
Seminggu telah berlalu,
Jaka melakukan aktifitas rutin sepanjang hari, di pagi hari selepas ia mencuci muka akan melakukan olah raga fisik, lalu belajar menulis dan menggambar seperti kebiasaan yang dia lakukan saat masih di kerajaan dulu.
saat ia melakukan semua itu langit masih bergelut dengan mimpi, mereka berdua tinggal di gubuk yang di bangun oleh erlang di samping gubuk milik erlang.
ukuran nya sama dengan gubuk yang erlang tinggali. Ruangan pun terbagi atas dua kamar dan satu ruangan luas.
Sedangkan kamar yang dulu milik langit kini di huni oleh Violetta,
seperti yang telah di rencanakan erlang berniat mengajari anak serta ponakan nya dan sekarang di tambah dengan satu anak kecil lagi yaitu jaka, karena itu lah Violetta tinggal disana.
usai menggambar jaka lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain yang berisi beberapa buah yang iya temukan di pinggiran hutan saat iya sedang lari dini hari tadi.
"heheeee saat nya untuk sarapan" ujar jaka
usai dia memakan sebutir buah yang mirip anggur jaka lalu menggigit buah yang seperti apel.
Namun sesuatu terjadi,
setelah ia menelannya perut dan kepalanya terasa sakit, bahkan tubuh nya terasa begitu berat seolah-olah ia mengangkat beban yang begitu besar.
buru-buru dia meraih air hangat yang sudah ia siap kan tadi dan segera menengguk nya.
tapi sial nya air itu tidak meringankan rasa sakit nya, malah membuat tubuh nya semakin sakit. kepalanya pun semakin pusing seakan-akan terjadi gempa.
"BRUAKKKKK" tubuh jaka terhempas ke lantai tanah.
jaka merasakan tubuh nya seperti tercabik-cabik dan dia juga merasa suhu tubuh nya berubah-ubah sebentar menjadi begitu panas seperti terpanggang sebentar lagi menjadi dingin seperti saat ia mencerna minuman dingin.
"Ahhhhhhhhhhhhhh......" jaka berteriak histeris dan tak lama kemudian ia pun benar-benar tak sadarkan diri.
.......
.......
erlang dan sang istri nya yang baru saja pulang dari sungai usai menangkap ikan terkejut saat tiba-tiba mendengar sebuah teriakan dari gubuk yang di huni oleh langit dan juga jaka.
mereka segera melesat menghampirinya.
teriakan jaka yang begitu kencang tadi juga mengagetkan langit yang saat itu masih tidur an di atas dipan walau pun sebenarnya langit sudah lama bangunnya.
langit yang terkejut mendengar terikan jaka tadi buru-buru berlari ke tempat jaka.
"ada apa bu ?" tanya langit setibanya di kamar jaka kepada ibu nya yang berdiri di depan pintu.
saat dia melongo ke dalam dia melihat sang ayah sedang membaringkan tubuh jaka ke atas dipan, dia melihat keadaan jaka kurang baik.
__ADS_1
"mari kita keluar, biarkan ibumu mengobati jaka" Ajak erlang
Sepeninggal erlang dan langit, mawar yang memang mahir dalam hal pengobatan tradisional tampak serius.
"Adik kecil kamu harus menjaga kesadaranmu" gumam bibi mawar sambil menyalurkan tenaga dalam melalui kedua telapak tangan yang ia letak kan di punggung jaka.
sebuah cahaya putih menyelimuti tubuh kedua nya.
"Akkkkkkhhhhhhhhh...." Teriak jaka di bawah alam sadar.
tubuh nya merasakan panas dingin yang begitu dahsyat.
tiga puluh menit berlalu tapi kedua nya masih berjuang, terlihat jelas dari butir-butir keringat yang mengucur deras baik itu di tubuh jaka maupun di tubuh bibi mawar.
sedangkan di luar tampak langit, paman erlang dan juga Violetta menunggu dengan gelisah, seperti seseorang yang sedang menunggui istrinya lahiran anak pertama.
Dua belas jam terhitung berlalu bibi mawar mengobati jaka, akhirnya pengobatan itu selesai.
"huft" hela bibi mawar dalam sambil menghapus keringat yang mengucur di wajah.
tampak jaka telah terlelap di dipan, wajah nya berangsur-angsur kembali seperti biasa.
"oke...biarkan dia istirahat dulu" bibi mawar ketika berada di pintu berpesan ke pamang erlang, langit dan juga Violetta yang dari tadi menunggu nya di depan pintu.
