
Satu tahun sudah kepergian Nita yang meninggalkan luka di keluarga tercinta. Puja dan puji pun sudah mulai masuk sekolah TK, dan sebentar lagi akan masuk Sekolah Dasar.
Nur sangat bahagia melihat kedua cucunya bisa tumbuh dengan baik. Meskipun dia sempat kawatir dengan trauma yang di alami mereka pasca tragedi itu. Tapi berkat penyaluran bantuan dari orang-orang sekitar dan juga psikiater yang mampu membuat dua bocah itu tak terlalu takut lagi pada orang-orang dewasa.
“Nenek! Kami pulang!” teriakan kedua cucunya menghentikan kegiatan Nur yang sedang membuat kue di dapur. Segera ia mencuci tangan dan keluar menghampiri kedua bocah itu yang terlihat sudah melempar tas mereka sembarangan.
“Aduh cucu Nenek... Kalian pasti capek, Ya?” mereka berdua kompak mengangguk sambil langsung bergelayut manja pada sang nenek kesayangan mereka.
“Nenek, mau Kue bolu.” Puji tahu sang nenek sedang membuat kue untuk mereka. Nur tahu kedua cucunya itu paling menyukai kue buatannya, dan dengan begitulah
“Bagaimana sekolahnya? Udah dapat teman baru belum?” Nur memang sengaja setiap cucunya pulang pasti akan selalu benanyakah hal yang sama seperti itu. Kenapa bukan pelajaran?
Itu karena Nur tahu, kedua cucu kecilnya saat ini belum terlalu penting pendidikan. Tapi dia lebih menghawatirkan pergaulan mereka yang mungkin masih terbatas karena trauma masa lalu itu.
“Sudah nenek. Aku punya banyak teman di sekolah, mereka baik-baik semua,” Puji bercerita apa saja yang dia lakukan di sekolah TK nya tadi Dengan bahagia.
Nur senang melihat kemajuan yang semakin baik. Tapi saat dia melihat cucu laki-lakinya yang diam saja, Nur sudah bisa menebak jika bocah itu pasti lagi-lagi merasa tak nyaman di sekolahnya.
“Bagaimana? Apa cucu laki-laki nenek ini senang di sekolah?”
Puja menggeleng, “Nenek... Aku gak suka sekolah. Di sana banyak pria dewasa... Bagaimana kalau dia pukul kami?”
Nur mengusap puncak kepala Puja dengan penuh kasih sayang. Memang atas kejadian satu tahun yang lalu Puja yang paling trauma, karena bocah itu melihat secara langsung. Sedangkan Puji, dia ditutup matanya oleh sang abang, sehingga ia tak melihat, hanya mendengar saja karena dia lebih cepat kemajuannya dalam menyembuhkan diri.
“Mereka tidak akan pukul kamu, nak. Jangan takut ya. Ingat kamu harus sekolah, kalau tidak siapa yang akan jaga adik mu disana?”
Puja mengangguk. Bocah laki-laki itu hanya mau di sentuh oleh Neneknya saja dan juga Sang adik. Sedangkan orang lain, ia terlihat tak ingin, terlihat seperti orang fobia.
__ADS_1
“Baiklah,” Puja berucap lirih.
****
Sedangkan di sisi lain. Ini sudah satu bulan dari hari pertunangan Yona bersama kekasihnya. Hubungan mereka sangat baik, bahkan kedua belah pihak keluarga sudah mulai membicarakan pernikahan. Meskipun belum di tentukan tangan dan bulang apa mereka akan melangsungkan pernikahan.
Sedangkan Yona, gadis itu setelah tamat kuliah memilih untuk mengajar di sekolah menengah atas, didekat rumahnya.
“Ma, besok aku libur mengajar. Mas Dony mengajak aku liburan, boleh pergi berdua gak, Ma?”
“Berdua? Kalian belum nikah loh, Na. Jangan berdua lah, ajak teman beberapa orang aja lah, gak baik pergi cuma berdua.”
Yona berpikir apa yang dikatakan Mamanya benar juga. Sepertinya dia perlu menanyakan hal ini kepada kekasihnya. Yona yakin, Dony pasti mengerti dengan kekhawatiran keluarganya, apalagi mereka berdua memang belum sah sebagai sepasang suami istri.
