PANGERAN PENGEMBARA

PANGERAN PENGEMBARA
15. KEKUATAN PENGALAMAN, PERBEDAAN ANTARA JUNIOR DAN SENIOR


__ADS_3

Senja mulai menyapa hari yang melelahkan pun akan segera berakhir. Namun di gerbang kota langit dan sang jendral masih asik bergelut tanding beradu kemampuan.


jaka sendiri yang mulai bosan melihat pertarungan keduanya, sudah tiduran nyenyak di atas tanah beralaskan daun yang dia ambil saat meninggalkan lokasi sebentar tadi.


konyol mungkin, tapi memang begitulah yang terjadi.


mudah bagi jaka kalau cuma ingin keluar dari kepungan, seperti beberapa waktu lalu dia keluar dari sana untuk mengambil daun dan juga membeli makanan.


dan perbuatan jaka itu tanpa ada yang mengetahuinya, tiba-tiba saja dia sudah kembali di tempat semula dengan membawa semua yang dia butuhkan.


.....


"Hoammmmm..." jaka mengeliat bangun tidur seolah biasa meski di tengah kepungan penjaga.


"hei kalian penjaga"


para prajurit itu tidak ada yang menjawab panggilan.


"Biar gak jenuh gimana kalo kita taruhan, aku bertarung sepuluh perak untuk kemenangan temanku"


jaka meninju tanah dengan ukuran seukuran mangkuk sebanyak dua buah, lalu menaruh di salah satu lubang tadi uang sebanyak sepuluh keping perak.


"wah... menarik ini" komentar salah satu prajurit yang tengah berjaga.


"ayo sini pasang taruhan kalian, oke ini aku tambah lagi sepuluh keping.


jadi taruhanku dua puluh dan semua nya aku pertaruhkan kepada temanku"


"wah ini sih rezeki, gak tau dia seberapa hebat jendral pasukan hitam" komen yang lain.


"komen doang, masang kagak" gerutu jaka sambil mencibirkan bibir.


"nih aku bertaruh untuk kapten dua puluh keping perak" salah satu prajurit memasang taruhan dan seperti kata pepatah berbaris ikut panjang, berteriak ikut ramai.


prajurit yang lain juga berbondong-bondong memasang taruhan untuk kemenangan jendral mereka.


ke dua petarung tidak menyadari perubahan suasana di tepi lapangan, kedua nya kini terlihat lebih serius.


entah sudah berapa kali mereka bertukar gerakan, yang pasti ke ada an ke dua nya sudag sama-sama tidak dalam kondisi prima.


"Woi kakak pertama udah mau malam ini" panggil jaka.


"Semangat jendral kalah kan bocah bau itu" teriak salah satu prajurit memberi semangat tidak mau kalah suara.


"Huh... sepertinya aku sudah mulai bosan" komentar langit


"buktikan anak muda, kamu memang hebat tapi aku lebih punya pe..." serangan langit masuk


ujung tombak tepat berada di leher sang jendral, dia pun terduduk lemas tidak menyangka akan di kalahkan oleh pendekar muda.


padahal dalam hal pengalaman dia lebih unggul karena dia bersama anggotanya sering berada di garda depan untuk menumpas para perompak atau pun perperangan lain.


"Aku menang..." langit berucap tanpa ekspresi, "terimakasih karena sudah mau mengalah senior"


jaka bersorak girang dia pun mengambil semua hasil dari taruhan, dikarenakan tidak ada satu pun yang ikut mendukung langit.


baru saja dia selesai memasukkan uang hasil taruhan.


"JDAAAAAARRRRRR"


Sebuah ledakan terjadi, langit terpelanting jauh melintas di hadapan jaka.


tubuh itu tergeletak tak sadarkan diri setelah menerjang tubuh para prajurit yang mengepung.


dalam gerak lambat mata jaka melihat jelas cidera saat tubuh saudara seperguruan nya itu melintas di hadapannya.

__ADS_1


"BAJINGAN" teriak jaka marah


belum sempat jaka bereaksi sebuah cahaya putih seukuran bola kaki menghantam tubuh nya dengan keras,


sama seperti langit tubuh jaka pun terpelanting cukup jauh dari tempat dia semula berdiri.


"Huak.." jaka memuntahkan darah segar dan pandangan nya sedikit bergetar.


Violetta yang memantau dari jauh terkejut, segera di melepaskan panah yang sudah di aliri dengan tenaga dalam seperti saat pertama sampai disaat ia menyapu bersih semua hujaman anak panah yang menuju ke arah jaka.


anak panah itu di selimuti oleh cahaya berwarna putih kebiruan, cahaya biru itu seperti membungkus angin yang berputar-putar melesat menuju ke sosok pria tua yang baru sampai itu.


"MATI KAU" geram violetta


Langit pingsan tak sadarkan diri bersama dengan para prajurit yang ikut terkena terjangan.


jaka sendiri masih dalam posisi terduduk lemas di tanah mencoba bangkit dan matanya terus memperhatikan lawan.


Seolah ada yang salah, jaka merasa gelisah.


jaka tau persis kekuatan dari panah yang yang di lepaskan oleh Violetta, sebab kemampuan itu termasuk dalam jurus andalan yang di ajarkan oleh bibi mawar kepada mereka.


karena rasa gelisah yang dia rasa, jaka pun mulai bersiap-siap untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga.


