Patah

Patah
Bab 9


__ADS_3

Setelah lulus dari pondok pesantren, aku kembali ke desa tempatku dilahirkan. Aku bersekolah di sebuah sekolah menengah atas yang tak jauh dari rumah bibiku. Dan disana aku tinggal selama aku menempuh pendidikan di SMA.


"Semoga di sekolah ini menjadi sebuah awal yang baru untukku menuntut ilmu" gumam ku dalam hati


Begitu banyak masalah yang timbul dari awal aku sekolah hingga akhir, belum masalah di sekolah dan belum juga masalah di keluarga yang datang silih berganti.


Dirumah bibi sering memarahiku bahkan tak akan segan-segan untuk memukulku, terkadang aku juga merasa sedih dengan semua itu.


Pernah waktu itu aku kabur dari rumah dan tinggal di rumah sahabatku yora, saat itu aku dipukul menggunakan sapu hingga patah.


Sahabat-sahabat ku yang tak tega melihatku diperlakukan seperti itu merasa kasihan dan iba dengan keadaan yang harus ku terima oleh sebab itu mereka berinisiatif untuk membawaku tinggal dirumahnya.


"Maafkan aku sudah membuat kalian kerepotan" kataku di depan semua teman-temanku.


"Tak apa-apa kok" kata Sela


"Kami senang kok bisa membantumu" jawab Selly


"Bukankah kita harus selalu saling membantu dalam keadaan apapun? tanya Mika


"Dan oleh sebab itu kita harus tetap bersama walau suka dan duka, itulah gunanya sahabat" tambah Mika


"Iya dong" kata Nani


"Maaf, telah membuat kalian ikut dalam masalahku" kataku


"Apapun masalahmu, kami akan selalu ada bersamamu, kau tidak sendiri" kata Sela


Walau kami berasal dari sekolah yang berbeda-beda sebelum masuk ke sini, akan tetapi kami begitu cepat akrab dan mulai menjalin persahabatan, melalui semuanya dengan penuh suka cita dan canda tawa.


Terkadang dengan menyibukkan diri dengan urusan atau kegiatan sekolah aku bisa melupakan sejenak semua masalah yang ada dirumah.


Aku tidak pernah mengerti dengan sikap keluargaku, mereka bukannya saling mendukung satu sama lain akan tetapi justru malah mereka saling memecah belah.


Pamanku merupakan anak terakhir dari empat bersaudara, yang pertama tinggal di negara sebrang dan sudah menetap disana. yang kedua mamaku dan ketiga bibiku dan kemudian paman.


Aku tak tahu dengan cara apa agar bisa membuat mereka terus akur dan saling menghargai satu dengan yang lainnya, supaya mereka bisa saling melindungi bukan malah saling menghancurkan.


Selama aku berada di sekolah menengah atas ini, walau aku sudah tergolong menjadi anak yang dewasa, tetap saja kekerasan itu tak pergi jauh dariku.


"Air mata ku telah begitu banyak yang keluar sia-sia untuk menangisi setiap detik dari perjalanan hidup ini, seandainya saja air mata itu bisa habis mungkin saja aku telah kehilangan semuanya" kataku


Aku berhenti menerima kekerasan dari paman dan sekarang aku justru menerima semua itu dari bibiku.


Jika ada seorang anak di dalam keluarga tersebut melakukan kesalahan, maka anak itu serta orang tuanya akan terkucilkan dari keluarga besarnya. Namun anehnya saat salah satu dari mereka membutuhkan sesuatu yang ada pada orang yang dikucilkan tersebut, maka mereka akan pura-pura baik hanya demi mendapatkan bantuan atau pinjaman baik berupa uang ataupun lain sebagainya.

__ADS_1


Aku memang bukanlah tipe orang yang pendendam, seandainya aku tidak berpikir panjang, mungkin saja aku sudah menjadi orang yang begitu menakutkan bagi setiap orang yang sudah pernah menyakitiku. tapi terkadang kalau aku sudah terlanjur marah dengan semua hal yang pernah dilakukan orang lain terhadapku, jangan salah aku bisa menjadi orang yang lebih jahat dari apa yang mereka lakukan terhadapku.


