
Masih dengan nuansa pondok pesantren, kehidupan di pondok pesantren terkadang tampak menyenangkan dan ada juga yang tak menyenangkan.
Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kita memiliki begitu banyak teman-teman baru dan belajar hal-hal baru dari mereka.
Sedikit tidak kita akan bisa berbagi dalam beberapa hal dan termasuk juga saling memperkenalkan setiap tradisi yang terdapat di masing-masing daerah ataupun desa tempat tinggal.
Berada di pondok pesantren mengajarkan kita bagaimana rasanya berada jauh dengan keluarga untuk hidup dan menjalani hari-hari dengan mandiri tanpa ada bantuan dari orang tua.
Tak ada istilah anak manja di lingkungan pondok pesantren sebab walau di rumahnya sangat manja setelah berada disana pasti bisa menjadi orang yang mandiri.
Apapun pasti bisa dilakukan setelah masuk pondok pesantren hanya saja perlu membiasakan diri agar sikap manja yang selama ini dilakukan dirumah sedikit demi sedikit berubah menjadi sikap yang mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain
Setiap keinginan pasti bisa tercapai asal ada kemauan untuk merubahnya dan orang lain tak akan bisa merubah semua itu hanya saja orang lain bisa memberikan saran sebab kita tidak bisa terus bergantung. Harus berusaha agar bisa supaya menjadi lebih dewasa.
Setiap hari ku jalani dengan berbagai kegiatan yang telah terjadwal. Apapun kegiatan selalu ku lakukan dengan susah ataupun senang.
Saat aku berada di kelas tujuh itulah awal semua keanehan yang ku lalui. Bagaimana tidak saat aku pertama kali pingsan dan dari sanalah semuanya berawal.
Kini tibalah saatnya untuk mengikuti ujian semester kenaikan kelas. Ternyata tak terasa aku sudah berada di penghujung satu tahun bersekolah disini.
Begitu banyak lika liku yang harus ku jalani selama setahun ini untuk terus bertahan berada di pondok pesantren ini.
Tanpa terasa perjuanganku tak sia-sia dan aku mendapatkan hasil dari usaha yang selama in kulakukan.
Sekarang aku sudah menjadi seorang santri, aku terus belajar untuk memperdalam ilmu agama agar aku menjadi orang yang lebih baik lagi, sehingga aku mampu untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah.
Sedikit demi sedikit aku mengerti banyak hal, baik sesuatu yang tak pernah diajarkan dirumah ataupun di sekolah dasar dulu.
Ujian semester telah usai, kini saatnya menunggu hasil final untuk ujian kenaikan kelas. kebetulan pondok pesantren ku memiliki dua ujian untuk kenaikan kelas, selain ujian yang dilakukan di sekolah aku juga harus mengikuti ujian di pondok, ujian pondok yang dimaksud itu ujian terkait beberapa materi kitab yang diajarkan harus diujikan untuk menunjang kenaikan kelas juga.
oleh sebab itu jika ujian telah usai di sekolah maka kami akan mengikuti ujian selanjutnya tentang kitab-kitab yang telah diajarkan oleh para guru yang berbeda yang sama halnya dengan pelajaran di sekolah.
Setelah kedua ujian kenaikan kelas terlaksana dengan lancar, kami kini tinggal menunggu hasil yang telah kami peroleh selama pelajaran berlangsung.
Aku dan teman-teman ku menunggu selama seminggu dan tepat pada hari minggu kami akan dibagikan hasilnya dan saat itu juga diadakan penjemputan langsung oleh para wali santri untuk libur panjang.
Aku menunggu untuk dijemput begitu lama, teman-temanku kebanyakan sudah pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang belum pulang.
"Aku duluan pulang ya" kata riska teman terakhir yang berada di ruangan yang sama denganku.
"Baiklah" kataku
"Hati-hati" sambung ku
Sedangkan aku masih setia menunggu di depan ruangan ku di temani oleh sang sahabatku aira, walau orang tua aira sudah datang seja jam sepuluh pagi tadi tapi dia belum ingin beranjak untuk pulang sebab dia merasa begitu kasihan terhadapku jika aku hanya menunggu sendiri.
"Ra... kamu pulang aja duluan!" kataku
"Aku temenin kamu aja dulu" kata aira
"Aku tidak ingin merepotkan, kasihan orang tuamu yang sudah menunggu dari pagi" kataku
__ADS_1
"Sudahlah lagian aku udah bilang kok, jadi tenang aja tidak akan ada yang merepotkan" kata aira sambil tersenyum
"Baiklah" kataku
"Ini ada Hp mamaku cobalah untuk menghubungi keluargamu" kata aira sambil menyerahkan ponsel yang dipinjam dari ibunya tadi
"Terimakasih banyak aira" kataku sembari mengambil ponsel yang diberikan aira
Aku kemudian mencoba menghubungi pamanku yang bertanggung jawab untuk menjemput ku. namun hasilnya tetap tak dapat dihubungi. sekali kalinya tersambung yang ada malah operator yang terus saja menyahut dari sebrang.
