
Pondok Pesantren
Begitu banyak lika liku yang harus ku hadapi di pondok pesantren. Bertemu dengan beberapa orang baru yang tampak tak bersahabat denganku. Bahkan tak segan-segan mereka akan memusuhiku.
Aku selalu bersabar dalam menghadapi teman-temanku. Aku percaya suatu hari mereka akan berubah dan akan bersikap baik terhadapku.
Aku menjalani hari-hariku dengan berbagai macam ritual peraturan yang harus ku taati, bahkan tak jarang peraturan itu sering kami langgar.
‘’Mengapa peraturan itu dibuat jika hanya untuk dilanggar?’’ itulah yang sering terlintas dalam pikiran ini
Di sekolah aku memiliki seorang guru wanita yang begitu galak, guru tersebut sering kali melakukan bulian terhadap anak-anak didiknya.
Bahkan guru tersebut tak akan segan untuk melalukan kekerasan terhadap anak muridnya.
Sebut saja nama guru itu Bu Mawar. Mawar merupakan sebuah nama yang begitu indah. Jika dilihat dari nama bunga, mawar memiliki keindahan yang luar biasa cantiknya namun semua itu berbanding terbalik dengan sikap yang dimiliki oleh bu mawar.
Bahkan pernah terjadi di suatu hari telingaku di jewer karena sebab ditemukan berada diluar ruangan kelas. Tapi waktu itu aku hanya izin sebentar untuk pergi ke kamar mandi tapi malah bertemu dengan monster wanita yang galak ini.
‘’Hei kamu alya, cepat kesini!!!!
‘’Iya maaf bu, apakah ibu memanggilku?’’ dengan tampak rupa yang begitu polos.
Saat itu aku merasa sedikit takut karena sudah pasti akan kena amukan oleh bu mawar. Sebab bu mawar merupakan seorang guru yang paling ditakutkan.
‘’Kamu ini alya ngapain sih keluyuran terus pada saat jam pelajaran, seharusnya kamu itu yang rajin dan bukan malah keluyuran dengan bahagianya disaat gurumu tidak ada’’. Kata bu mawar
‘’Aku bukannya keluyuran bu, aku tadi sudah meminta izin kepada guruku yang sedang memiliki jam dikelas untuk ke kamar kecil’’ jawabku seadanya karena aku terlalu malas untuk menghabiskan waktu berdebat dengan bu mawar, sebab tak ada gunanya memberikan alasan dia orang yang sangat sulit untuk percaya.
‘’Sekarang cepat kembali ke kelas mu’’ katanya lagi
‘’Baik bu’’ jawabku sambil berlalu cuek
Bukan aku tak menghormati guruku yang satu ini, justru aku sangat menghormati semua guru-guruku tanpa membedakan. Tapi aku begitu membenci sikapnya yang bukannya membuat anak didiknya nyaman malah membuat anak didiknya tak nyaman dan takut saat bertemu dengannya.
Setiap anak didik pasti pernah melakukan kesalahan bahkan kesan yang kurang enak di hati, akan tetapi guru juga seperti itu. Kadang guru juga tak akan luput dari berbagai kesalahan.
Aku kembali menuju kelas dan tak menemukan guruku di sana, bahkan teman-temanku malah sedang asik ngegosip.
‘’Aira apakah guru kita hari ini hadir?’’ tanyaku
‘’sepertinya kita disuruh untuk menunggu sekitar lima belasan menit, jika dalam waktu itu tak dating maka kita diperbolehkan untuk istirahat sebab ada yang sibuk untuk dikerjakannya’’ jawab aira
‘’owalah’’. Jawabku
‘’Eh asal kau tahu aira, tadi aku bertemu dengan si galak perawan tua itu’’ kataku
Hal itu mengundang beberapa temanku yang lain merasa penasaran.
‘’kau ketemu dimana?’’ Tanya indri
‘’iya kau ketemu dimana?’’ Tanya neni yang tampak begitu antusias ingin mendengarkan ceritaku.
