Patah

Patah
Bab 2


__ADS_3

Keadaanku kini lebih baik dari sebelumnya sejak agus mengobati ku. karena kebetulan di desa tempat ku tinggal ini masih begitu kental dengan kepercayaannya.


Pada saat sakit, setiap yang sakit akan dibawa berobat ke orang pintar dulu, setelah itu baru akan dibawa berobat ke dokter.


Menurut kepercayaan orang disini alangkah baiknya untuk dibawa ke orang pintar dulu baru dibawa ke dokter hal itu akan lebih efektif kata mereka. alhasil ketimbang membawanya ke dokter lebih dahulu baru kemudian membawanya ke orang pintar akan menjadi kurang efektif.


Kalau menurutku sih ke dokter lebih baik, tapi mau bagaimana lagi itulah kepercayaan warga sekitar.


Beberapa hari dirumah, kondisiku kian membaik hingga tiba saatnya aku harus kembali ke pondok pesantren.


Rasanya aku tak ingin kembali ke pondok pesantren tersebut, ingin rasanya aku untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berada dirumah walau hanya ditemani oleh kakek dan nenek serta paman.


Walau mereka sering berkata kasar ataupun berperilaku kasar terhadapku, sungguh aku sangat berterima kasih karena masih ada orang yang perduli terhadapku, sedikit tidak mereka masih mau menampung untuk merawat ku.


Kehidupan yang kujalani tak seindah realita, terkadang aku harus berusaha untuk tetap tersenyum agar tak ada orang yang tau betapa hancurnya hidup ini.


Harapanku semoga tak ada anak yang mengalami hal serupa denganku, sebab aku saja masih belum merasa kuat untuk menjalani ini semua sendiri.


Terkadang aku akan merasa sulit untuk mempercayai orang lain. sebab terlalu banyak kesakitan yang ku rasakan.


Kehidupan ku tidak seindah masa kecil teman-teman ku, terkadang aku iri melihat mereka yang bisa berkumpul dengan keluarganya sambil bercanda dan tertawa sesuka hati seolah-olah tak ada beban yang mereka alami tampa memperdulikan masalah yang sedang terjadi.


Aku begitu merindukan kasih sayang orang tuaku, terkadang aku ingin sekali rasanya berada di pelukan papa. tapi apalah dayaku semua hanyalah harapan yang tak kunjung menjadi kenyataan.


Rasanya begitu menyedihkan dengan keadaan yang ku rasakan, tapi mau bagaimana lagi itulah skenario yang telah direncanakan oleh sang penguasa. aku tidak pernah merasakan kasih sayang sang ayah seperti orang lain hal itulah yang terkadang menyesakkan dada.


Sejak kecil aku hanya diberikan kasih sayang oleh keluarga nenek. walau terkadang pendidikan yang didapatkan tak sesuai dengan kondisi yang dihadapi.


Sejak hidup di lingkungan nenek, aku di didik dengan penuh kekerasan. aku selalu sabar dalam menghadapi segala kondisi yang ku lalui.


Aku merasa kehidupan yang sedang ku jalani ini seolah-olah berada di neraka.


Terkadang aku sering berpikir bahwa allah itu tak adil dengan ku.


"Sebenarnya dulu sebelum aku terlahir ke dunia ini, aku pernah berjanji apa sama allah?" pertanyaan itu sering sekali terlintas di benakku.


Seandainya aku tahu betapa kejamnya dunia ini terhadapku, mungkin aku akan memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini.


Rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk menjalani kehidupan yang begitu keras ini.


"Aku sungguh tak kuat dengan semua ini wahai Tuhanku" itulah yang sering menjadi keluh kesah ku di dalam setiap doa yang di panjatkan seiring sholat.


Aku berharap suatu saat nanti semua penderitaan ini segera memiliki akhir. Aku merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung beban yang begitu berat ini sendiri.


"Mengapa kehidupan yang ku jalani separah ini?"


"Kapan semua ini akan segera berakhir?" gumam ku dalam hati.


