
Grea
"Semangat iya Jo.... Aku gak bisa datang menghadiri perpisahan. Padahal aku udah janji. Aku juga ingin berfoto denganmu sebagai kenangan. Tapi apalah dayaku, ada kondisi yang membuatku tidak bisa menghadirinya. Aku sekarang sudah berada di Kota C Jo, dan aku akan mengikuti ujian untuk masuk ke Universitas. Sebenarnya belum sekarang waktu ujiannya, tapi karena orang tuaku butuh sesuatu, sehingga aku harus kesini lebih awal. Maaf sekali lagi iya Jo. Aku berharap suatu saat kita akan berjumpa lagi, entah dimana pun itu Jo. Semangat untuk pertunjukan kalian hari ini iya Jo.... "
Setelah mengirimkan pesan tersebut, aku teringat kembali dengan kata-kata....
Mengakhiri sebelum memulai. Itulah kata yang cocok disematkan untuk kondisiku saat ini. Menurutku, kami belum memulainya tapi kami sudah harus mengakhirinya. Yang ku pertanyakan.... Apakah Johan berfikiran yang sama? Entahlah.....sampai sekarang belum kutemukan jawabannya.
Johan tidak segera membalas pesan yang ku kirim. Aku mengirimkannya di pagi hari benar, tapi sampai siang aku menunggu.... tak juga aku menerima balasannya.
Menghadapi semua kenyataan ini, membuatku seolah tercekik. Ditambah suasana rumah yang sepi, seolah memberiku jalan untukku terisak meratapi nasibku.
Aku membuka pintu kamar mandi, dengan menyudut aku meluapkan semua kesedihan ku saat itu. Aku sedih karena tidak berjumpa dengannya, karena tidak bertemu dengan sahabat-sahabatku untuk terakhir kali atau karena tidak dapat menghadiri perpisahan, entahlah aku saat itu juga tidak tau pasti. Yang ku tahu pasti, aku saat itu ingin sekali menangis sampai benar-benar terisak. Sampai membuatku mengitari kembali ingatanku akan masa SMA dan juga pertemuan-pertemuan yang di luar dugaan ku.
"Semua cerita itu tak bisa ku ulang lagi. Masa SMA ku telah usai. Usai dengan Ending yang tak pernah kupikirkan. Lembaran cerita yang telah ku tuliskan semasa SMA, harus ku gantung dengan satu lembar cerita kosong.... karena aku tak bisa menggambarkan akhirnya. Aku sangat sedih saat ini.... Aku tidak bisa bertemu dengan mereka semua, sebagian orang yang menghiasi masa remajaku. Dan aku tidak bisa menghadiri pesta terakhir itu. Pesta sebagai hari terakhir kami di masa remaja atau masa SMA. Haruskah akhirnya seperti ini? Ending seperti inikah yang kuinginkan? Menurutku ini terlalu menyedihkan..... Hiks. hiks. hiks. hiks" Tangisku semakin pecah sembari aku terus merekamnya di recorder HP ku. Aku meremas bagian dada bajuku, kali ini aku benar-benar terduduk tak berdaya. Meratapi masa SMA ku yang berakhir dengan begitu menyedihkan.
Lagu Seandainya aku punya sayap seolah mendukung kesedihan ku saat itu.
__ADS_1
Setengah jam lebih, aku bergelut di kamar mandi. Sadar karena perutku yang demo, menyadarkan ku bahwa jam telah menunjukkan pukul 15.00.
"Sial..... aku lapar lagi. Nih perut gak ngerti keadaan apa!!????" Gerutu ku dalam hati sembari memandang lekat perutku yang keroncongan.
Grok.... grok.... grokkk
Perutku terus demo minta diisi, sehingga membuatku harus bangkit dari peratapanku.
Aku mencuci wajahku dan ku arahkan pada kaca yang terpatri di samping pintu kamar mandi. Di pantulan kaca tersebut aku melihat wajahku yang menyedihkan, memelas serta mata yang membengkak.
"Bodohkah aku????" Batinku sembari mengusap lembut mataku, untuk sedikit mengurangi bengkak nya.
Ting....
Pukul 16.15 bunyi pesan masuk mengudara di HP ku.
Dengan lunglai aku bangkit dari kursi dan mengambil HP ku yang terletak di Meja.
__ADS_1
Johan
"Oiya Ra???? Pantas saja tadi kamu ku carii tapi tidak ada. Aku keliling-keliling tapi tak jua menemukanmu. Aku segan bertanya pada Niya, karena dia juga sedang sibuk. Aku baru melihat pesanmu. Dan sepanjang perpisahan tadi aku memang benar-benar bingung kenapa kau tidak muncul. Dan ternyata inilah alasannya. Iya sudahlah Ra. Semangatlah iya buat ujian nanti. Semoga kamu lulus ke Universitas yang kamu inginkan. Dan kamu nanti jadi wanita hebat. Aku tetap bangga padamu Ra. Raihlah cita-citamu. Masalah Berfoto, jika Ia berkehendak kita pasti bisa bertemu kembali kok. Sekali lagi semangat. Aku tau kamu sedang sedih. Karena kamu tidak bisa menghadiri perpisahan.... begitulah dulu kondisinya Ra.... "
Hiks. hiks. hiks. hiks.....
Pesan yang kudapat dari Johan seolah mengandung bawang, membuatku semakin terlena dengan kesedihanku.
Usai membaca pesan dari Johan tersebut, aku tak lagi membalasnya. Karena fikirku, aku tak mau semakin membumbui kesedihanku, yang pada akhirnya akan menjadi kesedihan yang tak berujung.
Saat itu aku seperti kehilangan arah. Lagi-lagi aku diingatkan....
Masa Remajaku berakhir dengan menyedihkan
Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Karena sekeras apapun aku berfikir, mencari tahu siapa yang salah, aku tidak akan menemukannya. Karena aku sadar.... perjalanan hidupku, bukan aku yang menuliskan. Aku sangat sadar, aku sedang berada di panggung dan aku hanyalah pemainnya.
"Inilah akhirnya.... dan aku harus mengakhirinya" Batinku sembari menatap sendu langit mendung, yang seolah tau apa yang kurasakan.
__ADS_1
"Mulailah perjalanan baru. Karena cerita baru sudah menanti. Iya... cerita baru yang kau sendiri juga tidak tau seperti apa"
T. P. S. G