
Aku gak pernah merasa kata-kataku kasar saat mengirimkan sebuah pesan ke saudara sepupuku, hanya saja mungkin sepupuku itu terlalu melebih lebihkan cerita sehingga akulah yang salah.
"Maksudmu apa!!! Jangan sembarangan buat masalah ya, jangan kau mempermasalahkan yang sedikit itu, coba kau perhatikan yang lain yang bahakan lebih banyak dari itu, jika kau hanya memikirkan yang sedikit saja bisa jadi yang lebih banyak akan ikutan hancur, tolonglah, coba kau kerumah pastikan omongan mu itu jangan beraninya cuman dari jauh aja" begitulah bunyi pesan yang ku kirimkan kepada sepupuku tersebut.
Aku melakukan itu semua karena aku sudah terlanjur marah dan kecewa dengan semua perlakuan mereka yang tak pantas ku terima dengan mama.
Aku sudah lelah dengan semua hal buruk yang mereka lakukan terhadap ku dan mama, aku sudah terlalu banyak bersabar walau mereka sering melakukan hal buruk terhadapku, dan sampai sejauh ini aku masih saja selalu memaklumi namun sekarang semuanya sudah tiba di puncaknya.
Aku tahu betapa marahnya paman, dulu sebelum kejadian ini paman begitu membenci saudara sepupuku itu akan tetapi aku tidak tahu hal apa yang membuat paman begitu berubah seratus persen dan begitu membela saudara sepupuku itu walau keadaan sepupu ku itu beneran salah.
Perasaanku begitu sedih dan kecewa bercampur menjadi satu dalam luapan amarah yang siap untuk meluncur bak gunung yang siap mengeluarkan abu vulkanik.
Bahkan pamanku sampai mengatakan kata-kata yang tak pantas seolah-olah mama seekor binatang, bahkan paman sampai mengatakan tak akan pernah mengunjungi mama biarpun mama sampai meninggal, paman tak akan pernah sudi untuk menginjakkan kakinya dirumah mama.
Sepulangnya dari rumah paman mama menanyakan banyak hal kepadaku karena dirumah paman mama dimarah habis-habisan.
"Nak, apa yang kamu katakan terhadap kakak sepupumu?" tanya mama
"Aku tidak mengatakan apapun" kataku
"Memangnya apa yang dikatakan paman terhadap mama?" sambung ku balik bertanya
"Pamanmu mengatakan kepada mama, supaya mama mendidik mu kembali agar tidak kasar dan tau sopan satun" kata mama
"Hahaha"
Aku tertawa sesuka hati seolah-olah tak merasa bersalah dengan mama, akan tetapi itu hanya untuk mengalihkan pikiran serta perasaan yang tak karuan dengan semua ini.
"Maafkan aku ma, maaf udah begitu banyak mengecewakan mama, maafkan anakmu ini belum bisa menjadi yang sesuai dengan keinginan mama" kataku dalam hati
Seharusnya paman menyadari semua sikapnya yang selalu ingin menang sendiri dan tak pernah mau mendengarkan perkataan orang lain. Sungguh begitu keras kepalanya pamanku.
Aku menyadari begitu banyak kesalahan yang telah ku perbuat namun aku masih bisa berpikir jernih, aku masih bisa menjaga keluargaku agar tak pecah belah.
Aku memang berlaku kasar terhadap sepupuku tapi itu semua ku lakukan untuk menjaga keluarga ku tetap utuh, namun apalah daya semua yang ku lakukan tak selalu dapat balasan yang positif.
Aku yakin setiap orang akan melakukan berbagai macam cara guna untuk melindungi rumah tangga keluarganya dari kehancuran.
__ADS_1
"Apa aku salah ingin melindungi keluargaku?"
Hayooo.... bagaimana jawaban kalian para pembaca🤔 silahkan tulis ya di kolom komentar serta alasannya ya🤭❤️
"Apa ada yang salah bila aku mengatakan bahwa dia hanyalah seorang pembuat masalah?" kataku
Jelas saja aku mengatakan bahwa dia seorang pembuat masalah, bagaimana tidak? jika dia menginginkan keluarganya baik-baik saja seharusnya melindungi bukan malah sibuk mengadu domba.
Aku berani mengatakan hal itu karena dia memang tidak pernah berpikir panjang mengenai dampak yang akan disebabkan terhadap keluarga yang sudah pasti akan terjadi permasalahan, sedangkan aku masih berpikir bagaimana agar keluarga tak terjadi perselisihan itulah sebabnya aku berusaha untuk melindungi keutuhan keluargaku.
Saat mamaku pergi ke rumah paman untuk memberitahukan sesuatu yang begitu penting agar tak terjadi kekacauan yang lebih besar untuk kedua kalinya, dan Sesampainya di sana Mamaku malah di marah-marah bahkan sampai dicampakkan seperti binatang.
Mama menunggu paman sekitar satu jam lebih, namun paman tak kunjung keluar dari kamarnya, kebetulan mama ke sana untuk menyampaikan pesan yang dari saudaranya yang di negara sebrang.
"Begitu bencinya kah paman terhadap mama?"
Padahal mama sampai memiliki inisiatif untuk menghadap paman walau pun tak diharapkan sama sekali.
Aku percaya bahwa mamaku adalah seorang malaikat, walau begitu banyak orang yang membuatnya terluka hingga sampai menangis namun mama tak pernah menjadi orang yang pendendam. beliau selalu sabar dalam menghadapi segala perlakuan baik atau buruk yang diberikan oleh orang lain dan bahkan dari saudaranya sendiri.
