Patah

Patah
Tidak kembali


__ADS_3

“Aku baik-baik saja. Oh, bagaimana kabar kedua anak-anakku?” Pertanyaan Adam itu membuat Ibu Len sedikit terkejut. Tapi pada akhirnya ia berusaha terlihat baik-baik saja.


“Mama tidak tahu,”


“Tidak tahu?” Adam mendelik tak percaya, “Ma... Satu bulan yang lalu Mama datang sama Yona juga jawab seperti ini. Dan sekarang masih menjawab hal yang sama... Apa Mama tidak ada sama sekali melihat keadaan anakku disana?”


“Kamu marah sama Mama? Adam! Anak kamu itu sudah di rebut sama bertua kejammu itu! Mama gak sudi datang kesana!”


“Ma!” Prama tak suka cara istrinya berteriak di hadapan putranya seperti itu. Dia lebih senang jika menegur Len dengan keras dari pada membiarkan Istrinya memarahi anak-anaknya.


Adam menggenggam tangan ibunya, memohon pada wanita yang keras hati itu untuk kali ini saja agar sedikit melunakkan hatinya dan menjaga putra dan putinya sampai ia bisa bebas dipenjara ini.


“Ma... Aku mohon, tidak bisakah kau lembutkan hatimu sedikit saja untuk anak-anakku. Aku tahu aku ayah yang sangat buruk untuk mereka, tapi aku yakin mereka pasti akan sangat senang jika Mama mau meluangkan waktu untuk mereka.” Adam memohon kepada kedua orang tuanya.


“Adam... Mereka tidak sayang kamu. Lihatlah, kecil-kecil anak mu sudah mencelakaimu. Jika bukan karena mereka bersaksi di depan pengadilan dan mengatakan perbuatan mu, mungkin sekarang kamu bisa bebas. Mereka gak sayang kamu, Dam! Dua anakmu hanya peduli pada Bundanya saja.”


Meskipun Adam laki-laki. Tapi dia punya sisi rapuh juga. Mendengar ibunya yang berkata seperti itu tangis Adam pecah.


Semakin dijelaskan ia merasa semakin melihat dosa-dosanya di masa lalu. Adam sangat menyesal. Sekarang dia baru sadar segila apa di dulu pada anak dan mendian istrinya.


“Cukup, Ma! Aku yang sudah membuat dosa! Aku pembunuh! Aku yang membunuh istriku! Aku yang menghancurkan hidup anak-anakku. Tolong jangan buat aku semakin menyesal, Mama!” Adam berteriak frustasi. Kepalanya terasa mau pecah saat memori masa lalunya kembali berputar di dalam pikirannya.


Saat teriakan itu menggema tak terdengar lagi suara disana. Adam yang terlihat semakin diluar kendali segera di bawa kembali ke dalam sel tahanan. Ya, kesehatan mental Adam memang bisa dibilang sedikit terganggu pasca tak lagi mengonsumsi obat-obat terlarang itu.


“Abang,,” Len tak bisa berkata-kata. Sakit hatinya melihat keadaan Adam yang begitu menyedihkan.


“Kamu... Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu pada Adam? Lena! Kamu benar gegabah, anak kita bahkan belum sembuh dari kecanduan, tapi sekarang otaknya malah kamu tambah masalah dengan memikirkan anak-anaknya.” Prama sungguh marah pada istrinya yang suka sekali tak mendengar kata-katanya.

__ADS_1


“Bang... Kenapa kamu selalu menyalahkan aku?”


Merek Sibuk bertangkar, tak menyadari jika disana masih di kantor polisi. Saat salah satu petugas menginterogasi mereka, barulah Prama meminta maaf dan segera menarik istrinya pergi dari sana.


****


“Donny... Kita kenapa kesini?” Yona tak mengerti kenapa mereka jalan-jalan sampai sejauh ini. Padahal bukankah Donny hanya mengatakan hanya pergi sebentar, dan malamnya mereka kembali? Lalu kenapa mereka harus menyewa Vila begini?


Dan jangan tanya kemana kedua teman Donny tadi pergi. Mereka berdua telah menghilang saat mereka tiba di Vila ini tadi, dan hal itu membuat Yona merasa semakin janggal dengan semua ini.


“Kamu kenapa takut begitu, sayang. Biasa dong, toh sebentar lagi kita suami istri juga.”


Yona tak menangkapi ucapan Donny. Dia merasa lega melihat kekasihnya itu memesan Vila yang memiliki dua kamar yang terpisah. Dan dua kamar itu berjarak cukup jauh, karena itu dia tak protes lagi.


