PANGERAN PENGEMBARA

PANGERAN PENGEMBARA
10. ADA BANYAK MATA YANG MENGINTAI


__ADS_3

Cuaca hari ini begitu cerah,


Angin berhembus, burung berkicau dan para penduduk beraktifitas seperti biasa.


"eshhhhhhhssttttt ehmzzz Ei nanti kalian langsung aja ke tempat ko shi long ma ci mei mei ya" ujar jaka sambil membersihkan sisa makanan yang nyelepit di gigi.


"mau kemana lagi kamu ?" Langit bertanya.


Tampak Violetta tengah membersihkan sisa-sisa tulang dari kijang hasil tangkapan jaka tadi.


"iya nih keluyuran mulu perasaan" Violetta membenarkan pendapat langit.


"oh ehmzzz aku ada keperluan dulu nanti" jelas jaka


"apa sih ?" vio sedikit cemberut dengan mengembungkan pipi.


"Ah anak kecil mau tau aja urusan orang dewasa" kilah jaka


"iye nih takut amat laki nya di culik" celetuk langit


"eh kak jangan salah, orang model begini langka" Violetta tidak terima ucapan langit.


"siapa bilang, noh cari di hutan banyak" balas langit


"woy iri bilang bos" jaka membela diri


"idih... ngapain iri ama yang model begini" cibir langit menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"ya iya lah secara jaka satria pendekar singa perak sang pangeran pengembara" jaka tampak membusungkan dada.


"busettt gaya mu kakak kedua" Violetta terkikik geli dan ketiganya terbahak-bahak.


anak-anak yang mereka selamatkan melihat mereka dengan tatapan aneh.


ehmzzz


"Adik-adik kalian dengar pembicaraan kami tadi kan ?" jaka melirik ke kawanan anak-anak yang dari tadi diam memperhatikan.


"iya kak" jawab salah satu dari mereka yang cukup berumur dibandingkan yang lain.


"yasudah kalo gitu kalian bersiap-siap lah nanti ikut mereka" ujar jaka sambil berdiri dan dia juga perlu mempersiapkan keperluannya.


"oh iya kalian tenang saja, kalian akan di bawa ke tempat yang aman" ujar jaka dan sebuah senyuman menghias di wajahnya.


"te-terima kasih kak" ujar anak tadi.


di belakangnya anak-anak yang lain berbaris juga mengucapkan terimakasih.


yah... semula mereka takut dengan kedatangan tiga orang yang tidak mereka kenal.


mungkin mereka trauma karena kejadian yang sudah mereka alami sebelumnya.


tapi sekarang sedikit demi sedikit mereka mulai bisa menerima kehadiran jaka, langit dan juga violetta.


namun tak bisa di pungkiri, kalau saat ini pun mereka masih merasa cemas. terlebih beberapa senior mereka menghilang berkat pertempuran kemarin di pekarangan.


"ya sudah kalo begitu aku pergi duluan" pamit jaka sambil berjalan santai ke pekarangan, sebelum pergi jaka masih menoleh sebentar


"jaga diri kalian, ada mata yang selalu mengawasi" pesan jaka.


"oke... mari kita harus mulai dari mana" Gumam jaka dengan penuh semangat.


wushhhhhhhhh

__ADS_1


Beberapa saat kemudian tubuh jaka seolah menghilang, hanya menyisakan bekas jejak dari rumput yang di pijak dari tempat sebelum jaka pergi.


.............


Seperti apa yang jaka katakan di semak-semak tak jauh dari gubuk ada beberapa pasang mata yang tengah memantau gubuk.


Lokasi gubuk ini berada di luar kota namun masih dalam lingkup kerajaan bulan sabit. dulu sekali kawasan hutan ini adalah desa pinggiran yang cukup ramai penghuni.


Namun takdir berkata lain,


kehidupan mereka yang harmonis hanya tinggal cerita, rumah-rumah yang rapi kini menyisakan puing-puing gubuk.


Dikarenakan munculnya kawanan bandit yang merampok, menjarah dan membantai para penduduknya.


Dan aneh nya pihak keraja'an menutup mata atas insiden tersebut.


lambat laun insiden itu pun di lupakan dan kini desa ini menjadi kawasan hutan belantara.


"beri kabar ke ketua, salah satu dari mereka sudah meninggalkan lokasi dan anak-anak kecil itu masih di tempat"


"kamu aja yang ngasih kabar, siapa kamu ngatur-ngatur" protes yang satunya.


"cih..." decak kesal pria pertama terdengar kesal.


Dia pun segera bergegas menulis surat di tujukan ke markas, namun tindakannya terhenti oleh sebuah busur panah yang menembus dadanya.