"Ingat jangan sekali-kali membuatku kecewa karena satu kali kau membuatku kecewa, kepercayaan itu akan mulai pudar dengan sedikit demi sedikit" kataku


Entah kenapa aku begitu sulit untuk percaya dengan orang yang sudah menyakitiku walau dia keluargaku sendiri.


Seharusnya hal seperti itu tak boleh terjadi dalam sebuah keluarga besar, keluarga itu harus saling tolong menolong bukan karena saat membutuhkan saja baru mencari akan tetapi harus selalu ada dalam suka maupun duka.


Aku tak mengerti dengan jalur pikiran mereka masing-masing dalam keluarga ini, mereka tidak pernah bisa akur lama melainkan selalu saja ada masalah yang timbul dan bahkan mereka akan saling membenci satu dengan yang lainnya.


Bahkan ada juga yang suka mengadu domba dalam keluarga ku tersebut, mungkin orang itu itu selalu saja menginginkan masalah terjadi dalam keluarga itu akan tetapi dia tidak pernah berpikir bagaimana caranya agar keluarga Itu tampak baik-baik saja.


Seandainya aku ingin jahat mungkin saja aku sudah menjadi orang yang paling jahat bahkan lebih dari kejahatan mereka namun aku sadar didalam hatiku yang terdalam aku masih memiliki hati nurani


Justru aku tak ingin didalam keluarga ini terus menerus terjadi masalah, Aku hanya ingin mereka tetap baik-baik saja dan saling menjaga bukan malah saling membenci dan tak saling mengunjungi satu dengan yang lainnya.


Dan terkadang tanpa disengaja mereka akan dipertemukan di suatu tempat, akan tetapi mereka seperti jual mahal dan seolah seperti tak saling mengenal.


Entahlah aku tak begitu mengerti dengan jalur pikiran mereka, akan tetapi seharusnya dalam setiap keluarga itu harus saling mendukung satu dengan yang lainnya.


Apalagi jika terkait dengan adanya warisan yang akan diterima, mereka pasti akan membuat keributan dan bahkan justru malah saling menjatuhkan hanya untuk mendapatkan warisan yang lebih banyak. Terkadang aku akan berpikiran sesuatu yang tidak masuk akal terhadap mereka.


"Mungkinkah mereka tak ingin melihat keluarganya baik-baik saja akan tetapi mereka justru menginginkan sebuah keluarga yang pecah belah" gumam ku dalam hati.


Pamanku merasa dialah orang yang paling memiliki kuasa dalam keluargaku. dia merasa dirinyalah yang paling dibutuhkan dan tak akan mau mencari saudara-saudaranya lebih dulu.


Pamanku memang begitu keras kepala, yang diinginkan hanyalah pendapatnya diterima tanpa memikirkan konsekwensinya. Seharusnya paman juga berpikir bahwa di luar sana masih ada saudara-saudaranya yang lain dan juga bukan hanya dia yang akan mendapatkan harta warisan melainkan mereka semua juga sama.


Mereka rela tak saling mengunjungi karena Paman sering membuat masalah untuk mereka bahkan Paman tak akan segan-segan untuk mencaci-maki mereka hanya karena pendapatnya tak diterima oleh saudara-saudaranya yang lain. akan tetapi seharusnya paman juga bisa memahami pendapat saudara-saudaranya yang lain bukan hanya menginginkan pendapatnya saja untuk diterima.


Seharusnya Paman tidak boleh bersikap seperti itu beliau harusnya bersikap lebih toleransi dengan saudara-saudaranya yang lain agar pendapat dari saudara-saudaranya yang lain juga bisa dijadikan sebuah masukan guna untuk lebih mendekatkan tali silaturahmi antara mereka karena hubungan mereka sudah begitu renggang diakibatkan begitu banyaknya masalah yang terjadi di antara keluarga tersebut.


