
Senyum senyum, itulah yang terjadi setelah aku duduk di kursi ku. Aku masih terus membayangkan senyum Johan ketika aku menoleh ke jendela kantor tadi . Tapi dengan segera ku tepiskan, karena biar bagaimanapun aku juga tetap sadar kok dengan posisi ku. Anak sekolah pastinya. Aku boleh saja jatuh cinta, tapi itu tidak menurunkan semangat belajar ku. Malahan jatuh cintaku kini, membuatku semakin menggebu-gebu untuk ku terus mempertahankan prestasi ku.
Tingnong.....
Bel berbunyi tanda istirahat pertama dimulai. Teman teman sekelas ku segera berhamburan keluar kelas, untuk mengantri di kantin dan ada juga yang berlarian ke arah toilet.
"Gre...." Karina yang berada tepat di belakang kursi ku menepuk pundak ku.
"Hmmm....?" Jawabku malas sembari menidurkan kepalaku ke meja.
"Ke kantin yok....!!!!" Ajak Karina yang kini sudah berada di samping ku.
"Malas Rin....aku nitip seperti biasa aja" Kataku pada Karina sembari menegakkan kepala ku.
"Udah seperti biasa Rin....." Timpal Niya dari belakang yang satu barisan dengan tempat duduk dengan Karina.
"Kamu emang iya....gak asik" Lewi menyambung, yang posisi duduknya di samping kiri ku.
"Udah udah....kayak gak kenal Grea aja. udah hampir dua tahun juga satu kelas" Bela Septi yang masih duduk di seberang kursi ku.
"Jadi seperti biasa, kita berlima pergi ke kantin dan Grea nunggu disini" Ajak Sharon yang satu bangku dengan Septi.
"Benar sekali...." Kataku dengan senyum sumringah karena pembelaku sudah angkat bicara.
"Nanti istirahat kedua aku ikut keluar deh" tambah ku lagi sembari mengeluarkan uang dua ribu dari kantongku untuk menitip di belikan gorengan.
Kelima sahabatku kini sudah pergi melangkah menuju kantin. Dan aku? Tentunya kembali lagi menidurkan kepala ku di atas meja.
__ADS_1
Itulah yang terjadi hampir setiap harinya. Maka dari itu, meskipun aku berprestasi tingkat keterkenalan ku itu tidak seperti kelima sahabat ku. Aku akan lebih memilih tiduran atau baca Novel ketika bel istirahat sudah berbunyi. Kalaupun aku keluar kelas itu dikarenakan, aku harus mengantarkan absensi kelas atau karena aku ingin pergi ke toilet.
Tugasku di sekolah itu adalah mengabsensi dan membantu guru menulis di papan tulis karena dua tahun berturut-turut aku menjadi sekretaris kelas. Dan itu pulalah yang membuatku lebih sering di dalam kelas. Serta.... karena jabatan ku ini pulalah menjadi awal aku semakin dekat dengan Johan.
Karena sebenarnya sebelum dia Praktek di sekolah kami, aku sudah terlebih dahulu kenal dengan Johan. Dan yang menjadi pemeran di dalam perkenalan kami itu adalah Niya. Iya, Niya lah yang mengenalkan Johan padaku. Dan ke empat sahabat ku yang lain belum mengetahui nya, bahwa aku sudah hampir satu bulan berkomunikasi dengan Johan.
š¶"I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
'Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
'Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
__ADS_1
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing"š¶
Lagu Aerosmith ini menjadi pengiring ketika jam sekolah kami telah selesai. Dan kami semua pun mulai membereskan semua perlengkapan kami masing masing serta teman teman yang piket akan mulai membersihkan kelas.
Kelima sahabatku dan akupun berjalan beriringan menuju gerbang dan kembali ke rumah masing-masing setelah cipika cipiki di kumandangkan sebagai tanda sampai jumpa.
Kelima sahabatku kini telah berangkat dengan motornya masing-masing dan aku masih di gerbang menunggu sepupuku yang selalu menjadi teman boncenganku ke sekolah.
Dan ketika aku menunggu, tiba tiba saja terdengar suara teriakan dari belakang ku yang jaraknya kira kira 100 meter dari tempatku berdiri. Suara itu begitu familiar.
"Ra...." Panggilan khas dari Johan, ketika semua memanggilku Gre dan dia sendiri yang berbeda.
Tentu saja aku langsung tahu siapa yang memanggil ku. Tapi karena memang aku masih sangat malu jumpa dengan Johan ketika teman teman sekolah ku masih ramai, maka aku pura pura tidak mendengarkannya dan segera melangkah ke arah kantin yang berada di seberang gerbang sekolah.
"Maafkan aku Jo...." Gumam ku dalam hati sembari terus melangkah dengan bawaan buku ku yang lumayan berat.
Merasa bersalah? Tentu saja iya. Tapi saat itu, aku juga tidak tau harus berbuat apa. Semua teman teman yang melihatku pasti akan langsung bertanya-tanya ketika aku menemui Johan saat itu.
Kenapa iya Ekklesia harus malu bertemu dengan Johan?
Tunggu kelanjutannya iya š
~Saat dimana aku ingin menepismu dari hatiku, maka saat itu pulalah rasa itu semakin bertumbuh. Dan aku mulai berpikir, tidak seberdaya inilah ketika aku memutuskan jatuh cinta padamu~
T.P.S.G
__ADS_1