Patah

Patah
Bab 15


__ADS_3

Hubunganku dengan ryan berjalan dengan mulus, kami sering bertemu di sekolah. bahkan kami juga sering mengobrol bersama di waktu senggang.


Namun hubunganku dengan ryan berjalan tak sesuai dengan rencana, yang ku harapkan bisa menjalin hubungan begitu lama dengannya, namun semuanya tak memiliki akhir yang indah sesuai dengan harapan.


Dan sejak aku putus dengan ryan, kami menjadi malu untuk bertegur sapa saat bertemu di sekolah. entah karena apa semuanya berubah drastis semenjak hubungan kami berakhir.


Aku juga merasa begitu malu hanya untuk sekedar say hello duluan, paling hanya saling melempar senyum dan terkadang juga akan menjadi orang yang seolah tak pernah saling mengenal.


Baiklah untuk para pembaca mungkin aku akan lebih menyingkat cerita ini terkait hubunganku dengan ryan yang berjalan tak begitu lama.


Setelah putus dengan ryan, aku menjalani sebuah hubungan dengan seorang kakak kelasku namun itu juga tidak berlangsung lama.


Kebetulan kakak kelasku itu itu teman kakak sepupu ku sehingga aku sering ketemu dan sampai akhirnya kami menjalin hubungan.


Namun semua itu juga berjalan tak begitu lama hingga pada akhirnya kami naik kelas dan di kelas. Kebetulan aku mengambil jurusan IPA dan di sana aku bertemu dengan teman-teman baru dan saat itulah aku sekelas dengan Ema sella Selly Salma Salma dan juga yora mereka semua teman satu genk ku ๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚.


Akan tetapi setelah kenaikan kelas itu, hubungan kami menjadi semakin renggang diakibatkan oleh kesibukan masing-masing dalam menemukan teman-teman baru. hal itu membuat kami jarang untuk berinteraksi sebagaimana sebelumnya.


Walau terkadang kami masih sering bertemu dan mengobrol bersama tetap saja membuat ada rasa perbedaan tidak seperti sebelumnya kami yang selalu bersama disaat apapun.


Di kelasku terdapat delapan orang siswa cowok, dan aku berteman dengan beberapa orang dari cowok itu.


Hingga pada suatu hari ada seorang teman cowokku yang ingin mengucapkan kata-kata bahwa ia memiliki perasaan terhadapku.


Sebut saja nama orang itu nata. aku sudah mencoba berpikir lebih keras dan menimbang-nimbang alasan jika aku menerima dan jika aku menolak cinta nata. karena nata merupakan sahabatku.


"Alya! apakah aku boleh mengatakan sesuatu hal kepada mu?" kata nata


"Iya boleh saja, memangnya ada apa?" kataku balik bertanya


"Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang begitu jujur padamu" kata nata


"Iya, hal apa? katakan saja" kataku


Akan tetapi sepertinya nata memang terlihat ingin mengucapkan sesuatu yang begitu serius sehingga terlihat dari raut wajahnya tampak seperti ada keraguan serta ketakutan yang menjelma.


Aku sudah memikirkannya dengan begitu matang terkait jawaban itu, jika nantinya aku menerima pasti hubungan kami di kelas akan menjadi renggang. Saat nanti hubungan kita berakhir dan tentu saja saat aku menolak pun maka semuanya pasti akan berbeda.


Jujur jika aku disuruh untuk memilih menjadi teman atau pacar maka aku akan lebih memilih untuk menjadi teman, sebab aku bisa bersikap leluasa tanpa memikirkan akan timbul masalah apa, akan tetapi jika kami menjadi pasangan maka suatu hari jika putus, kami bisa tak saling menyapa lagi, bahkan hubungan persahabatan yang sudah terjalin lama pun akan hancur hanya karena itu.


Seperti kami yang begitu akrab setiap harinya, terlihat bersama-sama dalam keadaan apapun, bahkan kami juga sering bermain bersama saat keluar main ataupun saat tidak ada guru di sela-sela jadwal pelajaran.