Tak jarang air mata ini akan tiba-tiba menetes di sela-sela kegiatan sehari-hari.


Air mata yang terus saja keluar tanpa kompromi ini terkadang membuatku tertawa dengan realita kehidupan yang ku jalani.


Orang tua yang ku miliki seolah-olah tak perduli lagi terhadapku, mamaku memilih untuk meninggalkanku bersama dengan keluarga nenek dan memilih untuk mengikuti suami barunya.


Terbukti dengan pilihan mereka yang hanya memilih untuk mengikuti keinginan serta kemauannya semata, tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi padaku di masa yang akan datang.


Mereka terlalu egois dengan keputusannya. mereka tak pernah memikirkan dan juga memperdulikan bagaiman keadaanku serta hancurnya perasaanku.


Terkadang aku sering iri dan air mataku akan tiba-tiba menetes begitu saja saat melihat pemandangan yang menampilkan keadaan teman-teman ku yang begitu bahagia, bercanda tawa dan bahagia bersama orang tuanya.


Aku memang tidak bisa merasakan kebahagiaan bersama dengan orang tuaku, apalagi sampai bisa bercanda tawa bareng seperti teman-teman ku.


Akan tetapi aku masih bisa merasakan kehangatan serta kasih sayang yang diberikan nenek terhadapku.


Hatiku terasa begitu hancur. aku tak lagi memiliki semangat untuk hidup. rasanya lebih baik mati saja.


Aku begitu membutuhkan dukungan dari kedua orang tua dan keluargaku bukan malah mereka mencaci maki serta menjauhiku.


Terkadang aku juga sering mengatakan bahwa betapa tak adilnya Allah terhadapku.


Aku hanya ingin merasakan sedikit kebahagiaan entah itu dengan bisa berkumpul dengan orang tuaku walau hanya sesaat. namun semua itu tak pernah terjadi sama sekali.


"Hahaha... Betapa menyedihkannya aku ini" gumam ku dalam hati sambil menertawakan betapa mirisnya kehidupan yang ku jalani ini.


Begitu sulitnya aku untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari mereka. tak bisakah mereka berpaling sejenak dari rutinitasnya untuk meluangkan waktu demi memberikanku sedikit saja perhatian walau tak banyak yang bisa mereka lakukan.


Aku cukup bahagia walau hanya bisa berkumpul sementara, sedikit tidak aku pernah bareng seperti orang lain.


Selama ini aku telah mencoba begitu banyak macam cara guna mendapatkan lagi semangat intuk hidup. aku hanya ingin melihat orang tua dan keluargaku bahagia.

__ADS_1


Aku tak ingin terus menerus menjadi orang yang selalu di salahkan. serta menjadi beban kehidupan bagi mereka. aku tak ingin membuat mereka malu dengan anggapan orang lain tentangku yang penyakitan.


Dan bukan hanya itu saja, keluargaku juga sering menyalahkan ku bahwa akulah penyebab utamanya. dan tak segan-segan mereka akan mengatakan bahwa akulah sang anak penyakitan dan gila yang juga menjadi pembawa sial di kehidupan ini.


"Aku hanya ingin merasakan sebuah kebahagiaan Tuhan, bukan malah harus seperti ini terus menerus" ๐Ÿ˜ฅ


Rasanya ingin berteriak sekuat yang aku bisa agar beban yang kurasakan sedikit berkurang, tak ada orang yang bisa ku percaya untuk menceritakan semua keluh kesah ini, cukup aku percayakan semuanya terhadap sang kuasa.


"Kapan aku akan bahagia Tuhan" ๐Ÿ˜ฅ kataku dalam hati.


Aku bukanlah orang yang kuat, aku masih seorang anak-anak yang butuh bimbingan serta kasih sayang. bukan malah membuatku mencari jati diri seorang diri karena itu belum saatnya. sedikit tidak akan ada orang yang selalu menasihati dan memberikan dukungan.


Aku begitu merindukan pelukan dari orang tuaku. tapi aku juga tidak tahu kapan semua itu menjadi sebuah kenyataan.


