
Di hutan yang rindang terdapat sebuah kamp tentara, namun aneh nya kamp itu memakai bendera bergambar tengkorak berwarna hitam layaknya bendera perampok atau bandit.
Dan di dalam sebuah gubuk yang berada di dalam kamp itu tampak beberapa orang tengah duduk berdiskusi.
Mereka semua itu adalah orang-orang yang kemarin berseteru dengan kawanan pangeran jaka.
....
"ehmzzz... jadi kalian sudah lama mendirikan kamp ini paman ?"
"Lapor pangeran, iya" jawab pria kekar yang terakhir kali bertarung dengan jaka.
"Dan selama tugas ini kalian semua belum pernah pulang ?" kembali sang pangeran bertanya.
"iya pangeran, kami selama ini terus mencari informasi tentang anda...." jawab nya
"...Tapi kami tetap berkomunikasi dengan pihak kerajaan"
"oh.. hehee" si pangeran tertawa karena apa yang dia fikirkan sudah di tebak oleh bawahannya itu.
"Lalu apa maksud dari bendera ini " selidik nya
"Kami di titahkan langsung oleh raja..."
Belum selesai menjawab, pangeran memotong jawaban "A-ayahhanda ?"
"...iya pangeran, yang memberi kami perintah adalah paduka raja langsung"
"Hemzzzz"
"Apa pangeran belum akan kembali ?" haraf sang ketua.
"Belum, aku masih banyak hal yang perlu ku lakukan" jawab pangeran
"Tapi tuan...."
Belum selesai sang ketua menjelaskan, Lagi-lagi terhenti oleh deheman pangeran.
"Ehmzzzzzz" suara deheman keras memberi peringatan.
"Ah.. Ba-baik pangeran" sang ketua mengehela
"aku tahu maksudmu paman, tapi..." sang pangeran itu berdiri dari tempat duduknya, tangan kanan bermain di dagu dan tangan kiri berpangku di dada, berkeliling ruang pertemuan dengan langkah kecil sedang berfikir serius.
"....Aku sudah berjanji saat di sekap kemarin l, sebuah misi suci" jelas sang pangeran.
Baik itu sang ketua, maupun yang lain mendengar itu cuma diam. mereka juga turut memikirkan karena mereka sudah bisa menebak apa itu misi suci yang pangeran mereka katakan tadi.
"A-anu pangeran" suara pendekar wanita yang berdiri di belakang sang ketua memecah keheningan.
"hemzzz" semua menoleh ke asal suara termasuk sang pangeran.
"E"
si pendekar justru kaget, karena dia tidak menyangka kalau suara nya akan menyita perhatian mereka semua yang ada di dalam ruangan.
Pria yang di panggil pangeran melihat gelagat pendekar wanita itu sedikit memicingkan mata.
"Ada apa ?"
__ADS_1
"A-anu pangeran" jawab si pendekar tampak malu-malu.
Si pangeran melirik ke arah pria kekar yang duduk di depan si wanita.
Faham maksud dari lirikan pangeran,
"Uhukk ada apa katakan jangan malu-malu ?"
Si pendekar wanita terkejut saat mendengar atasan nya bertanya, lalu dengan sedikit malu-malu dia pun mengutarakan maksudnya.
"Sa-saya ma-mau minta i-zin ke-belakang untuk bu-buang ha-ha-hajat, karena sudah tidak ta-tahan la-lagi"
Bruttttttttttttt bet pessssssssss
Sesaat kemudian gas keluar dari saluran udara, membuat si pendekar semakin malu.
wajahnya memerah menahan malu, ingin rasanya dia akhiri hidupnya saat itu juga akibat rasa malu yang tak terbendung lagi.
Lebih baik mati di medan perang dari pada di permalukan, itulah semboyan bagi para pendekar.
Namun,
Ada hal yang menghalangi untuk melakukan itu.
jadi mau tak mau dia hanya bisa menahan Slavina nya.
"Uhhhhhhhh"
"pergi pergi pergi" usir pangeran dengan ekpresi yang sulit digambarkan.
tanpa menunda waktu pendekar itu pun segera menghilang dari tempatnya.
yakin jika sang pendekar telah pergi, seisi ruangan itu pun terbahak-bahak tak mampu lagi menahan tawa.
"Hufffff"
Setelah merasa puas dan cukup untuk tertawa pangeran dengan ekpresi seriusnya "Ehemzzz... sudah sudah tak perlu di bahas lagi dan jangan di ingat".
