
Namaku Alya, aku tinggal bersama dengan nenekku. orang tuaku bercerai sejak aku masih bayi, aku tak begitu mengenal papa orang yang telah membuatku ada di dunia yang cukup rumit ini.
Terkadang aku sering menyesali kenapa harus terlahir ke dunia ini. betapa rapuhnya aku yang dari sejak kecil harus dididik dengan kekerasan, tak segan-segan mereka akan memukulku.
Keluarga yang aku anggap akan sebagai pelindung seringkali tak bisa melindungi ku, hanya nenek lah yang selalu melindungi ku walau terkadang nenek sering marah. aku tau nenek sangat menyayangi ku.
Dulu aku pernah sakit saat bayi. orang-orang mengira aku sudah meninggal karena seperti keadaan koma dalam beberapa hari, namun ternyata sang kuasa masih menginginkan ku untuk menyaksikan betapa kejamnya dunia ini.
Dunia dimana aku harus bertahan untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi cacian bahkan kekerasan yang sudah seolah menjadi makanan setiap harinya.
Aku tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota bahkan jauh dari keramaian. namun walau begitu betapa bahagianya aku. terkadang aku sering membayangkan betapa indahnya kehidupan akan tetapi semuanya diluar harapan.
Kehidupan yang begitu berat tak membuatku untuk putus asa, aku selalu berkata pada diri sendiri akan ada hari esok dimana kebahagiaan itu akan berpihak padaku. mungkin saat ini sang kuasa masih memberikanku begitu banyak cobaan agar kelak aku menjadi orang yang lebih dewasa.
Perjalanan yang penuh dengan lika liku dan air mata ini menjadi saksi bisu betapa menyedihkan nya kehidupan yang kujalani sampai sejauh ini.
Terkadang aku tak mampu untuk mempercayai orang lain bahkan orang tuaku sendiri. begitu tinggi dan kuat dinding yang aku bangun karena kurangnya rasa percaya.
Aku kehilangan kepercayaan diri yang diakibatkan oleh begitu banyak tekanan dan ketakutan yang selalu menghantuiku sehingga menimbulkan trauma yang begitu berat.
Sejak kecil aku tak mengenal siapa sosok bapak ku. orang yang begitu ku harapkan dapat melindungi ku kelak namun apalah daya semua tak sesuai yang diharapkan.
Begitu banyak luka yang telah digoreskan dan tak mampu untuk dihilangkan dari memori ini, betapa menyedihkannya kehidupan yang ku jalani.
Memiliki orang tua yang harus membagi kasih sayangnya dengan anak-anaknya dari istrinya yang lain.
Saat berada di bangku sekolah dasar aku diajarkan oleh bapakku, kebetulan beliau adalah seorang pegawai negeri sipil. namun karena aku belum terlalu mengenalnya hal itu mengakibatkan ketakutan saat bertemu.
Jujur dulu aku memang sangat takut dengan sosok bapak. tapi apalah kehadiranku hanyalah sebuah hembusan angin yang dianggap hanya lewat.
Masa kecil yang ku jalani tak seindah masa kecil orang-orang di luar sana, terkadang aku sering iri melihat betapa bahagianya teman-teman ku yang bisa bersama dengan keluarganya yang utuh, sedangkan aku semuanya terpecah belah. aku hanya tinggal dengan keluarga nenek.
Kesedihan demi kesedihan terus menemani di setiap hari yang ku lewati. banyak hal yang terkadang tak mampu untuk menjadikan ku sosok yang ceria. betapa pintarnya aku untuk menyembunyikan betapa menyedihkannya kehidupan yang ku jalani.
Sejak berada di bangku sekolah dasar, aku sering mendapatkan kekerasan dari keluarga. jika tak mengikuti apapun aturan mereka maka salah satu dari mereka tak akan segan untuk memukulku.
