
Alya POV
Ulang Tahun
Hari demi hari telah ku lewati, tak terasa umurku sudah memasuki dua belas tahun. Tak terasa semakin hari kini umurku bertambah dewasa dan akan segera bersekolah ke sekolah yang kuinginkan.
‘’semoga di hari ulang tahunku ini, aku menjadi pribadi yang lebih kuat, mampu berpikir positif dan terus diberikan kesabaran. Semoga aku bisa mendapatkan semua yang aku inginkan termasuk kebahagiaan bila orang tuaku memberikanku sedikit perhatian untukku’’.
‘’ semoga tuhan selalu menuntunku untuk terus berada di jalan yang benar. Aku yakin suatu hari nanti pasti akan ada secercah cahaya yang akan membukakan hati mereka’’. Ungkap ku di doa sepertiga malam yang ku panjatkan untuk hari ulang tahunku ini.
Sekolahku memiliki jarak sekitar sekitar lima ratusan meter dari tempat tinggal ku. Apapun selalu ku lakukan dan jalani dengan penuh semangat dan bersuka cita, karena aku memiliki sebuah keinginan yang cukup besar dalam hidup ini.
Hal itulah yang membuatku bertahan hingga sejauh ini walau dengan begitu banyak masalah yang harus ku hadapi.
Kehidupan yang ku jalani begitu keras semuanya tak pernah sesuai dengan realita yang sering terlihat oleh orang lain. Cobaan datang silih berganti menghampiri.
Satu masalah belum kelar masalah lain pun sudah muncul lagi dengan masalah yang lebih parah dari itu.
Aku harus berusaha untuk melewati semuanya sendiri tanpa ada dukungan dari kedua orang tua maupun keluarga.
Semenjak bersekolah di sekolah dasar, aku menjadi lebih sering bertemu dengan bapak. Hal itu dikarenakan sang bapak merupakan seorang guru tetap di sekolah tempatku menuntut ilmu.
Walaupun aku sering bertemu dengan bapak, akan tetapi tetap saja aku merasa takut dengan bapak hal itu juga membuatku jarang untuk bisa mengobrol, aku sama sekali tak pernah merasa memiliki sebuah keberanian. mungkin saja semua itu dipengaruhi oleh faktor ketidaknyamanan dan jarangnya bertemu serta kurangnya komunikasi dalam hubungan.
Saat aku mulai melihat bapak dari kejauhan, bukannya aku langsung menghampiri untuk hanya sekedar bersalaman atau bertegur sapa melainkan aku selalu menghindari bahkan bersembunyi saking takutnya dengan sosok sang bapak.
‘’Apakah bapak begitu menakutkan sehingga aku harus bersembunyi terus menerus?’’kataku dalam hati.
Aku terus mencoba untuk untuk membuang jauh-jauh rasa takut ini dan juga berusaha untuk meyakinkan diri agar tidak takut dengan bapak karena sesungguhnya aku tak akan mampu berlari untuk menghindari semua itu terus menerus sebab beliau adalah orang tua kandungku.
Terkadang bapak sering sekali menampakkan sikapnya yang acuh dan arogan. Aku juga tak paham dengan semua itu.
Dan hal yang mengherankan juga bukannya bapak berusaha membangun sebuah hubungan bersama dengan sang anak tapi justru malah tak memperdulikan.
Entah hal apa yang membuatku begitu takut dengan bapak, tapi aku percaya suatu hari semuanya akan baik-baik saja jika kenyamanan dan kepercayaan itu sudah mulai tumbuh.
Wajar bila aku memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap bapak, maklumlah aku kan tidak pernah melihat ataupun tinggal bersama bapak apalagi untuk mengenalnya sebelum ini.
Terakhir kali sebelum bapak bercerai saat itu aku masih terlalu kecil, masih belum mengetahui apa yang terjadi, oleh karena itu aku menjadi begitu sulit untuk mengenalinya. Itu semua sudah jelas menjadi sebuah pemicu sehingga menimbulkan ketakutan serta menimbulkan perasaan yang begitu risih saat bertemu dengan bapak.