"a-apa" ujarnya sebelum tubuhnya terhempas ke tanah.


rekan nya tak menyadari kejadian tersebut, sebab dia sedang menoleh ke arah lain.


"apa nya yang apa, udah kamu kirim belum surat ?" desah nya malas tanpa menoleh.


beberapa saat berlalu dan tidak ada jawaban, dia pun menoleh dengan kesal.


tapi dasar nasip sial, saat wajahnya berpaling.


"ah..." dia terkejut saat sebuah tinju bersarang wajah dan tubuhnya terpelanting jauh menjadi mayat.


"Hahahaaaa . . . dasar sampah" jaka terpingkal-pingkal saat melihat kedua jazad itu.


"aih... sayang burung pengantar surat tadi sudah jauh" menyesali kepergian burung yang membawa surat.


"dah lah... itung-itung biar mereka latihan, hidup ini kejam kawan" gumam jaka lalu melesat pergi meninggalkan gubuk setelah melumpuhkan beberapa mata yang dari semalam dia sadari sedang mengawasi gubuk dan dua orang tadi adalah yang terakhir.


... ..........


Jaka berjalan santai dan tanpa terasa dia sudah sampai di gerbang kota, di sana tampak ramai orang-orang yang sedang mengantri untuk memasuki kota.


Agar tidak mencolok, jaka pun turut membaur dengan para pengantri.


Hiruk pikuk para pengunjung bercengkrama sambil menunggu antrian.


"Eh kamu sudah dengar kabar baru-baru ini ?" salah seorang pengunjung bertanya ke orang yang ada di depannya.


"kabar apa ?"


"itu kemarin aku dengar salah satu dari sarang bandit di bantai dan anak-anak kecil yang mereka culik berhasil di selamatkan"


"oh yang itu"


"iya...kamu sudah tahu emang ?" tanya nya.


"itu mah udah nyebar bro" orang lain yang di dekat keduanya ikut nimbrung.

__ADS_1


"eh gitu ya, heheee" pria pertama cengengesan.


"iya itu pendekar entah dari mana dan katanya itu membuat berang pimpinan prampok darah"


"lah berarti markas bandit yang di serang itu milik bandit darah gitu ?"


"iya" jawab yang lain.


"kemungkinan itu perebutan antar sesama bandit"


"ngerebutin apa emang ?"


"aih itu tawanan kan bakal di jual lagi"


mereka tidak tahu kalau ternyata anak-anak yang di ceritakan tadi itu juga sudah beralih tuan.


......


Mereka pun melanjutkan cerita, namun lanjutan obrolan mereka tak lagi membuat jaka tertarik.


jadi dia tidak lagi mendengarkan.


jaka berfikir dengan pembicara'an orang-orang tadi,


"Hemzzz berarti anak-anak yang kami selamatkan kemarin itu anak-anak yang sedang mereka bicarakan" batin jaka


Tanpa terasa sudah tiba gilirannya, tapi dia dikejutkan oleh sebuah ringkik kuda dari belakang.


"Awas.. awas... minggir kalian semua" teriak si penunggang berniat menerobos antrian.


awalnya jaka tidak perduli kuda tersebut melaju kencang sengaja di pacu oleh si penunggang tanpa memperhatikan sekitar, para pengantri pun menyingkir memberikan jalan menjadikannya mulus kedepan.


"awas itu anak ketua keamanan kota" salah satu suara berteriak sambil menyingkir.


Naas di antara para pengantri ternyata ada seorang ibu hamil tua, menjadikannya tidak bisa untuk menyingkir dengan cepat.


dan sang suami tampak mengukup erat bumil tersebut sampai kuda itu nyaris menabrak keduanya.


jaka terkejut saat melihat kaki kuda itu nyaris menginjak nya.


"kikkkkkkk" ringkik kuda di kagetkan oleh kemunculan jaka yang datang tiba-tiba.


gedubrakkkkkk


si penunggang jatuh.


"hoi bajingan sialan berani sekali kamu menghentikan aku" maki pemuda itu.


bibir jaka terkatup namun matanya menatao tajam ke si penunggang yang terduduk di tanah.


"apa kamu lihat-lihat, minggir jangan menghalangi jalanku" penunggang tadi meradang


Penunggang itu pun semakin meradang melihat jaka masih saja tak beringsut dari posisinya semula.


"maaf tuan maafkan kami" iba pasutri tadi bersimpuh di pinggir memohon pengampunan.


"bajingan kalian" maki si penunggang berniat menendang perut bumil.


tapi sebelum kaki itu mengenai perut si bumil jaka menangkap nya dan....


BOOOOM tubuh pria itu terlempar cukup jauh.


... "BERSAMBUNG"...

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca karya saya.


silahkan kritik dan saran dengan cara yang sopan pastinya.


__ADS_2