Patah

Patah
Bab 6


__ADS_3

Saat ini aku sudah berada di kelas delapan, aku menjalani hari-hari seperti biasa namun dengan keadaan yang tak pernah berubah.


Walau aku tak mendapatkan peringkat di kelas, aku tetap biasa aja tidak ada hal yang membuatku untuk merasa iri dengan kemampuan berprestasi yang diperoleh oleh teman-temanku.


Penglihatan ku terkait makhluk tak kasat mata masih saja tak pernah berubah namun tak separah pertama kalinya.


Aku sudah terbiasa dengan berbagai macam penglihatan yang ku miliki, walau terkadang masih ada saja yang suka iseng mengagetkan.


Aku sudah bisa menerima semua yang telah di skenario kan oleh sang penguasa alam semesta. Aku berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada yang maha kuasa agar tak terjadi hal yang buruk terhadapku.


"Ya allah tuhanku, lindungilah aku, tetaplah untuk menuntunku agar terus berada di jalan yang lurus"


gumam ku dalam hati


"Jangan biarkan aku untuk terus menerus hanyut


dalam kegelapan, tuntun lah aku untuk menuju ke cahaya yang terang benderang". kataku


Pernah pada suatu hari kejadian yang tak terduga terjadi kepadaku. Saat sedang begitu asiknya mengikuti jam pelajaran di depan koridor aku mengalami keanehan yang begitu menyeramkan.


"Ya allah aku memohon perlindungan" kataku dalam hati


Aku sudah berusaha untuk mengendalikan diri namun semuanya tetap sia-sia. Aku merasa seolah olah tak memiliki kaki dan tangan. rasanya aku seperti kehilangan kaki dan tanganku.


Aku merasa seperti kehilangan kaki dan tanganku, padahal aku sudah berusaha untuk menepis perasaan itu, semua itu pasti tipu daya yang dilakukan para makhluk halus yang berusaha untuk menggoyahkan iman yang kumiliki, hanya saja mungkin aku belum memiliki cukup kekuatan sehingga aku tak mampu untuk melawan mereka. aku hanya memohon perlindungan kepada sang kuasa.


Aku juga melihat begitu banyak orang yang mulai menertawakan ku yang tak memiliki kaki dan tangan. aku merasa sedih karena tak ada satupun orang yang membelaku.


"Sungguh aku begitu menyedihkan tak ada lagi orang yang ingin berteman denganku, mereka hanya hadir disaat membutuhkanku saja, saat tak membutuhkanku maka mereka akan menjauh seolah ditelan bumi" gumam ku dalam hati


Hati ini terasa begitu teriris dengan kebaikan palsu yang mereka hadirkan. namun aku tetap membalas mereka dengan kebaikan tanpa berpikir buruk terhadap mereka yang telah jahat terhadapku. aku hanya berpikir suatu hari nanti mereka pasti akan berubah.


Aku berusaha untuk menguatkan diri agar bisa terhindar dari semua penglihatan tersebut. aku mencoba untuk melafalkan ayat kursi agar sedikit terlindungi namun aku masih saja tak bisa menguasai tubuh ini.


Begitu banyak yang berusaha menyerang ku sehingga aku tak memiliki cukup kekuatan untuk melawan mereka. aku tak perduli dengan kata orang yang mengatakan aku gila, percaya atau tidak hal itulah yang aku alami.


Kita masih sama-sama makhluk allah hanya saja kita memiliki perbedaan. manusia diciptakan oleh Allah dari tanah sedangkan mereka makhluk halus diciptakan oleh Allah dari api.


Setelah semua usaha yang ku lakukan tak membuahkan hasil, akhirnya aku hanya bisa memasrahkan diri dengan keadaan yang akan ku terima.


Air mata ini sudah tak mampu lagi untuk dibendung, kini tetesan demi tetesan jatuh membasahi jilbab yang ku kenakan.


Aku menarik tangan sahabatku aira yang kebetulan berada di depan tempatku duduk.


Aira kelihatan begitu terkejut karena aku tiba-tiba menarik tangannya sambil mencengkram nya dengan kuat.


Setelah beberapa menit lamanya akhirnya aira menyadari perubahan yang sedang ku alami dan dia segera bertukaran tempat duduk dan segera duduk di sampingku sambil terus saja menggenggam erat tanganku sambil mengingatkan aku untuk terus berdoa dan meminta pertolongan kepada allah.


“Apa yang terjadi denganmu?” kata aira


Sebelum aku sempat menjawab aira malah sudah bertanya lagi


“Apa kau baik-baik saja?” tambahnya


“aira tolong aku!” kataku sembari tak ingin melepaskan tangan aira begitu saja, karena satu-satunya harapan yang kumiliki yaitu aira.

__ADS_1


Dia yang selalu perduli dan begitu memahami keadaanku sedangkan teman-temanku yang lain sedikit kurang percaya terhadapku. Bahkan banyak sekali yang mengatakan aku berbohong terhadap mereka.


Padahal aku sendiri tak pernah merasa membohongi mereka semua, hanya saja aku sedang berusaha untuk melindungi diri serta melindungi mereka agar tak ada lagi yang akan menjadi korban untuk selanjutnya.