‘’ tadi saat aku sedang pergi ke kamar mandi” jawabku
“lalu” kata aira
“terus, bagaimana selanjutnya?” kata indri
“dia malah marah-marah terhadapku, kan aku hanya izin ke kamar kecil apalagi kalau aku sampai izin yang lain” kataku sambil tertawa
Hal itu membuat kami berempat tertawa begitu keras sehingga mengundang banyak mata yang melihat dan ada juga yang malah menimpali kelakuan kami.
‘’Kalian menertawakan apa sih?’’ Tanya ketua kelas
__ADS_1
“kau jangan ikutan kepo buket, sebab kau kan murid yang paling teladan” jawab indri
“ingat jangan tertawa terlalu keras nanti mengundang si perawan tua datang” jawab ani
Kamipun hanya saling memandang dengan kata-kata si ani sebab dia seorang siswi yang tak suka melihat keributan apalagi hal itu dapat memancing si guru wanita yang galak itu datang menghampiri kami sehingga seisi kelas akan kena marah.
Aku kembali sibuk dengan rutinitas membaca sebuah novel yang aku pinjam dari aira. Novel ini begitu seru dan terkadang juga akan membuat kita tersenyum karena memiliki begitu banyak kejutan yang romantis terjadi di buku tersebut.
Seolah sedang mengalami sendiri kejadian tersebut membuatku tak menyadari semua hal yang sedang terjadi, aku begitu asyik dengan duniaku sendiri.
Aku sedang membayangkan jika suatu hari bisa bertemu dengan seorang pria tampan dengan tubuh yang atletis serta memiliki wajah yang begitu indah sehingga sulit untuk bisa berpaling walau hanya dalam satu detik saja.
Akan tetapi pada kenyataannya semua itu hanyalah khayalan belaka di kehidupan nyata jarang sekali kita menemukan seorang pria tampan yang seperti itu, apalagi dengan memiliki kekayaan yang super kaya sehingga hal itu tak jarang akan membuatnya menjadi seorang yang paling terhormat dan banyak disegani sebab memiliki segalanya.
Namun terkadang di kehidupan nyata ini mereka yang memiliki ketampanan dan kekayaan yang cukup tinggi itu sering kali menjadi orang yang suka bersikap semaunya dan bahkan suka menindas orang lain yang lebih miskin.
Terkadang menjadi kaya itu adalah keinginan setiap orang, tak akan ada orang yang ingin menjadi orang miskin.
Tiba-tiba aira mengagetkanku sehingga membuat buku yang ku baca terjatuh ke lantai.
“kamu ini kalau dipanggil jawab dong!” kata aira
“hehe maafkan aku sebab aku terlalu larut dalam cerita ini” kataku sambil mengangkat novel tersebut
‘’ayo sudah waktunya istirahat, bisakah kau membacanya kembali lagi nanti” kata aira
Tak ku sadari ternyata sudah waktunya jam istirahat.
Kebetulan kami tadi pagi tak sempat untuk sarapan, jadi kami segera bergegas untuk pulang dan sarapan setelah itu kembali ke kelas sambil membawa beberapa makanan ringan yang tadi sempat kami beli di kantin. Dan bahkan kami juga membeli rujak.
Sesampainya di kelas, aku dan aira hanya menemukan beberapa orang saja dan yang lain masih belum kembali ke kelas. Karena memang kami terlalu cepat tadi untuk kembali ke kelas.
Terkadang saat jam istirahat ada juga yang akan menghabiskan waktu untuk istirahat sambil menghabiskan waktu untuk tidur atau hanya sekedar makan dan ada juga yang keluar hanya untuk menghabiskan waktu untuk bergosip.
Sempat ku akui bahwa dulunya aku jua termasuk orang yang begitu mengidolakan kan opa asal korea selatan tersebut, tapi seiring waktu berjalan aku justru malah menjadi tak begitu menghiraukan dan justru malah membuatku tak lagi mengikuti perkembangannya sama sekali seperti sebelum-sebelumnya aku yang tampak akan begitu antusias dengan semua hal yang terkait dengan para artis korea.
Selanjutnya pelajaran kami setelah istirahat adalah bahasa inggris kebetulan guru kami namanya pak iwan.
Pak iwan merupakan seorang guru yang begitu digemari oleh para siswi-siswi hal itu dikarena beliau merupakan guru yang cukup lucu dan unik, hal itu membuat kami tak bosan dengan pelajarannya.
