
Pada hari itu ada seorang temanku yang ikut pulang ke rumah, akan tetapi saat kami pulang dari pondok pesantren tidak melakukan izin melainkan kami bolos. Kami menggunakan ojek untuk pulang, sesampainya di rumah aku disambut oleh nenek.
"Assalamualaikum" kami mengucapkan salam bersamaan dan sambilan membuka sepatu.
"Waalaikumussalam" kata nenek menjawab
"Ada apa kalian pulang?" kata nenek
"Aku sedang kurang sehat, makanya pulang dan diantarkan temanku ini" jawabku seadanya karena aku terlalu malas untuk basa basi.
Tiba-tiba dari arah dapur keluar bibik yang terlihat tengah begitu sibuk mungkin habis memasak untuk makan malam.
"Kapan kalian datang?" tanya bibik
"Kami baru saja sampai?" kata temenku
"Baiklah, sekarang kalian lebih baik mandi dan beristirahat karena kalian pasti capek dengan perjalanan yang lumayan jauh" kata bibik
"Baik bibik" kataku
Kemudian bibik berlalu ke dalam dan setelah beberapa menit lamanya akhirnya kembali sambil membawakan kami pakaian ganti agar kami lebih cepat untuk membersihkan diri.
"Apakah kalian sudah izin di pondok pesantren untuk pulang?" tanya bibik menambahkan sebelum kembali berlalu ke dapur.
Sesampainya di rumah ada begitu banyak pertanyaan muncul yang ditanyakan oleh orang-orang itu, akan tetapi saat kami ditanya aku hanya mengatakan kami sudah izin untuk pulang.
Sekitar pukul enam sore tiba-tiba saja ada seorang guru yang menelepon ke rumah dan mengatakan bahwa kami tidak ada di pondok pesantren dan paman ku mengatakan kami sudah berada di rumah. hal itu menimbulkan pernyataan bahwa kami tak izin pulang sehingga ada beberapa guru yang sedang mencari kami.
Setelah mendengar semua itu sang guru yang bertanggung jawab di pondok pesantren tersebut merasa begitu lega saat mendengar jawaban bahwa kami berada di rumah akan tetapi masalah kemudian mulai muncul.
Saat temanku tengah mandi aku dipanggil oleh paman dan dimarah karena ketahuan berbohong mengenai izin pulang.
"Alya!!! Kesini kamu!" Teriak paman
Kebetulan aku sedang berada di teras rumah duduk santai sambil menunggu temanku yang masih mandi, setelah mendengar teriakan paman ku tersebut maka aku segera menghampiri beliau.
"Iya paman, ada apa? kataku seolah-olah seperti tak ada masalah sama sekali.
"Kamu kenapa tidak izin sebelum pulang! kata paman sambil melayangkan satu buah tamparan di pipi kananku
"Maafkan aku paman" kataku sambil memegang pipiku yang terasa begitu sakit
"Maaf maaf tidak akan bisa menyelesaikan masalah" katanya lagi
Aku tak menjawab lagi namun hanya bisa diam sambil menundukkan kepala, tak terasa air mataku mulai berjatuhan.
Pamanku segera berlalu dan aku menghapus air mataku seolah tak pernah terjadi sesuatu sebab aku tak ingin ketauan oleh temanku itu betapa mengerikannya kehidupan dirumah ini.
Tak lama setelah paman pergi, temanku segera datang menghampiriku dan mencoba mengajakku untuk jalan-jalan sore sambil menikmati pemandangan desaku ini.
"Al, ajakin aku jalan dong" kata temanku yang namanya husna
"Kita mau jalan-jalan kemana?" kataku
"Disini tak ada tujuan buat jalan, maklumlah disini kan desa terpencil" jawabku
"Hmmm..." Jawab husna
"Kalau begitu dimana kita belanja?" tanya husna lagi
"Ayo ikut aku!" kataku
Aku segera mengajak husna pergi berbelanja ke sebuah toko yang berada sekitar tiga ratusan meter dari rumah.