Di lingkungan tempat tinggal ku saat itu, aku selalu saja mendapatkan perlakuan yang tak pernah adil. bahkan aku sama sekali tak bebas untuk menikmati bermain bersama teman-teman.


Terkadang aku akan menyelinap keluar agar bisa bermain. Tapi pastinya akan mendapatkan amukan nantinya kalau pulang. tapi aku tak merasa sedih dengan perlakuan mereka. betapa ketatnya aturan yang dibuatkan dirumah untukku.


Sepulang dari bermain tak dapat dibayangkan lagi betapa mengerikannya amarah yang harus diterima karena berani keluar bermain.


Paman dan kakek tak akan segan-segan untuk memukulku.


Aku harus mengikuti begitu banyak aturan yang telah dibuatkan oleh paman, jika salah satu dari peraturan tersebut tidak di patuhi, maka aku tak akan segan-segan untuk menerima pukulan.


Betapa kecewanya hatiku, saat bertemu dengan mama aku juga akan mendapatkan pukulan seolah-olah aku adalah anak yang tak diinginkan.


Mungkin benar yang dikatakan oleh mereka bahwa aku hanyalah anak pembawa sial. aku selalu saja memancing kemarahan orang lain.


Banyak pula orang yang merasa kasihan dan iba terhadapku. karena perlakuan yang ku terima. akan tetapi apalah daya mereka hanya bisa kasihan dari jauh tanpa bisa menolongku.


Di saat seperti ini, dimanakah letak aturan yang dibuatkan oleh pemerintah untuk melindungi anak dari kekerasan rumah tangga yang dialami.


Kadang saat itulah pemerintah harus berani bertindak adil dan tegas guna melindungi dan mengurangi kekerasan terhadap anak.


Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, waktu terus saja bergulir dengan begitu cepatnya. hingga hari demi hari terus berganti dengan begitu cepat.


Aku tidak dapat menikmati kebebasan di setiap detik bahkan setiap menit yang ku lalui di kehidupan ini.


Saat pulang terlambat sehabis bermain maka nenek atau kakek bahkan pamanku sendiri yang akan mencari ke rumah teman-teman.


Dan pada saat aku tengah asyiknya bermain disana, dimana aku ditemukan saat itu maka aku akan dipukul disana. hal itu tentu saja membuatku terkadang merasa malu dengan teman-teman ku.


Mereka terkadang tak ingin bermain bersama denganku sebab akan ikut dimarah karena sering dianggap mengajakku bermain.


Pernah pada suatu hari, kebetulan pada saat itu aku sedang mengikuti teman-teman bermain dan hal tak terduga pun akhirnya terjadi.


"Sedang apa kamu disini!!!" ujar pamannya dengan nada begitu keras dan tampak raut wajahnya yang begitu mengerikan. sontak saja hal itu membuatnya menjadi begitu ketakutan.


Aku begitu ketakutan saat melihat paman yang tiba-tiba muncul sambil membawa kayu seukuran telunjuk dengan panjang sekitar satu meter.


Aku terdiam dan tak mampu untuk menjawab pertanyaan yang diberikan paman terhadapku. aku sudah pasrah dengan keadaan yang harus ku terima.


Aku hanya bisa terdiam sambil menunduk dan menjatuhkan air mata, betapa takutnya aku saat itu. aku begitu membutuhkan orang untuk melindungi ku namun apalah daya tak ada orang yang mampu untuk melindungi ku walau orang tersebut ku panggil mama.


Ingin rasanya aku berusaha untuk berlari sekuat dan sejauh yang aku bisa untuk menghindari hal yang akan terjadi. namun sayang sekali paman malah menarik tanganku sehingga aku tak akan mampu untuk kemana-mana.


Beberapa pukulan pun melayang diantara kaki, tangan paha, punggung dan bahkan harus menerima tamparan juga di pipi kanan yang menjadi sasaran sang pamannya.


"Kamu ini anak yang tak tahu malu, pekerjaanmu hanya menyusahkan orang saja, kamu itu anak pembawa sial!!!"


