
"Jika bertemu denganmu adalah sebuah kesalahan,
Jika dari awal aku tahu bahwa aku akan jatuh cinta padamu sedalam ini,
Jika dari awal aku tahu bahwa akan serumit ini,
Jika dari awal aku tahu yang kurasakan akan sesakit ini,
Jika..... jika.... jika.....dari awal kalau boleh aku meminta, janganlah aku di pertemukan denganmu....
Karena sepertinya ini akan sangat menyakitkan
Sangat......"
"Huhhfffttt..... lelah.... " Keluh ku sembari membaringkan tubuhku di tempat tidur.
"Kak kamu udah makan?" Tanya adikku sembari mengganti pakaiannya.
"....." Aku masih tenggelam dalam pemikiran ku tanpa menghiraukan adikku.
"Kakak!!!!! Oi kakak!!!! " Gertak adikku sebal sembari menghempaskan bantal ke arahku karena kesal telah ku abaikan.
"Hmmmmm???? " Hanya kata itu yang berhasil lolos dari mulutku sembari menutup mataku, menghembuskan nafas kasar kemudian mengangkat tangan kananku lalu menidurkan nya di dahi ku.
"O aleeee Namboru (Kakak atau adik Perempuan Bapak dalam suku Batak Toba) aku di kacangin terus..... " Keluh nya masih terus sibuk mencari pakaian gantinya.
"O kak..... " Kali ini nadanya meninggi sembari menepuk pundak kiriku lumayan keras.
"Awwww..... aku terkejut tau!!!!!" Rintihku yang kini sudah membuka mata dan menatap tajam ke arah adikku.
"Lagian dari tadi di ajak ngomong, tapi dikacangin.... " Keluh nya sembari duduk di ujung tempat tidur tapi membelakangi ku.
"Masak?????" Tanyaku sembari mengernyitkan dahi.
"Di dapur.... " Jawabnya kesal.
"Serius kali..... aku tadi gak dengar. Swear deh dek..... " Yakinku sembari mengangkat jadi telunjuk dan jari tengah ku bersamaan.
"Udah makan belom??? " Tanyanya dengan nada tegas tapi hampir menghilang di ujung katanya.
"Belum.... emang kenapa dek? Mau makan bareng iya? " Rayuku sembari menggelitik punggung adikku.
"Hmmm.... " Jawabnya masih dengan nada kesal.
"Iya udah ayok.... " Ajakku sembari bangkit dari tempat tidur. Dan adikku mengekoriku dari belakang menuju ke dapur.
__ADS_1
••••••
Ting
Bunyi pesan masuk mengudara.
Johan
"Sore Sayang..... "
"Dia memanggilku kayak gitu lagi. Wuahhh risih juga nih. Apalagi gak ada hubungan apa-apa. Kalau adik atau Mama baca ini pasti dikira kami pacaran. Hmmmm Johan memang aneh-aneh aja" Ucapku dalam hati sembari terus menatap lekat layar HP ku.
Grea
"Sore Jo"
Johan
"Lagi apa Ra???? "
Grea
"Lagi tiduran Jo. Kamu????"
Johan
"Ini kesempatanku sedikit bertanya ke arah sana. Boleh gak iya? Salah gak iya? Ah.... Coba aja dulu" Ucapku dalam hati.
Grea
"Wuah.... iya Jo pasti di Do'ain. Tapi gapapa kan Do'anya secara Do'a ku yang seperti biasa? Aku kan Kristen Jo" Selidik ku sedikit takut kalau-kalau menyinggung.
Johan
"Gapapa kali Ra..... Tuhan yang mendengarkan Do'a kita kan satu. Cara kita aja yang berbeda-beda. Mau kamu Agama apapun, tetapkan kita mengarahkan Do'a kita ke Tuhan yang sama kan? "
Aku tidak segera membalasnya. Aku berfikir sejenak mengolah pesan yang Johan kirim.
Dengan sedikit getir aku kemudian membalasnya.
Grea
"Iya kamu benar Jo. Nanti aku Do'akan iya. Dan aku yakin kok kalian pasti menang"
Johan
__ADS_1
"Iya Syg. Makasih iya.... "
Deg
Sampai sekarang aku belum terbiasa dengan panggilan ini. Dan hal ini menyadarkan ku, jantungku benar-benar berpacu ketika membacanya. Pikirku saat itu, mungkin aku benar-benar jatuh cinta pada pria ini.
Grea
"Iya Jo. Yang semangat iya. Dan jangan minta di Do'ain aja. Kamu juga harus berDo'a sendiri"
Johan
"Pasti Ra.... Kamu juga semangat"
Grea
"Kamu pernah pacaran dengan yang beda Agama sebelumnya Jo? " Dengan mengumpulkan beribu keberanian kutanyakan pertanyaan ini pada Johan.
Johan
"Sebelumnya belum pernah Ra. Kenapa? "
Grea
"Andaikan, suatu saat kamu serius dengan yang berbeda, kamu maunya gimana? "
Johan
"Kalau dia gak mau ikut aku, iya di Agama masing-masing aja Ra. Aku juga gak maksa kok. Seperti yang kubilang tadi, Tuhan itu satu Ra. Kita yang berbeda"
Seketika kata-kata ini menusuk jantung ku teramat dalam. Aku bingung mau berkata apa lagi. Mungkin saat ini aku masih SMA. Dan seperti kata Niya, "jalani aja dulu.... kan masih cinta monyet".
Tapi kata-kata itu tidak menenangkan ku. Karena aku takut aku semakin mencintainya, sehingga suatu saat aku sulit untuk melepaskannya. Ditambah lagi, aku masih berpegang teguh pada prinsipku.
" Satu untuk selamanya " kata-kata ini masih menjadi pegangan ku.
"Bolehkah aku tawar menawar untuk mencobanya? Bolehkah? Aku kan masih SMA. Paling tidak aku ingin mengecap kencan manis dengannya.... aku ingin merasakan sedikit kebahagiaan sebagai gadis remaja yang menjalin kasih dengannya. Nanti setelah itu....?????!!!! Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku benar-benar mencintainya nanti dan aku tidak bisa melepaskannya?? Tidak.... tidak..... Ah.... Benteng ini begitu tinggi.... kakiku yang kecil ini tidak sanggup untuk menggapainya...." Teriakku dalam hati sembari mencengkram baju bagian dadaku.
Hiks.... hiks.... hiks.....
Tangis yang berusaha kutahan kini berhasil lolos dari mulutku dan mataku benar-benar sudah mengeluarkan cairan bening yang panas.
Sesak!!!!!
inilah yang kurasakan pada cerita pertamaku di umur belasan ku.
__ADS_1
"Kelak kita akan tau.... benar atau tidaknya bahwa, Cinta pertama tak pernah berhasil"
T. P. S. G