Pelabuhan Cinta Ekklesia

Pelabuhan Cinta Ekklesia
Masa Putih Abu Abu 2


__ADS_3

Apabila aku mengingat saat itu, unik akan menjadi kata yang tepat untuk disandangkan.


Pria itu adalah salah satu orang yang berhasil membuatku tersenyum seolah tidak ada beban.


Iya, masa 17 tahunku pernah kulalui bersamanya, dan dia pernah menghiasi hari-hariku.


Pria inikah yang akan menjadi tempatku untuk berlabuh?


Pastinya aku sendiri juga belum tahu. šŸ˜„


Apalagi kalian iya kan? šŸ˜‚


(Cuman Tuhan yang tau guys) 😁


Ā 


"Grea!!!"


Ā 


Sekali lagi suara itu berhasil membuat jantungku semakin ingin melompat.


Dan aku? Jangan ditanya lagi, aku masih saja dengan posisiku yang menegang. Aku menatapnya terpaku tanpa kata, sembari masih terus meremas rokku yang kini sudah semakin kusut.


"Grea!!


Kali ini suara itu sudah sangat jelas di telingaku. Aku bahkan merasakan nafasnya yang berhembus tak beraturan.


"Mungkin dia habis lari iya?" Gumamku dalam hati yang kini sudah salah tingkah.

__ADS_1


"Ra.... kamu sendiri iya? Mana temanmu yang lima lagi?" Tanyanya sembari celingukan.


"Me....mereka belum datang Jo" Jawabku dengan tubuh yang menegang bak melakukan gerak jalan.


"Oh.... Cuacanya mendung iya" Kata Johan sembari duduk di tempat dudukku yang tadi. Kemudian menatapku lekat yang masih berdiri. Namun, kali ini, sudah menghadap Johan.


Iya, nama pria yang berada di hadapan ku tersebut adalah Johan Tanubrata. Dia merupakan Siswa SMK yang satu yayasan dengan SMA tempatku menimba ilmu. Kenapa dia berada di sekolah ku? Padahal meskipun kami satu yayasan, lokasi sekolah kami itu agak jauh loh. Sekolahnya berada di selatan sedangkan sekolahku di utara. šŸ¤”


Jawabannya adalah, karena Johan sedang praktek di sekolah kami. Dan, karena Johan sedang praktek, maka terjadilah pertemuan antara aku dan dia.


Pertemuan yang manis pastinya. (Menurutku aja gak iya?) 😌


Johan Tanubrata merupakan pria berdarah Manado. Johan orangnya putih, tinggi, rambutnya lurus ala Oppa-Oppa Korea, dan pokoknya di mataku dia sangat tampan deh. Pastinya bukan hanya di mataku, tapi juga di mata semua siswa perempuan yang ada di sekolah ku.



Semenjak adanya Johan di sekolah kami, maka jika ada sekumpulan siswa perempuan yang sedang berkumpul, maka pembahasan di sana adalah mengenai Johan, si siswa praktek yang tampannya kebangetan.


Bukan berarti siswa pria di SMA kami tidak ada yang tampan iya. Banyak kok yang tampan di sini, tapi semenjak ada Johan, maka pria-pria tersebut bergeser dari hati para perempuan di sekolah kami.


Mungkin itu karena Johan adalah keturunan Manado. Ia seperti memberi warna baru di sekolah kami yang rata-rata dari suku Batak, Jawa, Minang dan Karo.


Selain itu, Johan juga keturunan sehingga, ia benar-benar terlihat seperti Oppa-Oppa Korea yang ada di Televisi.


"Iya Jo..... cuacanya mendung" Jawabku dengan posisi masih berdiri sembari mengayunkan tangan ku.


"Sini Ra....duduk sini! nanti kamu pendarahan loh kalau berdiri terus" Johan terkekeh sembari memukul-mukul lembut tempat duduk yang di sampingnya.


"Hmm....senangnya" Gumamku dalam hati sembari bergerak menuju tempat duduk yang berada di samping Johan.

__ADS_1


"Karena mendung, cuacanya jadi teduh iya Ra...." Johan tiba-tiba berbicara setelah 15 menit kami duduk terdiam menikmati angin sepoi-sepoi.


Johan sepertinya berusaha memecahkan suasana setelah ia melihatku sibuk celingukan.


"Iya Jo" Jawabku dengan cepat sembari menatap Johan yang berada di sebelah kiriku.


Johan kini sedang memejamkan matanya, menengadah ke langit-langit koridor sekolah, sembari menikmati angin yang kini berhasil memanjakan rambutnya yang lurus.


Dan aku? Jangan ditanya lagi.....


Aku sekarang sedang sibuk melihatnya yang saat ini semakin bersinar di mataku.


Gilakkah aku saat itu? Bisa dibilang iya. Karena itu pertama kalinya aku kagum dengan seorang pria; itu pertama kalinya aku merasa nyaman duduk berlama-lama dengan lawan jenisku; itu juga pertama kalinya aku berani menatap lekat seorang pria yang posisinya benar-benar dekat denganku.


Lugukah aku? Aku juga tidak dapat mendeskripsikannya.


Kala itu aku merasa seperti pemeran utama wanita dari novel-novel yang selama ini kubaca, dan dari drama-drama yang pernah kutonton.


Rasanya seperti bertemu pria tampan nan baik hati, dan berharap ceritanya akan happy ending.


"Diakah? Bisa jadi iya dan tidak....yang pasti aku bahagia saat ini. Bolehkah waktu berhenti saja?" Gumamku dalam hati sembari masih terus menatap Johan.


Kenapa iya kira kira Ekklesia ragu? Adakah yang menjadi penghalang? Atau, jangan-jangan cintanya bertepuk sebelah tangan? Penasaran....?


Tunggu kelanjutannya iya. 😊


~Bertemu denganmu adalah mimpi indah~


T.P.S.G

__ADS_1


__ADS_2