
POV Berkabut dalam Kesedihan
Hari-hari ku lalui dengan suka dan duka. Sesedih apapun yang aku alami namun orang lain tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Yang mereka tahu aku orang yang tak pernah memiliki kekurangan apapun, aku selalu hidup berkecukupan dan tak pernah sama sekali terlihat sedih karena memang aku begitu pintar untuk menyembunyikan siapa sebenarnya aku ini dan perasaanku ini seperti apa hancurnya.
Aku memang selalu terlihat bahagia seolah-olah tak pernah ada kesedihan atau penderitaan yang terjadi dalam kehidupanku. Namun semua orang salah telah menilai ku seperti itu.
Aku yakin saat orang tersebut tau tentangku yang sesungguhnya, mereka pasti akan menangis. Namun aku sama sekali tak ingin melihat orang lain menatapku menjadi orang yang begitu menyedihkan oleh sebab itulah aku lebih banyak menutup diri kepada orang lain.
Hanya orang-orang terdekat yang mengenalku, bagaimana aku yang sebenarnya dan bagaimana kehidupan ku yang begitu rumit ini.
Aku memang terlihat seperti seorang wanita yang kuat dan tangguh, itulah pujian yang selalu di ucapkan orang-orang yang telah mengetahui tentangku yang sesungguhnya.
Akan tetapi ketahuilah betapa rapuhnya aku yang tak memiliki sandaran yang kokoh untuk melindungi ku, jujur aku merasa begitu kesepian dengan semua yang ku alami.
Aku tak butuh untuk dikasihani serta ditangisi. Cukup jadikan kisah ku ini sebagai panutan untuk hidup kalian kelak bersama dengan keluarga kalian.
Jadikan kisah ini menjadi semangat untuk kalian yang menjalani hidup agar tak mudah untuk putus asa dalam menjalankan kehidupan yang begitu rumit ini. Yakinlah akan ada hari esok dimana kebahagiaan itu akan berpihak kepadamu.
"Aku tak ingin orang lain merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan ini terjadi padanya, sebab jika kalian tak sekuat aku untuk menjalani itu semua, mungkin saja kalian akan memilih untuk mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup ini". itulah pesan yang sering kali ku katakan pada orang-orang terdekatku.
Sejujurnya aku tak ingin mereka merasakan bagaimana sedihnya aku untuk bertahan hidup dengan penuh luka bahkan sampai aku dewasa nanti luka itu tak akan mampu untuk hilang, hal itu akan menjadi sebuah ketakutan yang paling sering menghantui di setiap perjalanan ku sehari-hari.
Jangan sampai jika kalian mempunyai anak, lalu kalian malah seenaknya saja meninggalkan anak tersebut, tampa memikirkan dampak serta masa depan anak tersebut akan seperti apa nantinya.
Belum lagi dengan betapa hancurnya perasaan anak itu tatkala kalian tak memperdulikan lagi.
“Sesakit apapun derita yang kamu rasakan, teruslah untuk tersenyum, karena dengan senyuman orang tak akan tahu betapa sedihnya dirimu melainkan orang hanya tahu bahwa kamu bahagia”
“Tersenyumlah sebanyak yang kalian inginkan, karena orang lain tak pernah tahu makna di balik senyuman tersebut”
Malam itu bertepatan dengan malam rabu, nenekku dipanggil untuk kembali oleh sang maha kuasa, aku baru saja mulai terlelap bersama istri paman dan juga anaknya.
Tengah malamnya aku di bangunkan oleh bibi dan kebetulan saat itu nenek tidur di kamarku bersama dengan mamaku.
"Nak bangun" kata bibiku sambil menggerakkan tubuhku
"Iya bik, ini aku bangun"
"Ayo lihat nenekmu setelah itu berkemas kita akan berangkat!" kata bibiku
"Nenekmu sudah meninggalkan kita semua sekarang" tambah bibiku lagi
"Apa?" kataku
__ADS_1
Aku masih belum mempercayai semua yang dikatakan bibiku, aku kemudian bergegas untuk ke kamarku dan melihat keadaan nenek, disana terlihat mamaku memangku nenek.
