
"Aduh... malu nya aku" gumam camelia yang tengah bersantai mengawasi aktifitas orang-orang yang ada di markas dari atas sebuah atap pondok.
andaikan wajah itu tak mengenakan topeng tengkorak pasti terlihat jelas bagaimana wajahnya yang memerah.
ia duduk dengan gelisah mengingat kejadian yang ia alami akibat dari panggilan alam saat di hadapan orang-orang yang ia hormati.
beruntung hanya ada beberapa, tapi itu pun sudah cukup untuk membuatnya merasa benar-benar malu.
"Aih...... ingin rasanya aku bunuh diri" desah nya kesal.
"Uhukkk... uhuuuukkk" sebuah batuk mengagetkan camelia.
reflek tangannya meraih pedang yang ada di pinggang,
SRETTTTTTT
"yoooo sabar bibi cantik" artur menahan tangan Camelia yang berniat menghunuskan pedang, memaksa tangan itu untuk kembali menyarungkan senjata.
"pa-pangeran, ma-maaf pangeran" camelia terkejut begitu sadar siapa yang ada di depannya itu.
artur menjawab nya dengan senyuman,
"Aku punya tugas untukmu" ujar artur sambil duduk di samping camelia.
camelia langsung memposisikan badannya seperti bersujud.
"tugas apa itu tuan ?"
"ehmzzz pertama-tama kamu duduk dulu sini" titah artur saat melihat camelia yang tadinya duduk santai berganti posisi menjadi menyembah.
Dan Artur bukan orang yang gila hormat kecuali disaat pertemuan resmi, maka dengan terpaksa dia akan menerimanya.
tapi jika di situasi seperti ini, dia benar-benar tidak menyukai sikap terlalu seperti yang saat ini camelia lakukan.
Siapa pun dia selama dia tidak kurang ajar, artur lebih suka di anggap seperti saudara meski itu bawahannya.
"saya tidak berani tuan" tolak camelia sopan.
"sudah gak usah sungkan, sini duduk sini" kembali artur bertitah.
"maaf... tapi..." kembali camelia berniat menolak.
"DUDUK" perintah tegas artur dengan sorot mata tajam, kesal karena mandat nya dari tadi di tolak oleh camelia.
"Ba-baik tuan" mau tak mau ia pun duduk di samping sang pangeran, bukan karena apa tapi dia merasa sungkan saat duduk seperti itu.
yah... walau pun dia tau,
kalau artur adalah tipe orang yang slow, dia tidak membedakan seseorang dari status sosial.
"Maaf pangeran, kalau boleh tau apa tugas yang harus saya kerjakan ?" camelia bertanya dengan hati-hati.
"hemzzz" artur tampak sedang berfikir,
Angin sepoi-sepoi melintas menyejukkan fikiran, rambut artur yang lebat berwarna pirang itu di hembus pelan bergelombang.
Alih-alih menjawab pertanyaan dari Camelia, artur justru menggumamkan hal lain.
"wah... pantas saja kamu suka duduk di atas atap. suasana nya damai dan udaranya juga sejuk" puji artur antusias.
ia pejamkan mata untuk menikmati hembusan angin malam.
sambil tersenyum dia kembali memuji "kamu memang cerdas".
Camelia tersenyum,
"Terimakasih pangeran"
"Yoi..." jawab artur, dia yakin kalau bawahannya itu sekarang sedang tersenyum.
ia menilai dari bentuk mata itu yang sedikit menyipit.
__ADS_1
kenapa dia menilai dari mata ?
ya jawabannya pasti karena camelia mengenakan topeng di wajahnya yang cantik.
Tak jauh dari mereka berada ada enam pasang mata yang sedang mengawasi dalam diam tapi di tempat yang berbeda-beda.
satu di bawah gubuk tempat artur dan camelia berbicara membakar ayam sendiri. dia memperhatikan sedari awal dengan senyuman santai.
satu lagi di tempat yang cukup jauh yaitu di dalam gubuk tempat mereka tadi berkumpul duduk santai namun melepaskan akal bawah sadar memperhatikan.
dan satu nya di atas atap lain bersantai yang cukup dekat dengan tempat camelia dan artur berada.
Disaat yang sama, di tempat lain.
langit tengah tertidur pulas di dalam gubuk beralaskan daun pisang yang sore tadi dia siapkan bersama anak-anak kecil.
sedangkan Violeta tidur di atas dipan juga dengan beberapa anak kecil yang berjenis kelamin wanita.
jaka sendiri lebih memilih tidur di atas pohon yang ada di luar sambil mengawasi sekitar.
KRESEK KRESEK KRESEK
Sebuah suara mencurigakan di luar pondok.
"Hemzzz" jaka terbangun, tapi tetap berpura-pura tidur.
dia belum tau siapa yang datang. entah kawan, entah lawan atau entah itu hanya hewan liar yang kebetulan lewat.
maklum lokasi sekitar gubuk memang lah hutan, jadi jaka tidak berniat untuk bertindak gegabah.
tapi dia melepas kesadaran di bawah alam sadar nya atau bisa juga di katakan sebagai indra ke enamnya untuk mengawasi pergerakan itu.
