PANGERAN PENGEMBARA

PANGERAN PENGEMBARA
05. PARA PENCOPET KECIL


__ADS_3

"Haih... aku dulu menjalani kehidupan yang baik, hingga TRAGEDI itu terjadi" hela jaka siang itu, tangan kanan berpangku di atas punggung dan tangan kiri tampak tengah mengelus dagunya seakan-akan sedang merapikan janggut menirukan gaya ki harit saat sedang menceramahi mereka.


"tanganku yang kala itu masih mungil bermain lincah dengan sebuah kuas entah itu menggambar ataupun menulis, hufttt...." Kembali jaka menghela nafas dalam.


sambil menggelengkan kepala pelan ia melirik sebentar ke arah seorang pemuda yang di perkirakan usianya sepantaran dengan jaka, di belakang pemuda itu tampak beberapa anak kecil memperhatikan dengan wajah memucat.


"...Aku tahu hidup ini berat kawan, namun jalan yang kau tempuh tidak lah benar..."


"Tau apa kamu tentang kehidupan BAJINGAN" teriak pemuda yang tadi di lirik oleh jaka.


"..huft..." jaka menarik nafas lagi dengan berat lalu menghempaskannya dengan kasar.


"Aku tahu pasti karena aku adalah pangeran pengembara, kamu salah faham kalau hidupku ini hanya lah ada kebahagiaan. jauh di kedalaman hidupku, hidup ku ini tidak hanya ada kata sedih..."


"...Aku berjuang dengan caraku" jelas jaka sarkasme,


"Diam kamu BAJINGAN" Teriak pemuda itu tadi lagi


lalu dia dengan di bantu rekannya melesat bersama menyerang jaka.


vio yang melihat itu berniat maju untuk menghalau musuh, namun di hentikan oleh langit.


"kenapa ?" vio bertanya dengan wajah memerah menahan marah.


"Tunggu, Belum saat nya kita maju" jawab langit


jaka tampak begitu santai menangkis setiap serangan yang datang, bahkan ia melakukannya seperti seorang kakek tua yang sedang bermain-main dengan cucu nya.


"hei kaki mu terlalu lebar"


BOOMMMMMM


KRAKKKKKK


Satu penyerang terhempas menabrak pohon,


BUAKKKKKKKKK


"ini juga bandel banget di bilangin kalo mukul itu harus nya pake tenaga, cih..."


begitu lah kira-kira gumaman jaka saat menghadapi kelima orang pemuda yang menyerangnya.


satu persatu penyerang itu pun tumbang, sambil menepuk bajunya yang kotor karena debu. jaka melirik ke atas pohon yang rimbun.


DEG...


orang-orang yang bersembunyi di sana tercekat, mereka tak menyangka jika ternyata lokasi mereka di ketahui oleh pemuda yang tidak di kenal itu.


"uhukkk... uhukkkk... aduh pinggang tua ku" rintih jaka


vio yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya yang tengah bersemu sambil menahan tawa.


sedangkan langit sudah benar-benar tak kuasa menahan makanan yang seperti berputar-putar di perutnya.


"HOEKKKKKKKKK...Haruskah kamu bersikap layaknya ki harit" protes langit sambil memegangi perut.


"ha ha ha" jaka terpingkal-pingkal melihat reaksi langit.


"saudari ayo kita urus mereka yang terluka dan kakak bisakah kamu memberikan mereka makanan hangat" pinta jaka


"ya" violetta menjawab singkat


"hei kamu berdua bantu aku" Langit menunjuk beberapa anak kecil yang dari tadi menggigil ketakutan.


"ba ba..." seorang anak kecil terbata-bata tidak sanggup mengutarakan maksudnya.


"udah sini bantu aku siapkan kayu untuk membakar, kita akan buat makanan"


mereka berdua pun langsung menurut untuk membantu langit mempersiapkan kayu bakar.

__ADS_1


"...kalian berdua ambil air untuk kita minum dan kalian yang tersisa bantu mereka mengobati saudara-saudara kalian yang terluka" Begitu langit memberi komando tentang tugas mereka masing-masing.


