Pelabuhan Cinta Ekklesia

Pelabuhan Cinta Ekklesia
Masa Putih Abu Abu 15 (Muncul Kembali)


__ADS_3

Aku sudah mulai terbiasa tanpa ada embel-embel sapaan dari Johan. Sudah terbiasa dengan tidak adanya yang ngegombal receh dan terbiasa.... tidak ada lagi yang mengucapkan selamat pagi dan selamat tidur, sebagai salah satu penghias dalam perjalanan ku. Aku sudah semakin terbiasa.


Tapi siapa sangka, 3 Minggu keterbiasaanku itu diusik kembali olehnya. Dengan rasa tak bersalah, dia tiba-tiba menyapaku dengan lagaknya yang biasa.


Ting....


Menjadi bunyi awal mengudaranya pesan masuk ke HP ku.


Johan


"Hai Ra....Apa kabar Rara?"


"Hah....demi apa coba anak ini? Tiba-tiba menghilang, tiba-tiba muncul...." Gumamku sembari memandang layar HP ku. Kini mataku benar-benar ingin melompat, dibarengi wajah kesalku akan sikap Johan yang sesuka hatinya.


Aku tidak segera membalasnya, ego keperempuanan ku masih menyelimuti ku mesra.


Dengan mengerucutkan bibirku, ku letakkan HP di samping pahaku. Lalu kupejamkan mataku untukku dapat menepis bahwa meskipun aku kesal setengah mati terhadapnya, tapi ada rasa rindu di dadaku yang tak dapat ku deskripsikan. Alih-alih mau melupakan seputar ingatan malahan membawaku tenggelam, mengingat kembali bagaimana pertemuan antara aku dan Johan terjadi.


"Sial....sepertinya ini akan gagal!" Cercaku sembari memeluk erat bantal guling ku.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku rindu tapi, enak aja dia sesuka hatinya....emang aku persinggahan apa? duduk sebentar, sapa sebentar kalau lagi ada waktu?" Dengan lancarnya kata itu keluar dari mulutku.


Mungkin apabila ada yang mendengar ucapan ku saat itu, mereka tidak akan percaya bahwa ini kali pertama aku dekat dengan seorang pria. Iya praktek mungkin ini kali pertama, tapi pengalaman dari membaca Novel dan menonton drama membuat ku mengerti bahwa aku sedang tidak di sungguhkan oleh seorang pria. Melalui Novel-novel yang kubaca selama ini, aku diyakinkan bahwa aku kini sedang dipermainkan.


Tapi, egoku dikalahkan oleh rinduku yang teramat besar. Perlahan tapi pasti aku meraih HP ku pelan-pelan yang kini sudah berjarak setengah meter dari ku.


Aku kemudian mengetik beberapa kata sebagai balasan atas pertanyaan Johan.


Grea

__ADS_1


"Hai juga....baik" Balasku cuek.


Johan


"Sorry Ra....aku terlalu sibuk 3 Minggu ini"


"Uluh....uluh....baru nyadar iya?" Gumamku kesal. Kemudian aku mengetik lagi untuk membalasnya.


"Hmmm....udah gak heran kali. Udah biasa"


Balasku lebih cuek lagi.


Kalau ada yang membaca balasanku saat ini, mereka pasti akan berfikir bahwa kami merupakan sepasang kekasih yang sedang beradu balasan karena sebuah kesalahpahaman. Tapi kembali lagi, itulah yang berhasil kuudarakan sebagai bentuk kekesalan ku. Terserah orang mau bilang apa, tapi dengan pasti aku memang ingin sekali meneriakinya karena sifat sesuka hatinya terhadapku.


Johan


"Jangan gitu dong Ra.... Seriusan deh Ra.... Bukan gak pengen balas. Tapi memang, setelah udah selesai latihan, aku capek banget....jadinya aku kelupaan SMS"


Grea


Johan


"Iya Ra.... apalagi bentar lagi lombanya akan dimulai, kami semakin hari semakin sering latihan. Jam latihan kami juga ditambah. Benar-benar capek banget Ra"


Iya....membaca pesan ini, pertahanan ku yang begitu teguh akhirnya runtuh seketika. Amarahku yang berkobar-kobar kini berubah menjadi belas kasih. Saat itu, aku masih hanya mampu menggambarnya sebagai belas kasih.


Grea


"Iya aku ngerti Jo....tapi jangan gitu lagi iya. Kamu tau gak? Selama kamu tidak ada mengabariku apapun, aku benar-benar kesal setengah mati tau. Aku sempat mau membenci mu. Sempat berpikir bahwa kau sedang mempermainkan ku"

__ADS_1


Johan


"Iya, aku udah yakin bakalan itu yang kamu fikirkan Ra. Makanya aku sempatkan untuk menghubungi kamu hari ini. Supaya kamu tidak berfikiran yang nggak-nggak"


Grea


"Jangan salahkan aku dong kalau aku sampai berfikiran yang nggak-nggak"


Johan


"Iya sayang....jangan berfikiran yang nggak-nggak iya. Entar kalau aku udah kembali, aku ceritakan deh semuanya"


Deg


Jantungku berdetak begitu kencang membaca kata sayang yang Johan ketikkan. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia memanggilku demikian, tapi entah kenapa ada rasa bersalah ketika aku membacanya. Ada rasa khawatir yang tidak bisa aku jelaskan. Dan yang lebih parahnya, meskipun aku sangat penasaran, aku tidak pernah bertanya mengapa ia selalu memanggilku sayang. Padahal kami kan tidak ada kata pacaran.


Aku sempat berpikir, apakah pria memang semudah itu mengatakan kata sayang atau memang dia benar-benar sayang padaku. Entahlah, aku terlalu takut untuk menanyakan. Dan kuputuskan, biarlah Johan memanggilku demikian. Tapi aku....jangan pernah berharap akan membalas panggilan itu. Karena bagiku antara laki-laki dan perempuan tidak semudah itu mengungkapkan kata sayang kalau tidak ada keterikatan.


Grea


"Iya Jo....udah istirahatlah. Kapan-kapan kita SMS-an lagi. Lagian ini sudah malam, aku juga besok harus Sekolah. Dan untuk lombamu....siapa tau aku tidak sempat mengatakannya, semangat iya. Dan semoga menang"


Johan


"Iya Ra....makasih iya. Kamu juga semangat Sekolahnya, apalagi sebentar lagi ujian. Selamat tidur Ra...."


Itulah menjadi akhir dari SMS-an kami malam itu. Dan aku tidak membalasnya lagi. Karena kalau kubalas, SMS-an malam itu akan semakin panjang sebagai mana biasanya terjadi. Dan aku tidak ingin itu terjadi, mengingat dia selama ini sangat sibuk latihannya.


Aku resah.... šŸ˜”

__ADS_1


"Inikah yang dinamakan harapan? Muncul ketika aku memutuskan untuk berhenti"


T.P.S.G


__ADS_2