"Maafkan aku jika terdapat banyak kesalahan yang telah ku perbuat" kata mama
"Maksud kedatanganku kesini untuk memberitahukan sesuatu yang penting" kata mama menambahkan
"Sesuatu tentang apa?" kata paman dengan nada yang penuh dengan amarah
"Lagipula kau tidak perlu kemarin untuk mengatakan hal apapun, karena aku sudah tidak perduli lagi denganmu" kata paman menambahkan
Mama sudah pasrah dengan semua resiko yang akan diterimanya walau itu akan membuat namanya jadi tercoreng.
"Ajarkan anakmu juga jangan kurang ajar" tambah paman
Saat paman mengatakan hal itu mama tampak terdiam seribu bahasa sambil terus menundukkan kepala karena begitu besarnya malu yang ditanggung diakibatkan oleh perlakuan anak-anaknya.
"Ketahuilah aku tak begitu perduli dengan semua yang dikatakan paman tentangku, terserah dia mau mengatakan aku kurang ajar, tidak tau diri, pemalas atau apalah yang penting aku tidak pernah merasa".
Setiap kali mama kerumah paman selalu saja ada masalah, mereka yang tinggal dirumah itu hanya berpura-pura baik ketika berada di depan mama, kalau mama sudah pergi maka akan kelihatan pula siapa mereka yang sebenarnya.
__ADS_1
Sepulang dari rumah paman, mama sedang mengobrol dengan ayah tiri ku. walau beliau hanya seorang ayah tiri ku, namun beliau adalah orang yang paling baik, bahkan lebih baik dari bapak kandungku sendiri.
Kebetulan saat itu juga aku baru kembali dari rumah bibi, dan mama bergegas untuk segera menghampiriku terkait hal apa yang ku katakan kepada saudara sepupuku yang pernah datang.
"Apa yang kamu katakan sama saudaramu itu nak?" tanya mama
Aku bisa melihat betapa khawatirnya mama dengan keadaanku, seolah seperti sesuatu yang buruk telah terjadi selama dirumah paman. aku berusaha untuk menenangkan mama agar tak terlalu mengkhawatirkan aku, sebab aku sama sekali tak pernah mengatakan kata-kata yang salah terhadap saudara sepupuku itu.
"Tenang saja ma, aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk terhadap kakak" kataku sambil tersenyum setenang mungkin padahal di dalam hatiku rasanya seperti tersayat-sayat saat melihat mama tampak begitu menyedihkan.
Dan memang pada dasarnya aku tak merasa mengatakan kata yang tak pantas pada sepupuku itu, hanya saja mungkin dia terlalu berlebihan dalam mengadu ke paman sehingga membuatku seolah-olah menjadi seseorang yang salah.
"Apa yang paman katakan terhadap mama?" kataku dengan penuh rasa penasaran yang sudah tak mampu untuk ku bendung lagi
Mama disuruh untuk mengajarkan aku agar aku menjadi orang yang lemah lembut dan tidak kasar terhadap saudara-saudaraku. Karena jika suatu hari nanti saat aku kehilangan segalanya maka aku akan berpulang ke mana lagi kalau bukan kerumah paman.
"Ajarkan anakmu yang manja, pemalas bahkan dia tak bisa melakukan hal apapun!" kata paman
"Aku minta maaf ma"😭 kataku
"Aku sudah gagal menjadi anak yang baik, yang mampu menjadi kebanggan orang tua, bahkan aku hanya pembuat masalah dalam keluarga, aku juga hanya menjadi pembawa malu di keluarga" kataku sembari menghapus air mataku yang sudah merembes kemana-mana ini.
Saat ini orang lain mungkin boleh mengejekku, akan tetapi aku yakin suatu hari nanti aku akan mampu untuk membeli setiap omongan orang yang telah menjelek-jelekkan ku.
Tak selamanya aku akan terus berada di posisi bawah, ada kalanya suatu hari nanti aku akan bisa mencapai segala yang ku impikan walau saat ini orang-orang membenci ku.
"Aku sadar saat ini mereka tak membutuhkanku makanya mereka tak perduli dengan apapun yang ku alami" kataku sambil menghembuskan nafas panjang.
Aku tahu saat ini mungkin aku tak memiliki apapun yang mereka inginkan padaku akan tetapi aku yakin jika suatu hari nanti aku memiliki semua yang kuimpikan orang-orang akan berlomba-lomba untuk mengunjungi ku.
Aku tahu rumah paman adalah satu-satunya tempatku untuk berlindung jika suatu hari nanti aku kehilangan segalanya, akan tetapi aku merasakan hal yang sangat memalukan bila suatu hari nanti akan menginjakkan kaki kerumah paman karena beliau sendiri merasa tak sudi jika aku sampai menginjakkan kaki dirumahnya, begitu malu nya aku dengan semua yang aku terima.
Aku mungkin orang yang tak pantas untuk mereka, aku hanyalah seorang gadis pembawa petaka untuk kehidupan orang lain.
Entah janji apa yang telah digariskan sang kuasa kepadaku sehingga aku harus menjalani kehidupan yang begitu penuh dengan lika liku ini.
Aku selalu percaya dengan takdir yang sang khalik rencanakan, aku yakin suatu hari nanti semuanya pasti akan memiliki hikmah. Tetaplah tersenyum walau badai kehidupan tak bersahabat.
__ADS_1