Aku sudah begitu pasrah dengan keadaan ini. tak ada gunanya lagi aku menelpon, kalau memang aku dijemput maka tunggu saja pasti sampai.
Aku mencoba untuk menepis kekhawatiran yang terus saja terbayang jika aku tak dijemput.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas itu artinya sebentar lagi akan zuhur, aku dan aira bergegas untuk sholat zuhur berjamaah di musholla walau tak banyak yang sholat karena sudah kebanyakan yang pulang.
Seusai melaksanakan sholat berjamaah di musholla, aku menemukan pamanku baru setengah jalan akan menuju ruangan ku. betapa bahagianya aku akan segera pulang dan bertemu dengan orang-orang yang ku sayang.
Hingga pada saatnya libur untuk kenaikan kelas telah tiba, rasanya sangat bahagia karena aku akan bisa berkumpul kembali bersama dengan keluarga.
Sedikit tidak aku merasa begitu bahagia walau sering mendapatkan kekerasan. Biar bagaimanapun mereka merupakan keluargaku, jika tak ada mereka aku akan kemana lagi.
Aku berusaha untuk tetap menjadi seorang gadis yang setenang mungkin dikala badai menerjang tapi jika semua itu sudah tak dapat ku lalui lagi maka aku hanya bisa memasrahkan diri dengan keadaan yang harus aku terima.
Aku segera menyiapkan barang-barang yang akan kubawa pulang dibantu oleh aira, setelah itu kami sama-sama berjalan keluar dari ruangan tersebut dan pulang.
Di perjalanan pulang yang ku lalui, aku tak banyak bicara hanya menjawab sepatah dua kata yang dipertanyakan oleh pamanku.
Perjalanan yang harus ku tempuh untuk sampai rumah sekitar dua jam. walau aku terbilang dari desa yang berada di pelosok hal itu tak menjadi penghalang untuk aku cepat mengakrabkan diri dengan teman-teman yang berasal dari kota.
Sesampainya dirumah aku disambut oleh nenekku. sosok wanita yang begitu ku rindukan. beliau adalah pahlawan yang paling aku banggakan.
Aku lebih dekat dengan nenek ketimbang ibu kandungku sendiri. sebab ibu sudah sibuk dengan urusan rumah tangganya bersama dengan sang suami yang baru begitu juga dengan bapakku yang sudah tak perduli lagi terhadapku.
Suatu hari nenekku, ibu dari bapak meninggal namun tak ada satupun orang mengabarkan ku. beliau sudah meninggal sekitar seminggu yang lalu tapi bapak tak mengabari ku, aku sih tidak apa-apa tak dikasih tahu sebab aku juga tak terlalu dekat dengan keluarga bapak.
Aku juga tak tahu dimana lokasi akurat tempat orang tua bapak tinggal, karena setau ku hanya namanya namun tak pernah sama sekali diajak untuk berkunjung ke sana.
Hanya kakek bapak dari bapakku yang sering mengunjungi ku sejak berada di sekolah dasar. setelah sekitar dua minggu kepergian nenek sang kakek juga menyusul untuk menghadap sang ilahi. namun hal yang sama terulang kembali aku sama sekali tak tahu.
Aku hanya mampu meneteskan air mata, betapa sedihnya aku yang seolah tak dianggap keluarga oleh bapak sehingga beliau tega tak memberitahu kan aku sama sekali terkait kondisi kakek. Aku hanya berusaha untuk memanjatkan doa agar sang kuasa memberikan tempat terbaik untuk berada disisinya.
Selama liburan tak begitu banyak kegiatan yang aku lakukan, terkadang aku akan menghabiskan waktu seharian untuk terus menerus tidur.
Kadang aku akan mengikuti nenek dan kakek untuk pergi ke sawah sambil membantu apa yang dikerjakan mereka. selama aku bisa mengerjakan apa yang dilakukan kakek dan nenek maka aku akan terus membantu dan jika aku tak bisa maka aku akan berusaha untuk belajar agar bisa mengurangi beban mereka walau sedikit.
"Ternyata menjadi petani itu sungguh melelahkan" kataku dalam hati
Walau menjadi seorang petani itu sangat melelahkan hal itu akan terbayarkan dengan hasil panen yang memuaskan.
Apa yang kita tanam maka itu yang akan kita dapatkan kelak, jadi jika tanaman yang sudah kita tanam berkembang dengan pesat maka hasil yang akan diperoleh juga akan berlimpah.
__ADS_1
Semoga di setiap tetes keringat yang telah keluar diberikan pahala oleh allah sehingga semua usaha menjadi berkah dan penuh manfaat.
Disawah nenek menanam berbagai macam sayuran, oleh sebab itu kami jarang membeli sayuran. kebanyakan kami akan memetik sendiri sebagai konsumsi keluarga saja dan bahkan juga jika hasil panen sayuran kebanyakan maka kami akan menjualnya ke para tetangga untuk menambah belanja atau keperluan yang lainnya.
