Pelabuhan Cinta Ekklesia

Pelabuhan Cinta Ekklesia
Cerita Pertama (Masa Putih Abu Abu 1)


__ADS_3

Ā 


"Grea!!!!!"


Suara itu menghentikan mimpi indahku di siang bolong.


"Iya Ma!" Jawabku sembari bangkit dari tempat tidur, tapi tidak segera keluar dari kamar. Aku masih sibuk meregangkan otot-otot tubuhku yang masih kaku.


"Grea!!!! Jangan membusuk di kamar! Kerjaan mu hanya bermesraan dengan buku-buki itu 'kan?" Teriak mamaku dari dapur yang tidak jauh jaraknya dari kamarku.


" Tidak Ma.... aku tadi tidur kok" Jawabku kesal atas tuduhan Mamaku (Meski sebenarnya, yang dikatakan Mamaku tersebut adalah fakta yang terjadi di hari-hari yang ku lalui).


"Tidur....tidur.... lihat matamu itu, udah kayak mata Panda!" Teriak mamaku seraya ingin menelanku hidup-hidup.


Sebenarnya Mamaku adalah orang yang baik. Namun, karena melihatku setiap hari hanya bermesraan dengan buku-buku, sampai kadang tidak tidur dan lupa makan, membuat Mamaku seperti singa kelaparan setiap hari. Maklumlah iya emosinya meledak-ledak, karena di darahnya mengalir darah Batak yang nada bicaranya lumayan tinggi. Dan pastinya, mengalir juga darah itu ke darahku, tapi untungnya aku lebih lembut sedikit dari Mamaku (Terkadang šŸ˜‚).


"Iya....iya....tapi kali ini aku beneran tidur kok, Ma" Jawabku sembari berjalan ke arah Mamaku.


"Cepat makan....kamu pasti belum makan 'kan?" Tebak mamaku dengan spatula yang masih menunjuk-nunjuk ke arahku.


"Iya....iya...." Jawabku lagi dengan nada lemah karena baru bangun tidur.

__ADS_1


Setelah perdebatan singkat telah usai dengan Mamaku, aku kemudian mengambil makanan yang ada di meja makan. Lalu, segera membawanya ke dalam kamarku.


Itu sudah menjadi kebiasaanku, makan di kamar sembari membaca kalimat per kalimat dari tumpukan Novel kesukaanku. Mamaku sudah tidak heran dengan hal tersebut karena, memang membaca sudah menjadi hobiku yang mendarah daging.


Apalagi baca Novel. Hari-hari ku tidak akan berlalu tanpa membaca Novel. Begitulah yang terjadi sampai usiaku udah hampir 17 tahun. Dan 7 bulan lagi pemirsa, usiaku akan genap 17 tahun. 😣


Selain membaca Novel, di sela-sela kegiatanku, aku juga akan menghabiskan waktu dengan menonton, menonton drama Korea yang saat ini lagi viral.


Pagi ini, suasana di sekolah masih sepi. Dikarenakan cuaca yang mendung, banyak anak sekolah terlambat datang ke sekolah.


"Pada di mana nih semua anak-anak?" Gumam ku sembari duduk di depan kursi kelasku yang sengaja diletakkan sebagai tempat menunggu.


Jika diperhatikan setiap hari, aku selalu menjadi orang kelima yang sampai di sekolah setelah kepala sekolah yang super rajin, dua ibu-ibu tukang bersih-bersih sekolah, dan satpam sekolah yang super kece. Kalau pun urutan kehadiran itu bergeser, paling aku berada di urutan ketujuh. Dan, urutan itu akan berubah ketika aku telat bangun.


Di sekolah aku termasuk siswa berprestasi, tapi kurang terkenal. Karena aku pemalu tingkat menengah. Kenapa aku mengatakan tingkat menengah? Karena di balik aku pendiam, aku masih memiliki teman dan sahabat kok.


Sahabatku itu ada enam orang, diantaranya ada Septi, Lewi, Niya, Sharon, dan Karina. Jadi, kita berenam itu biasa dipanggil geng 6 cewek kece. Karena selain manis, kita berenam juga selalu unggul di bidang masing-masing. Apalagi bidang pelajaran, kita itu selalu kejar-kejaran siapa yang paling unggul. Dan, yang paling unggul itu adalah Septi, di urutan kedua di duduki olehku, dan sahabatku yang lain selalu berganti posisinya.


Kalau bidang pelajaran, Septi memang ahlinya. Yang paling preman di antara kami berenam juga dia pastinya.


"Grea!!!!"

__ADS_1


Teriakan itu berhasil membuyarkan lamunanku. Namun, ketika aku menoleh ke arah suara tersebut, sosok yang berdiri itu berhasil mengembangkan pipiku dengan senyum manis yang selalu menjadi make up alami ketika aku berhadapan dengannya.


"Iya...."


Jawabku selembut mungkin sembari berdiri dari tempat dudukku. Kelembutanku saat itu seolah menghilangkan predikatku. Iya, predikat gadis Batak yang terkenal dengan suaranya yang menggelegar.


Meskipun sebenarnya memang nada bicaraku tidak kasar, tapi apabila ada yang mendengar nada bicaraku saat itu, mereka pasti berpikir bahwa aku ini merupakan gadis keturunan Jawa. Memang tidak bisa dipungkiri sih, setiap kali aku berhadapan dengannya maka aku akan berubah menjadi sangat lembut. Aku akan merapikan rambutku, memeriksa pakaianku dari atas sampai bawah, dan sedikit dengan malu-malu melirik ke arahnya.


Pokoknya apabila aku bertemu dengannya bahkan sampai ia memanggil namaku segala, maka dunia ini adalah milikku seorang. Yang lain mah ngontrak. 😊


Aku masih terpaku melihat sosoknya yang berjalan semakin dekat ke arahku. Aura bersinarnya yang terus bergerak ke arahku di pagi itu, membuat rok sebelah kananku jadi berkerut, karena remasanku. Hal itu sebagai tanda, bahwa saat itu jantungku hampir melompat dari tempat seharusnya.



Siapakah orang yang Ekklesia maksud?


Mari tunggu di episode selanjutnya ya. šŸ˜†


~Apabila aku datang aku melihat. Dan apabila aku tidak datang, aku mendengar. Itu semua tentangmu, tentangmu yang terus bergelut sampai ke dalam jiwaku~


*T.P.S.G*

__ADS_1


__ADS_2