
Udara pagi hari ini begitu sejuk, terdengar cicit burung yang sedang berkicau dan mentari memaparkan kehangatannya di langit yang biru.
Queenza oddeta isabel tampak sedang duduk manis dengan kepala tertunduk dalam. Seumur hidup nya baru kali ini ia melakukan itu selain dari kepada orangtuanya sendiri.
Begitu juga dengan ketiga pengawal Queenza mereka tampak menunduk dengan rasa kesal yang dipendam.
beberapa saat lalu jaka bertanya dengan mereka baik-baik sambil menyantap hidangan, tapi sang putri malah bersikap angkuh dan cukup menguji kesabaran.
"nona mari jawab pertanyaan ku dengan benar dan tolong buang sikap angkuhmu itu" pinta jaka sambil mencuci tangan menggunakan air yang ada di dalam tabung bambu "Siapa dan hendak kemana tujuan kalian ini ?"
"jangan ada yang menjawab" tegas queenza memberi peringatan kepada anak buahnya.
Fani yang semula akan menjawab langsung mengatupkan mulut, karena mau bagaimanapun perintah mutlak ada pada queenza selaku atasannya.
"hufttttt" jaka menghela nafas lalu melihat kearah langit yang membiru.
"Baik lah kalau ini yang kamu inginkan"
perlahan aura putih bercampur ke emasan seperti milik queenza merembes perlahan keluar dari tubuh jaka dan warna mata jaka juga berubah secara perlahan menjadi putih semua seolah tidak memiliki bola mata.
"BOOOOM" debu di sekitar jaka bertebaran berputar layak nya angin puyuh.
"kamu kenal aura ini" pertanyaan jaka lontarkan ke queenza yang masih mematung.
dan beberapa saat kemudian sebelum ada yang sadar jaka sudah berada di depan roger.
"Kita mulai dari kamu" Roger belum sempat bereaksi saat tubuhnya sudah terpental dengan cukup jauh akibat pukulan jaka.
BOOOOOM....
Tubuh roger pun terkapar di atas tanah memuntahkan darah segar, matanya tertuju tajam melihat jaka sebelum dia tak sadarkan diri.
"Satu dan lanjutkan sikap angkuhmu itu nona" peringatan jaka serius.
tentu saja kejadian yang hanya terjadi beberapa menit itu membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Kamu selanjutnya" jaka berada tepat di depan fani dan seperti yang terjadi dengan roger tadi.
BOOOOOOOOM
Gadis cantik itu pun terbang beberapa meter lalu pingsan.
ruby bersiap memegang sabit andalanya kencang bersiap menyambut jaka.
disisi lain queenza mulai fanik dan juga dilema saat melihat nasib pengawal kepercayaan serta andalannya itu.
__ADS_1
"Satu lagi dan kamu gak usah gelisah seperti itu lah" jaka melirik queenza " ini kan keinginanmu lagian abis ini kamu juga akan merasakan nasib yang sama"
Ruby tidak ingin kalah tanpa perlawanan,
"andai pun aku harus mati, setidaknya aku akan melawan terlebih dahulu" teriak nya yang gelisah karena merasa terintimidasi.
sebuah kilatan api berbentuk cembung dari sabit menuju jaka dengan sangat cepat.
Tapi apa ini,
serangan mematikan itu berhasil di halau oleh jaka dengan sangat mudah, dia hanya perlu mengibaskan tangan dan dengan punggung tangan dia menepis api tersebut.
seringai dibibir jaka mengejek serangan itu membuat ruby menggigil ketakutan, seolah dia sedang bertemu dengan seseorang yang pernah membuatnya benar-benar takut hingga meninggalkan trauma yang mendalam.
"senyuman itu..." gumam rubby dengan tubuh menggigil saat melihat jaka yang sedang berjalan pelan ke arahnya.
yah jaka sengaja melakukan itu, entah datang dari mana ide tersebut. seolah melintas begitu saja sebuah ide untuk menyiksa dengan santai.
seperti kata pepatah "Menunggu adalah sesuatu yang melelahkan"
jadi jaka mendapat ide bagaimana baiknya melakukan eksekusi ke lawan dengan cara menyerang mentalnya.