Kami sering melakukan berbagai kegiatan bersama namun semua itu akan hancur jika kami berpacaran dan suatu hari putus.


Hubunganku dengan nata tidak berakhir dengan indah, melainkan nata tidak ingin diketahui tentang perasaannya terhadapku oleh teman-teman yang lain.

__ADS_1


Sehingga aku berusaha untuk menyembunyikan soal hubunganku dengan nata rapat-rapat agar tak ada satupun temanku yang tahu.


Hanya saja ada salah satu temanku yang sengaja membocorkan tentang hubunganku dengan nata, hal itu membuatku sangat malu karena banyak yang tau aku dan nata memiliki status yang berbeda sekarang.


Bahkan bukan hanya itu saja ada rasa kecewa pastinya yang dirasakan nata terhadapku, dia pasti akan berpikir bahwa aku memang sengaja membocorkan semua itu.


Dan mulai hari itu pula nata tak memperdulikan ku, dia seolah seperti tak pernah mengenalku dan bahkan nata sendiri menjadi orang yang begitu cuek terhadapku.


Tak pernah ada kata perpisahan yang kami ucapkan, jujur hal yang paling ku takutkan benar-benar terjadi.


Sejak saat hubunganku dengan nata berakhir, belum saja satu minggu lamanya namun hubunganku sudah berakhir.


Aku juga tak bisa memaksakan apapun halnya itu, hanya saja aku begitu menyayangkan sikap nata yang begitu egois, seharusnya dia mampu untuk bersikap jangan hanya asal pergi begitu saja. namun mungkin saat itu nata masih belum bisa berpikir sejauh itu.


Dan semenjak saat itu aku sudah tidak pernah lagi bertegur sapa dengan nata, bahkan sampai aku lulus dari sekolah ini tak ada kata pamitan ataupun kata maaf yang sempat kami ucapkan.


Aku begitu malu dengan semua itu, aku juga begitu malu dengan nata, kala suatu saat tanpa sengaja dipertemukan oleh waktu yang tak bisa diajak berkompromi.


Dan hingga pada akhirnya kami dipisahkan oleh jarak dan waktu, nata melanjutkan sekolahnya di sebuah perguruan tinggi di kota Bandung. sedangkan aku semenjak selesai ujian nasional aku sudah berangkat menuju daerah istimewa Yogyakarta.


Kebetulan aku mendapatkan kiriman surat dari universitas tempatku mendaftarkan diri sebelumnya sehingga aku harus segera kesana.


Jujur aku begitu mengagumi kota tersebut, aku begitu memimpikan kota itu untuk ku kunjungi. Kota istimewa yang selalu menjadi sebuah mimpi, dengan segenggam harapan kelak di suatu hari nanti aku akan bisa mengunjungi kota tersebut. dan hingga detik ini impian itu menjadi sebuah kenyataan, aku dapat melanjutkan pendidikan ke kota impianku.


Tak pernah terbayangkan di benakku ketika aku akan benar-benar mengunjungi daerah istimewa ini.


Aku begitu cepat beradaptasi dengan lingkungan baru di sekitarku, aku memiliki begitu banyak teman dari berbagai universitas.


Ternyata tinggal di kota tidak serumit tinggal di desa. Kalau di desa sedikit saja kita membuat kesalahan maka satu desa akan tahu sedangkan di kota orang lain tak terlalu saling menghiraukan satu sama lain. hanya saja kami akan sesekali bertegur sapa tatkala bertemu tanpa disengaja.


Sebelum memulai masuk di universitas tempatku mendaftarkan diri, aku tinggal bersama teman abangku. kebetulan kami berasal dari daerah yang sama hanya saja beda kecamatan saja.


Aku memulai beradaptasi dengan orang-orang baru, mulai dari beberapa orang teman abang ku dan teman-teman yang lain. Kebetulan aku merupakan orang yang begitu mudah bergaul dalam hal berteman.


Semakin hari aku tinggal di kota ini, aku menjadi semakin semakin betah untuk berlama-lama berada di kota ini, rasanya tak ingin pulang ke rumah namun apalah dayaku, suatu hari pasti akan ada alasan untuk ku meninggalkan kota ini dan kembali ke rumahku.