Tapi masalahnya sekarang ia tak punya teman dekat untuk di ajak liburan bersama. Lagi pula siapa yang mau di ajak jalan-jalan dalam waktu memepet seperti sekarang, sepertinya dia meminta saja pada Donny untuk membawa teman-temannya saja, yang penting tidak berdua saja perginya.
Seperti yang direncanakan, keesokan harinya Donny datang menjemput Yona seperti yang dijanjikan. Yona tersenyum senang melihat Donny benar-benar menempati janjinya dengan membawa dua orang teman perempuan dan laki-laki.
“Wah, kita seperti dua pasang sejoli yang pergi Honeymoon.” Celetuk teman wanita Donny yang sering di panggil dengan Fika.
Yona hanya tersenyum saja. Meskipun ia sedikit merasa aneh dengan ucapan wanita itu, tapi sekarang dia sedang malas bertanya, karena mereka pun tak terlalu kenal.
Sedangkan Donny, pria itu langsung turun dan menyalami calon mertuanya dengan sopan.
“Maaf ya, Tante. Kami tidak mampir dulu. Soalnya takut kesiangan dan macet di jalan.”
Len mengangguk mengerti. “Tidak apa-apa, yang penting nanti jaga anak Tante dengan baik ya. Dan jangan terlalu malam pulangnya nanti.”
__ADS_1
Fika dan kekasihnya terlihat heran dengan kata-kata Ibu dari kekasih temannya. Sebenarnya ingin bertanya, tapi Donny sudah lebih dulu menjawab.
“Tentu saja, Tan. Kalau begitu kami pergi dulu.”
Mereka berangkat dengan satu mobil bersama. Didepan rumah Len merasa hatinya teramat berat melepaskan putrinya untuk pergi. Tapi untuk melarang ia juga tidak tega, dalam hati ia berdoa semoga saja anak-anaknya baik-baik saja.
“Aku harap Donny bisa menjaga Yona dengan baik,”
****
Sedangkan disisi lain, tepatnya di dalam sebuah sel tahanan. Seorang pria terlihat sedang terduduk diam sambil memegang kepalanya.
Dia adalah Adam. Satu tahun dia di dalam sana, dan satu tahun pula dia terpaksa berhenti menghisap barang haram itu. Sekarang Adam terlihat tubuhnya tampak lebih kurus dan lebih layu dari sebelumnya. Mungkin karena ketergantungan obat, atau mungkin juga tertekan perasaan karena penyesalan yang menggelayut dihatinya.
“Pak Adam, keluarga Anda datang berkunjung!” Suara keras dari polisi yang berjaga membuat Adam tersentak dari lamunannya.
Setalah pintu sel dibuka, Adam di bawa ke ruang kunjungan untuk tamu yang datang melihat sanak-saudaranya di penjara. Disana terlihat Len dan juga Prama sudah menunggu dengan wajah penuh kerinduan.
“Mama, Papa!” Adam tersenyum senang melihat kedua orang tuanya datang menjenguknya. Dia langsung memeluk kedua orang yang sangat disayangnya itu.
Tapa dapat di cegah, tangis Adam pecah saat dia membalas pelukan ayahnya. Ya tuhan... Dia benar-benar merasa menyesal sekarang. Atas kelakuan bejatnya, sekarang dia sudah melukai banyak orang, termasuk kedua orang tuanya juga.
Dan satu hal yang selalu menghantui tidur Adam si setiap malamnya. Nita... Entah mengapa wanita itu selalu hadir di dalam mimpinya dengan tersenyum manis. Dan hal itu membuat rasa rindu kembali menyeruk untuk almarhum istrinya itu.
Tapi sekarang apa gunanya. Dia yang membuat wanita itu pergi. Dia yang menyakiti wanita itu sampai akhir hayatnya, dan sekarang dia sangat menyesali perbuatannya.
“Kamu apa Kabar, Nak. Ya Allah... Kenapa kamu begitu kurus sekarang?” Len seolah lupa jika anaknya hidup di dalam penjara, bukan hidup di apartemen mewah, dia malah bertanya seperti itu membuat Adam hanya mampu tersenyum kecil.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Oh, bagaimana kabar kedua anak-anakku?”