Sebelum sampai toko itu di perjalanan kami malah menemukan beberapa orang pemuda yang tengah nongkrong.
"Hay al" Sapa salah seorang dari mereka
"Iya, ada apa?" kataku
__ADS_1
"Salam sama temanmu itu" kata salah seorang lagi
"Ngapain nitip salam toh juga orangnya sudah dengar sendiri" kataku
"Hehe" kata pemuda yang tadi meminta di sampaikan salam ke husna itu.
Setelah berbicara panjang lebar menanggapi pertanyaan dari para pemuda itu kami pun segera berlalu karena tak ingin telat pulang nantinya. aku sendiri tak ingin husna ikutan terkena amarah keluargaku.
Setelah membeli beberapa snack kami segera pulang dari arah yang berbeda dengan jalan yang tadi, karena aku tak ingin mendapatkan hambatan dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh para pemuda yang sedang nongkrong itu.
Sesampainya dirumah saat itu, aku justru dimarahi habis-habisan oleh pamanku. Dan hanya nenek lah yang selalu memberikan ku perlindungan, akan tetapi aku juga sering menerima pukulan dari nenek. Tapi walau demikian aku selalu memaklumi jika nenek memarahiku. Sebab aku menyadari ada begitu banyak kesalahan yang telah ku lakukan. Dan hanya kakek dan nenek yang selalu ada untukku.
Sedangkan Mama begitu sibuk dengan urusannya, terkadang saat Mama kembali ke rumah nenek beliau juga justru tak akan segan-segan untuk marah terhadapku.
Mama juga tak akan segan-segan untuk memukul ku dan kalau pun aku sudah besar, aku masih saja tetap dipukul dan diperlakukan tak adil oleh mereka.
Terkadang aku merasa iri dengan kehidupan teman-temanku yang begitu bahagia nya, bebas bermain dan tak banyak diatur. Sedangkan aku masih sering dimarahi oleh mereka walau sudah mulai beranjak remaja.
Jujur saja terkadang hal itu membuatku merasa begitu malu saat bertemu dengan teman-teman ku karena keluargaku tak akan memandang tempat untuk memukulku.
Tak seperti teman-teman ku yang bebas berada dalam keluarganya yang tak pernah mengekang kebebasan mereka, sedangkan keluargaku akan begitu banyak memiliki aturan-aturan.
Rata-rata keluarga temanku bukanlah orang yang protektif mereka tak mengekang dan justru malah membebaskan anak-anaknya untuk bermain, sedangkan aku untuk pergi bermain saja susah apalagi aku juga sering menyelinap untuk pergi bermain dengan cara diam-diam maka nantinya saat aku kembali maka aku akan mendapatkan masalah yang harus ku tanggung sebagai akibat dari perbuatan ku yang berani pergi bermain dengan cara diam-diam.
Bukan hanya akan kena marah melainkan aku juga akan mendapatkan beberapa pukulan yang tak memandang tempat.
Aku juga sering dipukul di tempat umum saat dimana aku ditemukan sedang bermain dan begitu pula dengan halnya dirumah aku akan mendapatkan pukulan yang lebih parahnya lagi.
Saat aku dirumah juga terdapat begitu banyak luka yang ku terima. dan terkadang hal itu sering terbayangkan sehingga akan muncul secara tiba-tiba perasaan takut.
Hal itu juga membuat mental ku menjadi pengecut bukan hanya itu saja yang menjadi ketakutan ku akan tetapi beberapa kejadian yang lebih parah membuatku begitu terpukul dengan semua itu.
Aku begitu merindukan kehidupan bahagia, membayangkan betapa bahagianya dikala melihat tawa canda keluarga yang tampak begitu akrab, terkadang setiap kali aku melihat keluarga teman-temanku yang sedang asyik bercengkrama maka akan timbul perasaan yang iri terhadap mereka yang selalu saja terlihat bahagia saat berkumpul bersama dengan keluarganya, seolah-olah seperti tak pernah ada masalah yang terjadi di kehidupan mereka.