"Nenek telah pergi, lalu siapa lagi yang akan melindungi ku" kataku dalam hati
Pikiran dan perasaanku hancur tak karuan, aku masih belum bisa menerima semua kenyataan pahit ini.
Air mataku terus saja jatuh dan tak dapat ku tahan lagi, saat ini aku benar-benar kacau, aku sudah tak mampu lagi untuk memikirkan keadaanku yang akan seperti apa di masa depan nanti tampa nenek.
Karena nenek adalah pahlawan yang ku punya, beliau yang merawat ku sejak mama bercerai dan walau aku sering dimarah oleh beliau aku selalu memaklumi.
Rasanya aku ingin Tuhan membawaku untuk ikut bersama nenek, aku tidak kuat untuk bertahan di dunia ini, sebab sang malaikat pelindungku telah kembali lebih awal kepada sang pemilik langit dan bumi.
"Tuhan... ambil saja nyawaku, aku ingin ikut bersama nenek" gumam ku
Tangisan demi tangisan terdengar namun aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri saat itu, aku tidak begitu memperdulikan orang-orang yang mulai ikut menangis.
Aku tidak perduli dengan orang lain, seolah olah seperti masa bodoh dengan mereka, aku hanya memikirkan bagaimana kehidupanku selanjutnya setelah tak ada lagi nenek.
Aku percaya walau nenek sering memarahiku namun nenek tetap menyayangi ku.
"Sudahlah nak, jangan terus seperti itu" kata bibiku
"Ayo sekarang segera berkemas!" kata mama
Di dalam perjalanan, aku kebetulan ikut di dalam ambulans bersama dengan mama untuk menemani nenek.
Selama di perjalanan, pikiranku meratap jauh kedepan akan seperti apa kehidupan ku yang terasa begitu hancur tanpa ada nenek, karena nenek lah orang yang selalu melindungiku dalam keadaan apapun.
Aku merasa benar-benar kehilangan sosok malaikat yang selalu melindungi ku, hatiku benar-benar hancur dan rapuh tak ada lagi orang yang bisa kupercaya untuk melindungiku selain nenek.
Aku hanya bisa memasrahkan keadaan kepada Tuhan sebab dialah pemilik segalanya dan kita juga akan kembali kepadanya.
Nenek saat kau pergi meninggalkanku, kemana arah yang akan aku tempuh aku begitu bingung dengan semua ini. Aku tidak tahu harus kemana lagi, aku tak tahu arah yang akan ku ambil 😭
Kau satu-satunya orang yang ku miliki selama ini, kau yang selalu merawatku hingga saat ini, engkau juga sebagai malaikat yang selalu melindungi ku dalam keadaan apapun.
Engkau selalu ada untukku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini, Aku benar-benar kehilanganmu 😭
Seandainya Tuhan mengizinkan ku untuk ikut bersamamu maka aku akan memilih untuk ikut. Aku ingin lebih cepat untuk kembali padanya agar aku tak melihat bagaimana hancurnya hidupku kedepannya nanti😭
Aku berharap aku mampu menjadi orang yang lebih baik namun aku begitu tak berdaya dengan semua ini. Rasanya dunia ku benar-benar hancur seketika itu juga.
Kesedihanku tak mampu lagi ku sembunyikan, aku merasakan benar-benar terpukul dengan kepergian nenek.
Hari ini aku benar-benar kehilangan nenekku untuk selama-lamanya. Aku masih belum percaya karena baru kemarin kami bercanda tawa bersama namun malam harinya nenek telah dipanggil oleh sang khalik untuk kembali kepadanya.
__ADS_1
Nenek orang yang merawatku sejak kecil hingga aku beranjak remaja, bahkan nenek yang selalu melindungiku, tatkala aku dipukuli oleh paman ataupun kakek.
Nenek selalu melindungi ku dalam segala hal, mulai dari amukan paman yang seringkali memukuliku bahkan juga kakek yang sering ikut memukuli ku.
Namun aku selalu bisa memaklumi semua itu, aku selalu sabar dalam menghadapi perlakuan mereka, lagipula tak ada gunanya juga aku minta tolong, sebab tak akan ada orang yang bisa menolongku.