Setelah setahun berada di pondok pesantren hal itu membuatku merasa sedikit malu untuk pergi bermain-main mengikuti temanku yang lain. entah perasaan itu tiba-tiba saja muncul.
Aku hanya bermain di sekitaran rumah saja bersama dengan adik-adikku.
Terkadang jika sudah bosan bermain, maka aku akan memilih untuk belajar atau hanya sekedar menonton di rumah keponakanku yang berada di depan rumah.
Apalah aku yang tak dapat saling menghubungi dengan teman-teman ku yang berada di pondok. aku juga tak memiliki ponsel seperti teman-teman ku yang lain.
Mereka anak-anak yang berasal dari kota memang sudah terbiasa dengan kehidupan kota yang begitu melekat pada diri mereka, baik itu dari segi gaya dan tak jarang mereka juga akan saling memamerkan.
Sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan kehidupan kota, nongkrong di mall-mall dan sejak berada di bangku sekolah dasar pun mereka telah diperbolehkan untuk memiliki ponsel.
Orang tua mereka yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sering kali membuat mereka tak terlalu diperhatikan hal itu membuatnya terlalu bebas dalam menggunakan ponsel sebelum waktunya.
Seharusnya penggunaan ponsel itu harus tetap dalam pengawasan para orang tua ataupun keluarga yang lain agar tak terjadi kesalahan. namun ada saja yang justru lebih mementingkan kesibukan ketimbang memperhatikan perkembangan anak-anaknya.
Aku tersadar betapa berbahayanya jika terus menerus bermain ponsel tanpa pengawasan, oleh sebab itu aku tak terlalu tertarik untuk bermain ponsel dan bahkan aku juga tak akan mungkin dibelikan dengan kondisi kehidupan yang seperti ini.
Jika aku meminta untuk dibelikan maka sudah pasti aku akan dimarah sampai waktu yang cukup lama hanya karena hal itu.
Aku tak begitu menginginkan untuk memiliki ponsel, karena aku berpikir belum saatnya anak untuk diberikan ponsel apalagi dengan teknologi moderen yang sedang berkembang pesat saat ini. hal itu bisa saja berpengaruh dan menyebabkan ku ketagihan untuk bermain tanpa memperdulikan belajar.
Tak terasa libur semester tinggal beberapa hari lagi setelah itu aku akan kembali ke pondok pesantren dan memulai kelas yang baru dengan materi pelajaran yang juga baru serta dengan adik-adik kelas juga.
Terkadang akan timbul rasa sedih karena harus kembali ke pondok, namun mau bagaimana lagi aku harus bisa ikhlas agar bisa menjadi anak yang berguna kelak.
Jujur aku sudah tak sabar untuk bisa kembali ke pondok untuk bertemu dengan teman-teman. walau di pondok harus mengikuti banyak aturan namun aku tetep bahagia karena banyak teman-teman dan kami bisa belajar bareng supaya bisa.
Kita tidak pernah tau betapa kejamnya dunia yang akan kita lalui untuk kedepannya. sedikit tidak jika sudah memiliki bekal maka kita akan mampu untuk melawan walau sedikit.
Perjalanan ini tak akan selamanya berjalan mulus akan ada saatnya kita berjalan di jalan yang dipenuhi dengan berbagai rintangan. harus berani melawan demi sebuah keberhasilan yang telah dinanti nantikan agar setiap cita-cita yang diinginkan tercapai.
Dua hari lagi aku akan segera kembali ke pondok pesantren, aku telah menyiapkan berbagai perlengkapan yang akan aku bawa balik dan juga beberapa buku tulis baru yang telah dibelikan.
Aku sudah mulai terbiasa dengan suasana dirumah hal itu membuatku merasa sedikit sedih untuk meninggalkan rumah.
Hingga tiba pada hari yang telah ditentukan untuk kembali ke pondok pesantren. aku merasa begitu sedih harus meninggalkan rumah. aku berusaha untuk tak memperlihatkan kesedihan ini pada keluargaku sebab aku tak ingin dimarah.
Aku masih ingin tetap berada dirumah, rasanya aku tak ingin pergi jauh-jauh lagi.
Sesampainya aku di pondok pesantren ternyata sudah banyak teman-teman ku yang datang, aku bergegas untuk mencari namaku agar aku tau di mana posisi kamarku.
Alhasil aku ternyata berada di ruangan yang berbeda dengan aira. aku berada di ruangan dua sedangkan aira berada di ruangan satu.
Aku tak keberatan walau harus berpisah ruang dengan sahabat baikku itu. di ruangan dua ini aku bertemu dengan seorang teman dari dulu kita sudah kenal hanya saja tak terlalu akrab. dan sekarang kita malah berada di ruangan yang sama pastinya nanti kami akan menjadi teman yang lebih akrab lagi.
Saat akan melakukan kegiatan aku dan aira selalu bersama sama walau ruangan kami berbeda. seperti halnya untuk melakukan sholat berjamaah di musholla kami akan saling menunggu hingga berangkat sekolah bersamaan dan juga setiap kali akan melakukan kegiatan makan kami selalu saling menunggu satu sama lain.
__ADS_1