Hari demi hari ku lewati, tak ada satupun perubahan yang terlihat sejak aku mulai bersekolah hingga sudah mau sampai di titik kelulusan dari sekolah tersebut. walau setiap hari bertemu dengan bapak kandungku.
Tak ada hal istimewa yang terjalin ataupun beberapa momen berharga selama bersama di sekolah tersebut.
Bapak yang bersikap dingin dan seolah-olah tak mengenaliku membuatku sering tak menghiraukannya.
Aku tak perduli dengan apapun yang terjadi terhadapnya. Bukannya semua itu tak ingin kulakukan hanya saja kurangnya rasa percaya diri karena sering kali tak dianggap ada.
Bukannya keadaan membaik setelah bisa bertemu dengan bapak Justru hal yang sebaliknya malah terjadi, bahkan kini semuanya menjadi lebih parah.
Kehidupan yang kujalani semakin hari menjadi semakin menyiksa dan bahkan aku juga tak akan segan untuk dikurung, sehingga aku tak akan bisa kemana mana lagi, bahkan aku benar-benar tak dapat mengikuti teman-teman ataupun aku tak akan dapat menghabiskan waktu untuk bermain seperti teman-teman.
Aku benar-benar kehilangan momen masa kanak-kanak karena terlalu dikekang.
Memiliki keluarga yang begitu protektif tak akan membuat seseorang untuk menjadi orang yang kuat justru malah sebaliknya akan menjadi pribadi yang pengecut dan penuh dengan ketakutan.
Aku tak bisa mengabiskan waktu layaknya teman-teman yang bisa dengan leluasa menghabiskan waktu untuk bermain.
Terkadang aku baru akan bisa ikut bermain jika pergi dengan cara diam-diam akan tetapi hal itu mengakibatkan hasil yang begitu buruk sepulang dari bermain.
Aku hanya bisa membayangkan jika suatu hari dapat merasakan kebahagiaan seperti teman-teman sungguh betapa luar biasa bahagianya diri ini.
‘’ Seandainya kebahagiaan itu sedang berpihak kepadaku sungguh betapa bahagianya aku seolah dunia ini adalah milikku seorang’’. Gumam ku sambil tersenyum
Aku tak ingin terlalu banyak berharap. sebab jika harapan tak sampai maka akan muncul kecewa yang luar biasa. aku hanya memiliki sedikit harapan namun aku juga tak pernah tahu apakah harapan itu bisa memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan serta yang diharapkan.
Namun terkadang harapan sering tak sesuai dengan yang dibayangkan sebab semua itu tak pernah menjadi sebuah kenyataan hingga detik ini.
‘’Harapanku di suatu hari nanti aku akan sedikit lebih bahagia dalam menjalin sisa kehidupan ini serta akan ada pelangi di hari-hari itu yang hadir memberikan warna warni untuk menjadi penyemangat’’
Menjadi seorang anak yang terlahir dari keluarga broken home itu tidaklah mudah bagi setiap orang yang menjalani. Karena begitu banyak hal yang tak pernah dirasakan baik itu dimulai dari kurangnya kasih sayang kedua orang tua, apalagi aku sendiri tak pernah mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Justru aku hanya mendapatkan perlakuan yang tak adil dari semua orang yang berada di sekitar.
Aku terlahir dari sebuah keluarga broken home, jadi aku begitu memahami bagaimana perasaan anak-anak di luar sana yang mengalami hal serupa denganku.
Tapi terkadang juga ada orang yang sering mencemooh. Orang yang tak merasa kasihan tersebut hanyalah orang yang tak memahami bagaimana rasanya menghargai dan memiliki rasa sedikit keperdulian terhadap orang lain.
Percayalah orang seperti itu belum merasakan kerasnya menjalin kehidupan seperti yang dirasakan anak broken home.
Mama dan papaku sudah bercerai semenjak aku kecil kemudian mereka menikah kembali dengan orang-orang pilihannya tanpa pernah memperdulikan perasaanku ataupun dampak yang akan disebabkan oleh perlakuan mereka.
__ADS_1
Bayangkan saja semenjak masih bayi kedua orang tuaku telah pergi begitu jauh untuk meninggalkanku. Mau jadi apa aku nantinya?