Aku begitu menyayangkan sikap paman yang terlalu berlebihan terhadap saudara-saudaranya seharusnya dalam sebuah keluarga mereka saling menjaga satu dengan yang lain bukan malah saling menjatuhkan.


"Ya allah ya robbi, jadikanlah paman ku orang yang lemah lembut dan berhati tulus, jangan biarkan pamanku berada di jalan yang salah, tetaplah untuk menuntunnya ke jalan ya engkau ridho. berikanlah perubahan terhadap pamanku agar menjadi orang yang selalu sabar dalam menghadapi segala hal yang telah engkau garis kan" doa ku di setiap sholat.


Aku berharap suatu hari nanti paman akan berubah walau semua yang direncanakan tak sesuai dengan yang diharapkan.


Allah juga mengatakan bahwa tak akan pernah merubah seseorang kecuali orang itu sendiri yang berubah, dengan keinginan yang kuat setiap perubahan pasti terjadi namun atas kemauan sendiri.


Selama ini, di setiap perjalanan yang ku tempuh hingga detik ini, aku sama sekali tak pernah menemukan keluarga yang selalu saja ribut dengan berbagai masalah yang muncul di kalangan keluarganya, terkadang karena ada orang yang tak suka dan berusaha mengadu domba maka hal itulah yang akan menimbulkan sebuah masalah yang besar, paman sendiri sering kali terpancing dengan omongan orang lain walau itu semua belum tentu kebenarannya, karena paman sendiri sering kali tak mencari tahu hal yang sebenarnya dulu baru marah-marah.


Bukan hanya itu, aku merasa begitu sedih dengan sikap mereka. aku juga begitu kasihan dengan keluarga ku yang hancur karena terlalu mempercayai orang lain padahal tujuannya hanya untuk mengadu domba, aku bahkan dangat kasihan terhadap mama yang selalu saja dikucilkan dari keluarga besarnya oleh sang paman padahal mama adalah saudara kandung paman sendiri.


Terkadang kalau aku memikirkan terkait hal itu terus, tak terasa air mata ini tumpah tampa mau untuk diajak berkompromi, hati ini terasa diiris seolah-olah kami bukan bagian dari keluarga itu.

__ADS_1


Sempat pada suatu hari mama pernah dituduh mencuri uang saudaranya oleh sang paman akan tetapi aku percaya mama tidak akan pernah melakukan hal itu dan atas kejadian tersebut paman justru begitu membenci mama akan tetapi aku salut dengan mama yang begitu penyabar walau sering disakiti oleh mereka .


"Tuhan berikanlah umur yang panjang untuk mamaku, lindungilah beliau dan berikanlah kesehatan agar beliau tetap berada di sampingku" doaku


Saat mereka membutuhkan sesuatu di mama maka dengan sendirinya mereka akan kembali dengan berbagai hal yang tampak begitu baik dan begitu manis tanpa pernah memikirkan hal yang telah menyakitkan hati mama yang pernah mereka lakukan. Jujur hal itu sangat menyakitkan dan menyedihkan buat aku. seolah mama hanya dimanfaatkan untuk memenuhi sesuatu kebutuhan dan saat sudah tak dibutuhkan lagi maka mama akan dihempaskan begitu saja.


"Tuhan lindungilah mamaku, tuntun lah beliau untuk tetap berada di jalanmu yang lurus" gumam ku


"Jadikanlah mamaku wanita yang selalu sabar dan tetap baik terhadap orang lain walau orang itu menyakiti mama" tambah ku


Aku selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga besar ku ini, namun ada saja celah yang membuat masalah itu menari gembira di tengah kepedihan dan penderitaan yang kami alami.