"Siapa mereka" sesosok yang tengah bersembunyi di pohon yang tadi dilirik jaka berbisik dengan teman yang ada di sampingnya.


sosok yang satunya menggeleng pelan,


"Mereka menyadari keberadaan kita padahal kita sudah bersembunyi dengan benar, tapi..." ujar wanita itu


"kenapa ?" si pria bertanya


"tidak ada niat membunuh, jadi kita tak perlu turun" jawab nya dengan suara berbisik.


"ya" jawab pria itu singkat


............


Beberapa hari yang lalu,


jaka, langit dan Violetta yang ikut dengan karapan pedagang milik paman shi long dan bibi mei mei tiba di kota bulan sabit, tentu saja itu terjadi setelah mendapat izin dari paman erlang.


jika rombongan karapan langsung menuju penginapan untuk beristirahat,


jaka bersaudara memilih untuk langsung ke pasar, mereka tak ingin menyia-nyiakan waktu. karena sudah tidak sabar untuk mencuci mata juga berbelanja kebutuhan yang mereka butuhkan.


ini adalah kali ketiga mereka ikut karapan datang ke kota ini.


karena seperti yang telah di ketahui, desa mereka di selimuti embun racun dan racun tersebut akan netral hanya satu bulan dalam setengah tahun.


setibanya mereka di pasar, langit tampa sengaja melihat sekumpulan anak kecil berpakaian lusuh dengan tubuh penuh bekas luka lebam.


tapi bukan cuma itu yang menyita perhatian langit, melainkan kemampuan yang mereka miliki.


bagaimana menyebutkannya, jika itu di bandingkan mereka bertiga dulu memang tidak seberapa. namun jika itu di bandingkan dengan anak-anak seusia mereka itu cukup aneh.


saat rasa penasaran begitu nyata, seolah mereka sendiri memberikan jalan. yaitu salah satu dari mereka mencuri kantung bawaan jaka.


semula jaka akan menghabisi pencuri tersebut, beruntung violetta sempat mengirim sinyal kepada jaka melalui alam bawah sadar untuk menahan amarah.


jaka menoleh ke arah vio, namun matanya justru baradu dengan mata langit yang juga tengah memberi jaka kode.


jaka pun sadar, samar-samar merasakan keanehan dari tubuh pencopet itu, juga beberapa aura yang serupa dengan nya tak jauh dari mereka dan semakin merasa aneh dengan bayangan pendekar yang seolah sedang memperhatikan tak jauh dari tempat mereka berada.


"hemzzz... mari kita ikuti" ujar jaka melalui telepati kepada langit dan Violetta.


mereka bertiga pun mengiringi pencopet tadi dengan santai agar tidak ketahuan. hingga setelah cukup jauh tiba lah mereka di markas para pencopet kecil tersebut.


yaitu sebuah gubuk di kelilingi hutan belantara di luar kota. Terhitung ada sepuluh orang anak kecil dan lima orang remaja penghuni gubuk itu, setidak nya itu untuk yang sekarang mereka lihat.


"Kalian gak usah takut, kami datang dengan damai" ujar jaka kepada anak kecil yang tampak takut meski sedang di obati.


"iya kalian tak perlu cemas" tambah Violetta dengan senyuman manis, Tapi sesaat kemudian mimik mukanya berubah.


dengan sedikit berguling kedepan ia meraih panah dan busur milik nya yang tergeletak, lalu...


WUSSSSSSSSSS


BOOOOOOOMMMMMMMM


bunyi dua benda berbenturan dengan keras, disertai debu-debu yang bertebaran.


"orang ini kuat" batin nya


lagi ia mengambil busur dan membuat ancang-ancang membidik arah yang ada di depan nya.


BOOOOOOOMMMMMMMM


Lagi-lagi terdengar benturan dua benda dengan sangat kuat.


setelah debu-debu menghilang tampak jaka dan langit sudah berada dalam pertarungan yang sangat intens.

__ADS_1


tampaknya lawan yang mereka hadapi kali ini cukup sulit jika di bandingkan dengan bocah-bocah ingusan yang tadi jaka hadapi.


"lumayan..." gumam langit sambil melepaskan tendangan dan lawan tampak cukup kesulitan untuk menangkisnya.