Hari-hari selalu ku lewati dengan mendapatkan perlakuan yang tak sesuai. bukannya menjalani masa kecil dengan bahagia namun semua ku jalani dengan penuh ketakutan. akan tetapi apalah daya ingin meminta perlindungan kepada siapa. tak ada satu orang pun yang bisa melindungi cukup hanya memasrahkan diri dengan sang pemilik takdir.
Semenjak lulus dari bangku sekolah dasar, aku melanjutkan pendidikan ke sebuah pondok pesantren.
Disana aku memulai kehidupan baru dan bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah. berusaha untuk saling memahami bersama mereka.
Hanya beberapa orang yang benar-benar tulus berteman denganku dan selebihnya hanya membuatku sebagai teman yang akan dikunjungi saat membutuhkan dan bila sudah tak butuh maka akan ditinggalkan begitu saja tanpa memperdulikan perasaannya.
Karena kurangnya rasa percaya diri yang ku miliki membuatku merasa sedikit minder saat bergaul. bahkan ada yang terang-terangan mengejek karena keadaan keluargaku. untuk saja aku diberikan kesabaran penuh sehingga selalu memaklumi semua perlakuan mereka terhadapku.
Aku sadar, tak ada gunanya juga untuk membela diri, sebab semuanya adalah kenyataan.
Aku percaya jika suatu hari akan ada hari dimana akan ada secercah kebahagiaan untukku. setiap orang akan diuji sesuai batas kemampuannya.
Saat berada di pondok pesantren tersebut aku diajarkan banyak hal. namun aku sedikit kecewa dengan sosok bapak yang tak pernah hadir untuk mengunjungi ku. hanya mama yang selalu siap siaga dengan segala kebutuhanku.
Aku sadar bapak memang sepenuhnya sudah bukan milikku lagi akan tetapi sedikit tidak beliau memberikan kasih sayangnya dengan adil.
Aku selalu berusaha untuk menenangkan diri dengan berbagai perasaan yang memberontak di dalam hati. ingin rasanya mengamuk dan membuat keributan betapa tak adilnya bapa sebagai orang tua. tapi apalah daya, aku hanyalah anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya.
Terkadang aku juga sering mengeluh kepada sang maha kuasa. betapa kejamnya kehidupan yang kujalani. rasanya sungguh tak ingin membuat ku untuk bertahan lama. katanya sosok ayah adalah cinta pertama anak perempuan, tapi aku sama sekali tak pernah merasakan semua itu
Aku tak pernah mengharapkan hal lebih, cukup orang tuaku perduli dengan keadaanku. sebenarnya aku bukanlah anak yang nakal, sejujurnya aku hanya sedang mencari perhatian dengan berbagai cara memancing keributan agar mereka memperhatikan. tapi yang ku dapatkan hanyalah amarah.
Saat di pondok pesantren tersebut aku sering sakit. aku juga tak memahami keadaan yang terjadi namun aku tak begitu memperdulikannya. hingga tiba pada suatu hari.
Di depan kelas saat sedang melaksanakan kegiatan rutin sebelum masuk kelas, tiba-tiba aku merasa tubuhku sudah tak baik-baik saja. namun aku berusaha untuk menguatkan diri.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya aira
"Aku baik-baik saja" jawabku
"Kalau kau merasa kurang sehat, kasi tau ya" katanya
"Baiklah" aku hanya menjawab seadanya
Aira merupakan seorang gadis yang sedikit tomboi. kulitnya putih bersih namun penampilannya yang membuatnya terlihat agak tomboi.
penglihatan ku mulai tak karuan, semua yang ada di depanku terlihat seperti berputar-putar, aku berusaha untuk memegang tangan aira agar tak terjatuh, namun semuanya seketika menjadi gelap. dan seketika saat itu tubuhku ambruk ke tanah.
"Tolong" aira berteriak histeris
Seketika teriakan aira memancing kehebohan.
Seketika semua teman-temanku kaget dan segera mengangkat tubuh yang lemah ini kembali ke pondok. aku dibawa untuk istirahat di sebuah ruangan yang terdapat kakak tingkat.
