
Hari semakin terik, matahari sudah bertahta di atas ubun-ubun dan membuatnya panas.
Namun seperti ada yang salah, Gerbang kota yang semula ramai dan begitu meriah menyisakan keheningan meski ada sejumlah pasang mata.
"Si-siapa ka-kamu sia-lan ?" salah satu penjaga yang berada di dalam tumpukan.
tumpukan ?
iya tumpukan, dia dan rekan-rekan penjaga lainnya yang di kalahkan oleh jaka kini di tumpuk menjadi satu menjadi gunungan atau gundukan kecil, mereka saling tindih seperti sampah yang siap di bakar.
Beruntung mereka semua jauh dari kata mati hanya sekedar tidak sadarkan diri.
"ah... aku sampai lupa memperkenal kan nama, hahaha" jaka baru sadar.
"uhuk . . . uhuk... dengar kalian semua, nama ku jaka satria, aku adalah pangeran pengembara dan baru-baru ini ada yang menyebut saya sebagai pendekar singa perak" ujar jaka congkak memperkenalkan diri.
semua yang ada di sana masih terdiam membisu, mereka sibuk dengan fikiran mereka sendiri-sendiri.
tapi keheningan itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba dari barisan penonton ada sebuah tawa yang otomatis menyita perhatian.
Ha ha ha...
penasaran, orang-orang pun menelusuri arah sumber suara.
"WOI... kalian disini juga, ayo gabung sini sobat, kita berpesta" jaka melambaikan kedua tangannya saat mengetahui siapa empu tawa barusan.
"e kampret, Bisa-bisanya dia sok kenal gitu. ayo cabut" artur salah tingkah saat dia menjadi pusat perhatian khalayak ramai, apalagi si empu masalah bersikap seolah mereka adalah rekan seperjuangan.
tak berselang lama dengan perasaan sesikit mendongkol artur pergi guna menghindari perhatian yang tidak penting.
"Aduh... ini orang kok pemalu bener" desah jaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal melepas kepergian rombongan artur.
pepatah mengatakan saat ada ledakan saat itu pula akan menjadi pusat perhatian.
jaka menyadari jika kegaduhan yang ia buat akan mengundang perhatian para praktisi pembela diri atau di sebut juga para pendekar, karena nya sebisa mungkin ia akan membagi konsekuensi yang seharusnya ia dapat.
"hehee maafkan aku shobat" jawa terkikik geli karena ide yang dia buat. ia fikir itu adalah ide kreatif tapi dia tidak menyangka kalau itu justru akan membuatnya semakin kesulitan.
sesaat rombongan artur beranjak dari lokasi,
"Cih sialan, apa maksudnya memanggil kita tadi" desah artur
"ini bahaya ketua" argus berpendapat
"ia ketua, sepertinya si bocah itu tadi sengaja membagi kesulitan dengan kita" jhonson juga turut mengutarakan pendapat.
"aih... sudah ku duga" desah artur lagi.
"jadi maksud kalian, dia sudah tahu konsekuensi yang akan dia terima dengan kegaduhan yang sudah dia ciptakan. begitu ?"
"iya ketua" artur mendengar jawaban dari ketiga anak buahnya yang menjawab serentak.
setelah terdiam beberapa saat, tiba-tiba raut wajah artur berubah dan sebuah senyum licik tampak di wajahnya.
__ADS_1
"sepertinya itu bukan ide buruk" gumam artur.
"maksud anda ketua ?" camelia bertanya.
"karena dia sudah berniat untuk membagi kesenangan, kenapa kita tidak wujudkan sekalian. HAHAHAHA" Artur dengan wajah kejamnya bergumam.
Jhonson dan argus yang mendengarnya langsung berubah semangat.
"aha... waktunya untuk kita bersenang-senang" gumam argus yang mengerti akan jalan fikiran sang ketua.
"yoi lihat di depan.." jhonson memberi peringatan.
ketiga orang lain nya langsung fokus ke depan mempertajam penglihatan dan benar saja di depan mereka ada sejumlah pasukan yang cukup kuat sedang berbondong-bondong menuju gerbang.
"Ayo kita cegat mereka" ajak artur.
"Baik ketua" jawab ketiga orang lain nya serempak.
setelah beberapa saat ke empat orang itu sampai di depan kelompok pasukan bantuan.