Ternyata filling jaka itu benar, sesaat sebelum anak panah itu menyentuh lawan. seolah di hempaskan oleh angin, dia berbelok ke atas dan meluncur dengan lebih dahsyat ke arah Violetta.


dan jaka melihat gerakan lawan sewaktu menangkis tadi.


pria tua itu cuma mengibaskan tangan kanan dari bawah ke atas lalu meninjunya dengan keras.


karena itu juga kekuatan dari anak panah violetta jadi lebih kuat dan lebih cepat.


"BOOOOM" Debu bertebaran di tempat violetta.


"TIDAKKKKKKKKKKKKKKKK" Jaka terkejut gerakannya kurang cepat sedikit di bandingkan kecepatan anak panah itu.


"BOOOM..


BOOM


... BOOOOM"


Tiga ledakan dahsyat yang sangat berbahaya.


mata jaka yang biasanya cerah kini memerah, dia yakin betul dengan kekuatan itu tidak akan mungkin sanggup untuk di lawan oleh seorang Violetta.


jaka langsung menyibak debu-debu yang bertebaran menggunakan sapuan angin dari tangannya.


meski sedikit tapi jaka masih mencoba untuk tenang, dia berharaf saudara seperguruan nya yang cantik dan lucu itu selamat.


WUSHHHHH


DUB DUB DUB...Detak jantung jaka berpacu saat melihat harapan nya pupus.


tempat di mana Violetta tadi berada kini hanya tersisa tanah kosong yang gosong. tidak ada siapa-siapa di sana, bahkan andaikan vio tak sanggup melarikan diri jasadnya pun tidak ada.


"TIDAKKKKKKKKKKK" Jaka berteriak histeris.


"itu lah ganjaran bagi kalian yang coba bertindak macam-macam dengan daerah yang aku lindungi" pria tua itu berucap dingin.


jaka terdiam tanpa bicara, tangan nya terkepal dengan kepala tertunduk, menatap kosong tempat violetta.


"kalian memang hebat anak muda, ku akui itu.


bahkan anak buah ku tidak ada yang sanggup melawan kalian.

__ADS_1


tapi . . . kalian terlalu sombong dan juga ceroboh" kakek tua itu berucap di udara.


tubuh renta nya melayang dengan tatapan mata jengah.


"kalian itu cuma junior yang belum tau asam asin nya garam, kalian tidak tau di atas langit masih ada langit.


ini lah pelajaran untuk kalian agar kalian faham senioritas"


ucapan panjang lebar yang di utarakan kakek itu tak di hiraukan oleh jaka, dia sibuk dengan dunianya sendiri.


"Hei kamu bajingan tua" jaka berucap dingin, kepala menunduk jari menunjuk lurus ke arah si kakek.


"MATI KAU" tubuh jaka seolah terbakar tapi anehnya warna api yang menyelimuti jaka berwarna hitam ke abu-abu an.


WUSHHHHH


jaka melepaskan api yang berbentuk bulan setengah lingkaran dari pedang yang dia genggam.


Lalu dia pun turut menerjang maju, tampak wajah jaka dingin tanpa ekspresi meski dia melihat serangan api milik nya tadi berhasil di tepis oleh si kakek tua.


setibanya di hadapan si kakek,


jaka menendang dengan kaki kanan namun menemui ruang hampa karena si kakek berhasil menghindar.


kakek itu terkejut dengan serangan api daei jaka tadi, karena meski berhasil ia tepis namun serangan tadi masih memberikan dampak yang cukup ke tangan yang dia pakai untuk menangkis tadi.


karena itu lah saat jaka melepaskan tendangan dia memilih untuk menghindar dari pada menahan.


"siapa anak ini? kenapa api ini seolah tidak asing?" dalam hati si kakek bergumam saat menghindari tendangan jaka.


melihat tendangannya gagal jaka kembali melepaskan tendangan dengan cara berputar menggunakan kaki lain tapi lagi tendangan itu berhasil di hindari oleh lawan.


belum juga menuai hasil jaka kembali menyerang secara berutal.


jika orang melihat gerakan jaka itu.


mereka pasti menduga kalau serangnya itu serampangan tapi bagi lawan yang bisa di katakan adalah senior di dunia persilatan itu adalah serangkaian yang sangat berbahaya.


setiap serangan yang jaka lepas itu menuju titik mematikan dan tidak ada celah untuk pembalikan balasan.


karena nya si kakek sedari tadi hanya bisa berusaha untuk menghindar.


"GILA" si kakek itu berkomentar dan kembali dia di kejutkan oleh jaka.


"Mata itu !"


ya mata jaka saat ini tampak berbeda dengan manusia normal, matanya yang putih berubah warna hitam dan untuk bola matanya yang hitam itu justru berubah menjadi putih, juga di sudut dekat mata tampak seperti ada urat yang menonjol.


"Mata Legenda" komentar si kakek sambil menghindari setiap serangan yang jaka lepas.


.......


Ada apa dengan jaka ?


kenapa lawan jaka tampak begitu terkejut dengan serangan dan juga mata yang jaka miliki ?


apa itu mata legenda ?


siapa si senior itu sebenarnya ?


bagaimana keadaan violeta yang sebenarnya? mungkin kah dia benar-benar meninggal dunia ?


bagaimana kelanjutan ceritanya ?


Nantikan di episode berikutnya..

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan, salam santuy.


... "BERSAMBUNG"...


__ADS_2