
Dini hari yang sunyi,
saat matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri tampak dua orang pemuda tengah melakukan aktifitas mereka seperti biasa.
"eh kakak lang kamu udah nguasai jurus-jurus yang kemarin paman ajarkan ?" tanya jaka sambil mengisi air ke dalam ember yang terbuat dari tanah liat di tepi sungai.
"masih ada beberapa yang belum aku fahami" jawab langit sendu
"jurus apa yang belum kamu fahami kak ?" tanya jaka sambil memanggul dua ember yang sudah ia isi air itu.
Alih-alih mendapat jawaban, langit justru hanya memberikan jaka jawaban melalui senyuman.
yah senyum itu sebuah senyuman yang jaka belum mengerti, namun jaka kecil cukup faham kalau kakak seperguruannya tersebut menyimpan sesuatu. karena langit tak ingin menjawab jaka pun tak melanjutkan pertanyaan nya.
"Ayo.." Ajak langit
kedua nya pun berjalan dengan dua beban yang mereka masing-masing bawa,
.............
Disaat yang sama,
"Jadi bagaimana menurutmu tentang mereka ?" pria tua yang mengenakan baju serba putih dan tampak sorban melilit di lehernya serta sebuah kain yang juga melingkar gagah menutupi rambut bertanya.
Hari ini kediaman erlang kedatangan tamu seorang sesepuh desa yang bisa di katakan juga sebagai ketua dari desa tersebut atau kalau zaman sekarang menyebutnya sebagai kepala desa karena dia lah pemimpin dari desa kecil yang hanya di huni sedikit penduduk.
Dia bernama ki harit Airlangga, seorang pria yang telah cukup banyak mengecap asam asin nya garam kehidupan.
Selain ki harit ada juga nyi nana yang tak lain adalah istrinya sekaligus nenek dari violetta dan juga langit.
Adapun silsilah keluarga mereka itu, sebagai berikut ki harit dan nyi nana mempunyai lima orang anak yaitu tuk harley sebagai anak tertua, lalu tuk dyrot anak kedua, dewi mawar anak ketiga (ibu nya langit sekaligus istri dari erlang), dewi melati anak ke empat (ibu dari violetta sekaligus istri dari Angga) dan terakhir adalah permaisuri ke empat Raja selatan saat ini.
Ironis bukan ?
Secara tidak langsung mereka memang memiliki sedikit hubungan dengan pangeran jaka dan pangeran jaka tidak mengetahuinya.
Ki harit dan nyi nana adalah pemilik sekaligus pendiri dari paguyuban satrio, dulu sekali mereka mendirikan paguyuban tersebut untuk melatih para calon penguasa baik itu beladiri atau pun hal lainnya.
Paguyuban tersebut di dirikan di sebuah kota kerajaan yang terletak di perbatasan antara empat wilayah.
kota tersebut begitu makmur karena disanalah transit antar lintas kerajaan.
Kota itu disebut sebagai Tanah netral,
tidak ada penguasa mutlak, namun mereka akan saling menghormati antara satu dengan lainnya.
dari segi keamanan pun disana di jaga ketat oleh empat kerajaan begitu juga paguyuban satrio.
Para Raja dari Empat wilayah yang saat ini memimpin adalah generasi ke tiga yang pernah belajar disana, walaupun sangat di sayangkan saat ini dua diantara nya telah gugur beserta kerajaan yang mereka miliki.
"...aih" Desah ki harit menghela nafas berat,
paman erlang hanya diam karena dia tau apa yang telah membuat mertuanya itu resah.
Tiba-tiba angin berhembus, erlang terdiam dan tak lama kemudian terdengar pekikan keras seekor elang yang biasa di gunakan untuk mengantar surat.
"KEAKKKKKK...."
Elang hitam itu menukik menuju erlang.
"Erlang apa yang kamu minta kemarin sudah bisa dipakai"
Paman Erlang tersenyum membaca pesan singkat tersebut.
"Ada apa ?" Tanya ki harit
"oh... ini pesan dari Angga" Erlang menjawab sambil membakar nya.
__ADS_1
"Apa katanya?"
"itu lokasi tambang yang ku minta untuk di jadikan tempat pelatihan anak-anak sudah siap dan sudah bisa dipakai" jelas erlang
"ehmzzz"
"yah . . . sudah saatnya untuk sentuhan terakhir" gumam erlang sambil menampilkan senyuman kejam di wajahnya.
"oho hooo hoooo sentuhan terakhir ya" ki harit mengangguk-angguk faham juga memasang wajah aneh.
"Tapi sebelum itu kamu tadi mau bilang apa ?"
"apa ya ?" paman erlang coba untuk mengingat-ingat.
"ah iya... hasil pengamatanku saat mereka berlatih itu ?"
"mungkin" jawab ki harit sambil menggidikkan bahu.
paman erlang menyesap teh panas sejenak sebelum memulai bercerita tentang pengamatan nya.
usai menyesap teh panas itu ia taruh di atas meja bambu.