Setelah beberapa saatnya aku terbangun dari pingsan, saat membuka mata aku mendengarkan seseorang yang tengah melantunkan ayat-ayat suci al qur'an dengan begitu indah dan merdu. sosok orang yang kulihat pertama kali adalah seorang wanita bercadar yang dengan lemah lembutnya merawat ku.
Mata ini tak mampu berpaling tatkala melihat betapa baiknya bidadari bercadar yang membantuku sambil sesekali senyum dibalik cadar yang dikenakan. betapa berterimakasih nya aku terhadapnya.
"Dek apa kau baik-baik saja?" tanya wanita bercadar tersebut sambil mengukirkan senyumnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kak" jawabku seadanya
"Apa yang terjadi terhadapmu?" tanyanya kembali
kemudian aku menjawabnya dengan sebuah senyuman, karena aku juga bingung ingin menjawab apa.
"Kalau kau merasa ada sesuatu yang aneh ceritakan saja" katanya
"hmmm" jawabku
Pikiranku kembali tertuju dengan kejadian yang ku lewati saat pingsan tersebut.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh dengan tubuhku saat tersadar setelah pingsan. aku seperti merasa kelelahan.
"Kemana aku pergi" aku terus bergumam memikirkan hal aneh yang ku lalui saat pingsan itu. seolah aku sedang berjalan ke suatu tempat yang begitu jauh namun tak ada seorangpun terdapat disana.
Aku seperti berjalan di tengah padang pasir yang begitu panas tanpa ada seorangpun yang ku jumpai di perjalanan.
Aku bingung dengan yang ku alami saat itu. kemudian aku bertanya kepada perempuan bercadar tersebut.
"Sudah berapa lama aku disini kak?" tanyaku
"Sejak jam setengah delapan pagi dek". jawab wanita bercadar tersebut.
Betapa kagetnya aku dengan jawaban dari wanita tersebut, tenyata aku sudah pingsan sejak pagi tadi dan sekarang sudah jam sebelas siang.
Aku bergegas untuk bangkit dari tidur panjang yang telah ku lalui dengan rasa penasaran yang begitu kuat.
"Kau mau kemana?" tanya wanita bercadar tersebut
"Aku ingin kembali ke kelas" jawabku
"sebentar lagi sudah waktunya untuk pulang jadi kau tak perlu kembali ke kelas Karena tidak akan menemukan siapa pun disana. jawab wanita bercadar tersebut.
Aku terdiam beberapa saat sambil termenung terus menerus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi terhadapku.
Sejak kejadian itu aku mulai mengalami banyak keanehan. sering pingsan hingga sampai dibawa pulang kerumah akibat kondisi yang tampak menyedihkan.
Sepulang dari pondok...
Pamanku memanggil keponakanku untuk datang kerumah untuk mengobati. aku berusaha setenang mungkin saat akan bertemu keponakanku tersebut.
"Mengapa perasaanku jadi tak karuan?" gumam ku dalam hati.
Perasaan resah dan gelisah bercampur jadi satu, bahkan air mata ini terus saja keluar tanpa diminta. aku juga tidak paham dengan perasaan ini.
Kebetulan pada saat itu aku sedang berada di dapur untuk makan malam sendirian karena yang lain memang belum ingin makan dan juga aku terlalu lapar jadi makan lebih awal.
Keponakanku tersebut sudah datang dan sedang mengobrol bersama pamanku. alhasil setelah beberapa saat aku dipanggil untuk bertemu keponakan tersebut.
"Nak kesini dulu sebentar" kata pamanku
"Iya sebentar, aku masih belum selesai makan" jawabku seadanya
Sekitar lima belasan menit aku yang dipanggil tak kunjung datang, paman akhirnya memanggilku kembali.
"Nak ayo cepetan kesini nya!" kata paman
"Iya, ini mau kesana" jawabku
Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba saja aku merasa tak bisa bangun dari duduk.