Suara bel tanda istirahat telah berakhir pun berbunyi, sekarang tinggal satu atau dua orang saja yang belum kembali ke kelas.
Sambil menunggu pak iwan datang kami terlihat begitu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan aku malah sibuk membicarakan mengenai hal apa yang akan kami lakukan sat berlibur nanti.
Kebetulan aku dan aira sedang merencanakan kegiatan berlibur bersama, kami akan pergi untuk menikmati beberapa pantai yang tak jauh dari rumah aira.
Kebetulan rumah aira terletak di dekat beberapa wisata yang begitu digemari baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Sebut saja aira seorang anak pantai, akan tetapi aira tak terlihat sama dengan anak pantai yang pada umumnya memiliki kulit yang hitam serta rambut yang merah yang diakibatkan oleh sering mandi dan berjemur di pantai.
Aira memiliki kulit yang tampak begitu putih bersih dan seolah bersinar dengan rambut sebahu yang begitu hitam, hal yang membuatnya berbeda dengan anak-anak pantai pada umunya dan aira juga memiliki gaya yang sedikit lebih tomboi.
Kami menunggu sudah sekitar tiga puluhan menit namun guru yang kami tunggu tak kunjung dating juga.
Hingga tiba-tiba seorang guru lain dating dan masuk ke kelas kami sambil menyampaikan pesan dari pak iwan
‘’anak-anak hari ini pak iwan sedang tak bisa hadir karena sedang ada urusan keluarga”. Katanya
“pantes saja kami menunggu tak kunjung dating” kata ketua kelas
“tapi kalian jangan senang dulu, sebab kalian memiliki tugas dari pak iwan” kata guru tersebut lagi.
Kalau masalah tugas itu urusan yang gampang kami kerjakan sebab kami sering kali mengerjakan tugas dengan cara bersamaan. Bukan hanya itu kelas kami juga sering mendapatkan pujian dari beberapa guru yang melihat kami begitu kompak dalam melakukan berbagai hal yang membuat kelas mendapatkan kebanggan. Namun tak begitu dengan bu mawar.
__ADS_1
Bukan hanya kelas kami yang jarang mendapatkan pujian dari bu mawar tapi kelas-kelas yang lain juga mengalami hal yang sama. Bu mawar hanya akan mengomentari dengan segala keburukan tanpa pernah memperdulikan konsekuensi yang akan terjadi yang diakibatkan oleh omongannya.
“kapan kami akan mengumpulkan tugasnya?” kata sisi
“iya bu kapan?” kata Alin
“kalian akan mengumpulkannya saat ada jadwal mata pelajaran pak iwan lagi” kata guru tersebut
“itu artinya minggu depan kita akan mengumpulkannya” kata ku sembari berbisik-bisik dengan aira.
Setelah selesai dengan jawaban dari beberapa pertanyaan kami yang belum jelas terkait tugas yang diberikan pak iwan, akhirnya guru tersebut pun mengakhiri pertemuannya dan keluar dari ruang kelas.
Tibalah waktunya kami untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 12.20 siang. Semua murid yang berada di setiap kelas mulai terlihat berhamburan keluar dari ruang kelasnya. Begitupula dengan ku dan aira yang tak mau keluar terakhir.
Kami segera keluar ruangan sambil tergesa gesa karena ingin cepat sampai ruangan dan tidur untuk beberapa saat sebelum memulai kegiatan pondok selanjutnya.
Begitu banyak rutinitas yang harus kami selesaikan, rutinitas di sekolah dan di pondok begitu padat dan berbeda. Aturan yang dibuatkan di sekolah juga berbeda dengan aturan yang dibuatkan di pondok.
Sesampainya di kamar kamipun mengambil ancang-ancang untuk segera tidur siang tampa memperdulikan keadaan sekitar.
Saat kami terbangun jam sudah menunjukkan pukul satu lewat itu artinya kami tertidur sekitar satu jam lebih.
Kami bangun dan segera bergegas menuju kamar mandi dan setelah itu sholat zuhur dan makan siang.