“Aku akan hubungi Mama, bilang kalau kita bakal gak jadi pulang malam ini.” Ucap Yona. Ia mengambil ponselnya di dalam tas. Tapi belum sempat dia menghubungi nomor sang Mama, Donny sudah lebih dulu merebut ponselnya.


“Sayang... Kamu jangan seperti anak kecil, dong. Kita ini sebentar lagi akan nikah, mama kamu juga akan mengerti apa yang kita lakukan.”


“Maksud kamu apa? Mama aku pasti akan cemas. Kamu janji kita akan pulang malam ini, tapi tanpa izin dariku, kamu malah mengajakku menginap di tempat asing seperti ini.” Yona sedikit marah dengan sikap Donny yang seenaknya ini.


“Kamu jangan seperti gadis kuno dong, sayang.” Donny membujuk, dia menarik tangan gadis itu dengan lembut. Saat ia ingin memeluknya, Yona langsung menghindar.


Hal itu membuat Donny menjadi kesal. Tapa perasaan lagi pria itu langsung menarik kasar Yona ke dalam sebuah kamar. Saat pintu kamar terbuka, Dia langsung mendorong tubuh gadis itu dengan kasar ke dalam kamar.


“Donny! Kamu mau apa? Kenapa pintunya di kunci?!” Donny menyeringai senang melihat kekasihnya ketakutan. Ada kesenangan sendiri dalam hatinya, dia benar-benar menyukai adegan ini, dimana wanitanya bergetar ketakutan di bawah tubuhnya.


“Sayang... Kamu terlihat semakin seksi jika seperti ini. Aku benar-benar menyukai ekspresi ini. Ayo! Ayo kita bercinta sepanjang malam ini!”

__ADS_1


Tak memedulikan rengekkan kekasihnya yang berusaha menyadarkan dia. Donny terus saja melakukan hal bejatnya. Hal ini memang sudah dia rencanakan dari jauh-jauh hari, rasanya akan terlalu lama jika menunggu mereka menikah dulu. Lagi pula apa salahnya mereka melakukannya sekarang, toh nanti mereka akan tetap menikah, Dan Donny benar-benar menyukai hal yang menantang seperti ini.


Yona tak bisa berpikir jernih lagi. Ia mencoba sekuat tenaga melawan setiap sentuhan yang di berikan Donny pada tubuhnya. Yona mencoba melempar berbagai barang, meminta ampun dan memohon pada Donny untuk menghentikan kegilaannya.


Tapi tidak. Lima menit dari itu Donny sudah berhasil merobek bajunya.


“Donny! Aku mohon, jangan lakukan ini sekarang. Aku tidak rela!” Ia hanya bisa berteriak histeris. Sedangkan pria yang sudah mengikat kedua tangannya di atas ranjang hanya tertawa bahagia melihat kekasihnya yang semakin bergairah di matannya.


“Aku tidak butuh kerelaan kamu, sayang. Semakin kamu memberontak, akan semakin seksi kau dimataku!”


Dimalam itu... Malam dimana malam yang akan disesali oleh Yona sepanjang hidupnya. Tidak hanya dipaksa berhubungan badan, Gadis malang itu juga menerima perlakuan kasar. Tamparan dan pukulan Donny berikan pada tubuh putih itu karena kesal dengan perlawanan yang terus menerus diberikan oleh Yona.


*****


“Bang, Kenapa Yona gak pulang-pulang?” Len terlihat sangat kawatir. Ini hari sudah jam sebelas malam, tapi anak gadisnya tak kunjung juga pulang.


“Mana aku tahu... Bukankah mereka pamitkan sama Mama? Apa mereka tak mengatakan akan pulang telat?”


Len menggeleng, “Tidak. Bahkan Donny berjanji akan mengantarkan Yona sebelum jam sembilan malam. Kemana laki-laki itu membawa anak gadis kita?!”


Prama hanya bisa menarik nafas panjang. Dia pun tak kalah khawatir dengan putrinya, karena nomor Yona tak aktif di hubung. Hal itu membuat mereka menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa sebaiknya kita lapor polisi, Bang?”


“Jangan Aneh-aneh! Mereka pergi jalan-jalan.” Prama sudah pusing, ditambah dengan mulut cerewet istrinya semakin membuat ia stres. “Lagi pula Yona pergi bersama tunangannya, memangnya kita mau buat laporan seperti apa? Bisa-bisa kita akan di tertawakan polisi itu.”


Pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah menunggu.

__ADS_1


***


__ADS_2