"Dalam hal pelatihan ketiganya bisa dikatakan cukup memuaskan, dan tentang skil vio cenderung lebih mahir dalam penggunaan panah beserta pedang juga dia cukup ahli dalam bidang medis, baik itu pengobatan ataupun racun..." jelas erlang
"Ehmzzzz...." ki harit memejamkan matanya untuk menyimak. sambil sesekali mengangguk-angguk kan kepala pelan.
melihat reaksi dari sang mertua, erlang kembali melanjutkan informasi.
"...lalu langit, dia lebih condong ke serangan cepat seperti tinjuan, pedang, belati dan juga tombak. tentang medis dia tidak begitu mengerti..."
Lagi-lagi erlang melirik ki harit untuk melihat reaksi dari ki harit.
"ehmzzz...selanjutnya jaka, bisa di katakan dia sempurna..."
ki harit mengerling melirik erlang sekilas.
"tapi dia terlalu mudah terpancing emosi, dia kurang bisa menjaga ketenangan. tapi yang saya heran biarpun emosinya mudah meledak. dia cukup tanggap dan mampu mencari celah dalam menyelesaikan tujuannya".
"ohoooo..." tampak wajah ki harit sedikit berubah.
"pepatah mengatakan buah tak jauh dari pohonnya"
"maksudnya ki ?"
"yahhh... sifatnya sama seperti shaleh ayahnya" jawab ki harit seraut ekspresi berubah beberapa saat, itu tampak jelas di wajah rentanya.
"yah... mau bagaimana lagi, itu adalah salah satu murid yang dia didik sendiri dan hubungan di antara mereka juga tergolong dalam" gumam erlang dalam hati saat melihat ekspresi ki harit tadi.
benar kata orang, semakin tua semakin kita akan banyak merasakan perubahan ekpresi.
asin nya garam sudah di kecap baik di dalam gulai ataupun secara langsung.
itulah kenapa banyak yang bilang semua hal bila terlalu itu tidak baik, karena terlalu banyak pengalaman tentu juga banyak hal yang kita rasakan.
ya...hari ini erlang menyaksikan sang legenda memiliki ragam ekspresi berbeda.
kesedihan,
amarah,
bahagia,
semua berubah sesuai ingatan sang sesepuh desa tersembunyi ini.
Kembali ke lokasi jaka dan langit,
Akhirnya tugas rutin yang mereka kerjakan selesai baik itu ngambil air ataupun menyulang kayu.
__ADS_1
dengan keringat yang masih membanjir keduanya berleha-leha sejenak di dekat tumpukan kayu bakar.
"eh lang gimana nanti ?" tanya jaka
"ya udah sih langsung aja izin dulu tapi" jawab langit sekenanya.
"Bakal di kasih gak tuh ?"
"biasanya ?" tanya langit sambil melihat jauh ke langit biru.
"Hemzzz... itu si vio bakal kita ajak juga gak ?"
"ajak-ajak lah, dari tadi rame bener. tumben banyak tanya kamu hari ini jak" keluh langit
mendengar keluhan langit jaka hanya nyengir kuda.
"Ya udah ayok kita balik, biar gak ketinggalan rombongan" ajak jaka sembari berdiri
Langit tampak malas-malasan berdiri, lalu segera mengiringi langkah jaka dari belakang.
di lihat nya punggung jaka, tubuh itu begitu kokoh dimata langit.
"haih... itu badan kayaknya gak cocok untuk anak seusianya" langit berkata dalam hati dan tiba-tiba muncul sebuah senyuman licik di bibir langit saat melihat punggung itu.
lalu....
"WUSSSSSSSSSSSSS"
Langit melesat melepaskan pukulan ke arah jaka.
"BRUAKKKKKKKKK" pukulan langit di tangkis dengan mudah oleh jaka.
lagi senyum licik bertengger di wajah langit dan dia pun segera melesat kembali melakukan serangan.
"Seperti yang di harapkan, kamu memang tidak pernah melepaskan penjagaan meski sedetik pun" gumam langit sambil melancarkan serangan.
"Ha ha ha ha..."
jaka tertawa geli sambil menangkis setiap serangan yang datang.
"awas kepala..." jaka memberi peringatan,
langit sepontan menangkupkan kedua tangan untuk menghalau serangan yang mengarah ke kepala.
namun naas...
ternyata itu hanya tipuan dari jaka, sebab serangan itu meluncur bukan ke arah kepala namun ke arah ************ tempat masa depan berada.
dan seperti yang sudah di duga...
"BUAKKKKKKKK"
"HUAKKKKK"
Langit merasakan nyeri di area sensitifnya akibat tendangan jaka.
"HAHAAAAAAA...." Sebuah tawa keras mengejutkan jaka, bahkan langit yang sekarang sedang kesakitan pun ikut terkejut di tengah penderitaan nya.
"Salam ki harit, salam nyi nana, paman erlang, bibi mawar.." sapa jaka sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada menghormati.
"salam kek, nek, ayah, ibu..." langit juga memberi salam sambil menahan sakit
"maaf kalau penghormatan saya kurang sopan" imbuhnya.
"ya iya santai" tangan ki harit melambai sambil tersenyum kecut melihat keadaan cucu nya itu.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1