
Setelah perdebatan panjang kami semalam, aku belum juga ada komunikasi dengan Johan. Iya, menurut ku kami perlu untuk berdiam sejenak. Bukan berarti aku mengeraskan hati, tapi aku juga butuh memastikan apa yang kurasakan. Entahnya rasaku ini hanya sekedar rasa kagum, atau memang murni aku benar-benar mencintainya. Rasanya aneh mungkin, iya terkadang juga aku merasa sepertinya ini hanya Cinta monyet.
Benarkah jatuh cinta yang kurasakan ini?
Jawaban dari pertanyaan inilah yang perlu untuk ku selidiki, dan aku....perlu berdiam diri dulu.
Pagi ini, setelah 15 menit aku duduk di tempat biasa aku menunggu, aku melihat Johan yang akan memasuki Kantor Kepala Sekolah. Hatiku mengatakan "temuilah", tapi pikiranku mengatakan "jangan dulu".
Dan setelah mempertimbangkan aku memutuskan untuk tidak menemuinya.
"Biarkan aja dulu.... beginilah dulu adanya. Aku dan kamu mungkin perlu memastikannya. Walau mungkin perasaanku nantinya padamu sudah besar.....itupun perlu ku pikirkan" Gumamku sembari terus menatap Johan dari jauh.
Dia juga sebenarnya tau tentang keberadaan ku, malah dia menoleh sebentar ke arahku, menatapku dengan penuh arti, namun kemudian dia mengalihkannya secepat kilat.
"Namanya juga laki-laki, pasti lebih menggunakan logikanya lah. Dan aku sangat paham dengan hal tersebut. Tapi apakah dia memang benar-benar marah iya?" Aku menundukkan kepalaku menatap lekat ke lantai.
Satu hari ini rasanya sangat membosankan. Selain mata pelajarannya yang semua serba hitung-hitungan, aku juga selalu main petak umpet dengan Johan. Ketika jarak kami hampir dekat, kalau bukan aku yang mengubah haluan maka Johan yang akan melakukannya. Begitulah beberapa saat yang terjadi. Hingga aku memutuskan untuk tetap berada di dalam kelas. Mengerjakan pekerjaanku sebagai sekretaris kelas dan melengkapi catatan-catatan ku yang sudah ketinggalan karena mencatat ke depan. Aku sengaja menyibukkan diriku. Untungnya sahabat-sahabat ku tidak curiga. Mereka memang benar-benar berpikir, banyak yang harus ku kerjakan hari itu.
*Sepulang Sekolah*
__ADS_1
"Girls aku duluan iya....Soalnya perut aku juga masih keram. Dan kalian taulah....Aku harus ganti pembalut, udah risih soalnya...." Kataku pada Sahabat-sahabat ku yang masih asik bercengkrama (Rapat gadis-gadis kece).
"Okay Gre....hati hati iya. Hasil rapat kita....ntar aku SMS ke kamu" Kata Niya yang menoleh kearah ku.
"Okay...seepppp!" Jawabku lagi yang kemudian berlalu dari ruangan kelasku.
"Gre!!!!" Teriak Niya dari yang memunculkan setengah badannya dari pintu kelas.
"Iya!!???" Jawabku sembari memutar tubuhku dan kemudian berhenti melangkah.
"Ada yang mau aku tanya sama kamu....boleh Gre??? bentar aja....iya????" Niya bertanya seperti memohon.
"Di bawah pohon sana aja yok Gre" Tunjuk Niya pada pohon yang berada di depan Kantor guru tepat di samping kanan kantor Kepala Sekolah.
"Ayokkkk" Kataku sembari melangkah mengikuti kemana Niya melangkah.
*3 menit kemudian*
"Gre...." Niya memulai pembicaraan.
"Hmmm!?? Tanyaku lemah karena sebenarnya aku sedang menahan perutku yang keram akibat datang bulan.
__ADS_1
"Kamu jangan marah iya. Ada yang mau aku tanyakan soal Johan sama kamu...." Niya memastikan dengan ekspresi wajah agak takut.
"Iya loh Niya.... Gapapa, bilang aja. Santai aja kali...." Jawabku sembari tersenyum mencairkan suasana yang terlihat tegang.
"Tadi malam Johan curhat sama aku. Kalian lagi berantam iya? Sebenarnya Johan cerita tentang kejadian waktu kita olahraga Gre....kamu ngertikan arah pembicaraan kita?" Tanya Niya sembari memiringkan tubuhnya ke arahku.
"Oh....iyaya. Tapi sebenarnya kami gak berantam sih menurutku Niya. Cuman aku dan dia sepertinya butuh berdiam diri dulu" Kataku sembari melakukan posisi yang sama dengan Niya. Kini posisi kami hadap-hadapan.
"Iya. Johan bilang, kayaknya kamu terlalu dekat saat itu dengan Sandi. Dia sih gak pegang kamu. Tapi kamu katanya pegang Sandi, meskipun sebenarnya aku tau kamu itu cuman membantu dia. Aku udah jelasin sih ke dia Gre....dan balasan dia cuman Oh. Dan kamu tau Gre, seperti tebakan aku....dia kayaknya cemburu deh....gimana itu Gre?" Wajah Niya penuh dengan tanya.
"Kamu ini.....hahaha. Bisa iya bisa nggak juga Ni. Siapa tau memang dia orangnya baik. Kan kita gak ada yang tau" Jawabku yang kini sudah menghadap ke depan sembari sedikit membungkuk, menumpukan tanganku di samping ke dua pahaku, memandang tanah tempat kakiku bertumpu.
Sebenarnya dari penceritaan Niya tersebut, aku sendiri juga sudah bisa memastikan bahwa Johan memang cemburu. Tapi egoku yang besar mengatakan untuk tidak asal berpikir.
Entah saat itu keputusanku benar atau salah, tapi komitmen ku untuk berdiam seperti yang sudah kukatakan, akan ku kerjakan dulu.
Bagaimana nanti pada akhirnya, biarlah aku yang memutuskan.
~karena bagiku, perjalanan ini bukan seperti sebuah permainan Komidi Putar. Yang setelah aku asik bermain disana, aku lalu keluar pada waktu yang ku inginkan~
T.P.S.G
__ADS_1