Tak lama kemudian, muncul sebuah bayangan yang di pantulkan oleh cahaya rembulan.
"hemzzz manusia, siapa itu ?" jaka mulai bersiaga untuk antisipasi jika terjadi hal yang tidak terduga.
"kresekkk kresekkk" lagi bunyi dari semak-semak yang di lalui orang itu terdengar.
"Haloo paman" sapa jaka melalui telepati.
"ohoooo sudah ku duga kalian disini"
wushhhhh
tiba-tiba jaka muncul di hadapan orang yang datang itu sambil menangkupkan kedua tangan memberi hormat.
"kenapa kalian masih disini, kalian di cari ketua" pimpinan pengawal pribadi paman shi long dan bibi mei mei bertanya.
"kami menunda dulu sebentar" jawab jaka "...lalu dari mana paman tahu kalau kami ada di gubuk ini ?"
"oh itu tadi sewaktu kalian pergi salah satu anak buahku ada yang melihat dan mengikuti kalian sampai kesini,
setelah memastikan lokasi kalian, dia pergi memberi laporan.
tapi karena belum juga muncul sampai jam segini di penginapan.
Aku sendiri yang datang untuk memastikan keadaan kalian" jelas paman shi lee.
"oh heheee maaf paman" ujar jaka sambil menggaruk kepala yang tidak gatal (cengengesan).
"kayaknya kalian bersenang-senang hari ini" selidik paman shi lee.
"ah itu biasa lah" Lagi-lagi jaka cengengesan
paman shi lee geleng-geleng kepala,
"ya sudah kalo gitu aku balik duluan" ujarnya sambil berlalu pergi.
"baik paman" lepas jaka lalu kembali ke tempat nya semula.
"WUSHHHHH.." Lagi jaka melepas aura menajamkan ilmu kebatinan disekitar.
__ADS_1
jaka menyeringai lalu kembali tiduran dengan cara bersandar di pohon.
beberapa waktu berlalu, mungkin sekitar jam 4 dini hari jaka terjaga dan seperti tadi.
dia menajamkan indra ke enam dengan cara melepas aura untuk mengecek sekitar. setelah beberapa saat dia pun turun ke pekarangan.
Dia mulai berolahraga untuk merentangkan otot sebelum berlatih ilmu yang akan ia pelajari.
kegiatan itu akan selalu ia lakukan entah dimana pun dia berada.
Ulet, tekun dan juga talenta membuat jaka cukup lihai untuk menerima setiap pelajaran yang ia dapat, entah itu yang di ajarkan secara langsung ataupun secara tidak langsung.
secara tidak langsung yang dimaksud dalam hal ini tak lain adalah ilmu yang ia dapat dari membaca atau pun melihat gerakan yang orang peragakan.
dan setelah menguasainya ia akan mulai mensinkronkan ilmu itu dengan apa yang telah ia kuasai.
Setelah beberapa saat berlalu,
"hufttttt" jaka menghela nafas mengakhiri sesi latihan.
Tampak mentari mulai muncul yang berarti sudah dua atau tiga jam'an dia melakukan latihan.
dia melihat sekitar tampak langit dan juga Violetta juga ternyata sedang berlatih.
karena tak ingin mengganggu, jaka lalu pergi dengan membawa panah serta sebuah keris kepala singa andalan nya.
"Saat nya berburu untuk mengisi perut pagi ini" gumam jaka bersemangat memasuki hutan.
Tak butuh waktu lama, jaka menemukan sekawanan kijang tengah makan rumput.
"Wushhhhh" tiga buah anak panah melesat
"keakkkkk" tiga ekor kijang tersungkur di tanah.
melihat tanda bahaya kawanan kijang lainnya langsung ngacir tunggang langgang pergi menyelamatkan diri.
andai kan bahasa mereka sama dengan bahasa manusia, mungkin suara yang terdengar itu adalah jeritan ketakutan serta sumpah serapah karena kesialan mereka harus bertemu pemburu di pagi ini.
tiga kijang yang tersungkur tadi langsung di sembelih oleh jaka dan di kuliti.
"oke cow, waktu nya balik" gumam jaka sumringah.
di sepanjang jalan jaka juga sambil memetik buah-buahan serta tumbuhan liar yang bisa di makan untuk mereka sarapan dini hari ini.
... "..pada hari minggu ku turut ayah ke kota,...
... naik delman istimewa ku duduk di muka....
... ku duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja....
... tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk...
... tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk..."...
jaka bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan sedangkan kedua tangan nya menggenggam hasil buruan.
sedangkan alat atau senjata sudah ia taruh di tempat yang seharusnya di badan.
...nb. ini cerita fantasi jadi haraf maklum semua hal bisa terjadi, karena ini cuma hiburan untuk otak yang lagi gabut....
sesampainya di pondok,
tampak anak-anak kecil sudah bangun, dengan takut-takut mendekati jaka.
"paman apa itu ?" tanya pria yang berumur sekitar sepuluh tahunan.
"bawa kedalam, minta tolong dengan teman kakak untuk mengolahnya" perintah jaka sambil menyerahkan bawaan.
anak-anak itu pun langsung menyambutnya.
..."BERSAMBUNG"...
__ADS_1