Pelabuhan Cinta Ekklesia

Pelabuhan Cinta Ekklesia
Masa Putih Abu Abu 11 (Jumpa yang berakhir)


__ADS_3

"Gre....nanti pulang sekolah kamu susul mama lagi iya. Sama adik kamu juga. Datangnya jam tigaan aja, soalnya gak terlalu banyak yang di kerjakan kok. Jadi kalian sempat meluruskan badan dulu. Dan....jangan lupa makan dulu iya. Minum udah mama bawain. Kalian tinggal bawa keranjang masing-masing aja" Kata Mama ku, yang memunculkan tubuhnya sedikit di pintu kamar kami.


"Iya ma...." Jawabku lemas sembari memakai seragam Sekolah ku.


"Kamu kenapa lemas gitu?" Mamaku mengernyitkan keningnya.


"Gapapa Ma....karena masih pagi, itu biasa kali Ma...." Jawabku mencari alasan.


"Iya udah....jangan lupa pesan Mama iya" Mamaku menutup kembali pintu kamar lalu berlalu ke dapur untuk siap-siap pergi bekerja.


"Iya Ma...." Jawabku dari balik pintu kamar.


"Untung Mama gak lihat mata kakak. Bengkak tuh...." Adikku tiba-tiba berbicara sembari sibuk mencari seragamnya di lemari.


"Bengkak? Masak sih???" Tanyaku kaget sembari berlari ke depan kaca.


"Kakak nangis iya tadi malam?"


"Gak ahhh. Cuman aku susah tidur, jadinya baca Novel dehh" Jawabku sembari memijit-mijit mataku.


"Kirain....Siapa tau kan....habis patah hati" Katanya sambil mengangkat kedua bahunya dengan cepat.


"Apaan??? Patah hati apaan tuh? Gak ada aku patah hati" Jawabku sewot sembari membereskan buku-buku yang akan ku bawa ke Sekolah.


"Bagus deh kalau gak. Kak pinjam bandana kamu yang ini iya" Sembari menunjuk bandana merah yang diatas lemari.


"Hmmm....aku duluan iya. Jemputan aku udah datang" Aku berlalu dari kamar, lalu permisi kepada Mamaku.


Pagi ini seperti biasa, aku menunggu di depan kelasku. Sahabat-sahabatku dan juga teman-teman ku belum ada yang datang. Aku duduk menikmati suasana teduh di pagi itu dan membiarkan rambutku dimanjakan kesana-kemari oleh angin yang menghembus lembut.


"Ra...." Suara lembut itu begitu dekat.

__ADS_1


Aku membuka pelan mataku, dan kemudian aku menoleh kearah suara yang datang. Aku tau siapa pemilik suara itu. Makanya aku menoleh pelan, memastikan benarkah yang kudengar tersebut.


"Hmmm???" Jawabku dengan lembut juga sembari menengadah ke arah Johan yang berdiri di samping kananku.


"Aku boleh duduk?" Tanyanya sembari menunjuk kursi yang di sampingku.


"Hmmmm...." Kata itu yang masih keluar dari mulut ku sembari menganggukkan kepalaku sebagai arti setuju.


Aku sebenarnya belum percaya kalau Johan saat ini sedang bersamaku. Lima hari sudah aku dan dia benar-benar berdiam diri. Dan ini, seperti menjadi pertemuan awal kami. Rasanya sangat canggung. Kami benar benar kikkuk dan tidak tau harus memulai dari mana.


"Kenapa Jo?" Tanyaku memecahkan suasana, kemudian menoleh ke arah Johan yang sedang menunduk.


"Harus kenapa dulu iya baru kita bisa jumpa?" Tanyanya balik masih dengan posisi yang sama.


"Iya nggak Jo...." Jawabku yang sedikit malu. Aku merasa pertanyaan ku sepertinya kurang tepat.


"Gawat....salahkan....gimana ini?" Gumamku sembari menggigit lembut bibir bawahku.


"Ra....aku mau pergi" Johan kini melihat ke arahku dengan serius.


"Ke Kota A Ra...." Kini Johan sudah memandang halaman Sekolah.


"Oh....Kapan Jo?" Nadaku kini sudah normal dan menatap halaman seperti yang Johan lakukan.


"Hari Sabtu Ra...."


Sebenarnya aku tidak dapat mendeskripsikan bagaimana perasaan ku saat ini. Terkejut, sedih, penasaran dan banyak lagi, semuanya itu bagai berlari-larian di pikiranku.


"Inikah yang akan menjadi akhir dari semuanya?" Kalimat inilah yang berhasil kutanyakan sendiri pada diriku dan aku tidak tau siapa yang akan menjawab.


"Oh...." Hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutku setelah keterkejutan ku tadi.

__ADS_1


"Iya Ra...."


Seketika suasana hening. Dan Johan memulai lagi pembicaraan.


"Kamu gak bertanya aku ngapain kesana Ra?" Dia kini menatap ku tajam.


"Hnnnn....Itu yang mau aku tanya Jo" Jawabku sembari membulat kan mataku. Aku sedikit terkejut dengan tatapan Johan.


Dia kemudian menundukkan kepalanya lagi, sehingga membuatku semakin bingung. Aku ingin sekali menangis. Tapi aku juga gak tau kenapa air mataku tidak keluar. Di ketidakberdayaan ku ini membuat Johan merasa aku tidak peduli, padahal ia tidak tau betapa sedihnya aku saat ini.


"Kamu mau ngapain Jo?" Tanyaku mengangkat bahu Johan yang sedari tadi masih menunduk.


Dia tidak langsung menjawabnya, dia menutup matanya sekejap kemudian membukanya lagi lalu bersiap menjawab pertanyaan ku.


"Ketua Yayasan mempercayakan aku dan empat orang temanku yang lainnya untuk mengikuti lomba disana Ra"


"Oh....Berapa lama Jo?"


"Kurang lebih 1 bulan Ra. Karena sebelum kami lomba, kami mau dilatih dulu sama senior yang ada disana"


"Ohhh.... bagus dong. Itu keren Jo" Suasana hatiku sudah berbeda saat ini, senyumku sudah mengembang.


"Iya Ra....dan untuk beberapa hari ini, aku minta maaf iya. Aku sebenarnya kesal sama kamu. Tidak ada penjelasan, malah balik cuek sama aku. Tapi aku udah tau kebenarannya kok dari Niya. Sebenarnya udah 3 hari yang lalu aku tau, tapi kamu malah menjauhiku"


"Maaf Jo...."


"Tapi Ra....aku mau bilang bahwa...."


Bagaimana iya kelanjutan kisah Johan dan Ekklesia setelah mereka pisah beberapa saat?


šŸ¤”

__ADS_1


~Egois, sering sekali menjadi bumerang akan hancurnya sebuah hubungan~


T.P.S.G


__ADS_2