
Keputusan?
Iya, mungkin itu sesuatu yang harus kuambil. Meski mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, tapi itu harus tetap di ambil.
Harus!!!! Sebelum benih itu semakin berkembang dan berakar.
Sebuah keputusan akan akhir dari cerita yang entah kapan dimulainya.
Jika mengingat kembali saat-saat itu, aku tidak tahu mengapa aku bisa sanggup.
Sanggup mengambil keputusan yang bahkan aku sendiri tidak pernah memikirkannya.
Sebelum Johan kembali dari kota A, dia bertanya padaku oleh-oleh apa yang aku inginkan.
Tapi dengan berat hati aku mengatakan bahwa aku tidak menginginkan apapun. Dan pastinya semua itu hanyalah kebohongan yang ku bangun.
Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku menginginkan nya. Tapi pada akhirnya yang keluar dari mulut ku "Aku tidak ingin apapun Jo".
Semenjak kejadian kemarin, komunikasi ku dengan Johan semakin jauh. Terkadang aku yang tidak merespon dan ada masa dimana dia yang tidak merespon.
Dan aku sangat yakin, sikapnya tersebut adalah dampak dari perlakuanku.
Selain itu, di sekolah pun aku berusaha untuk tetap berlaku seolah aku tidak mengenal Johan. Dan dia sering mengernyitkan dahi ketika melihat sikapku tersebut.
Saat aku berpapasan dengannya, dengan sigap aku berpura-pura sedang sibuk dengan sesuatu atau berbicara dengan orang lain.
Tapi setelah itu, aku pergi ke toilet dan meratap atas perlakuanku sendiri.
"Maafkan aku Jo..... ini yang terbaik" lirih ku hampir menangis sembari meremas keras dinas sekolahku bagian dada.
Hal itulah yang terjadi hampir selama satu bulan.
Berat????
__ADS_1
Pastinya. Itu bukan keputusan yang mudah. Menjauhinya untuk dapat melupakannya.
Jauh disana, aku yakin Johan juga merasa bingung dengan sikapku. Tapi tetap ku pertahankan keputusan ku, untuk kami melangkah menapaki jalan masing-masing.
••••••
Desember 2013
Setelah 2 bulan kami sama sekali tidak ada komunikasi, tiba-tiba Johan mengirimkan ku sebuah pesan
Ting
Johan
"Selamat Natal Ra.... semoga damai Natal selalu ada bersamamu dan juga keluarga. Salam buat keluarga iya. Tuhan memberkati mu Ra"
Ingin menangis?
Grea
"Terimakasih iya Jo.... Tuhan juga memberkati mu Jo. Salam sama keluarga"
"Iya Ra.... "
Hanya itu balasan Johan saat itu, seakan mengerti dengan sikapku selama ini, dia juga tidak seperti dulu lagi.
Bulan Desember ini juga menjadi akhir dari Johan praktek si Sekolah kami. Dan setelah ini, dia akan kembali ke Sekolahnya untuk mengadakan Ujian Akhir.
Sebagai orang yang pernah dekat dengannya, tentu aku mengucapkan selamat. Dan ia juga mengucapkan selamat kepadaku atas Juara 2 yang ku raih lagi.
"Selamat iya Ra.... " Ucapnya sembari mengulurkan tangannya.
"Makasih Jo. Kamu juga selamat iya, udah menyelesaikan praktek dengan baik. Dan semangat ujian nanti iya" Balas ku sembari menerima uluran tangan Johan.
__ADS_1
"Sama-sama Ra. Kamu juga semangat buat Ujian nanti. Tapi pas perpisahan, kita akan jumpa lagi kok. Karena dari Ekskul kami mengadakan pertunjukan. Dan aku harap kita jumpa disana dan Foto bersama iya" Titahnya sembari tersenyum manis dan menarik tangannya kembali, kemudian memasukkannya ke dalam kantong celananya hingga membuat dia begitu memesona.
"Pasti Jo.... " Jawabku dengan tegas tapi lembut.
Setelah itu, aku tidak pernah menyangka itu akan menjadi akhir dari cerita SMA kami.
Selain setelah aku meminta petunjuk, dan jawabanNya tidak. Bahkan perpisahan pun tidak ku hadiri, karena aku harus keluar kota.
Mengingkari janji, itulah yang kulakukan. Tapi itu bukan kemauan ku. Karena, situasi dan kondisi pun tidak mengizinkan kami untuk bertemu kembali.
"Ma.... aku pulang dulu iya ke Kota B.... kami perpisahan Ma.... dan aku ingin berjumpa dengan Teman-teman ku untuk terakhir kali sebelum kami semua pada kuliah" Rengekku pada mamaku melalui HP.
"Tapi kamu udah mau ujian...." Balas mamaku dari seberang.
"Tapi aku pasti gak bakalan jumpa lagi sama mereka Ma. Mereka akan pergi ke luar kota juga untuk kuliah Ma" Mohon ku hampir menangis bahkan suaraku pun sudah parau.
"Abang sepupu mu juga udah bilang sama Mama gak usah balik lagi Boru (Anak Perempuan dalam Bahasa Batak Toba). Suatu saat, jika Tuhan berkehendak, kalian semua pasti di pertemukan kok"
"Iya udah deh Ma.... " Jawabku pasrah lalu mengakhiri percakapan kami.
Menangis mengeluarkan air mata, mungkin itu akan menjadi pilihanku saat itu untuk melegakan dadaku yang sesak.
Tapi seingin apapun aku menangis, air mataku tidak keluar. Bahkan mulutku kelu untuk sekedar mengucapkan sepatah kata.
Tapi dadaku begitu sesak, sangat sangat sesak.
Kini aku hanya menengadah memandang langit malam. Seolah mempercayakan bulan untuk menyampaikan pesanku padanya.
"*Ini bukan keinginanku. Ketika Dia mengatakan tidak, maka aku tidak berhak untuk mengatakan iya. Sedihku ini rasanya tak berujung. Aku yang memulai kerenggangan diantara kita, tapi aku bahkan tidak memberi penjelasan apapun padamu. Maafkan aku.... " Tangisku dalam hati.
"Pertemuan Dia izinkan, bisa jadi hanya untuk sebuah pengalaman*"
T. P. S. G
__ADS_1