu jaka cuma menjawabnya dengan senyuman.
"apa karena ingin membalas dendam ?" erlang bertanya lagi dan menatap jaka tajam.
"hufff..." jaka menghela nafas dan matanya menjadi sayu.
lalu sesaat kemudian dengan tatapan pasti jaka membalas tatapan erlang
"Lebih dari itu" jawab jaka singkat
"Saya tahu itu paman, makanya saya bilang kalau saya ingin kan lebih dari pada sebuah balas dendam"
"ehmzzzz ya sudah lah kalau begitu, oammmm aku duluan" erlang meninggalkan jaka sendiri dan sebelum menghilang dia sempat menoleh jaka sebentar.
...............
"hei erlang, apa yang sedang kamu fikirkan senyum-senyum kayak orang gila gitu?" gatot mengagetkan erlang yang sedang melamun.
"oh eh... hehee" erlang cengengesan saat terjaga ternyata tingkahnya sedang di perhatikan oleh orang-orang yang ada di ruangan tersebut.
"hah... aku cuma teringat suatu kejadian dahulu saat aku masih menjadi guru mereka" jelas erlang dan tentu saja setelah itu dia mulai menceritakan kejadian yang tadi melintas di ingatannya tanpa di kurangi atau di lebih-lebih kan.
dan di saat erlang menceritakan kejadian itu mereka yang berada di sana tentu saja menyimak nya dengan seksama.
"...jadi begitu lah yang jaka katakan kepadaku dini hari itu" jabar erlang mengakhiri percakapan.
"jadi dari sini kita bisa mengetahui kalau hal-hal yang terjadi ini memang sejak dulu sudah ada gambarannya" ki harit berbicara dengan nada bijak
"lalu menurut kalian, apa hak kita untuk turut campur ?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
mereka pun terdiam menela'ah perkataan ki harit selaku sesepuh desa.
"biarkan ini berlalu, hikmahnya adalah jaka memulai perjalanan layaknya gelar yang dia gembar-gembor kan, lalu langit menjadi lebih giat dalam berlatih dan Violetta sekarang sedang bersama salah satu dokter legendaris yaitu dokter estes" jelas ki harit lagi
"yah benar sekali, semoga saja Violetta kelak dapat bimbingan dari dia, apalagi disana ada juga putri miya yang ahli dalam hal memanah" imbuh angga selaku ayah dari violetta.
dia tahu persis jika obat, racun dan juga panah adalah ke ahlian utama anaknya itu, persis seperti istri dan saudari ipar nya.
ki harit tampak tersenyum dengan jawaban dari salah menantunya itu.
"Biar aku yang urus itu si cecunguk, lagian sudah lama kami tidak bertemu" gumam ki harit dengan sebuah senyuman dan aneh nya senyuman tersebut justru membuat semua yang ada di sana bergidik ngeri.
"Cecunguk..." gumam gatot lalu di iringi dengan kekehan geli.
ya semua tahu siapa ki harit dan siapa yang ki harit maksud, karena di saat jayanya ki harit dan nyi nana adalah sepasang pendekar yang begitu menggemparkan dunia persilatan.
.............
Di saat yang sama,
terlihat Violetta sedang memperhatikan dua orang asing yang tempo hari menyelamatkan nyawanya itu sedang membuat api unggun di dalam sebuah gubuk untuk memasak air sambil bercengkrama atau lebih tepat nya miya yang selalu mengajak estes bercanda.
Violetta dapat menilai sifat ke duanya setelah bersama sekian hari ini.
Estes seorang dokter ahli yang cukup pendiam, serius tapi penurut dan tipe orang yang mudah khawatir.
dan untuk miya dia adalah tipe wanita yang dewasa dalam berfikir, etika atau pun berbicara untuk usia nya yang mungkin tidak cukup jauh jika di bandingkan dengan Violetta, kecuali disaat sedang bersantai seperti sekarang ini.
dia juga tergolong ahli dalam menggunakan panah, tentu saja itu terlihat dari caranya saat berburu.
"boleh saya bertanya ?" Violetta membuka suara,
tentu kedua nya langsung melihat ke sumber suara.
"oh sudah bangun kamu" miya bertanya semangat dengan senyuman yang indah.
"iya kak, terimakasih karena sudah menyelamatkan ku" ucap Violetta menangkupkan kedua tangan nya, sebuah salam para pendekar yang memberi penghormatan kepada lawan bicara.
"yoi santai saja" jawab miya mengibaskan tangannya yang putih mulus.
"jangan terlalu banyak bergerak dulu, kamu masih belum benar-benar sembuh" estes mengingat kan Violetta yang berniat bangun.
Violetta sejak hari pertama di selamatkan memang sudah sembuh, tapi karena cidera yang tubuhnya terima membuatnya hanya bisa tiduran di atas dipan kayu beralaskan daun pisang yang di siapkan oleh miya.
Bahkan selama beberapa hari ini dia tidak bisa mengeluarkan suara, dampak dari cidera tenaga dalam yang dia keluarkan secara paksa saat melesatkan panah di pertarungan itu.
__ADS_1
"Siapa nama mu manis ?" sapa miya saat duduk di samping Violetta.
... "BERSAMBUNG"...