Harapanku semoga akulah yang terakhir menjadi korban seperti ini di pondok pesantren ini. aku berharap tak akan ada lagi korban yang lain sebab disini terlalu banyak penghuni tak kasat mata yang akan tertarik untuk mengikuti hanya karena kemampuan tersebut.


Aku yang awalnya rajin dan pendiam sekarang malah sering ikut-ikutan bermain bersama dengan teman-teman yang sedikit nakal.


Aku jadi sering mendapatkan hukuman di pondok, keadaannya sudah berubah sekarang aku menjadi anak yang tak lagi penurut.


Aku menjadi anak yang terbilang cukup nakal karena terbawa arus oleh teman-temanku yang lain.


Aku mulai mengenal kehidupan dunia luar yang begitu bebas, bahkan juga banyak aturan yang seringkali tak ku patuhi.


Kehidupan diluar sana memang begitu keras, aku harus berjuang untuk melawan kerasnya dunia ini. begitu banyak mata yang mulai tak menyukaiku sebab aku sudah tak menjadi anak yang dulunya sangat pendiam dan penurut.


Banyak orang-orang yang mengenalku merasa heran dengan perubahan yang aku miliki, bahkan mereka juga tak akan segan-segan untuk mencaci maki dengan kata yang tak pantas.


Aku mulai keluar ke warnet bersama temanku. begitu banyak perubahan yang aku alami namun aku tak peduli, semenjak saat itu berbagai masalah mulai muncul satu per satu, mulai dari teman-teman yang dulunya baik sekarang berubah dan malah menjauhiku.


Akan tetapi aku tak menghiraukan mereka yang kini meninggalkanku sebab dari sanalah aku bisa melihat mana teman-temanku yang sesungguhnya, yang bukan hanya hadir saat membutuhkan saja melainkan akan selalu ada dikala susah maupun senang.


Bukan hanya di pondok pesantren saja aku mulai melanggar aturan, namun banyak aturan di sekolahpun mulai aku langgar. aku juga mulai sering izin untuk tak masuk sekolah dan aku juga bahkan sering bolos keluar dari pondok pesantren.


Pada akhirnya aku tak perduli apapun yang dikatakan orang, masa-masa itu aku hanya masih memikirkan rasa bahagia namun aku tak pernah menyadari bahwa kebahagiaan yang aku terima hanyalah sesaat.


Aku terlalu terlena dengan hawa ***** tanpa mengingat nasihat dan tujuanku selama ini untuk menuntut ilmu di pondok pesantren.


Perjalanan masih panjang untuk menemukan jati diri sesungguhnya, terkadang harus melalui banyak kesusahan dulu baru mendapatkan kebahagiaan dan kadang saat begitu bahagianya akan ada ujian yang sungguh membuat begitu terasa menderita seolah-olah dunia yang dimiliki telah hancur.


Setelah sampai di puskesmas aku diperiksa oleh seorang perawat dan ditemani oleh seorang ustadz juga yang menemaniku dan teman-teman.


Aira juga ikut serta disana, aku tahu perasaan sedih sahabatku itu. tapi mau gimana lagi aku tidak bisa menghapuskan air mata sahabatku.


Aira terus saja menggenggam tanganku, aku percaya aira sahabatku yang selalu ada dalam suka maupun duka. dia selalu ada saat aku membutuhkan dan tak pernah meninggalkanku.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kondisiku sama sekali tak memiliki perubahan. obat yang berusaha dimasukkan ke dalam mulut tak bisa masuk sama sekali. berbagai upaya dilakukan oleh para perawat tapi tetap saja tak ada hasil. hingga pada akhirnya mereka bermusyawarah untuk memutuskan hasil akan mengantarkan aku pulang kerumah.


Pukul sebelas malam aku dibawa ke mobil ambulan untuk diantar pulang ke rumah. di perjalanan hanya ada keheningan aku sama sekali tak bisa bicara yang ku lakukan hanya memakai isyarat.


Entah aku tak paham dengan apa yang sedang terjadi padaku, saat ini aku merasa pergi jauh ke suatu tempat yang tak pernah ku lihat sebelumnya.


Aku pergi ke sebuah istana yang terlihat berada di padang pasir dengan arah matahari terbit. tampak istana itu seperti bangunan masjid jika dilihat dari jauh.


Awalnya aku juga bingung saat melihat bangunan itu, aku sampai berpikir siapa yang membangun masjid di tengah padang pasir seperti ini, padahal disini tak terlihat ada orang yang berlalu lalang sama sekali.


Aku terus saja berjalan sampai tak terasa ternyata aku sudah sampai di bangunan istana itu. sesampainya disana aku begitu terpana dengan keindahan istana yang terbuat dari emas tersebut.


Sesampainya aku di depan gerbang istana itu, aku bisa melihat betapa megahnya bangunan tersebut, kilauan emasnya begitu menyilaukan saat terkena pancaran sinar matahari. sungguh maha suci allah.