Terkadang aku berpikir mau sampai kapan paman akan terus bersikap seperti ini tanpa memperdulikan perasaan saudara-saudaranya yang lain, seharusnya paman tidak bersikap terlalu keras, seharusnya paman bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin tanpa percaya dengan perkataan orang lain yang sengaja baik di depan namun dibelakang menghancurkan.


Jujur kepercayaan ku tampaknya sedikit berkurang dengan keluargaku. mungkin karena faktor trauma yang begitu berlebihan sehingga sangat sulit untuk membuatku percaya terhadap orang lain bahkan dengan keluarga sendiri susah.


Saat ini aku tak tahu harus bagaimana dengan keluarga yang sudah mulai hancur. Satu demi satu masalah mulai muncul bahkan Mamaku dan aku dianggap seperti seekor binatang oleh pamanku.


Perasaanku begitu hancur, jujur aku merasa kecewa dengan sikap yang dilakukan pamanku terhadap aku dan mamaku. Aku sadar mungkin aku terlalu kasar akan tetapi seharusnya pamanku mengerti kenapa aku seperti itu, dan lagian paman juga tidak pernah berpikir bahwa ada kesalahan yang dimilikinya, bahkan paman juga merupakan seseorang yang begitu keras kepala dan paman juga tak pernah peduli dengan bagaimana perasaan saudara-saudaranya.


Sedangkan paman tampak begitu peduli terhadap orang lain hanya untuk saudaranya dia tidak terlalu peduli bahkan sekecil apapun masalah yang diperbuat oleh keluarganya pasti akan diperbesar.


Aku berusaha untuk tetap terlihat bahagia di depan semua orang, agar orang lain tak pernah tau betapa menyedihkan kehidupan yang ku jalani.


Aku dihantui dengan berbagai bayangan kehancuran dan kesakitan yang ku terima, hal itu terkait dengan apa yang aku terima selama ini.


Kehidupanku yang penuh dengan kekerasan tak mampu membuatku bersikap seolah seperti perlakuan yang ku terima, namun hal itu membuatku malah menjadi sering dihantui oleh ketakutan dan kecemasan yang berlebihan.


Sikap mereka terhadapku tak bisa ku terima, bukannya aku menjadi seorang gadis yang pemberani melainkan aku malah menjadi seorang yang pengecut.


Aku memang memiliki begitu banyak pengalaman terkait pergaulan diluar sana, bagaimana cara untuk berteman dengan orang lain akan tetapi kalau aku harus dihubungkan dengan keadaan rumah aku adalah orang pertama yang akan menyerah.


Aku bukanlah gadis yang kuat, gadis yang pemberani dengan berbagai macam hal akan tetapi aku hanyalah seorang gadis yang sangat rapuh bila dihadapkan dengan masalah yang terjadi dalam rumah.


Rasanya aku begitu tak mampu untuk menghadapi masalah yang terus menerus datang dan tampa ada orang lain yang akan menggenggam tanganku dengan erat untuk membawaku bangkit dari keterpurukan ini.


Aku berharap akan ada orang yang akan hadir untuk menemaniku dan selalu ada bersamaku untuk terus menuntunku agar aku tak terus menerus berada di dalam kehancuran.


Aku percaya rencana Tuhan itu indah namun hanya orang-orang tertentu yang dapat menjalaninya dengan sepenuh hati.


Aku takut jika kalian tak kuat dengan semua skenario yang telah di rencanakan Tuhan maka kalian akan berpikir untuk mengakhiri kehidupan ini dengan bunuh diri.


Pesanku buat kalian janganlah berkecil hati sebab tak selamanya kalian akan merasakan kesakitan, akan tiba suatu hari dimana masa dimana kalian akan merasakan betapa indahnya kebahagiaan itu.


Yakinlah diluar sana masih ada orang yang mendapatkan cobaan yang lebih berat dari yang kita jalani saat ini, jadi mari kita sama-sama bersemangat dan saling menguatkan untuk tetap menjalani sisa kehidupan ini, sebab kita tak pernah tau akan sampai kapan umur ini.

__ADS_1


__ADS_2