Setelah selesai dengan semua aktivitas kami bisa dengan leluasa mengerjakan apapun yang kami inginkan asal tak melanggar peraturan yang telah dibuatkan.
Tiba saatnya malam dating menghampiri, jika malam mulai menjelang tampaklah begitu angker di pondok tersebut.
Sebab banyak sekali pohon-pohon besar menjulang tinggi dan rimbun yang sering menghalangi cahaya rembulan masuk.
Pohon-pohon tersebut terlihat seperti pohon purba yang sudah berumur sekitar ratusan tahun, terlihat begitu mengerikan jika diperhatikan.
Kebetulan letak kamar mandi yang begitu jauh dari ruangan tempat kami tidur. Terkadang untuk bangun dan keluar sendiri ke kamar mandi akan merasa ketakutan karena gelap dan banyaknya pohon yang membuatnya seperti tampak menakutkan.
Kebetulan saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi aku dan aira bahkan belum bisa tidur sama sekali.
Begitulah kami berdua yang sering kali susah tidur diakibatkan oleh insomnia yang begitu parah. Penyakit susah tidur yang kami alami ini memang sudah lama sejak pertama kalinya berada di pondok pesantren.
Kami sering begadang menghabiskan waktu untuk sekedar bermain, membaca beberapa buku pelajaran atau bahkan novel.
Terkadang kami juga akan menghabiskan waktu hanya untuk sekedar bercerita mengenai pengalaman sebelum menginjakkan kaki di pondok pesantren ini, iya seperti sedang mengulang kembali kenangan-kenangan di masa lalu.
Pada keadaan malam-malam seperti ini aku akan sedikit ketakutan untuk melihat keluar karena para makhluk tak kasat mata penguin beberapa tempat ini akan keluar, baik dari yang terlihat tak menyeramkan sampai pada level yang sangat menyeramkan.
Aku tiba-tiba ingin pergi ke kamar mandi, aku menyuruh aira untuk menemaniku sebab jika pergi sendiri aku sama sekali tak berani. Sebab pernah terjadi sebelumnya aku ditemukan pingsan saat berada di kamar mandi.
Jika mengingat hal itu, bulu kudukku tiba-tiba merinding dan membuatku merasa takut untuk kemana-mana sendiri di malam harinya.
Aira yang paham dengan keadaan yang ku alami selalu setia menemaniku. Itulah sebabnya aku begitu menyayangi sahabatku yang satu ini.
Aira begitu pengertian denganku walau dia tau aku bukanlah anak yang terlahir dari keluarga orang kaya. Sedangkan aira sendiri memang terlahir dari keluarga yang cukup kaya namun hal itu tak membuatnya menjadi anak yang sombong, dia tetap memiliki sikap yang rendah diri. Dia juga tak pernah mempermalukan ataupun mengejekku sebab aku terlahir dari keluarga yang tak sempurna.
Aira selalu memberikanku motivasi untuk terus berjuang agar dapat meraih cita-cita yang kuinginkan.
Dia juga memberikan ku semangat untuk tidak pantang menyerah dalam mencapai semua impian dan jadikan setiap rintangan sebagai pelajaran untuk menjadi lebih dewasa dan lebih percaya diri.
Perjalanan hidup ini masih begitu panjang, banyak hal yang lebih besar menanti didepan. Butuh banyak pelajaran agar suatu hari jika menghadapi masalah yang lebih besar dan cukup rumit sedikit tidak sudah ada sedikit kemampuan untuk menyelesaikan walau harus ada campur tangan dari orang lain.
Perjalanan hidup setiap orang berbeda-bedan namun percayalah tak ada perjalanan hidup yang selalu mulus, di setiap perjalanan pasti akan mengalami gangguan tapi dengan cara seperti itu maka akan melatih mental serta perkembangan sejauh mana kami dapat menyelesaikannya.
Yakinlah setiap perjalanan akan memiliki akhir yang indah.
Dunia ini memang tampak begitu keras tapi jika kita melaluinya dengan suka cita maka sedikit tidak akan ada kebahagiaan yang dilalui di setiap perjalanan. Aku percaya suatu hari nanti setiap usaha akan mendapatkan hasil yang baik.
__ADS_1