Aku berusaha untuk bangkit dari duduk, namun aku tak tahu kenapa rasanya susah sekali untuk bangun. aku berusaha sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa.
Karena aku yang tidak kunjung menghampiri mereka, akhirnya paman pun datang ke dapur untuk memanggilku.
"Kalau dipanggil itu segera kesana" kata pamanku
"Iya" jawabku
"Iya udah sekarang bangun, ikut paman untuk bertemu keponakanmu biar kamu bisa cepet sembuh dan tidak sakit-sakitan terus" kata paman menambahkan.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. karena kondisiku saat ini sedang tak baik-baik saja.
Paman mencoba untuk menarik tanganku, seolah olah memaksaku untuk bangkit namun tak bisa. tiba-tiba saja tubuhku terasa begitu lemas tak bertenaga. untuk menggerakkan tangan saja rasanya tak bisa, semuanya berubah menjadi gelap dan hingga pada akhirnya sang paman memutuskan memanggil kakak untuk membantunya.
"Raka.... raka..." Panggil paman sambil berlari keluar untuk melihat saudara yang kebetulan anaknya sodara mamak.
"Iya paman, ada apa?" ucapnya
"Tolong bantu paman untuk mengangkat adek mu, sekarang alya pingsan di dapur" jawab paman
"Apa?!" Tanya kak raka yang begitu terkejut saat tau keadaan alya.
Setelah dipanggil kakak pun segera datang menghampiri, dan betapa terkejutnya dengan melihat kondisiku yang sudah sangat memprihatinkan. kemudian aku segera diangkat ketempat keponakan yang akan mengobati tersebut.
Aku baru tersadar dari pingsan yang terasa begitu lama. aku juga tak tahu berapa lama karena tak melihat jam. yang jelas terasa sangat lama.
__ADS_1
Di sampingku duduk keponakan ku namanya agus. kebetulan agus merupakan anak dari kakak sepupuku. beliau telah wafat sekitar dua puluhan tahun yang lalu.
"Bibik, gimana keadaanmu sekarang?" tanya agus
"Entahlah" jawabku sambil menggelengkan kepala
Terlihat dari raut wajah agus, seperti ada sesuatu yang begitu serius sedang terjadi denganku sehingga dia terlihat tampak khawatir.
"Aku nggak tau apa yang terjadi, tapi aku merasa berbeda tidak seperti biasanya dan kadang juga akan merasa tiba-tiba kedinginan bahkan sampai menangis nggak jelas" ungkap ku
Agus tampak seperti sedang berpikir sambil pandangannya menerawang begitu jauh.
"Sepertinya ada yang mengikuti bibik" Katanya sambil sedikit gemetar
"Hmmm" jawabku sambil menghela nafas panjang
Sudah ku duga agus akan mengatakan hal itu, sebab akhir-akhir ini banyak sekali kejadian aneh yang ku jumpai sejak aku pingsan.
Percaya atau tidak itulah yang sedang aku alami untuk saat ini. tak segan-segan banyak orang yang mengatakan aku anak penyakitan bahkan sampai mengatakan bahwa aku gila.
Perasaanku begitu hancur ketika menerima kata-kata tersebut, tapi mau bagaimana lagi aku tak akan mampu untuk melawan mereka. bahkan keluargaku sendiri sering mengatakan aku anak penyakitan dan gila.
Aku hanya bisa memasrahkan keadaan yang ku alami kepada sang pemilik langit dan bumi. tak akan ada yang lebih memahami selain sang kuasa.
Aku begitu rapuh dengan segala hinaan yang ku terima. orang tua dan keluarga yang ku harapkan untuk melindungi ku malah tak bisa untuk diandalkan, mereka malah memilih untuk mengikuti kata-kata yang sering dilontarkan oleh orang-orang tanpa memperdulikan betapa hancurnya perasaan yang ku alami.
Hanya air mata yang selalu menemani di setiap hari yang ku jalani.
Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan nya. Aku selalu berpikir positif dan memberikan semangat pada diri sendiri yakinlah akan ada hari dimana aku akan merasakan kebahagiaan itu.
Di balik setiap kejadian pasti ada hikmah dan rencana yang indah yang telah direncanakan oleh sang kuasa.
"Bibik" Panggil Agus sembari menarik tanganku guna untuk menyadarkan ku dari lamunan yang tengah heboh kemana-mana.
"iya" jawabku seadanya
"Apa bibik baik-baik saja?" tanya agus
"Apa yang sedang bibik rasakan untuk saat ini?" tambahnya lagi.
Aku tampak sedang berusaha begitu keras untuk berpikir bagaimana cara menceritakan banyak hal yang ku rasakan termasuk banyaknya kejadian aneh yang sedang terjadi saat ini.
"Aku merasa ada yang aneh" kataku
"Bibik santai saja, semuanya bisa bibik ceritakan padaku" jawab agus
"Hmmm, baiklah" jawabku
Kemudian aku memulai untuk menceritakan awal kejadian yang ku alami sejak pingsan.
"Aku sering melihat hal-hal aneh yang tampak seperti nyata" kataku
"Apa bibik melihat seorang wanita layaknya sang putri sering mengikuti?" tanya nya kembali kepadaku.
Saat agus mengatakan perihal wanita yang layaknya seorang putri di sebuah istana itu, aku kembali teringat dengan wanita itu yang sering sekali menemaniku.
Aku sudah menganggapnya seperti seorang saudara perempuan. panggil saja namanya Putri.
Kak Putri bukanlah gadis biasa melainkan wanita kasat mata yang merupakan anak dari seorang raja yang sangat luar biasa di sebuah kerjaan gaib yang terletak di arah matahari terbit.
Kak putri merupakan seorang gadis yang cantik jelita akan tetapi rambutnya yang membuatnya terlihat berbeda dengan orang pada umumnya.
Kak putri memiliki rambu yang begitu panjang. bayangkan berapa besar dan panjangnya satu ruang kelas, dan rambutnya sekitar enam ruangan kelas.
"Iya, bibik bahkan sering bermain dengannya" kataku
Agus sedikit termenung dengan jawabannya, entah apa yang sedang dipikirkannya aku tak tahu tapi raut wajahnya tampak khawatir dan sedih.
"Sebaiknya jika putri mengajak bibik untuk mengikutinya jangan pernah mau ya" kata agus
"Emang kenapa?" tanyaku balik
"Takutnya nanti putri macam-macam terhadap bibik" kata nya dengan nada khawatir
Aku kembali termenung memikirkan setiap kata yang telah diucapkan agus, seperti nya akan ada sesuatu yang buruk bakalan terjadi terhadapku.
Aku mencoba untuk menenangkan hati dan pikiranku dan setelah itu aku berusaha untuk setenang mungkin agar agus ataupun keluargaku yang lain tidak begitu mengkhawatirkan keadaanku.
"Sudahlah, kau tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk terhadapku" kataku sambil berusaha untuk tersenyum walau di dalam hati terasa nyeri.
"Biar bagaimanapun aku begitu menghawatirkan bibik, ingat dunia kita berbeda bibik, jangan sampai kau terperdaya untuk mengikutinya" tambahnya
"Baiklah, kau tenang saja jangan terlalu mengkhawatirkan keadaanku sebab kak putri tak akan menyakitiku" kataku
Aku percaya bahwa kak putri tak akan pernah menyakitiku justru dia malah melindungi ku dari bangsanya yang terlihat mulai menggangguku. bahkan tak segan-segan banyak orang yang tiba-tiba begitu tertarik terhadapku.
Aura yang terpancar malah jauh berbeda, orang akan sedikit lebih sopan terhadapku dan bahkan ada juga yang tiba-tiba begitu menghormati ku padahal aku sendiri tak mengenalnya.
__ADS_1