"BERHENTI, JANGAN BERGERAK" Teriak artur
"Siapa kalian dan mau apa kalian menghalangi jalan kami ?" salah satu pasukan bantuan itu bertanya.
"Mau kemana kalian ?" jhonson bertanya
"minggir, jangan halangi jalan kami kalau tidak mau celaka"
"Tidak, kami di tugaskan oleh ketua kami untuk menghalangi kalian selagi dia bersenang-senang" artur menjawab dengan santai.
"pangeran pengembara si pendekar singa perak" jawab artur sambil menahan mual, ingin rasanya dia muntah menyebutkan nama itu tapi harus ia tahan. karena dia sudah sangat bersemangat untuk bersenang-senang.
"Oh.. kalian satu anggota dengan pria yang menyebabkan keributan di gerbang" ujar sebuah suara dari belakang pasukan.
perawakannya tinggi dan cukup proposional, mengenakan seragam lengkap layaknya jendral sebuah kerajaan.
"betul sekali, kamu cerdas anak muda" wajah artur sumringah, dia merasakan hawa membunuh dari lawannya seperti yang sudah dia harafkan.
"Ringkus mereka, tangkap mereka hidup atau mati"
Dan pertarungan pun meledak di dalam kota dengan sangat intens.
sedangkan di tempat jaka berada satu kelompok pasukan bantuan lain sudah tiba, sama seperti yang di hadapi oleh kawanan artur di sini juga di pimpin oleh seorang pasukan yang berseragam lengkap layaknya jendral.
tapi yang membedakan adalah warna seragam yang di kenakan.
jika yang di kenakan oleh kawanan lawan jaka ini di dominasi oleh warna hitam juga semua pasukan mengenakan kain penutup wajah.
maka yang di kenakan oleh pasukan lawan dari kawanan artur di dominasi warna putih.
kedua pasukan ini di bawah pimpinan langsung raja bupati.
yang di lawan artur adalah tentara resmi kota, sedangkan yang di lawan jaka adalah tentara pembantai.
__ADS_1
"ohooooo datang juga nih para begundal" jaka melihat pasukan yang baru datang dengan senyum jahat.
"BERANI SEKALI KAMU MEMBUAT MASALAH DI KOTA INI" Bentak si pemimpin, melihat jaka intens.
"wah gila.. ini kan tentara pembantai"
"tentara pembantai ?"
"iya mereka itu bertugas sebagai eksekutor"
"berarti mereka itu satu dari dua kelompok pasukan khusus dong"
"iya lah kampret"
"eh sialan berani sekali kamu bilang aku kampret"
"lah emang kenapa, mau adu jotos ?"
"hayu.. sini maju kalo berani"
"eh diem lu bedua, mau jadi korban nyasar dari mereka"
"iya nih rame aja"
"sok jago emang"
...... Seperti biasa kasak kusuk pembicara'an dari para figuran, saat terjadi pertunjukan di tempat ramai pasti penonton nya pun lebih ramai.
Sedangkan di lapangan jaka malah nyengir kuda saat tanpa sengaja mendengar beberapa obrolan dari para penonton.
"eh kalian penonton mending minggir siapkan cemilan sono" usul jaka
"Woi anak muda, tidak kah kamu terlalu menganggap remeh kami" sang pemimpin sedikit tersulut emosi melihat reaksi jaka yang masih sempat bercanda dengan para penonton.
"elah... serius amat, sini maju kalian semua" decak jaka sambil memasang kuda-kuda berniat memprovokasi lawan.
"uwah... udah siap mati ni orang" gumam salah satu pasukan
"heh.." sang pemimpin sadar jika jaka barusan sengaja memprovokasi nya.
"Dengar" sang ketua memberi komando
"Siap di posisi" perintahnya
seketika pasukan itu pun membuat barikade berniat mengepung jaka dan untuk mereka yang bertugas di line belakang mereka pun mundur mempersiapkan ancang-ancang.
"wow... keren" decak kagum jaka melihat para pasukan itu.
"seperti nya kalian lebih menghibur dari pada para sampah yang cuma bisa makan gaji buta itu" pujinya.
Sang ketua tak lagi menghiraukan jaka, dia pun memberi ancang-ancang dan dengan kode dari jari untuk memerintahkan tindakan pasukan.
suittttttt suittttttt suittttttt
__ADS_1
hujanan anak panah melesat menuju satu arah.
... "BERSAMBUNG"...