PANGERAN PENGEMBARA

PANGERAN PENGEMBARA
06. SISI LAIN


__ADS_3

"Siapa kalian dan apa tujuan kalian ?" lawan jaka bertanya sambil menghapus darah yang merembes di sudut bibir.


Namum alih-alih menjawab jaka justru melesat mendekat berniat melancarkan serangan.


"wushhhhh"


Sebuah seringai dengan wajah berseri jaka melesat nyaris tangan kanannya mencengkram leher pria itu namun berhenti saat merasakan hembusan angin dari langit.


"Stop dulu adik kedua"


"cih" jaka berdecak kesal, namun tetap menuruti peringatan langit.


dia pun kembali bertolak kebelakang berdiri di samping Violetta.


"kalian juga berhenti" violetta memberi peringatan kepada dua pendekar yang sedari awal memperhatikan mereka.


"hahaaa akhirnya kalian keluar juga cecunguk" gelak jaka saat melihat dua pendekar yang tadi di beri peringatan oleh Violetta.


"Kamu..." jari telunjuk jaka lurus ke arah pemuda yang tadi jadi lawan tandingnya.


"...fisikmu luar biasa" puji nya.


"cih... aku tak butuh pujian dari mu" ujar pria itu memalingkan wajahnya yang tengah bersemu kesamping.


"Ayo obati dulu yang terluka" ajak langit sambil melirik jaka dan Violetta.


sebenarnya itu adalah perintah namun secara halus, karena langit tidak mengerti tentang pengobatan berbeda dengan jaka dan Violetta.


"aih... dasar lah kau ni kakak tertua" desah jaka yang tampaknya masih kesal kepada langit karena telah di hentikan saat sedang bersenang-senang.


pffffffff...


vio melihatnya cuma mengulum senyum.


Ditempat lain,


"katanya mau sentuhan terakhir, kenapa malah kamu izinkan mereka berkelana ?" Tanya ki harit.


Dia heran dengan apa pola fikir dari menantunya itu, tapi dia juga bisa menarik kesimpulan kalau hal itu berguna untuk pelatihan para remaja.


istirahat yang cukup demi melatih jiwa serta mental sebelum menghadapi ujian.


"Bukan kah aki sendiri juga tau jawabannya" jawab paman erlang dan di akhiri dengan senyuman.


"aih...kamu ini, ya sudah kami akan pulang dulu hari ini" desah ki harit.


setelah melepas kepergian ki harit dan nyi nana, mawar mendekati erlang coba mensejajarkan barisan.


"kenapa kamu gelisah pak ?"


hufff... paman erlang menghela nafas dalam.


"tidak ada, aku hanya belum yakin untuk melepas mereka"


"kenapa ?" Bibi mawar merangkul tangan paman erlang atau lebih tepatnya mawar tengah bergelayut manja kepada sang pujaan hati.


Paman Erlang menjawab dengan pandangan tetap fokus ke jauh tempat ki harit tadi pergi,


"kamu pasti tahu apa yang aku fikirkan".


"hemzzz . . . apa itu ?" tanya bibi mawar sambil menatap lekat wajah lelaki yang ia temukan di sebuah hutan.


saat itu mawar bersama dua saudarinya tengah mengejar rusa di hutan, mereka hari itu sedang berlatih memanah dengan target yang bergerak.


walaupun saat itu nama mereka sudah cukup terkenal di dunia persilatan, namun mereka tetap saja sering berlatih dengan cara berburu hewan di hutan.


Alasannya tak lain adalah selain berlatih, mereka juga bisa memanfaatkan dagingnya untuk makanan dan juga sambil mencari serta meneliti tanaman herbal entah itu obat atau pun racun.


tapi hari itu bukan cuma kijang yang mereka dapat, melainkan mereka juga menemukan seseorang yang sedang tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan.


dan siapa sangka jika itu semua adalah takdir, karena pria tersebut kini menjadi suami serta bapak dari anaknya.

__ADS_1


"ehmzzz apa ini soal kepribadian mereka ?" bibi mawar kembali bertanya.


Disisi lain,


seorang pria berbadan kekar tampak berlari tergesa-gesa di belakangnya tampak beberapa orang bertopeng kain serta mengenakan pakaian layaknya bandit yang compang camping menuju rombongan jaka berada.


di lihat nya dari jauh kegiatan yang sedang rombongan jaka lakukan.


"target sudah terlihat, ingat prioritas kita menyelamatkan pangeran"


tangan kanan nya menggenggam erat tombak yang tadi bersandar di punggung sedangkan tangan kiri memberi kode untuk maju.


"pada hitungan ke tiga kalian lempar bom asap itu lalu selamatkan pangeran dan temannya sebanyak yang kalian bisa dan lagi prioritaskan pangeran" titahnya memberi komando


"Baik ketua" salah satu dari pengikut itu menimpali.


"Satu...


...Dua,


tiga"


...BOOOOOOOMMMMMMMM...


...WUSSSSSSSSSS...


"awas" teriak langit mengingatkan sebelum boom asap tadi meletup.