"Sungguh betapa indahnya istana ini terbuat dari emas" kataku dalam hati sembari sibuk dengan pikiranku yang entah kemana, tiba-tiba saja seseorang mempersilahkan ku masuk ke dalam istana, orang itu tampak begitu sopan saat mempersilahkan ku padahal aku sendiri tidak tahu siapa orang itu, karena inilah pertama kalinya aku berkunjung ke istana ini namun semua orang sangat menghormati ku.


"Apa yang sedang terjadi denganku?"kataku dalam hati


Sungguh hal ini sangat membingungkan, aku sama sekali tak memahami apa yang sedang terjadi saat ini. namun disini aku diperlakukan seolah-olah menjadi ratu di kerajaan ini.

__ADS_1


Setiap masyarakat yang tinggal di sekitar istana jika melihatku maka mereka akan menundukkan kepala hal itu tentu saja membuatku tambah bingung dan banyak sekali pertanyaan yang muncul namun aku tak tahu harus mempertanyakan kepada siapa.


Aku berjalan masuk menelusuri istana megah itu, di perjalanan aku masih saja begitu mengagumi kemegahan istana ini, tak hanya diluar saja istana ini terlihat megah akan tetapi di dalam juga lebih megah dari yang terlihat diluar.


Aku berjalan dengan dipandu oleh seorang wanita yang terus saja membawaku seolah berjalan semakin dalam ke istana ini.


Aku melihat taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga serta tumbuh-tumbuhan yang lainnya, sepertinya pemilik istana ini begitu menyukai keindahan alam sehingga terdapat banyak sekali bunga yang bermekaran dan terlihat sangat terawat.


Di taman itu terlihat banyak sekali kupu-kupu yang hinggap pada bunga-bunga yang menambah keindahan taman itu bukan hanya kupu-kupu saja aku pun sangat tertarik untuk berlama-lama berada di taman itu.


Tanpa ku sadari ternyata ada sepasang mata yang tengah mengamati dari tempat yang tak terlihat olehku.


Tak terasa aku malah asyik bermain di taman bersama dengan kupu-kupu yang terlihat sangat cantik dan ternyata aku sudah membuat wanita yang memandu perjalananku menunggu begitu lama.


"Putri bisakah kita melanjutkan perjalanan?" ucapnya


"Apa maksudmu? tanyaku balik


Aku sama sekali tak mengerti dengan perkataan wanita itu yang memanggilku putri seolah-olah aku seseorang yang penting disini.


"Maafkan aku, belum saatnya aku untuk menceritakan segalanya putri" jawabnya


"Baiklah" kataku


Aku hanya menjawab seadanya padahal aku begitu penasaran ada gerangan hubungan apa antara aku dan istana ini.


Di kehidupan nyata aku begitu banyak mengalami keanehan sedang di sini malah lebih aneh. rasanya aku sudah begitu lama pergi meninggalkan duniaku.


"Mama pasti mengkhawatirkan keadaanku yang seperti ini sekarang, tapi bagaimana aku akan pulang? sedang aku juga tidak tahu di mana lokasi ku saat ini" kataku


Aku kembali melanjutkan perjalan mengikuti wanita yang memandu ku untuk memasuki istana ini semakin dalam hingga pada akhirnya aku dibawa ke sebuah ruangan seolah seperti kamar seseorang. dan di sanalah aku berkeliling untuk melihat-lihat seisi ruangan tersebut.


Aku menemukan sebuah lukisan yang terlihat begitu mirip denganku dan hal itu membuat pertanyaan-pertanyaan yang sudah ku coba tahan kini muncul kembali.


Rasa penasaran itu terus saja muncul dan tak dapat diajak untuk berkompromi.


Tiba-tiba ada seorang lelaki tua berjubah putih masuk, tentu saja hal itu membuatku sangat kaget dan aku merasa begitu ketakutan namun lelaki tua itu terlihat tak asing. beliau terlihat seperti abah.


"Anakku, kenapa kamu bisa berada disini?" kata lelaki tua itu


Aku justru tak mampu menjawab pertanyaannya yang dilontarkan beliau karena aku saja masih bingung dengan hal yang sedang ku alami dan justru ditambah lagi dengan pertanyaan beliau yang tak ku pahami.


Beliau melihatku yang masih kebingungan dengan pertanyaan yang tak bisa ku jawab hingga pada akhirnya lelaki tua itu mendekat dan menghampiriku.


"Suatu hari kau akan tahu ada hubungan apa antara kamu dan istana ini nak" Katanya


"Memangnya apa yang terjadi dengan istana ini, kenapa memiliki hubungan denganku abah?" kataku


"Ceritanya begitu panjang anakku"katanya lagi


"Bisakah abah menceritakan semuanya padaku?" kataku sambil memohon


Beliau yang terlihat begitu memahami ku kini akhirnya sedikit bercerita tentang hubunganku dengan istana ini.


Seisi istana ini percaya bahwa aku adalah ratu di istana ini. entah karena hal apa yang begitu mereka yakini sehingga sampai begitu percaya tentangku. sedangkan aku saja masih bingung tak mengerti dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


Aku baru saja pertama kalinya ke istana ini tapi justru sudah mendapatkan begitu banyak teka teki dan kejutan yang tak mampu untuk ku cerna.


__ADS_2