"baik bu" langit
"baik bibi" Violetta menjawab bersama'an, sedang kan erlang cuma diam bersender di dinding dengan kedua tangan bersilang di depan dada.
"oke bibi mawar" violetta mengikuti bibi mawar dari belakang, sebelum pergi ia masih menyempatkan diri untuk mengintip jaka yang tengah terlelap melalui celah dari pintu yang terbuka.
.............
siang itu,
matahari mulai meninggi menyapa dengan agung, sepoi angin melambai merayu manja.
di pekarangan belakang gubuk paman erlang dan juga bibi mawar duduk di kursi kayu.
di hapadan mereka Langit, jaka dan Violetta duduk bersila di atas rumput.
"jaka...bagaimana keadaanmu ?" bibi mawar menatap jaka, tampak keadaan jaka telah kembali pulih.
"baik bi" jawab jaka singkat
"kalian bertiga...." bibi mawar sengaja menggantung perkataannya sambil melihat ketiga anak kecil yang sedang memperhatikan.
"....mulai hari ini akan kami latih...." lanjut bibi mawar, lagi-lagi memperhatikan ekspresi ketiga anak kecil itu.
__ADS_1
"aih... ribet amat ngomongnya" sela langit bergumam, dia tidak suka suasana yang terlalu serius dan mendebarkan seperti sekarang ini.
paman erlang terkikik geli mendengar gerutu anak nya itu, bibi mawar mendelik tajam ke arah suami dan anak nya itu sambil menggeleng
"aih ni orang dua minta di pukul kayak nya"
"upssss" ke dua nya bersama'an menangkupkan mulut
"bibi" panggil jaka
"hemzzz"
"bukan saya bermaksud membela meleka, tapi penjelasan bibi memang tellalu tegang" jaka menjelaskan dengan sebuah senyuman.
"uhhhh..." violetta bergumam dan tampak wajah nya merona saat melihat senyuman jaka
"eh vio.." bibi mawar terkejut melihat ekpsresi Violetta saat tanpa sengaja meliriknya.
jaka dan langit diam tampak aneh melihatnya, bahkan langit tanpa sungkan bertanya "kamu kenapa vi, kayak orang lagi pengen berak aja"
"ah..." mendengar pertanyaan langit sontak membuat wajah violetta semakin merah padam sambil menutup wajah nya yang imut.
"oke oke sudah sudah, bisa kita bicara serius kali ini ?" paman erlang menyudahi gurauan.
"Langit.. jaka... kalian berdua mulai sekarang sampai kedepannya berlatih denganku juga istriku dan kamu juga vio" jelas erlang.
"baik paman" jawab jaka
"siap ayah" jawab langit
"iya paman" sahut violetta
begitu lah jawaban ketiganya serempak.
yah.... seperti itu pembahasan mereka, sejak itu ketiga nya mulai di latih dan di didik oleh erlang maupun mawar dengan keras dan juga ketat.
bisa dikatakan hari-hari yang mereka lalui mulai berubah, namun ketiganya tak pernah mengeluh meski itu terasa begitu berat untuk anak-anak se usia mereka yang sepantasnya masih melewati hari dengan bermain-main.
Dini hari ketiganya akan berolah raga atau berlatih fisik, lalu jaka dan erlang disuruh menimba air dari sungai dan mengangkutnya ke gubuk untuk mengisi seluruh gentong, usai itu baru mereka akan sarapan bersama.
usai sarapan ketiganya kembali berlatih sampai siang hari mereka hanya istirahat untuk makan siang, usai makan siang mereka di suruh bermiditasi, barulah saat menjelang sore mereka menyelesaikan pelatihan.
dan malam nya mereka di latih secara terpisah hingga waktu untuk beristirahat tidur.
pernah suatu malam, karena terlalu fokus belajar hingga membuat jaka tak mengindahkan perintah erlang untuk beristirahat dan akhirnya jaka kena marah lalu besok harinya dia dikenakan hukuman untuk mengisi gentong dan menyulang (memotong kayu menjadi kecil-kecil untuk kayu bakar) sendirian.
"saya senang kalian berlatih, tapi kalian harus juga mengimbanginya dengan istirahat. karena istirahat juga membantu mu untuk berlatih" begitu amanat dari paman erlang sembari menghukum jaka.
__ADS_1
"Baik guru" jawab mereka serempak
Bersambung...!!!