Orang hanya akan menatapku dengan tatapan kasihan tanpa mampu melakukan apapun untuk membantuku.
Bukannya mereka tak ingin membantuku hanya saja mereka tak ingin ikut campur dalam masalahku. aku juga tak ingin mereka menjadi sasaran paman.
Pernah saat itu semasih aku sekolah di pondok pesantren, kebetulan hari itu aku akan pulang dari pondok pesantren. Sesampainya di rumah paman memukuliku karena terlanjur kesal denganku.
Selain wajahku yang menjadi sasaran amukan kemarahan paman, saat itu juga perutku mengalami tendangan yang cukup keras walau itu semua sangat menyakitkan untukku, aku hanya mampu untuk menangis sambil memegang perutku.
Rasanya aku ingin mati saja kalau terus-terusan diperlakukan seperti ini, mungkin besarnya nanti aku akan menjadi orang cacat akibat kekerasan yang ku terima.
Begitu banyak kesakitan dan kekerasan yang kuterima dari sejak kecil. Hingga sampa saat ini berbagai hal yang ku terima saat kecil itu masih saja sering menghantuiku bahkan bayangan itu terus saja datang membuatku merasa khawatir dan ketakutan.
Mungkin inilah yang dinamakan trauma yang berlebihan, jikalau aku terlalu khawatir akan sesuatu maka sering kali ketakutan berlebihan itu akan muncul sehingga aku tak akan mampu untuk mengontrol diriku sendiri.
Itulah sebabnya aku lebih baik menjadi orang yang pendiam, agar orang lain tak tau tentangku yang sesungguhnya.
Bukannya aku takut untuk diketahui siapa aku sebenarnya hanya saja aku tak ingin mereka malah mengejekku.
Hal itu selalu saja membuatku merasa begitu kepikiran dengan semua yang ku alami kala itu, jujur aku merasakan trauma yang begitu besar, seharusnya dulu aku mendapatkan perlindungan dari pemerintah namun apalah daya pemerintah tidak pernah terjun ke lapangan untuk lebih memperhatikan anak-anak saat itu.
Aku hanya bisa pasrah untuk menerima semua itu, lagi pula tak akan ada orang yang mau membantuku, sebab siapapun yang membantuku maka dia akan berurusan dengan pamanku.
Pamanku sangat tidak menyukai orang yang ikut campur dalam hal mendidik keluarganya baik itu cara mendidik ataupun caranya melakukan kekerasan terhadapku.
Didalam keluarga ini seringkali anak-anak dididik dengan begitu keras, tampa mereka memperdulikan bagaimana perasaan anak itu.
Seharusnya mereka memberikan pendidikan selayaknya anak-anak pada umumnya, bukan hanya memberikan kekerasan.
Jika memang yang dilakukan itu salah seharusnya mereka sebagai orang tua mengajarkan dan menegurnya dengan lembut bukan malah memberikan kekerasan terus.
Mau sampai kapan anak-anak akan terus mendapatkan kekerasan, jika seperti itu akan ada banyak anak yang melakukan bunuh diri akibat frustasi dengan perlakuan yang diterima dari keluarnya sendiri.
Seharusnya keluarga yang mereka harapkan sebagai pelindung namun semuanya tak sesuai dengan yang diharapkan.
Seharusnya anak-anak diasuh dengan lemah lembut agar anak itu tidak merasa tertekan dengan semua itu, namun semua tak pernah sesuai dengan realita.
Terlalu banyak hal menyakitkan yang diterima sehingga seringkali muncul ketakutan yang berlebihan terhadap anak.
Hal itu juga yang terjadi padaku. Bahkan ketika ada urusan yang begitu mendesak, aku sering kali berkeringat dingin yang tak bisa diajak berdiskusi dan juga akan muncul begitu banyak ketakutan yang kurasakan bahkan tak jarang aku juga akan mengalami kekhawatiran yang berlebihan sehingga aku sulit untuk mengontrol ketakutan yang ku miliki.
__ADS_1