Sedangkan aku, di lingkungan keluargaku yang tampak begitu rumit, aku selalu saja mendapatkan masalah entah itu hanya karena hal sepele ataupun dengan masalah yang begitu berat sekalipun.
Sejak aku kecil hingga saat ini aku sudah berada di pondok pesantren, perlakuan keluarga ku tak pernah berubah. Aku selalu saja mendapatkan pukulan di seluruh anggota tubuhku bahkan mereka tak akan segan-segan memukul ku dengan kayu ataupun jua sapu sekalipun.
"Kapankah aku akan dapat menemukan kehidupan yang lebih bahagia bukan kehidupan yang terus saja di kekang tanpa bisa melakukan hal yang kuinginkan sesuka hati" kataku dalam hati
Terkadang aku begitu menginginkan sebuah kebebasan dalam artian bukan kebebasan yang melanggar melainkan sebuah kebebasan dalam bersikap serta melakukan sesuatu yang baru.
Aku ingin mengikuti berbagai macam kegiatan seperti layaknya anak-anak pada umumnya agar aku tahu bagaimana kehidupan di luar sana nantinya.
"Apakah aku akan mampu untuk menjalani dan menyelesaikan setiap masalah yang ku temui diluar sana?" gumam ku dalam hati
Agar aku tak seperti anak rumahan yang cengeng dan terus-menerus bergantung pada orang tua ataupun keluarga yang lain dan hingga sampai pada akhirnya aku tak tahu bagaimana cara guna untuk menyelesaikan masalah yang ku tempuh di luar sana.
Aku berharap keluargaku memahami setiap keinginan yang ku miliki dan bukan hanya terus menerus bersikap seenaknya saja seperti ini.
Aku tahu semua yang mereka lakukan itu demi kebaikanku, Akan tetapi mereka tak pernah memikirkan bagaimana perasaanku yang menerima semua itu.
Dan cara mereka juga salah dan harusnya ada sedikit cara yang berbeda yang akan mereka lakukan bukan dengan cara yang selalu memakai kekerasan.
Dan seharusnya mereka juga bisa berpikir bahwa apakah aku bisa menerima semua itu atau tidak karena bukan hanya mental saja yang terganggu melainkan banyak sekali ketakutan-ketakutan yang sering muncul akibat terlalu banyaknya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dan keluarga yang telah ku terima.
Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan kelas delapan dan akan segera naik untuk memasuki kelas sembilan.
Aku sudah memikirkan begitu banyak hal dan membayangkan betapa indahnya jika suatu hari nanti aku akan meninggalkan pondok pesantren ini dan tak lagi terikat dengan banyaknya aturan yang dibuatkan.
Aku memang termasuk kategori anak yang bandel dan suka sekali melanggar aturan yang telah dibuatkan, akan tetapi percayalah bahwa aku sebenarnya tidak seperti itu.
Setelah kelulusan aku akan memulai sekolah di tempat yang baru. Sebuah sekolah negeri yang lokasinya tak jauh dari desaku, Serta beberapa harapan mengenai apa yang telah aku dapatkan di pondok pesantren bisa aku terapkan disana nantinya.
Semoga saja hal itu memberikan nilai plus yang bisa aku dapatkan saat berada di sekolah Menengah Atas nantinya.
Aku dan Aira sering melakukan kegiatan tugas bersama, dan terkadang juga akan meminta bantuan dari teman-teman yang lain untuk diajarkan terkait beberapa materi yang belum ku pahami sehingga nantinya saat guru memberikan tugas aku sudah mampu untuk memahami.
Seperti itulah sebuah kemudahan saat mengerjakan beberapa tugas yang tak kami bisa akan ada banyak teman-teman yang dengan senang hati mengajarkan.
__ADS_1
Keesokan harinya saat kami diantar kembali ke pondok pesantren dan saat itulah kami mulai disidang dan mendapatkan hukuman di sana.
Tanpa terasa hari telah berlalu dengan begitu cepatnya tanpa terasa Aku sudah berada di kelas sembilan dan sebentar lagi aku akan lulus dan segera melanjutkan sekolah ke sekolah menengah atas.