Segala macam kata-kata yang tak pantas terus saja diucapkan oleh sang paman pada saat itu.


Aku merasa tak mampu untuk menahan rasa sakit akibat pukulan yang ku terima. belum lagi aku harus pulang dengan cara dipaksa sambil rambutku ditarik-tarik.


Sungguh betapa mengerikannya kehidupan yang harus dijalani di dunia ini, seorang anak yang harusnya diberikan kasih sayang penuh oleh kedua orang tua ataupun keluarganya yang lain, harusnya bisa merasakan kebahagiaan bukan malah menyiksanya seperti itu.


Aku hanya berusaha agar mampu untuk menahan kesakitan ini, namun rintihan serta erangan tak dapat ku hindari. lebam di berbagai tempat yang terkena pukulan tersebut hal itu juga mengakibatkan aku tak mampu berjalan dengan baik.


"Maafkan aku paman" ucapku


"Sekali lagi maafkan aku paman" sesekali ucapan itu yang terus saja terucap dari mulutku.


Aku sudah tak tahan dengan rasa sakit ini, rasanya sungguh begitu menyakitkan, ingin rasanya aku menyuruh sang kuasa untuk memanggilku untuk kembali menghadap.


Pamanku terus saja memukulku tanpa henti. tanpa memperdulikan betapa sakitnya aku saat itu.


"Aaagggrrrhhhh"


"Maafkan aku, Bisakah paman berhenti untuk memukulku" ucapku sambil terus saja menangis karena terlalu sakit.

__ADS_1


Akibat pukulan tersebut, pada kaki terdapat luka yang sampai mengeluarkan darah saking parahnya.


Di sekujur tubuhnya terdapat begitu banyak bekas luka yang berasal dari pukulan yang entah itu berasal dari paman atau pun kakek dan bahkan mamanya yang begitu kasar dan juga neneknya terkadang akan ikut untuk memukulnya.


Sungguh dunia yang begitu kejam....


Betapa sedihnya tak dapat ikut bermain dengan teman-teman.


Aku seolah-olah merasa berada di dalam penjara. jika dengan cara seperti itu setiap harinya maka aku akan lebih memilih untuk lebih baik mati ketimbang tersiksa dan harus mendapatkan perlakuan yang begitu kejam setiap harinya.


Bahkan perlakuan itu tak kunjung berakhir hingga sampai saat ini.


Begitu banyak rintangan dalam hidup ini yang harus ku lalui serta jalani, kehidupan yang begitu keras yang sudah sejak lama tak kunjung berakhir menjadi tak sanggup lagi untuk dijalani.


Aku sudah kembali ke pondok pesantren dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang aneh terjadi saat ini. hingga pada suatu hari.


Kebetulan pada saat itu tengah diadakan ruqyah massal untuk semua siswi madrasah yang berada di pondok pesantren tersebut. hal itu memancing begitu banyak siswa yang mengalami kerasukan.


Dan hingga tiba giliran ruqyah di kelasku. saat sang ustadz melantunkan ayat-ayas suci Al-Qur'an yang biasanya dijadikan sebagai ayat ruqyah seorang temanku bernama Ayu tiba-tiba saja mulai mengamuk.


Aku serta teman-teman ku yang lain merasa terkejut dengan hal itu. Ayu mengamuk begitu keras, dia bahkan melompat seperti kuda.


Ustadz tersebut menangani ayu, hingga kemudian beliau kembali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Tiba-tiba saja tubuhku seolah-olah merinding dan bulu kudukku pun mulai berdiri tanpa aba-aba.


Aku mulai merasakan hal aneh terjadi terhadapku, aku seperti merasa tak memiliki tangan dan kaki.


Air mataku mulai menetes tanpa permisi, tiba-tiba saja aku merasa begitu ketakutan saat sang ustadz memandangku dengan tatapan tajam.


Ustadz tersebut tampak begitu mengerikan seolah beliau terlihat seperti memiliki tanduk dan gigi taring yang menyeramkan saat tertawa sambil menyeringai.