Itulah pentingnya memberikan sebuah pendidikan di usia dini guna untuk meningkatkan pengetahuan agar sang anak mampu untuk lebih memahami suatu hal yang memiliki dampak entah itu hal yang menjulur kepada kebaikan ataupun bahkan hal buruk sekalipun guna untuk perkembangannya ke depan.
Saat anak tersebut sudah mulai tumbuh dan mengenal lingkungan sekitarnya maka ia juga akan mampu untuk menyesuaikan diri serta mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Aku memang terlihat seperti seorang gadis yang cukup kuat, serta mampu melewati segalanya walau semua itu terkadang tak sesuai dengan yang terlihat.
Aku selalu tersenyum seolah-olah tak ada sedikitpun kesedihan yang menimpa.
Ya senyuman yang selalu menampakkan kebahagiaan di depan orang lain padahal itu semua hanya untuk menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya.
Aku selalu berusaha agar mampu untuk menyembunyikan setiap derita dalam kehidupan yang ku jalani karena aku tak ingin ada seorangpun yang tau tentang hal yang sesungguhnya dan aku juga tak ingin ada orang lain yang menaruh rasa kasihan dan iba terhadapku.
Percayalah, di balik senyuman yang terlihat manis yang selalu tersungging di bibir itu hanyalah sebuah simbol semata melainkan hal tersebut memiliki berjuta-juta arti dan makna tersendiri untukku dan untuk setiap orang yang melihatnya.
Aku tak perduli mengenai pendapat orang tentang pandangannya mengenai hal itu. cukup di berikan sebuah senyum saja.
Orang hanya melihat bahwa aku adalah seseorang yang kuat tanpa tahu sesungguhnya betapa rapuh diri ini, terkadang aku juga akan terlihat seolah tak pernah ada beban dalam kehidupan, aku selalu terlihat bahagia seolah-olah tak pernah ada kesusahan ataupun kesulitan dalam hidup yang sedang ku jalani.
Akan tetapi pada saat ada orang lain yang ingin menggali lebih detail terkadang ada yang enggan untuk berteman dan tak banyak yang bertahan hanya satu atau dua orang yang akan diam dan bertahan menemaniku.
Dan ada juga yang memilih untuk bertahan hanya untuk sekedar mengetahui tentangku dan akan pergi dikala sudah tak membutuhkan.
Seandainya saja orang tau yang sebenarnya terjadi mungkin saja akan ada jutaan orang yang merasakan iba dan bahkan tak akan segan untuk menangisi keadaan ini.
Namun sayang sekali orang tak pernah mampu untuk melihat semua itu. aku terlalu pintar untuk menyimpan semua derita tersebut tanpa ada satu orang pun yang mengetahui hal yang sebenarnya.
Diluar sana terdapat banyak sekali anak yang sama sepertiku, akan tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melewati hari-harinya. Sebab satu hari terasa begitu lama baru berganti.
Jika anak tersebut tak mampu untuk melewati hari-harinya, pasti mereka akan melakukan berbagai macam cara agar semuanya bisa berakhir.
Setiap hari harus menjalani berbagai macam drama untuk melindungi diri dari orang lain yang hanya suka merendahkan serta membuly.
Yang diinginkan setiap anak broken home itu adalah sebuah ketenangan dimana tak ada orang lain yang akan mengusik kehidupannya itu saja sudah membuatnya begitu bahagia.
Aku mengatakan semua ini karena aku mengalami dan aku mengerti apa yang dirasakan mereka. Aku pernah ingin mengakhiri hidup ini namun sepertinya sang kuasa masih menyayangiku sehingga semua itu tak sampai terjadi.
Aku begitu menginginkan sebuah ketenangan. Batinku sungguh merasa begitu tersiksa dengan semua yang harus ku hadapi. Walau aku terbilang gadis yang kuat dan tangguh karena mampu untuk melewati rintangan demi rintangan yang telah disiapkan hingga sejauh ini.
Namun satu hal yang belum bisa kulakukan adalah memberikan sebuah kebahagiaan dan kebanggan terhadap orang tua, keluarga, teman-teman dan bahkan orang lain yang hanya bisa merendahkan diri ini serta memandang sebelah mata.