"apa cara ini akan lebih efektif dari pada cara ku sebelumnya yang cepat dan mengagetkan?" begitu pertanyaan yang melintas dalam fikiran pangeran jaka sakti si pangeran pengembara alias pendekar singa perak.
queenza oddeta isabel memerah melihat anak buahnya,, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengumpat atau merutuk marah.
"Anjing kau manusia biadab" rutuk queenza marah.
jaka menghentikan langkahnya saat mendengar queenza merutuk. dengan senyum sinis seperti saat dia menangkis serangan rubby tadi jaka menoleh ke arah queenza.
"Ini adalah akibat dari kamu yang lancang bermain-main denganku, dasar wanita yang tidak tahu balas budi" gumam jaka pelan lalu kembali berjalan ke arah rubby.
BOOOOOOOMMMMMMMM
sebuah ledakan dari arah rubi, aura nya meledak.
sekujur tubuh wanita yang mengenakan sabit itu diselimuti api yang membara.
"auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu" rubby mengaum layaknya serigala.
"wow" jaka terkejut
sama halnya dengan queenza, dia pun terdiam. Baru ini dia melihat anak buah nya itu sampai meledak dan semarah ini.
rubby menghunuskan sabit ke arah jaka, sabit itu pun seketika di selimuti oleh bara api yang semula menyelimuti tubuh pemiliknya.
__ADS_1
wushhhhh rubby melompat maju menerjang jaka.
tapi disaat sabit itu beberapa inci lagi nyaris menebas leher jaka, jaka justru maju memperpendek jarak.
"Kekuatan ini cukup dahsyat dan senjata sabit yang kamu pakai sangat tajam tapi itu kurang tepat dan belum cukup untuk bisa meraih leher seorang pangeran pengembara ini" ucap jaka di akhiri seringai nya.
BOOOOM
satu tinju jaka lepas tepat menghantam dagu rubby, dan tubuh itu pun terpental cukup jauh.
tapi beberapa saat kemudian tubuh itu kembali dan tersungkur tepat di depan queenza.
ternyata usai melepas tinju jaka melesat mendahului tubuh lawan sebelum ia benar-benar terlempar jauh lalu jaka melepaskan tendangan tepat di punggung badan membuatnya berbalik arah dan kali ini tubuh itu benar-benar terhempas dengan keras tepat di hadapan sang majikan.
wuingggggg sebuah suara cukup memekakan telinga, ternyata itu adalah sabit milik rubby yang sempat terlepas sewaktu dia menerima serangan jaka.
BOOOOM
Genggaman senjata itu menancap cukup dalam di samping pemilik senjata membuat nya tegak menjulang seperti bendera.
dan tak lama kemudian jaka tepat berada di dekat mereka, dia mulai bosan dan berniat mengakhiri pertarungan ini.
"oke aku mulai bosan dan karena kamu masih tidak memiliki kesadaran mungkin ada baik nya salah satu anak buahmu ini ku bunuh saja agar kamu tahu apa konsekuensi mencari masalah denganku"
di raih oleh jaka leher rubby dan siap membuat ancang-ancang untuk melepaskan pukulan akhir.
"BERHENTI.. TOLONG BERHENTI" jaka menghentikan tindakannya saat mendengar jeritan pilu queenza.
tampak queenza sesenggukan menangis mengkhawatirkan keselamatan anak buahnya itu.
rubby yang saat itu masih sadar melihat reaksi queenza mata nya terasa begitu panas, setitik air mata tulus yang dia lihat dari atasan itu cukup meyakinkan nya untuk menaruh kesetiaan.
bahkan dia tidak akan merasa rugi andaikan dia harus melepaskan nyawa untuk orang itu kali ini.
jaka tersenyum melihatnya, dia cukup tahu air mata yang di tumpahkan itu begitu tulus.
jaka pun melepaskan cengkraman nya, lalu mengambil sesuatu dari balik jubah.
"makan ini dan energimu akan sembuh lalu ambil tubuh kedua temanmu tadi" perintah jaka.
... ............
Begitulah cerita nya kenapa kali ini queenza bisa duduk bersimpuh dengan patuh di depan jaka.
"jadi apa kalian bisa mulai menjawab pertanyaan ku kali ini dengan benar ?" tanya jaka santai
__ADS_1
queenza tidak menjawab dengan ucapan, tapi jaka melihat nya menganggukkan kepala pelan.
..."BERSAMBUNG"...