"Jadi pangeran, apa rencana anda selanjutnya ?" sang ketua bertanya.
Semua mata tertuju ke arah pangeran, menunggu keputusan. Sedangkan pangeran sendiri tampak berfikir serius di kursi tempat dia duduk semula.
"Yang pasti untuk saat ini aku perlu meningkatkan kekuatan"
Sang pangeran menjawab dengan ekpresi sedikit ditekuk. bagaimana dia teringat kejadian beberapa hari lalu.
Dia benar-benar dikalahkan dengan telak oleh seorang pemuda seusia nya dan yang membuat harga dirinya seakan di injak-injak adalah pendekar itu tidak mengerahkan seluruh kemampuannya padahal dia telah melakukannya dengan total.
"Itu pangeran, maaf.." sang ketua berbicara setelah ragu-ragu apakah ini perlu di sampaikan atau tidak.
"iya ada apa ? kenapa kamu ragu-ragu ?" pangeran melirik malas.
lalu berubah sedikit terbelalak, seolah menyadari sesuatu "jangan bilang kamu juga mau izin buang hajat paman"
"E . . . tentu saja tidak pangeran" si ketua buru-buru mengklarifikasi.
"hahaaa kufikir kamu juga mau begitu" cletuk pangeran
"Lalu ada apa ?"
__ADS_1
"kemarin saya juga kesulitan menghadapi anak itu, anehnya dia menguasai Jurus-jurus yang saya miliki.."
"Hemzzz tak perlu menghibur paman, saya tahu kamu belum mengerahkan semua kemampuanmu" jawab pangeran Artur malas tangan kanannya terkepal menopang dagu.
Artur jelas mengetahui kemampuan dari bawahannya yang menjadi ketua dari kamp ini sebelum dia sampai.
Dia adalah salah satu jendral kepercayaan raja yang sedari kecil cukup dekat dengannya.
Seorang prajurit terlatih yang terbiasa bertugas di garda depan.
Seorang prajurit yang sudah banyak terlibat dalam pertempuran.
Dan juga seorang prajurit khusus yang bertugas melatih pangeran artur.
dialah jendral Jhonson.
"Saya berbicara serius pangeran" sanggah jendral jhonson.
"hemzzz..." pangeran artur milirik sang ketua dan berusaha membaca dari ekpresi yang di timbulkan oleh bawahan.
"saya mengakui kemarin saya menahan kemampuan, demi menghindari masalah yang tidak perlu.
tapi...
saya juga menyadari jika dia juga tidak mengeluarkan kemampuan aslinya" jelas jhonson.
pangeran melirik orang yang ada di sampingnya, orang yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Dia tidak berbohong, mereka bertiga kemarin memang saya lihat masih menahan diri" jawab pria yang kemarin berhadapan dengan langit.
"saya tidak mungkin berani berbohong kepada anda pangeran" jhonson mengetahui kalau tuannya itu sedikit meragukan ucapan yang tadi dia katakan.
Mendengar kedua penjelasan itu pangeran artur tampak membenarkan letak duduknya.
beralih serius dan tertarik untuk mendengarkan lanjutan cerita.
"Saat kami bertarung kemarin dia sempat membuat saya terdesak pangeran dan aneh nya dia menggunakan jurus-jurus yang biasa saya pakai"
"serius kamu ?" pangeran artur terkejut
"iya pangeran saya serius" jhonson mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dia sedang menghadapi pangeran jaka.
Pangeran artur sedikit meremang, tubuh nya bergetar namun bibirnya tersenyum lebar dan matanya menyiratkan hal yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
"ohohhhooo menarik" gumam pangeran artur.
"sebelum pergi saya tanpa sengaja melihat kalung yang ada di dadanya"
"ada yang aneh dengan kalung itu paman ?"
"tidak aneh tapi saya sepertinya mengenal itu, entah dimana" jhonson coba mengingat-ingat tapi setelah cukup lama dia masih belum bisa menemukan jawabannya.
"sebuah kalung perak kepala singa menggunakan mahkota dan berhiaskan batu merah delima di matanya"
... ...........
Disaat yang sama,
"Hachu" pangeran jaka bersin mengusap-usap hidungnya.
__ADS_1
"kenapa jak ?" tanya langit
... "BERSAMBUNG"...