Tapi sebelum itu semua sampai ada begitu banyak sekali rentetan kejadian yang terjadi yang bukan hanya menimpa ku melainkan menimpa teman-temanku yang lain juga.
Mungkin inilah yang dinamakan ujian dari sang kuasa tatkala sedang berada di penghujung untuk menerima kelulusan.
Begitu banyak masalah yang muncul yang tak bisa ku atasi, bahkan aku yang sudah mulai terbawa arus oleh teman-temanku dan kini aku sudah begitu banyak berubah bahkan menjadi sedikit tidak mentaati aturan dan juga banyak sekali aturan yang mulai aku langgar.
Entahlah aku juga tak tahu dengan apa yang aku pikirkan, hanya saja aku hanya memikirkan kebahagiaan saat itu saja tampa memperdulikan hasil akhirnya.
Terkadang aku juga akan melakukan bolos sekolah hanya untuk beberapa hal sepele, begitupun juga dengan teman-temanku. Jika mereka malas untuk bersekolah maka mereka akan membuat berbagai macam alasan agar tidak mengikuti pelajaran di sekolah.
Bukan hanya aku saja yang mulai banyak melanggar aturan melainkan aira juga ikut masuk dalam jeratan masalah tersebut, aku dan aira terlihat seperti biasa mengikuti beberapa kegiatan di sekolah karena sebentar lagi akan mengikuti uji coba.
Banyak orang-orang yang mengenalku tampak begitu menyayangkan sikap ku yang begitu berubah drastis seolah-olah bukan aku.
Terkadang jika ada orang yang menasehati ku, aku sering tidak begitu peduli dengan perkataan orang lain, aku hanya sibuk dengan dunia ku sendiri tanpa mendengarkan apa yang dinasehati oleh orang lain.
Semuanya tak berjalan sesuai dengan yang ku inginkan akan tetapi saat ujian dimulai aku mengikuti beberapa ujian seperti biasa hingga pada akhirnya aku harus dikeluarkan dan mendapatkan ujian Nasional bersyarat.
Setelah melalui beberapa tahap pemanggilan wali oleh guruku di sekolah hingga akhirnya guruku yang begitu kasihan terhadap mamaku.
Karena aku sudah begitu banyak melanggar aturan dan bahkan sekitar dua puluhan orang santri harus menerima hukuman termasuk aku dan juga aira.
Aku sampai harus menanggung malu karena dikeluarkan dari sekolah dan pondok pesantren akibat perbuatan ku.
Walau aku hanya menerima ujian bersyarat, hal itu cukup membuatku bahagia karena tak akan kehilangan sekolah yang begitu cepat.
Dan aku juga harus meninggalkan pondok pesantren setelah itu aku baru bisa kembali ke sana satu hari sebelum ujian.
Dan setelah menggunakan kesabaran itu untuk menunggu sampai waktu yang telah ditentukan tiba. hingga pada akhirnya kesabaran itu pasti akan memiliki hasil.
Saatnya telah tiba untuk ujian nasional dan aku baru bisa kembali ke pondok pesantren hanya untuk mengikuti ujian nasional saja dan setelah itu dibebaskan untuk pulang.
POV Alya
Sebelum aku dikeluarkan dari pondok pesantren, aku dan Teman-temanku yang saat itu bolos keluar hingga sampai tidak pulang ke asrama. hal itulah yang membuat terjadinya masalah dan mengakibatkan kami tak bisa kembali pada waktu yang sudah sepakat kami rencanakan.
Saat diluar aku dan beberapa orang teman ku tak tahu harus tinggal di mana saat itu karena kami keluar dari pondok pesantren tanpa seizin para pengurus pondok pesantren dan juga tanpa sepengetahuan mereka.
Kami terlalu sibuk menikmati indahnya dunia di luar tanpa memikirkan sebab akibat yang akan terjadi nantinya di pondok pesantren oleh sebab itu setelah malam harinya kami tak tahu bagaimana caranya untuk kembali ke pondok pesantren. oleh sebab itu kami memutuskan untuk menginap di rumah seorang pedagang yang biasanya masuk ke pondok pesantren tersebut.
