PANGERAN PENGEMBARA

PANGERAN PENGEMBARA
07. PANGERAN PENGEMBARA si PENDEKAR SINGA PERAK


__ADS_3

Langit cerah matahari menyengat tapi udara begitu sejuk merayu tanpa terlihat. dedaunan gugur dari pohon yang rindang serta cicit burung berkicau tiada henti seperti anak kecil yang meminta jajanan.


Di sebuah teras dua sejoli sedang mengobrol serius sambil menikmati keindahan ciptaan tuhan.


"Akang"


suara merdu itu menggelitik telinga pria yang merelakan tangannya menjadi tempat untuk bergelayut dan bahunya untuk menjadi tempat bersandar.


"Bagaimana menurutmu adinda ku sayang ?"


"tentang apa itu kang ?"


"tentang kerajaan ini ?" tanya pria itu kepada sang istri, sebenarnya bukan itu yang ingin ia tanyakan.


tapi ia takut pertanyaan itu akan menusuk hati wanita yang ia cintai ini.


"Kerajaan ini cukup megah" jawab si cantik, tapi sorot matanya tampak meredup.


"hufff" pria itu menghela nafas, ia tau jelas apa yang saat ini di fikirkan oleh sang kekasih.


tatapan sayu, tubuh sedikit bergetar dia tahu pasti apa penyebab semua itu.


sebuah perasaan bersalah, kecewa, sedih, marah.


semua bersatu di dalam nya dan di apresiasi kan dengan mimik muka yang saat ini di tampilkan.


sebuah ekspresi yang benar-benar tulus,


sebuah ekspresi yang hanya akan muncul dikala sendiri ataupun disaat sedang hanya ada mereka berdua.


Dia tahu jelas bagaimana sifat wanitanya ini, sifat aslinya kini harus terkubur dan ditimbun dengan kepura-puraan.


"Jangan bersedih, percayalah aku akan selalu ada di sisimu" telapak pria itu menggenggam erat demi menyalurkan kehangatan.


"aku ingin kamu percaya, kalau masih ada yang tulus dan aku takkan pernah membiarkan mu sendiri" begitu tekad si pria yang cuma dia dan sang ESA yang tahu.


.................


Sedang di pinggiran kota tampak jaka dan lawan itu masih terlibat pertarungan sengit, entah berapa kali mereka bertukar jurus.


terbukti dari pakaian keduanya yang sudah sama-sama compang camping.


keduanya berputar selangkah demi selangkah dengan kuda-kuda masih dalam posisi siaga, mata keduanya sama-sama menatap lawan mencari celah kelemahan.

__ADS_1


Dan jika di lihat-lihat ternyata keduanya menggunakan jurus yang sama.


DEG


Melihat lawan seperti menyadari gerakan yang jaka peragakan, sebuah seringai bertengger di mimik muka jaka.


"Ka-kamu..."


"heh... sudah berapa jurus kamu baru menyadari gerakanku" seringai jaka menyepelekan lawan.


"Siapa yang mengajarimu Jurus-jurus ku Bajingan ?" si lawan bertanya garang.


"hoh . . . ini aku pelajari sudah lama" jawab jaka sombong.


"keparat ini" lawan meluncur kan serangan lagi, namun sama seperti tadi serangan itu mampu di baca oleh jaka dan berhasil di halau dengan santai.


lalu,


Ditengah kepanikan, sosok dua orang yang telah pergi tadi muncul kembali dengan kombinasi serangan mereka.


"mari kita mundur ketua" ujar si pendekar wanita.


"cari celah" mandat dari lawan jaka yang tadi di panggil sebagai ketua.


"Baik..." kedua pendekar yang baru datang tadi serentak menjawab.


"Kalian konsentrasi saja dengan tugas kalian, mereka cuma berniat mencari celah untuk melarikan diri" transmisi suara melalui tenaga dalam dari jaka dikirim ke kedua saudara seperguruan nya.


"hemzzz.." violetta kembali mengobati seorang anak kecil yang sedang terbaring di tanah.


"apa keputusan mu ?" tanya langit serius juga melalui transmisi suara.


"kamu lihat saja di tepi kakak" jawab jaka.


dia menyerbu kedepan menyerang ketiganya tangan kanan melepas pukulan ke arah pendekar lelaki yang tadi dia lawan, sedangkan tangan kiri melepaskan aura ke arah pendekar lelaki yang baru datang.


dia sengaja memberikan celah di punggungnya untuk menerima tendangan dari si pendekar wanita.


"BOOOOOOOM" Tubuh kekar jaka terjungkal kedepan.


dan seperti yang dia perkirakan, ketiganya memilih kabur.


tapi sebelum kabur pendekar lelaki yang tadi di sebut sebagai ketua melihat kalung yang ada di dada jaka.

__ADS_1


itu sebuah kalung perak kepala singa memakai mahkota raja dan mata singa itu berhiaskan batu merah delima.


"itu..." lagi-lagi si ketua terkejut.


Namun dia tetap memilih kabur memprioritaskan penyelamatan.


yah... dia sedari awal tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya, serupa dengan jaka.


mereka sama-sama tahu, kalau mereka mengeluarkan seluruh kemampuan itu hanya akan mengundang para pendekar lain bahkan juga tentara kerajaan bulan sabit yang bertugas di sekitar sini.


tentu saja mereka tak mau hal itu terjadi, karena jika terjadi yang ada hanya akan menambah beban.


"SAMPAI JUMPA LAIN WAKTU PENDEKAR SINGA PERAK" Suara sang ketua menggelegar.


"Cih..." jaka berdecak saja menanggapi pesan tadi.


"hei kakak kedua kenapa kamu biarkan mereka pergi?" tanya Violetta


"apa kalian tidak mengenali mereka ?" jaka malah bertanya balik.


"eh..." Violetta terkejut.


"iya aku kenal" jawab langit yang telah menyelesaikan aktifitasnya memurnikan racun.


"e-emang siapa mereka?" tanya Violetta rada pelo.


jaka dan langit cuma melihat vio dan keduanya langsung terbahak-bahak.


"haduh.... adik ketiga bagaimana kau ini" racau jaka di penghujung tawa.


"aih... se-serius jawab aku" rengek Violetta


"sudah lah itu tidak penting" langit menengahi pertanyaan vio.


"yoi...mending sekarang kita mikirin nih anak-anak mau kita bawa kemana" jaka menyambung ucapan langit.


"yah itu ada benarnya, mereka semua sudah sehat. hanya perlu menunggu siuman saja" Violetta menyerah untuk mengejar pertanyaan.


toh. . . kalau itu memang penting, tidak mungkin kedua saudaranya itu akan merahasiakan darinya.


"eh bro julukanmu keren juga ya, pangeran pengembara si pendekar singa perak" celetuk langit.


"oho... ah... jangan begitu" jawab jaka sambil membusungkan dada, berpura rendag hati.

__ADS_1


"dih..." Violetta melirik jaka sedikit kesal.


... "BERSAMBUNG"...


__ADS_2