Aku begitu menikmati hari-hari berada di kota ini, mengunjungi berbagai lokasi wisata, mulai dari nol kilometer, Malioboro dan lainnya.


Aku sering kali ikut temanku yang lain untuk sekedar jalan-jalan di malam hari atau hanya sekedar untuk nongkrong di nol kilometer.


Kadang malam harinya kami habiskan hanya untuk sekedar nongkrong dikala tak ada yang bisa kami kerjakan di kos.


Kebetulan sebelum aku mengenal kota ini, ternyata di sini aku memiliki banyak keluarga yang memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di kota ini, akan tetapi saat pertama kalinya aku datang ke kota ini justru diantarkan oleh istri pak de, karena kebetulan istrinya pak de merupakan orang asli jogja.


POV Alya

__ADS_1


Tiket pesawat sudah dipesankan oleh paman, dan aku hanya tinggal berangkat dan menyiapkan keperluan yang ku butuhkan nantinya.


"Alya... kata mamaku


"Iya ma... jawabku


"Kamu besok diantar bu de saja ya?" kata mama


"Mama tidak mau kamu nyasar di kota, sebab ini pertama kalinya kamu berada di sana" kata mama menambahkan


"Aku sih terserah mama, mana baiknya aja" kataku


Hubunganku dengan mama menjadi begitu dekat tak kala aku kehilangan nenekku.


Seminggu sebelum keberangkatan ku ke daerah istimewa itu, aku sudah mulai menyiapkan beberapa pakaian yang akan aku bawa sehingga nantinya aku tak akan ketinggalan satu barang pun saat akan benar-benar meninggalkan rumah.


Sore harinya sebelum hari keberangkatan, aku berangkat menuju rumah bu de yang tak jauh dari bandara.


Kebetulan rumah bu de berada sekitar setengah jam dari bandara sehingga nantinya aku tak akan telat untuk menuju bandara. sedangkan kalau dari rumahku ke bandara menempuh beberapa jam perjalanan oleh karena itu kelurga memutuskan untuk mengantarkan ku ke rumah bu de pada sore harinya.


Kami tiba dirumah bu de sebelum magrib, rasanya aku begitu sedih karena ini pertama kalinya aku akan meninggalkan kota kelahiran ku dan berada jauh di luar daerah.


Walau aku sudah begitu memantapkan hati namun perasaan sedih pasti akan tetap ada walau hanya sedikit karena nantinya semua itu akan bisa hilang dengan sendirinya tatkala aku sudah memiliki banyak teman dan melakukan banyak kegiatan hak itu aku mampu membuatku untuk sedikit melupakan.


Kebetulan jadwal jam penerbangan yang ku ambil saat itu pukul lima pagi, otomatis jam tiga aku harus sudah bangun untuk mandi dan bersiap-siap untuk segera berangkat ke bandara.


"Selamat tinggal kotaku, suatu hari aku pasti kembali dengan berbagai macam cerita baru yang ku tempuh di kota sebrang" kataku dalam hati


Rumah Bu de...


Saat dirumah bu de, mama dan yang lainnya memutuskan untuk pulang sekitar jam sepuluh malam. Kemudian aku berkemas merapikan barang-barang yang akan ku bawa.


Setelah selesai merapikan barang bawaan ku, bu de tiba-tiba datang untuk menyuruhku untuk istirahat.


"Nak istirahat kalau udah selsai ya" kata bu de


"Iya bu" jawabku


Aku pun bergegas untuk membersihkan diri kemudian bergegas untuk tidur dan tak lupa pula aku berdoa sebelum tidur.


Tepat pada pukul tiga pagi pak de membangunkan ku karena takut nanti malah ketinggalan.


"Nanda bangun yuk" katanya sambil mengetuk pintu kamar yang ku tempati


"Iya pak, ini ananda sudah bangun" kataku menjawab

__ADS_1


"Segera mandi ya" tambah pak de


Aku kemudian bergegas untuk mandi dan segera sarapan sedikit biar perut tak keroncongan nantinya.


__ADS_2