Aku berusaha untuk mengontrol emosi serta kondisiku, namun apalah daya semua itu tak sanggup lagi tertahankan olehku.


Aira yang tampaknya memperhatikanku sedari tadi kini mulai memegang erat tanganku, aku melihat raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkan keadaanku.


Aira adalah sahabat terbaikku, dia selalu ada saat suka maupun duka, selalu ada saat aku membutuhkannya.


"Kau tenanglah, aku baik-baik saja" kataku sambil memberikan isyarat untuk aira.


Aira hanya mengedipkan mata sambil tersenyum dan berusaha untuk tetap menggenggam tanganku.


Aku berusaha untuk menenangkan aira dengan terus tersenyum sampai emosiku benar-benar meledak.


Aku sudah tak kuat lagi untuk menahan semua ini, aku kemudian menangis sejadi jadinya.


Sang ustadz terus saja melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an agar aku tersadar dari semua itu. namun suara beliau semakin lama menjadi semakin terdengar samar-samar.


"Bisakah kau melawannya" kata aira yang terdengar sepintas namun dengan nada yang begitu mengkhawatirkan.


Aku tahu betapa khawatir nya aira tentang keadaan yang ku alami ini. aku berusaha mencoba melantunkan ayat kursi di dalam hatiku untuk berusaha melawan yang sedang terjadi.


Apalah dayaku, kondisiku sedang tak baik-baik saja dan pada akhirnya aku harus mengalah dan pingsan.


Aku kemudian dibawa kembali oleh teman-temanku untuk menuju ruangan tempat tinggal ku.


Kebetulan ruangan di pondok pesantren tersebut kami tempati beramai-ramai, bahkan sampai sekita tiga puluhan orang dalam satu ruangan.


Manusia itu adalah ciptaan sang kuasa yang lebih tinggi derajatnya ketimbang jin. oleh sebab itu jangan sampai kita dengan mudahnya terperdaya oleh sebangsa jin.


Tapi percaya tidak percaya kerasukan oleh jin memang sering terjadi adanya. dan hal itulah yang sedang ku alami hingga saat ini.


Dan sejak saat itulah aku mampu melihat para makhluk halus yang tak mampu dilihat oleh orang lain.


Saat pertama kalinya aku dapat melihat, betapa mengerikannya yang terlihat, dari berbagai macam bentuk seperti level tak seram sampai menjadi level yang sangat menyeramkan.


Hari-hari ku lewatin dengan ketakutan, hal itu sering membuatku tiba-tiba berteriak histeris bahkan sampai pingsan diakibatkan oleh penampakan yang secara tak sengaja terlihat.


Aku berharap akan lebih baik menjadi seseorang yang normal tanpa memiliki kemampuan untuk melihat hal yang tak kasat mata seperti itu.


Aku berusaha untuk mengontrol diri dan selalu berdoa di setiap sholat agar diberikan perlindungan oleh sang maha pencipta. dan tak lupa pula untuk meningkatkan aktivitas dalam membaca Alquran agar aku bisa kuat untuk menerima kenyataan.


Setelah beberapa hari aku akhirnya terbiasa dengan berbagai macam penglihatan yang terlihat oleh mataku.


Setiap usaha tak akan mengkhianati hasilnya, dan begitu pula dengan ujian yang diberikan allah kepada setiap hambanya. Allah tak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya.


Selalu sabar dan jangan lupa untuk selalu berusaha serta berdoa agar diberikan segala kemudahan oleh allah.


Yakinlah setiap doa yang dipanjatkan akan membuahkan hasil, hanya saja kita harus terus menerus mengulanginya.

__ADS_1


Ketika kamu mengulang Doa untuk meminta sesuatu, Sejatinya kita sedang mengetuk pintu langit berkali-kali.


Maka teruslah untuk mengetuk pintu tersebut guna untuk memastikan bahwa kamu masih berada di depan pintu itu dikala Allah membukakan pintuNya.


__ADS_2