Namun masalah baru mulai muncul dikarenakan ada orang yang tidak suka dengan pedagang yang membantu kami tersebut, sehingga orang itu justru melaporkan tentang keberadaan kami yang berada di rumah pedagang tersebut.
Sontak saja hal itu menyeret pedagang tersebut kedalam masalah yang kami ciptakan. Dan keesokan paginya kami dipanggil oleh pemilik pondok pesantren dan di sidang.
Sekitar beberapa orang yang melanggar aturan itu kemudian segera dipanggil untuk menghadap akan tetapi hanya aku sendiri yang harus menerima ujian bersyarat, sedangkan yang lainnya masih dimaklumi hal itu tentu saja tak adil bagiku bukan hanya mencoreng nama keluargaku tapi aku juga pasti akan dimarahi habis-habisan oleh orang tuaku terutama pamanku.
Terserah orang lain mau berpikiran apa tentangku yang jelas bukan tanpa sebab aku melakukan semua itu hanya saja Aku ingin mereka lebih memperhatikan ku, bukan malah mereka terus-terusan terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing tanpa memperdulikan bagaimana keadaanku serta perasaanku yang sudah begitu tersiksa ini.
Aku tak meminta begitu banyak hal dari keluargaku terutama orang tuaku. Aku hanya ingin mereka lebih perhatian terhadap ku, jujur aku merasa begitu malu atas kejadian ini tapi mau bagaimana lagi itulah yang harus aku dapatkan karena aku melakukan begitu banyak kesalahan sehingga hal itu pantas untuk ku dapatkan.
Saat aku dijemput untuk pulang, semua barang-barang ku dikeluarkan dibantu oleh beberapa orang temanku dan aku akan langsung membawanya untuk pulang karena besok waktu aku kembali pada satu hari sebelum ujian dilaksanakan.
Aku hanya akan kembali untuk ujian nasional saja dan itupun hanya beberapa hari saja dan setelah itu selesai maka aku akan pulang bebas tanpa izin dan tak akan ada orang yang melarang ku seperti yang lainnya.
Sesampainya di rumah Saat itu, mama justru malah membawaku pulang ke rumahnya bukan membawaku pulang ke rumah nenek.
"Aku begitu malu dengan semua perbuatan yang kamu lakukan alya" kata mama sambil terus menghapus air mata yang tak mampu dihentikan.
Aku merasakan betapa sedih dan malunya mama atas semua kelakuanku yang telah membuat keluarga malu. namun aku hanya mampu minta maaf dalam hati karena aku tak memiliki keberanian sama sekali.
Mama berkata bahwa hal ini terlalu memalukan karena aku sampai dikeluarkan dari pondok pesantren dan juga mama tidak mampu untuk menahan semua perkataan orang lain mengenai aku yang sudah dikeluarkan dari pondok karena aku terlalu nakal dan tak bisa diatur itulah yang membuatnya membawaku untuk pulang ke rumahnya dan mencoba menyembunyikan hal yang terjadi sesungguhnya.
"Maafkan aku mama telah membuatmu kecewa dan begitu sedih, maafkan aku yang belum bisa menjadi anak yang baik seperti keinginan mu" kataku dalam hati
Seperti biasanya aku menjalani hari-hariku seperti layaknya orang lain akan tetapi banyak orang yang mempertanyakan dan ada juga yang mulai mencaci maki ku.
__ADS_1
Orang lain hanya bisa mengomentari saja melainkan mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan jadi jangan mengomentari orang sebab semua itu sering tak sesuai dengan realita mereka hanya melihat saja namun tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Keseharian ku selain sibuk dengan urusan rumah aku juga membantu orang tuaku pergi ke sawah untuk mengerjakan apapun yang bisa ku kerjakan disana, dan aku juga bermain seperti biasanya bersama dengan anak-anak tetangga ku seolah-olah tak terjadi apapun denganku.