Aku yakin suatu hari nanti semua itu akan tercapai. Aku rela melakukan berbagai macam cara agar bisa membuat mama bahagia. Tapi hingga detik ini aku tak pernah memiliki hasil, percayalah mungkin tuhan masih belum ingin memberikan hasil tapi masih ingin melihat sejauh mana usaha yang ku tempuh.
Pada suatu hari, aku yakin pasti bisa memberikan mereka kebanggan walau mereka tak pernah perduli dan tak pernah bisa menghargai kemampuan yang dimiliki oleh anaknya sendiri.
Aku akan terus berusaha untuk berjuang dengan caraku sendiri walau mama tidak pernah menyetujui apa yang dilakukan.
Begitupula dengan sang bapak yang terlalu sibuk dengan keluarganya tanpa menyadari bahwa ada anak yang juga menunggu tanggung jawab serta perhatiannya.
Tidak seharusnya seorang bapak memperlakukan anaknya sendiri seperti itu. Beliau seharusnya bisa bersikap adil terhadap semua anak-anaknya.
Aku tak pernah menuntut banyak hal dari bapak. Aku hanya ingin beliau mengakui ku bahwa aku adalah anaknya. Terkadang air mata ini tak akan bisa berkompromi dikala aku sibuk meratapi kehidupan yang begitu keras ini.
Jika aku diizinkan kembali untuk memilih oleh Tuhan, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini. dunia ini terlalu kejam untukku, dunia ini terlalu jahat sehingga aku harus meratapi kesedihan demi kesedihan di setiap detiknya. Aku ingin bahagia walau beberapa saat saja. Dunia ini terlalu keras, rasanya aku sudah tak kuat lagi untuk menjalani semua ini.
Tuhan...
Aku begitu lelah dengan semua ini
Aku sudah tak sanggup untuk menjalani kehidupanku
Sampai kapan aku akan terus seperti ini?
Tuhan...
Mengapa engkau tak pernah adil terhadapku
Dosa apa yang telah ku perbuat
Sehingga engkau menghukum ku dengan semua ini
Tak adakah sedikit kebahagiaan untukku?
Tuhan...
Mau sampai kapan air mata ini akan terus membasahi pipiku?
Aku hanya ingin sebuah ketenangan
__ADS_1
Aku lelah dengan semua ini
Aku capek Tuhan
Aku ingin istirahat dari semua ini
Tuhan...
Aku sudah tak sanggup lagi
Untuk melewati hari-hari yang begitu kejam
Izinkan aku untuk kembali lebih awal dari perjanjian
Aku hanya ingin pergi ke suatu tempat
Dimana tak ada orang lain yang dapat mengusikku lagi
Aku hanya ingin sebuah ketenangan dan kenyamanan
Tuhan...
Jika suatu hari nanti aku kembali kepadamu
Satu keinginan yang kuharap engkau kabulkan
Jangan pernah ada air mata yang menangisi ku
Dan jangan pernah ada aku yang lain di dunia ini
Cukup hanya aku yang mengalami nasib yang begitu indah ini
Tuhan...
Aku yakin jika seseorang yang menjalani
Kehidupan sama sepertiku
jika tak memiliki cukup kekuatan untuk
menjalani setiap hari dalam sisa hidup dengan penuh air mata
tolong hentikan semuanya
Tuhan...
Jika memang dia tak mampu dan
Jika memang dia tak sekuat aku
Maka tolong jangan biarkan dia menjalani kehidupan yang begitu keras ini
Tuhan...
Aku takut mereka akan melakukan hal
Yang dilarang dan di benci olehmu
Sedang aku sendiri saja sudah sangat sering
Ingin melakukan bunuh diri, namun
Engkau tak pernah memberikan ku untuk mengakhiri semuanya dengan mati sia-sia
Tuhan...
Aku yakin engkau memiliki rencana yang sangat indah untukku
Tuhan...
Engkau maha mendengar
Engkau maha melihat
Engkau maha mengetahui segalanya
Hanya padamu lah aku memohon pertolongan dan perlindungan
Tuhan...
__ADS_1
Aku percaya dengan takdir dan juga rencana indah yang telah Engkau rencanakan untukku
Aku yakin suatu hari pasti akan ada hari dimana kebahagiaan itu berpihak padaku