"cih...HIATT" usai menangkis tendangan langit pria berbaju Hoodie warna hitam dengan corak api di lengan baju serta wajahnya yang di tutupi oleh topeng tengkorak itu melancarkan tendangan berniat melakukan serangan balik.


wussssssssss


tendangan itu mengenai ruang kosong karena langit sudah terlebih dahulu berpindah tempat, entah bagaimana caranya langit sudah berada di belakang sosok misterius itu dan ia melepaskan serangan menggunakan dua telapak tangan yang terbuka. di telapak itu memancar sinar berwarna putih.


BRUAKKKKK


Sosok itu terpental cukup jauh, setelah berguling-guling cukup lama tubuhnya pun terhenti saat menabrak pohon.


seteguk darah muncrat dari mulutnya menerima serangan yang begitu dahsyat.


di saat yang sama jaka tampak juga terlibat pertarungan yang sengit, namun mimik mukanya tampak berseri-seri kegirangan.


membuat lawan semakin marah, karena merasa di remehkan.


"BAJINGAN KAU" Teriak pemuda itu.


jaka dan lawan nya memiliki tubuh yang serupa, badan tegap berotot dan juga tinggi.


"tubuh fisik orang ini kuat" jaka membatin setelah beberapa kali bertukar jurus.


"sulit membayangkan bagaimana cara dia melatih tubuh"


Sadar jaka teringat bagaimana ia melatih tubuh sejak dini, latihan olahraga fisik yang ia jalani sedari dia belum berlatih silat lalu di hari pertama dia di terima segai murid oleh paman erlang dia juga mengkonsumsi buah herbal penguat tulang dan kulit dan selanjutnya saat dia berlatih ilmu silat tubuhnya juga di gembleng agar keras, terlebih setiap hari dia bersama langit dan Violetta berburu di hutan pinggiran desa bersama paman erlang mereka akan mengkonsumsi daging penambah stamina.


Dia yakin fisik nya jauh dari kata normal,


tapi hari ini dia bertemu dengan pria yang memiliki fisik setara dengan langit yang berarti sedikit lebih lemah jika di bandingkan dengan jaka dan jauh di atas orang-orang pada umum nya.


disisi lain,


pria itu juga dalam diam memuji ketahanan fisik jaka, yang membuatnya terkejut orang yang dia hadapi itu jika di lihat dari wajah usianya tidak jauh beda dengan dia bahkan bisa jadi usia lawan lebih muda.


"Luar biasa..." batin pria itu memperhatikan jaka dengan serius. tentu saja itu di lakukannya sambil menangkis serangan atau pun melakukan perlawanan.


Setelah beberapa saat pukulan jaka berhasil masuk mengenai wajah nya.


"BUAKKKK"


"UKHHHHHHH"


Seteguk darah muncrat dan mengalir di sela bibir.


Lalu berkelebat dua bayangan menggantikan saat tubuh nya terpundur kebelakang.


Namun sayang...


sebelum kedua bayangan itu menjejak tanah untuk berpijak, sebuah cahaya yang cukup menyilaukan dari dua busur panah yang di lepaskan oleh wanita yang sedari tadi berada di belakang memperhatikan pertarungan mereka.


yah... siapa lagi kalau bukan violetta.


Daya hantam yang di hantarkan busur itu bukan main, tak hanya cepat dan akurat tapi juga begitu kuat. Menyebabkan ke dua sosok tadi terpaksa untuk mundur menghindar demi menyelamatkan nyawa.


"Sial... bukan main-main, siapa mereka bertiga ini" batin pria yang tadi berseteru dengan jaka.


Dia terkejut, benar-benar terkejut.


"siapa kalian dan apa tujuan kalian kemari ?" pria itu bertanya saat melihat salah satu temannya kini telah terkapar di bawah pohon tak sadarkan diri. tapi dia tahu temannya itu hanya sekedar pingsan, dia tidak merasakan hawa membunuh dari ketiga lawan nya kecuali saat wanita tadi melepaskan panah untuk memukul mundur dua orang pengawalnya.


jaka tersenyum licik dan dengan sebuah hentakan tiba-tiba dia telah berdiri di hadapannya.


saat tangan jaka akan mencengkram lehernya tiba-tiba di urungkan oleh sebuah hempasan angin dari langit.


"Hentikan adik kedua" begitu suara langit terdengar.

__ADS_1


"cih.." jaka berdecak kesal karena di hentikan saat dia berniat untuk bersenang-senang.


..."BERSAMBUNG"...


__ADS_2