
Sudah hampir dua Minggu komunikasi ku dengan Johan tidak lancar. Jangankan lancar.... sama sekali tidak ada komunikasi, lebih tepatnya dapat disandangkan disana.
Entah dia yang sedang sibuk, atau aku yang kurang pengertian, aku benar-benar tidak mengerti.
Bagiku saat ini.... panggilan sayang yang biasa ia lantunkan seolah bualan semata.
Padahal tidak harus memanggil sayang, tapi dengan adanya komunikasi yang baik pun sudah lebih dari sayang yang sesungguhnya, tanpa harus mengumbarnya.
Mungkin karena kami tidak ada status apapun, mengisyaratkan bahwa komunikasi bukan sesuatu yang harus.
Tapi bagiku, ini cerita pertama. Aku takut karena kejadian ini, membuatku kapok dan akhirnya berdampak pada cerita selanjutnya.
"Bukan kata romantis yang ingin di dengar telinga,
Bukan alunan musik yang ingin kunikmati sebagai tanda kasih,
Bukan panggilan sayang yang kuharap sebagai tolak ukur dari sebuah hubungan,
Bukan status pacar yang harus menjadi pengikat antara aku dan kamu
Bukan itu....bukan itu yang kumau
Sesederhana perasaan nyaman, ketika kau say Hello sebagai tanda kau masih ada di bumi....
Sesederhana itulah keinginanku tentang mu,
Tidak harus lebih....."
Kutuliskan paragraf itu di buku Diary ku, sebagai tanda bahwa saat ini....aku begitu kesal dengan Johan.
__ADS_1
Dia itu bagaikan buah musiman....yang muncul pada waktu tertentu.
Aku tidak menampik bahwa saat ini aku sedang masa puber, masa dimana aku mengharapkan perhatian lebih.
Harapku ketika itu dimulai, kalau ingin mengakhiri....iya akhiri dengan baik-baik. Karena bagiku, hubungan.... hubungan apapun itu, tidak sebercanda ini.
Kini aku benar-benar bergelut dengan perasaanku sendiri. Aku ingin menepis keresahan ku. Tapi menurutku, aku ini seorang perempuan. Dan khalayak pasti tau bagaimana itu perempuan.
Usai kucurahkan bagaimana perasaan ku saat ini ke dalam Diary ku, dengan secepat kilat ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidurku yang empuk.
"Aku ingin menguasaikan semua ini....harus kuusaikan...." Kataku dalam hati sembari memijit-mijit keningku yang tidak sakit.
"Tapi apa yang harus kuusaikan iya?" Aku berpikir sejenak menghentikan gerakanku.
"Dia memanggilku sayang, tapi....dia membuat ku bingung begini. Dasar....!!!!! semua laki-laki sama. Huaaaa....rasanya sakit...." Aku menghentak-hentakkan kakiku dan menggoyangkan tubuhku pelan.
Malam itu aku benar-benar gegana (Gelisah, Galau, Merana). Bila tidak salah mengingat, hari itulah mula kerenggangan ku dengan Johan terjadi. Kerenggangan dalam hal apapun.
Dan aku, dengan egoisnya.... melakukan hal yang sama.
Sama sekali aku tidak pernah menanyakan kabarnya.
"Biar saja... kalau memang jodoh enggak akan kemana kok. Kalau dia bisa diam....aku lebih bisa.... Bukan hanya dia kok laki-laki'
Dengan angkuhnya aku mengucapkan kalimat tersebut. Lalu kuistirahatkan tubuhku di perebahanku karena satu harian sudah lelah.
••••••
"Gimana komunikasi kalian sekarang Gre???" Tanya Niya sembari mencondongkan kepalanya ke arah mejaku. Dia kini berada tepat di depanku dengan tasnya yang masih ia gendong di pundaknya.
__ADS_1
"Duduk dulu kali....kamu gak capek????" Perintahku pada Niya sembari menggerakkan daguku ke arah tempat duduk di sampingku. Tempat duduk itu masih kosong karena Lewi belum tiba di Sekolah.
"Iyaya....aku duduk" Niya bergerak secepat kilat ke tempat yang kuarahkan, karena tidak sabaran mendengar jawabanku.
"Gimana-gimana Gre???" Tanyanya kembali begitu penasaran.
"Aku juga bingung harus jawab bagaimana hubungan kami Ni....karena aku gak ada hubungan apa-apa dengan Johan. Bagaimana aku denganmu begitu jugalah dengannya. Tidak ada perbedaan sama sekali. Malahan....aku lebih dekat denganmu kok dari pada dia. Jadi kesimpulannya, aku tidak ada hubungan dengannya" Jawabku tegas tapi dengan nada lembut, sembari masih terus fokus dengan coretan-coretan buku yang tidak jelas.
"Masak sih Gre....??? padahal kupikir kalian semakin serius loh....kenapa kamu menyimpulkan nya demikian Gre?" Tanya Niya kembali dengan ekspresi yang begitu serius seolah mengintrogasi ku.
"Serius Ni....swear dehhh Ni!!!! Gak bohong aku" Yakin ku begitu serius sembari mengacungkan dua jari telunjuk dan tengahku bersamaan. Dan aku tetap kembali mencoret-coret setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Ah....aku gak coyo Gre....dari penceritaan Johan selama ini, itu gak mungkin. Serius deh Gre gak ku kurangin dan juga gak tambahin" Kali ini Niya yang gantian mengacungkan kelima jari tangan kanannya.
"Kalau begitu....dia gak mungkin gak menghubungi akulah Ni. Mau sesibuk apapun itu" Imbuhku dengan nada kesal.
"Dia gak ada menghubungi kamu selama dia berada di Kota A? Selama dua Minggu ini Gre?? seriusan tuh??? Ah masak sih Gre?" Niya berseru hampir tak berspasi, seperti nge rap.
"Iyadiagakadamenghubungiakuni" Kataku lebih cepat dari yang Niya lakukan. Malahan aku lebih tak berspasi lagi.
"Hahaha.... ngomong apa sih Gre?!!!! Aku gak ngeh. Cepat amat" Kekehnya sembari membelalakkan matanya. Dia kaget dengan gaya bicaraku yang gak pernah kulakukan sebelumnya.
"Dia....gak....ada....meng....hu...bungiku....ni...." Ku penggal kata-kata ku pada Niya dengan begitu lembut.
"Gawat tuh Johan....ini namanya kerenggangan hubungan sebelum dimulai. Aku jitak nanti kepalanya kalau dia udah balik kesini...." Ucap Niya kesal sembari mengepalkan tangannya.
"Mundur sebelum dimulai, itukah kata yang pantas disandangkan pada relasi ini?"
T.P.S.G
__ADS_1