...DOOOOOOOOM...


"Uhhhh..." langit sempoyongan, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan tak lama kemudian ia pun tersungkur ke tanah.


sedangkan jaka dia langsung mendekati Violetta yang tak jauh dari tempat nya berada.


...WUSSSSSSSSSS...


sebuah pisau coba menebas vio tapi berhasil di tangkis oleh jaka, biarpun dia harus merelakan tangan yang dia gunakan untuk menangkis tadi terluka oleh sayatan pisau.


Violetta terkejut saat melihat darah yang mengucur di telapak tangan jaka karena menangkis serangan yang di tujukan kepada nya barusan.


Duubb... duubb.... dubbb


Detak jantungnya berdebar, bukan karena takut melihat darah atau takut terkena serangan musuh.


jauh dari situ Violetta adalah wanita yang mandiri, wanita cantik dengan tempramen kaku saat bertemu dengan orang yang baru dia kenal, gaya nya yang kalem dan juga penurut menunjukkan sisi wanita desa yang polos.


tapi . . .


Jangan pernah,


Jangan pernah pandang dia sebelah mata saat kamu bermain api dengan orang-orang sekitarnya.


karena jika itu terjadi,


Kamu akan melihat bagaimana seorang malaikat yang tersesat dan menjadikannya iblis.


sosok yang penuh dengan kasih sayang, kalem akan berganti menjadi sosok yang energik dan juga haus akan pertarungan.


CRASSSSS


Darah mengucur deras saat tangan orang yang tadi melukai jaka terpotong.


AKHHHHHHH.... Teriak sosok bertopeng itu merasakan kesakitan saat tangannya terpotong.


Namun,


penderitanya tak hanya sampai di situ. Karena tak lama kemudian tubuhnya terpaksa maju gara-gara saat dia berteriak kesakitan tadi sebuah tangan menggapai lidahnya tentu saja itu setelah kain yang digunakan terlepas dan menarik lidah itu keluar.


"BUAKKKKKKKKK


BUAKKKKKKK

__ADS_1


BUAKKKKKKKK


BUAKKKKKKKKKK"


Tinjuan bertubi-tubi menghantam wajah sampai ia tak sadarkan diri lagi.


"Hentikan adik" jaka mencegah aksi Violetta "lihat aku cuma tergores kecil"


Jaka menghentikan tindakan kejam Violetta sambil mengulurkan telapak tangan nya yang cuma tergores ringan sedangkan tangan lainnya mengelus pelan kening Violetta.


Debu-debu yang tadi menutupi pemandangan hilang,


selain anak-anak kecil dan trio bersaudara, cuma ada satu sosok pria bertopeng yang di hajar oleh Violetta dan seorang yang berdiri mematung tak jauh dari mereka.


pria berbadan kekar bersenjata kan tongkat itu menatap jazad anak buahnya dengan mata memerah.


"kamu bajingan"


Violetta menatap dingin pria itu bersiap maju, namun di halangi oleh tubuh jaka.


"Biarkan aku yang bersenang-senang kali ini, lebih baik kamu obati langit"


Jaka merasa ada hal yang tidak beres dengan pria yang ada di hadapannya dan juga terasa begitu familiar.


WUSHHHHH


Pria itu melesat memukul ke arah jaka dan Violetta,


angin berhembus disebabkan aura tenaga dalam dari hantaman tongkat itu.


TRANG


"Aku lawan mu" raut serius jaka saat menangkis serangan tongkat pria berbadan kekar itu.


DOOOOOOOOM


"Minggir" si pria tampak begitu beringas, ingin melewati jaka bermaksud melakukan serangan kepada violetta.


"Langkahi dulu mayatku" seringai jaka coba untuk memancing emosi lawan.


DOOOOOOOOM


TRANG


TINGGG


TRANG


........


"MINGGIR" teriak lawan setelah beberapa kali bertukar serangan dengan jaka.


tapi jaka sedikitpun tidak bergeming, justru sengaja memprovokasi lawan dengan terus menghalangi serangan bahkan melakukan serangan balik.


"Hei pak tua, cuma segini kemampuanmu ?" provokasi jaka saat menepis tongkat itu kesamping menggunakan keris perak berpenghulu kepala singa hasil tempaan nya sendiri.


"cih..." lawan berdecak kesal,


waktu berlalu tanpa terasa sudah kurang lebih satu jam mereka bergelut adu serangan, tapi keduanya tak kunjung menurun.


sulit untuk memperkirakan hasil dari pertarungan ini, karena keduanya tampak seimbang sedari tadi.


"dia ahli" begitu pendapat keduanya dalam hati saat mengamati lawan.


Di pinggir an,


langit sedang duduk bersila tengah berkonsentrasi mengeluarkan racun, sedangkan Violetta sekarang sedang mengobati anak-anak kecil yang terkena boom racun tadi.


BOOOOOOOM


senjata keduanya terlepas dan tubuh keduanya sama-sama terhempas oleh aura yang dihasilkan dari benturan kedua senjata.

__ADS_1


... *BERSAMBUNG*...


__ADS_2